• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 416,596 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal
  • Iklan

TARHIB RAMADHAN 1439H

Seri Pengajian rutin Tafsir Sabtu Sore ba’da Ashar di Masjid Al Hijri 2 Kampus UIKA, Prof. Dr. KH. Didin Hafiduddin, M.Sc., Sabtu, 12 Mei 2018

اعوذ بالله من الشيطان الرجيم
بسم الله ابرحمن الرحيم

Dalam sejarah setiap menjelang bulan Ramadhan Rasulullah s.a.w selalu mengingatkan kepada umatnya dengan bersabda yg artinya : “Telah datang kepada kalian syahrul mubarok (bulan yg diberkahi)”.

Bulan Ramadhan adalah bulannya bagi orang-orang yg taqwa.
Yakni yg beriman dan selalu menegakkan aturan Allah. Yakni menjalankan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangamNya dgn didasari dengan keimanan yg full (benar dan kokoh).

Bahkan negeri yg dijanjikan akan diberkahi Allah adalah yg penduduknya selalu beriman dan bertaqwa

Dalam surat al a’raf : 96

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالْاَرْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
walau anna ahlal-qurooo aamanuu wattaqou lafatahnaa ‘alaihim barokaatim minas-samaaa`i wal-ardhi wa laaking kazzabuu fa akhoznaahum bimaa kaanuu yaksibuun

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 96)

Dan ketaqwaan itu jelas ukurannya yakni komitmen keyakinannya dalam mengikuti petunjuk Allah, yg diturunkan oleh Allah yaitu Al Qur’an yg awal turunnya di bulan Ramadhan.

Allah SWT berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَـصُمْهُ ۗ وَمَنْ کَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ وَلِتُکْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ وَلَعَلَّکُمْ تَشْكُرُوْنَ
syahru romadhoonallaziii unzila fiihil-qur`aanu hudal lin-naasi wa bayyinaatim minal-hudaa wal-furqoon, fa man syahida mingkumusy-syahro falyashum-h, wa mang kaana mariidhon au ‘alaa safarin fa ‘iddatum min ayyaamin ukhor, yuriidullohu bikumul-yusro wa laa yuriidu bikumul-‘usro wa litukmilul-‘iddata wa litukabbirulloha ‘alaa maa hadaakum wa la’allakum tasykuruun

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 185)

Mengapa bangsa kita ini terus terombang-ambing dalam kebimbangan, ketidak jelasan? Mau pilih walikota, bupati, gubernur, presiden, dan dlm urusan politik, semuanya bingung gak jelas? Krn komitmen thd panduan Allah dlm menjalani kehidupan ini masih belum kokoh dan belum sepenuhnya. Bahkan masih banyak orang yg ngaku Islam tapi phobi, takut kepada penegakan syariat aturan Allah.

Bulan ramadhan juga bulan jihad. Bahkan perang pertama dlm Islam yakni perang badar, terjadi di bulan Ramadhan. Perang yg dlm rangka mempertahankan diri dari permusuhan dan serangan kaum kafir, musyrikin yg tdk seimbang jumlahnya dgn kondisi dan jumlah kaum muslimin.

Bulan ramadhan juga bulan penaklukan kota Mekah secara damai. Tdk ada dendam dan permusuhan, tidak ada darah yg tertumpah akibat peperangan, kecuali hanya bbrp orang yg memang sangat memusuhi agama Allah, sampai detik terakhir pada saat futuh Mekah tsb

Penaklukan Baitul Maqdis juga terjadi di bulan Ramadhan ketika kekhalifahan Islam dipimpin oleh Umar bin Khathab.
Sehingga bulan ramadhan itu adalah bulan perjuangan dan bulan kemenangan.

Juga kemerdekaan bangsa kita ini (bangsa Indonesia) terjadi di bulan Ramadhan, yang semuanya ini atas berkah dan Rahmat Allah. Bagaimana mungkin umat Islam di Indonesia saat ini bahkan tdk mau menyadari dan mensyukurinya dengan tunduk, patuh dan taat kepada aturan syariat Allah? Yang ada malah mencibir dan menolak ditegakkannya syariat Allah?

Bulan Ramadhan adalah bulan yg siang harinya Allah perintahkan utk berpuasa, dalam rangka memperkuat kesabaran, ruh perjuangan, dan memperjuangkan kasih sayang, yg mana sebagai bentuk ujian yg dapat mempercepat datangnya pertolongan Allah.

Banyak kisah yg ternyata Allah memberikan pertolongan itu kpd orang yg mampu menahan lapar dan haus.

Seperti kisah Thalut yg harus menghadapi Jalut, dimana ketika para pengikut thalut diberi ujian dengan kehausan dan melewati sungai Tigris yg jernih. Thalut sdh membuat instruksi kpd pengikutnya utk tdk tertipu dengan banyak meminum air yg sangat jernih itu, krn menyebabkan menjadi lemah tak berdaya.

Maka bulan Ramadhan adalah juga bulan pelatihan kesabaran dlm menghadapi segala bentuk kesulitan. Yakni kesulitan lapar, kesulitan hrs tetap berjuang memenuhi kebutuhan sehari hari, kesulitan dalam mempertahankan kekuatan iman (keyakinannya) agar tdk terbeli dgn tipu daya materi dunia.

Bulan Ramadhan adalah bulan revolusi mental (tapi bukan revolusi mental ala jkweee lho ya?), tapi revolusi mental seperti yg diajarkan dan diwariskan oleh Rasulullah s.a.w. yakni yg berkomitmen thd syariat Allah.

Krn itu bulan ramadhan juga bulan yg harus dimanfaatkan utk perjuangan politik Islam, agar dapat melahirkan pemimpin-pemimpin Islam dari golongan orang beriman yg berpihak kepada kemajuan umat, bangsa dan membela negara dari segala bentuk penjajahan, penjarahan serangan dari bangsa lain.

Kita harus manfaatkan bulan Ramadhan untuk melakukan dakwah perubahan dari segala aspek kehidupan, baik yg berdimensi pribadi, keluarga, sosial dan dalam berbangsa dan bernegara.

Demikian pengajian rutin Sabtu sore ba’da ashar ini dicatat dan disebar luaskan.

Dicatat oleh : Willyuddin A.R. Dhani

Wallahu a’lam

Iklan

Masjid dan Pemimpin Kaum Muslimin

Seri Kajian Tafsir Al Hijri 1 Air Mancur Bogor, Ahad, 15 April 2018, Prof. Dr. KH. Didin Hafiduddin, M.Sc.

Qs. Saba’ (34):10-11

اعوذبالله من الشيطان الرجيم.
بسم الله الرحمن الرحيم

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا دَاوٗدَ مِنَّا فَضْلًا ۗ يٰجِبَالُ اَوِّبِيْ مَعَهٗ وَالطَّيْرَ ۚ وَاَلَــنَّا لَـهُ الْحَدِيْدَ
wa laqod aatainaa daawuuda minnaa fadhlaa, yaa jibaalu awwibii ma’ahuu wath-thoiir, wa alannaa lahul-hadiid

“Dan sungguh, telah Kami berikan kepada Dawud karunia dari Kami. (Kami berfirman), Wahai gunung-gunung dan burung-burung! Bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud, dan Kami telah melunakkan besi untuknya,”
(QS. Saba’ 34: Ayat 10)

اَنِ اعْمَلْ سٰبِغٰتٍ وَّقَدِّرْ فِى السَّرْدِ وَاعْمَلُوْا صَالِحًـا ۗ اِنِّيْ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
ani’mal saabighootiw wa qoddir fis-sardi wa’maluu shoolihaa, innii bimaa ta’maluuna bashiir

“(yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Saba’ 34: Ayat 11)

PELAJARAN & HIKMAH YG ADA

1. Ayat-ayat ini berkaitan dgn kisah 2 orang nabi yg diberikan mu’jizat yg berbeda-beda oleh Allah, yakni nabi Daud dan nabi Sulaiman. Nabi Daud dan Nabi Sulaiman membangun masjid Al Aqsa.
Sedangkan Masjidil Haram dibangun oleh Ibrahim dan Ismail, dan masjid Nabawi dibangun oleh Nabi Muhammad s.a.w. Karena itu setiap masjid yg telah dibangun tidak boleh dijadikan masjid eksklusif (tertutup) hanya utk kelompok atau keluarga tertentu. Harus menjadi masjid umat, terbuka utk umum, walaupun dibangun oleh keluarga, atau organisasi tertentu. Sebab yg memakmurkan masjid hanyalah orang beriman.

Allah SWT berfirman:
اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَ قَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ فَعَسٰٓى اُولٰۤئِكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ
innamaa ya’muru masaajidallohi man aamana billaahi wal-yaumil-aakhiri wa aqoomash-sholaata wa aataz-zakaata wa lam yakhsya illalloh, fa ‘asaaa ulaaa`ika ay yakuunuu minal-muhtadiin

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 18)

2. Dalam ayat 10 di atas, Allah memberikan mu’jizat kpd Nabi Daud sebuah kerajaan, dan mengajak burung-burung dan gunung-gunung ikut bertasbih menyucikan dan mengagungkan Allah bersama Daud.

Allah juga memberikan mu’jizat kekuatan dan ketrampilan utk membuat baju besi dengan menganyamnya dengan ukuran yg berbeda-beda. Allah lunakkan besi seperti adonan kue, dan nabi Daud dapat menganyamnya sesuai dengan desain dan ukuran pemesannya.

Nabi Daud mendapatkan penghasilan dari ketrampilan dan usahanya sendiri membuat / memproduksi baju besi.
Yg dengan itu nabi Daud menghidupi keluarganya, berinfaq dan bersedekah utk masyarakat dan bangsanya (negaranya).

Maka nabi pernah bersabda, sabaik-baik penghasilan (nafkah) adalah hasil jerih payahnya sendiri, seperti yg dilakukan nabi Daud.

3. Sudah seharusnya, seorang raja, pemimpin, atau presiden itu memberi contoh kepada rakyatnya, memberi keteladanan dan komitmen utk memenuhi kebutuhan keluarga, masyarakat, dan membangun bangsanya dari hasil jerih payah dan usahanya sendiri.
Ibrah kepemimpinan para nabi, para sahabat nabi dan para pemimpin dari kalangan orang beriman yg diridhoi Allah inilah yg harus jadi komitmen dan keteladanan, bahwa pemimpin yg baik itu haruslah yg berdaya dgn karyanya sendiri, mampu memberdayakan rakyatnya sendiri dengan cara mandiri, mampu membangun usaha-usaha yg dikelola oleh rakyatnya sendiri secara mandiri.

Bukan pemimpin yang pandai berhutang secara ribawi dan membebani hutang kpd generasi pewarisnya.
Apalagi dengan menyengsarakan rakyatnya, memalak rakyatnya sendiri dengan alasan pungutan pajak, mengambil dan men curangi hak-hak rakyatnya sendiri.

Bukan pula pemimpin yg pandai mempersulit urusan rakyatnya sendiri, pandai menjual atau menggadaikan aset rakyat dan aset bangsanya kepada bangsa asing dan memfasilitasi bangsa asing utk menjajah dan menghinakan (merendahkan) rakyat dan bangsanya sendiri.

Pemimpin-pemimpin yg seperti ini adalah seburuk-buruknya pemimpin, yang haram utk dipilih atau dibaiat oleh kaum muslimin.

Demikian pengajian rutin Ahad pagi ba’da subuh ini dicatat dan disebar luaskan.

Semoga ayat-ayat Al Qur’an di atas, memberi pencerahan dan memperkuat iman, ilmu, dan amal perilaku kita dlm menjalani kehidupannya di dunia. Semangat dlm berjuang menegakkan ajaran agama yg diwariskan Rasul kepada kita, dan optimis dalam menjalani perjuangan da’wah utk membela negara, agar mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan selamat di alam akhirat. Semoga menjadi ilmu yg bermanfaat. Aamiin. (Mohon bantu sebarkan agar dapat bagian pahala ilmu yg bermanfaat). Wallahu a’lam.

سبحانك اللهم وبحمدك اشهد ان لا اله الا انت استغفرك ةاتوب اليك
Bogor, 15/04/18
Salam ukhuwah dari Bogor.

Dicatat oleh : Willyuddin A.R. Dhani

Adab Kepada Allah

Seri Pengajian rutin Sabtu Sore ba’da Ashar di Msj Al Hijri 2 Kampus UIKA, Prof. Dr. KH. Didin Hafiduddin, M.Sc, Sabtu, 14 April 2018

Surat Al Kahfi (18):50-51

اعوذ بالله من الشيطان الرجيم
بسم الله ابرحمن الرحيم

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤئِكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْۤا اِلَّاۤ اِبْلِيْسَ ۗ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ اَمْرِ رَبِّهٖ ۗ اَفَتَـتَّخِذُوْنَهٗ وَذُرِّيَّتَهٗۤ اَوْلِيَآءَ مِنْ دُوْنِيْ وَهُمْ لَـكُمْ عَدُوٌّ ۗ بِئْسَ لِلظّٰلِمِيْنَ بَدَلًا
wa iz qulnaa lil-malaaa`ikatisjuduu li`aadama fa sajaduuu illaaa ibliis, kaana minal-jinni fa fasaqo ‘an amri robbih, a fa tattakhizuunahuu wa zurriyyatahuuu auliyaaa`a min duunii wa hum lakum ‘aduww, bi`sa lizh-zhoolimiina badalaa

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, Sujudlah kamu kepada Adam! Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Dia adalah dari (golongan) jin, maka dia mendurhakai perintah Tuhannya. Pantaskah kamu menjadikan dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain Aku, padahal mereka adalah musuhmu? Sangat buruklah (Iblis itu) sebagai pengganti (Allah) bagi orang yang zalim.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 50)

مَّاۤ اَشْهَدْتُّهُمْ خَلْقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَلَا خَلْقَ اَنْفُسِهِمْ ۖ وَمَا كُنْتُ مُتَّخِذَ الْمُضِلِّيْنَ عَضُدًا
maaa asy-hattuhum kholqos-samaawaati wal-ardhi wa laa kholqo anfusihim wa maa kuntu muttakhizal-mudhilliina ‘adhudaa

“Aku tidak menghadirkan mereka (Iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan Aku tidak menjadikan orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 51)

PELAJARAN YG ADA

1. Adab kaum beriman yg berilmu adalah selalu rendah hati, tunduk kepada Allah yg menurunkan ilmu kepadanya. Tidak menyombongkan diri thd Allah dan juga kpd sesama makhluk Allah, seperti Iblis yg tekutuk.

2. Allah jelaskan bhw Iblis adalah dari golongan jin yg membangkang, maka dia termasuk setan (makhluk pembangkang) dari golongan jin. Setan (makhluk pembangkang) ada juga yg dari golongan manusia. Maka ada setan (makhluk pembangkang) dari golongan jin dan ada yg dari golongan manusia, dan mereka saling bersekutu utk menolak / membangkang thd aturan syariat Allah S.W.T dan hukum-hukum Allah.

3. Menolak dan membangkang thd aturan syariat Allah dan hukumnya adalah kekafiran yg tingkatannya ada yg disebut kufur, fasik dan dhzalim. Termasuk kekufuran adalah musyrik (mempersekutukan) Allah.
Jadi…jika ada orang
mengaku Islam tapi perilakunya menolak aturan Allah, mengingkari perintah Allah baik dgn ucapan maupun perbuatannya, maka sesungguhnya ia adalah kufur.

4. Sikap dan perilaku orang kufur/kafir adalah kesombongan. Tidak saja sombong kepada sesama manusia tetapi pada dasarnya ia sombong kpd Allah, menolak, mencela aturan Allah, dan membantah (mengkritisi) syariat Allah adalah kekufuran dan sifat utama setan.

5. Dalam ayat di atas Allah juga menetapkan suatu aturan yakni larangan menjadikan setan (baik dari golongan jin maupun dari golongan manusia) dan para temannya atau kaki tangannya menjadi walinya (pemimpin, teman dekat, sahabat karib, pelindung). Karena mereka adalah musuh yg nyata bagi Allah dan musuh yg nyata bagi manusia.

6. Seburuk-buruk wali (pemimpin, penolong, pelindung, teman /sahabat setia) bagi manusia adalah Iblis / setan (makhluk yg kufur/pembangkang) baik setan yang dri golongan jin maupun setan-setan dri golongan manusia.

Orang-orang yg beriman hrs memilih dan menjadikan orang beriman sebagai walinya (pemimpin, pelindung, penolong, sahabat/teman setianya). Ini adalah bagian dari aturan dan ketetapan (syariat) dari Allah, yg tdk boleh dilanggar oleh kaum muslimin yg beriman.

7. Orang beriman tdk boleh pesimis, tdk boleh futur (berhenti) dlm berjuang menegakkan aturan Allah sampai Allah memberikan kemenangan. Islam selalu mendahulukan proses perjuangan yg harus tetap didahulukan bersih (tulus & jujur), konsisten dan komitmen thd keimanan dan kebenaran. Ini adalah bagian amanah dari Allah

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَهِنُوْا فِى ابْتِغَآءِ الْقَوْمِ ۗ اِنْ تَكُوْنُوْا تَأْلَمُوْنَ فَاِنَّهُمْ يَأْلَمُوْنَ كَمَا تَأْلَمُوْنَ ۚ وَتَرْجُوْنَ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا يَرْجُوْنَ ۗ وَ كَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا
wa laa tahinuu fibtighooo`il-qouum, in takuunuu ta`lamuuna fa innahum ya`lamuuna kamaa ta`lamuun, wa tarjuuna minallohi maa laa yarjuun, wa kaanallohu ‘aliiman hakiimaa

“Dan janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka ketahuilah mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu rasakan, sedang kamu masih dapat mengharapkan dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 104)

Karena pada akhirnya, hanya orang-orang yg beriman, yg bersih, yang komitmen dan yg konsisten lah yang Allah akan berikan kemenangan.

Demikian pengajian rutin Sabtu sore ba’da Ashar ini dicatat dan disebar luaskan.

Semoga ayat-ayat Al Qur’an di atas, memberi pencerahan dan memperkuat iman, ilmu, dan amal perilaku kita dlm menjalani kehidupannya di dunia. Semangat dlm berjuang menegakkan ajaran agama yg diwariskan Rasul kepada kita, dan optimis dalam menjalani perjuangan da’wah utk membela negara, agar mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan selamat di alam akhirat. Semoga menjadi ilmu yg bermanfaat. Aamiin. (Mohon bantu sebarkan agar dapat bagian pahala ilmu yg bermanfaat).

سبحانك اللهم وبحمدك اشهد ان لا اله الا انت استغفرك ةاتوب اليك
Bogor, 14/04/18
Salam ukhuwah dari Bogor.

Dicatat oleh : Willyuddin A.R. Dhani

Akhlaq Menjaga Lisan

Seri Kajian Tafsir Al Hijri 1 Air Mancur Bogor, Ahad, 25 Pebruari 2018, Prof. Dr. KH. Didin Hafiduddin, M.Sc

Qs. Al Ahzab (33): 69-71

اعوذبالله من الشيطان الرجيم.
بسم الله الرحمن الرحيم

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اٰذَوْا مُوْسٰى فَبَـرَّاَهُ اللّٰهُ مِمَّا قَالُوْا ۗ وَكَانَ عِنْدَ اللّٰهِ وَجِيْهًا
yaaa ayyuhallaziina aamanuu laa takuunuu kallaziina aazau muusaa fa barro`ahullohu mimmaa qooluu, wa kaana ‘indallohi wajiihaa

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa, maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan. Dan dia adalah seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.”

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا
yaaa ayyuhallaziina aamanuttaqulloha wa quuluu qoulan sadiidaa

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar,”

يُّصْلِحْ لَـكُمْ اَعْمَالَـكُمْ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
yushlih lakum a’maalakum wa yaghfir lakum zunuubakum, wa may yuthi’illaaha wa rosuulahuu fa qod faaza fauzan ‘azhiimaa

“niscaya Allah akan memperbaiki amal-amal kaluan dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya, dia mendapat kemenangan dengan kemenangan yang agung.”
(QS. Al-Ahzab 33:69 – 71)

PELAJARAN & HIKMAH YANG ADA DI DALAMNYA

1. Pada ayat ini (ayat 69), Allah menjelaskan tentang akhlaq menjaga lisan. Orang yg mampu menjaga lisannya, maka ia akan mendapatkan kebaikan dan keselamatan. Sebaliknya orang yg tdk mampu menjaga lisannya akan mendapatkan keburukan.
Sehingga dalam kata-kata hikmah dinyatakan “Keselamatan seseorang tergantung lisannya”.

Banyak orang tersesat karena lisannya, sehingga ia menjadi musyrik dan kufur

Allah SWT berfirman:

وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ عُزَيْرُ اۨ بْنُ اللّٰهِ وَقَالَتِ النَّصٰرَى الْمَسِيْحُ ابْنُ اللّٰهِ ۗ ذٰ لِكَ قَوْلُهُمْ بِاَ فْوَاهِهِمْ ۚ يُضَاهِئُوْنَ قَوْلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَبْلُ ۗ قَاتَلَهُمُ اللّٰهُ ۚ اَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ‏
wa qoolatil-yahuudu ‘uzairunibnullohi wa qoolatin-nashoorol-masiihubnulloh, zaalika qouluhum bi`afwaahihim, yudhoohi`uuna qoulallaziina kafaruu ming qobl, qootalahumulloh, annaa yu`fakuun

“Dan orang-orang Yahudi berkata, Uzair putra Allah, dan orang-orang Nasrani berkata, Al-Masih putra Allah. *Itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka*. *Mereka meniru ucapan orang-orang kafir* yang terdahulu. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 30)

Maka siapa pun yg ucapannya tdk terjaga, maka Allah sangat membencinya. Apalagi ucapan dusta yg dituduhkan kepada para nabi, pewaris para nabi (ulama, dai dan para ustadz).

Allah SWT berfirman:

لَـقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْۤا اِنَّ اللّٰهَ ثَالِثُ ثَلٰثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّاۤ اِلٰـهٌ وَّاحِدٌ ۗ وَاِنْ لَّمْ يَنْتَهُوْا عَمَّا يَقُوْلُوْنَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَابٌ اَ لِيْمٌ
laqod kafarollaziina qooluuu innalloha saalisu salaasah, wa maa min ilaahin illaaa ilaahuw waahid, wa il lam yantahuu ‘ammaa yaquuluuna layamassannallaziina kafaruu min-hum ‘azaabun aliim

“Sungguh, telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka ucapkan, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 73)

2. Pada ayat 69 Allah jelaskan pembelaannya thd nabi Musa, atas ejekan dan tuduhan umatnya bahwa nabi Musa memiliki cacat di kemaluannya, karena nabi Musa selalu menutupi auratnya. Bahkan ketika mereka memindahkan pakaiannya yg ditaruh diatas batu pada saat Musa sedang mandi, maka atas mu’jizat Allah tongkatnya mengejar pakaian itu sampai melewati sekumpulan orang dan mengembalikannya kepada musa agar tdk terbuka, maka mereka menyimpulkan bahwa di tubuh Musa ada cacat dan kemaluannya ada benjolan. Inilah ucapan buruk dan tuduhan manusia jahil kpd nabinya, karena selalu berpakaian rapat menutupi auratnya.

3. Maka pada ayat berikutnya (70) Allah perintahkan kepada orang-orang yg beriman utk bertaqwa dengan menjaga ucapannya yaitu harus selalu mengatakan ucapan yang benar. Tdk boleh sembarangan berucap, tdk boleh berburuk sangka, tdk boleh mencari-cari aib orang (seperti para jasus/intel), tdk boleh menebar fitnah, tuduhan palsu (rekayasa) dan menyebarkan kedustaan (istilah sekarang disebut hoax), terutama kpd para nabi, pengikut dan pewaris nabi, para dai, para ustadz dan yg sejenisnya. Karena semua itu menimbulkan fitnah, huru-hara permusuhan, dan mendatangkan murka (laknat) Allah bagi siapa yang melakukannya.
Contoh yg terjadi saat ini misalnya tuduhan rekayasa thd HRS, tuduhan makar dll yg dilakukan oleh orang-orang kafir.

4. Oleh karena itu, Allah berjanji kepada siapa saja yg mampu menjaga lisannya utk selalu berkata benar, Allah hapuskan kesalahan-kesalahannya dengan memperbaiki amal-amalnya, Allah ampuni dosa-dosanya. Hal itu berarti bentuk ketaatan kepada Allah dan RasulNya, dan siapa pun yang taat kepada Allah & RasulNya ia akan mendapatkan kemenangan yang besar.

Wallahu a’lam

Dicatat oleh : Willyuddin A.R. Dhani

Ketika Penghuni Surga memasuki Surga

Seri Kajian Tafsir Al Hijri 1 Air Mancur Bogor, Ahad, 18 Pebruari 2018, Prof. Dr. KH. Didin Hafiduddin, M.Sc.

Qs. Al Ahzab (33):66-68

اعوذبالله من الشيطان الرجيم.
بسم الله الرحمن الرحيم

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوْهُهُمْ فِى النَّارِ يَقُوْلُوْنَ يٰلَيْتَـنَاۤ اَطَعْنَا اللّٰهَ وَاَطَعْنَا الرَّسُوْلَا
yauma tuqollabu wujuuhuhum fin-naari yaquuluuna yaa laitanaaa atho’nalloha wa atho’nar-rosuulaa

“Pada hari (ketika) wajah mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, Wahai, kiranya dahulu kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.”

وَقَالُوْا رَبَّنَاۤ اِنَّاۤ اَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَآءَنَا فَاَضَلُّوْنَا السَّبِيْلَا
wa qooluu robbanaaa innaaa atho’naa saadatanaa wa kubarooo`anaa fa adholluunas-sabiilaa

“Dan mereka berkata, Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).”

رَبَّنَاۤ اٰتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيْرًا
robbanaaa aatihim dhi’faini minal-‘azaabi wal’an-hum la’nang kabiiroo

“Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.”
(QS. Al-Ahzab 33:66 – 68)

*PELAJARAN & HIKMAH YG ADA:*

1. Ayat-ayat yg kita baca di atas, berkaitan dgn keimanan terhadap hari akhirat. Dimana Allah jelaskan keadaan penyesalan orang-orang yg tidak mau mentaati aturan Allah dan RasulNya, dan lebih mentaati tokoh-tokoh menyimpang dan penguasa-penguasa yg tidak taat kepada aturan Allah dan RasulNya.

2. Penyesalan itu diantaranya mereka wujudkan dengan melaknat pemimpin-pemimpin dan tokoh-tokohnya sendiri yg sebelumnya dibela-belai dgn taqlid dan ashobiyah yg nyata.

3. Allah akan memasukkan orang-orang yg taat kepada aturan Allah dan RasulNya. Dan penghuni surga itu ada tiga jenis:

a. Kelompok yg masuk surga sendirian karena imannya benar dan amal sholehnya yg konsisten.

Allah SWT berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًـا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَـنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةً ۚ وَلَـنَجْزِيَـنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
man ‘amila shooliham min zakarin au unsaa wa huwa mu`minun fa lanuhyiyannahuu hayaatan thoyyibah, wa lanajziyannahum ajrohum bi`ahsani maa kaanuu ya’maluun

“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 97)

b. Kelompok yg masuk surga bersama dgn keluarganya yg beriman.

Allah SWT berfirman:

وَالَّذِيْنَ صَبَرُوا ابْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً وَّيَدْرَءُوْنَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ اُولٰۤئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ
wallaziina shobarubtighooo`a waj-hi robbihim wa aqoomush-sholaata wa anfaquu mimmaa rozaqnaahum sirrow wa ‘alaaniyataw wa yadro`uuna bil-hasanatis-sayyi`ata ulaaa`ika lahum ‘uqbad-daar

“Dan orang yang sabar karena mengharap keridaan Tuhannya, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),”

Allah SWT berfirman:

جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَآئِهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰٓئِكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍ
jannaatu ‘adniy yadkhuluunahaa wa man sholaha min aabaaa`ihim wa azwaajihim wa zurriyyaatihim wal-malaaa`ikatu yadkhuluuna ‘alaihim ming kulli baab

“(yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;”
(QS. Ar-Ra’d 13:22 – 23)

c. Kelompok yg masuk surga bersama dengan rombongan & rombongan orang-orang iman dan amal sholehnya benar sesuai dengan Syariat Allah dan RasulNya.

Sifat-sifat mereka:

* Tidak menyelisihi sunnah Nabi dan tdk suka berselisih dengan sesama orang beriman.
* Tidak suka mencaci dan tidak menghujat sesama orang yg beriman.
* Tidak ada iri, dengki, dan hasud diantara sesama orang beriman.

Ini menunjukkan karakter orang-orang yg selalu ingin membangun kekuatan jamaah kekuatan umat yang didasarkan kepada aturan Allah dan sunnah RasulNya.

4. Ketika orang kafir (musyrik, fasik, munafik) disiksa mereka menyatakan seandainya dulu kami mentaati Allah dan RasulNya. Mereka menyesal karena mentaati pemimpin dan tokoh-tokoh yg dzalim, yang menyimpang dari ajaran Allah dan ajaran Rasul.

Karena itu umat Islam tdk boleh salah memilih pemimpin. Jangan memilih pemimpin dari golongan orang kafir, fasik, dan munafik.
Walaupun orangnya menarik dan banyak duit.

Dicatat oleh : Ust. Willyuddin A.R. Dhani

Bersiap menghadapi Hari Kiamat

​Seri Kajian Tafsir Al Hijri 1 Air Mancur Bogor,  Ahad, 11 Pebruari 2018,  Prof. Dr. KH. Didin Hafiduddin, M.Sc.

Al Ahzab (33):63-65

اعوذبالله من الشيطان الرجيم.

بسم الله الرحمن الرحيم

يَسْــئَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ ۗ  قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِ ۗ  وَمَا  يُدْرِيْكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُوْنُ قَرِيْبًا

yas`alukan-naasu ‘anis-saa’ah, qul innamaa ‘ilmuhaa ‘indalloh, wa maa yudriika la’allas-saa’ata takuunu qoriibaa

“Manusia bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat. Katakanlah, Ilmu tentang hari Kiamat itu hanya di sisi Allah. Dan tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat waktunya.”

اِنَّ اللّٰهَ لَعَنَ الْكٰفِرِيْنَ  وَاَعَدَّ لَهُمْ سَعِيْرًا  

innalloha la’anal-kaafiriina wa a’adda lahum sa’iiroo

“Sesungguhnya, Allah melaknat orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka),”

خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۤ اَبَدًا   ۚ  لَا يَجِدُوْنَ وَلِيًّا وَّلَا نَصِيْرًا   

khoolidiina fiihaaa abadaa, laa yajiduuna waliyyaw wa laa nashiiroo

“mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong.”

(QS. Al-Ahzab (33):63-65)

PELAJARAN & HIKMAH YG ADA DI DALAMNYA:

1. Ayat ayat yg kita baca ini, berkaitan dengan rukun iman yg ke 5, yakni beriman kepada hari qiyamat, yg artinya hari berbangkit atau hari berdiri kembali. Kadang juga disebut _sa’ah_ (waktu tibanya). Juga disebut _yaumuddin_ (hari agama) yakni pembuktian ajaran agama Islam, juga disebut _yaumil jaza_ (hari pembalasan) yakni ditegakkannya keadilan terhdp semua amal perbuatan manusia. Juga disebut _al qoriah_ atau hari kegoncangan, yakni saat digoncangkan seluruh bumi untuk diratakan.

Juga disebut _yaumul hisab_ yakni hari perhitungan amal manusia, dimana kelak akan ada yg diampuni Allah dan akan ada yg disiksa karena amal buruknya. Juga disebut _yaumil hasyr_, hari berkumpul untuk membaca dan mengkoreksi dirinya sendiri. Hari qiyamat juga disebut _yaumut taghabun_, hari ditampakkan seluruh amal manusia.

2. Maka kelak akan ada 7 kelompok manusia yg akan mendapat naungan Allah, yg diantaranya adalah 

a. Pemimpin yg adil, yg tdk suka janji tapi dia amanah, yg tidk suka bohong dan pencitraan.

b. Pemuda yg tumbuh dlm keadaan selalu beribadah kepada Allah dlm setiap keadaan,

c. Para pemuda yg mencintai kegiatan masjid., sehingga hatinya ada di dalam masjid.

d. Orang yg cinta mencintai karena Allah, mereka berkumpul atau berpisah hanya karena Allah.

e. Orang yang rajin berinfaq dan bersedekah ikhlas mengharap ridho Allah, sehingga perumpamaannya tangan kanan memberi, tangan kiri tdk mengetahuinya.

f. Para pemuda yg dibujuk wanita cantik dan kaya utk berbuat zina, tapi ia tolak karena takut thd murka Allah.

g. Orang yg selalu menyebut nama Allah dan memohon ampunanNya di sepertiga malam dgn khusu’ sehingga mencucurkan air matanya krn rindu dan takut kepada Allah.

3. Dampak positif beriman kepada hari akhir:

a. Menjadi orang yg istiqomah dalam kebenaran dan  kebaikan. Sehingga menambah kekuatan iman.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ  الْمَلٰٓئِكَةُ اَ لَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَـنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ  تُوْعَدُوْنَ

innallaziina qooluu robbunallohu summastaqoomuu tatanazzalu ‘alaihimul-malaaa`ikatu allaa takhoofuu wa laa tahzanuu wa absyiruu bil-jannatillatii kuntum tuu’aduun

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”

نَحْنُ اَوْلِيٰٓـؤُکُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِ   ۚ  وَلَـكُمْ فِيْهَا مَا تَشْتَهِيْۤ اَنْفُسُكُمْ وَلَـكُمْ فِيْهَا مَا تَدَّعُوْنَ  

nahnu auliyaaa`ukum fil-hayaatid-dun-yaa wa fil-aakhiroh, wa lakum fiihaa maa tasytahiii anfusukum wa lakum fiihaa maa tadda’uun

“Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta.”

(QS. Fussilat (41):30-31)

b. Akan menjadi orang yang optimis, tidak mudah putus asa dan merdeka sehingga selalu mencari kebaikan, menebarkan kebaikan dan suka berbuat kebaikan.

Allah SWT berfirman:

يٰبَنِيَّ اذْهَبُوْا فَتَحَسَّسُوْا مِنْ يُّوْسُفَ وَاَخِيْهِ وَلَا تَايْـئَسُوْا  مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ ۗ  اِنَّهٗ لَا يَايْـئَسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ  الْكٰفِرُوْنَ

yaa baniyyaz-habuu fa tahassasuu miy yuusufa wa akhiihi wa laa tai`asuu mir rouhillaah, innahuu laa yai`asu mir rouhillaahi illal-qoumul-kaafiruun

“Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.”

(QS. Yusuf 12: Ayat 87)

c. Akan menjadi orang yg amanah dan selalu bertanggung jawab, menjadi orang kaya dan diberikan kekayaan oleh Allah, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah s.a.w yg bersabda:

الامانة تجرب الرزق والحيانة تجرب الفقرى.

Amanah itu mendatangkan rezki, dgn khianat akan menghasilkan kefakiran”. (Hadits)

Dalam hadirs yg lain Rasulullah menyatakan bahwa “Iman itu adalah amanah, tidak ada iman kecuali dengan amanah”. (Hadits)

d. Akan menjadikan keyakinan yg kuat bahwa akan ada pengadilan Allah, sehingga ia akan selalu menjaga lisan, hati dan amal perbuatannya selama di dunia, utk tdk melakukan hal-hal yg tercela.

4. Kapan terjadinya kiamat? Ketika Rasul ditanyakan ttg kiamat, beliau menjawab bahwa;  “Semua pengetahuan tentang itu hanyalah Allah yg mengetahui.  Beliau hanya bernasehat untuk mempersiapkan bekal terbaik berupa iman yg lurus, bersih dan amal yg shaleh. Beliau hanya mampu menjelaskan ttg tanda-tanda dekatnya kedatangan qiyamat tsb sebagaimana ketika ditanya oleh malaikat Jibril tentang Iman, Islam, Ihsan dan  kapan tiba hari kiamat? Ketika ditanyakan yg ke empat tsb (ttg qiyamat), beliau menjawab bahwa yg ditanya tdk lebih tahu daripada yang bertanya, lalu beliau hanya mampu menjelaskan tanda-tandanya, dekatnya hari qiyamat.

Karena itu jika ada manusia selain dari Rasulullah s.a.w yg mampu atau sok tahu ttg kapan dan tahun berapa akan qiyamat, maka kita tdk boleh mempercayainya, karena khawatir terjebak dlm kedustaan. Wallahu a’lam. 

Di tulis oleh : Ust. Willyuddin A.R. Dhani

Sekarang Kajian ini bisa dilihat di Youtube,  silahkan menuju link berikut :  https://youtu.be/WcRvzYuWark


Kesabaran dalam Berdakwah 

​Kajian Tafsir Al Hijri 2 Kampus UIKA Bogor,  Sabtu, 20 Januari 2018,  Prof. Dr. KH. Didin Hafiduddin, M.Sc.

Surat Al Kahfi :6-8

اعوذبالله من الشيطان الرجيم.

بسم الله الرحمن الرحيم

فَلَعَلَّكَ  بَاخِعٌ نَّـفْسَكَ عَلٰٓى اٰثَارِهِمْ اِنْ لَّمْ يُؤْمِنُوْا بِهٰذَا الْحَـدِيْثِ  اَسَفًا

fa la’allaka baakhi’un nafsaka ‘alaaa aasaarihim il lam yu`minuu bihaazal-hadiisi asafaa

“Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an).”

(QS. Al-Kahf 18: Ayat 6)

اِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْاَرْضِ زِيْنَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ اَ يُّهُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا

innaa ja’alnaa maa ‘alal-ardhi ziinatal lahaa linabluwahum ayyuhum ahsanu ‘amalaa

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya.”

(QS. Al-Kahf 18: Ayat 7)

وَاِنَّا لَجٰعِلُوْنَ مَا عَلَيْهَا صَعِيْدًا جُرُزًا   

wa innaa lajaa’iluuna maa ‘alaihaa sho’iidan juruzaa

“Dan Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah yang tandus lagi kering.”

(QS. Al-Kahf 18: Ayat 8)

PELAJARAN DAN HIKMAH YG ADA

1. Untuk mendakwahkan kebenaran yg ditetapkan Allah membutuhkan kesabaran, karena akan mengalami penolakan dan penentangan.

Bahkan Rasulullah s.a.w pun merasakan  penolakan dan penentangan dari umat, yg terus menerus, sehingga merasa sedih terhadap penolakan umat mengenai dakwah yg disampaikannya.

Maka turun ayat 6 surat Al Kahfi ini, agar Rasulullah s.a.w tdk perlu bersedih dan galau. Bahkan Allah perkuat dgn firmanNya dlm QS.3:185

Allah SWT berfirman:

لَـتُبْلَوُنَّ فِيْۤ اَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ وَلَـتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْۤا اَذًى كَثِيْـرًا ۗ  وَاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا فَاِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ

latublawunna fiii amwaalikum wa anfusikum, wa latasma’unna minallaziina uutul-kitaaba ming qoblikum wa minallaziina asyrokuuu azang kasiiroo, wa in tashbiruu wa tattaquu fa inna zaalika min ‘azmil-umuur

“Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu. Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan.”

(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 186)

Karena itu kewajiban Rasul dan para pewarisnya utk terus berdakwah dan mendakwahkan kebenaran secara konsisten, sabar, benar, sungguh-sungguh dan dgn pengajaran yg baik. Tidak perlu khawatir dan bagaimana hasil dakwah itu. Karena hidayah kepada seseorang itu, hanyalah milik Allah dan hak Allah. Sebagaimana diterangkan Allah dlm surat An Nahl:125

Allah SWT berfirman:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ  وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ۗ  اِنَّ  رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

ud’u ilaa sabiili robbika bil-hikmati wal-mau’izhotil-hasanati wa jaadil-hum billatii hiya ahsan, inna robbaka huwa a’lamu biman dholla ‘an sabiilihii wa huwa a’lamu bil-muhtadiin

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

(QS. An-Nahl 16: Ayat 125)

Ayat ini menjelaskan 4 komponen Dakwah.

1. Para dai.

Umat Rasul yg akan mendapatkan keberuntungan adalah yang aktif dalam medan da’wah. Sebagaimana diterangkan oleh Allah.

Allah SWT berfirman:

وَلْتَكُنْ  مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ  عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ  وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

waltakum mingkum ummatuy yad’uuna ilal-khoiri wa ya`muruuna bil-ma’ruufi wa yan-hauna ‘anil-mungkar, wa ulaaa`ika humul-muflihuun

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 104)

2. Mad’u = Obyek Dakwah. 

Maka, umat Islam harus terlibat dlm dakwah utk mendapatkan info syariat-syariat yang benar dan dapat menyampaikan kebenaran itu kepada yang lain. Dan jangan berhenti atau putus dari generasi ke generasi. Karena orang-orang kafir dan munafik pun menyampaikan ide ide buruknya utk mengalahkan kebenaran dan kebaikan, karena mereka mengharapkan materi dunia.

Allah SWT berfirman:

اَلْمُنٰفِقُوْنَ  وَالْمُنٰفِقٰتُ بَعْضُهُمْ مِّنْۢ بَعْضٍ ۘ  يَأْمُرُوْنَ بِالْمُنْكَرِ  وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوْفِ وَيَقْبِضُوْنَ اَيْدِيَهُمْ ۗ  نَسُوا  اللّٰهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ  اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

al-munaafiquuna wal-munaafiqootu ba’dhuhum mim ba’dh, ya`muruuna bil-mungkari wa yan-hauna ‘anil-ma’ruufi wa yaqbidhuuna aidiyahum, nasulloha fa nasiyahum, innal-munaafiqiina humul-faasiquun

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu dengan yang lain adalah (sama), mereka menyuruh (berbuat) yang mungkar dan mencegah (perbuatan) yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). Mereka telah melupakan Allah, maka Allah melupakan mereka (pula). Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.”

(QS. At-Taubah 9: Ayat 67)

3. Materi Dakwahnya

Yaitu materi yg jelas dengan dalil yg jelas, sesuai dengan yg dibutuhkan masyarakat.

Materi itu meliputi aqidah, ibadah, muamalah, masalah ekonomi Islami, politik Islami, hukum-hukum Syariat, Akhlaq Islam, dan seluruh aspek kehidupan.

Bahkan materi kristologi juga harus dikuasai dan disampaikan utk menkounter misi kristenisasi dan pemurtadan.

Dan kaum muslim itu harus menjadi pelopor, utk selalu menjadi pelaku yg optimis. Meskipun kaum muslim pun terdiri dari 3 kelompok yg dijelaskan oleh Allah dlm surat Fathir ayat 32

Allah SWT berfirman:

ثُمَّ اَوْرَثْنَا  الْكِتٰبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۚ  فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ ۚ   وَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌ   ۚ  وَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِالْخَيْرٰتِ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ  ذٰلِكَ  هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيْرُ 

summa aurosnal-kitaaballaziinashthofainaa min ‘ibaadinaa, fa min-hum zhoolimul linafsih, wa min-hum muqtashid, wa min-hum saabiqum bil-khoirooti bi`iznillaah, zaalika huwal-fadhlul-kabiir

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.”

(QS. Fatir 35: Ayat 32)

4. Metode Da’wah

Dalam menyampaikan dakwah hrs dengan metode yg beragam, agar materi yg disampaikan dapat dipahami secara komprehensip dan lengkap.

Apalagi dengan semakin majunya peradaban teknologi maka dakwah juga bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi kekinian.

Namun demikian, akan tetap lebih efektif dan hrs tetap dipertahankan adalah dakwah langsung, krn hal tsb utk lebih mendekatkan hati sesama kaum muslimin, memperkuat ukhuwah dan silaturahim, sekaligus mengundang berkah dan rahmat Allah serta ampunan Allah.

Demikian pengajian rutin Sabtu sore ini dicatat dan disebarluaskan.

Semoga ayat-ayat Al Qur’an di atas, memberi pencerahan dan memperkuat iman, ilmu, dan amal perilaku kita  dlm menjalani kehidupannya di dunia. Semangat dlm berjuang menegakkan ajaran Agama yg diwariskan Rasul kepada kita, dan optimis dalam menjalani perjuangan da’wah utk membela negara, agar mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan selamat di alam akhirat.  Semoga menjadi ilmu yg bermanfaat. Aamiin. (Mohon bantu sebarkan agar dapat bagian pahala ilmu yg bermanfaat).

سبحانك اللهم وبحمدك اشهد ان لا اله الا انت استغفرك ةاتوب اليك

Bogor, 20/01/18 Dicatat oleh : Willyuddin A.R. Dhani