• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 354,552 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Ketaatan kepada Allah sebagai Karakter

Seri mengaji tafsir Masjid Al Hijri 1, Ahad, 12/11/17, Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc.

Surat Al Ahzab:  36

اعوذبالله من الشيطان الرجيم.

بسم الله الرحمن الرحيم

Allah SWT berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗۤ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ   ۗ  وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًا

wa maa kaana limu`miniw wa laa mu`minatin izaa qodhollaahu wa rosuuluhuuu amron ay yakuuna lahumul-khiyarotu min amrihim, wa may ya’shillaaha wa rosuulahuu fa qod dholla dholaalam mubiinaa

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.”

(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 36)

PELAJARAN & HIKMAH YG ADA DI DALAMNYA:

1. Ayat ini lanjutan ayat sebelumnya, tentang karakter orang beriman yg akan mendapat keberuntungan dan pembalasan yg baik berupa pengampunan dosa dan surga yg penuh kenikmatan.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمٰتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ وَالْقٰنِتِيْنَ وَالْقٰنِتٰتِ وَالصّٰدِقِيْنَ وَالصّٰدِقٰتِ وَالصّٰبِرِيْنَ وَالصّٰبِرٰتِ وَالْخٰشِعِيْنَ وَالْخٰشِعٰتِ وَالْمُتَصَدِّقِيْنَ وَ الْمُتَصَدِّقٰتِ وَالصَّآئِمِيْنَ وَالصّٰٓئِمٰتِ وَالْحٰفِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَالْحٰـفِظٰتِ وَالذّٰكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّ الذّٰكِرٰتِ  ۙ  اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا

innal-muslimiina wal-muslimaati wal-mu`miniina wal-mu`minaati wal-qoonitiina wal-qoonitaati wash-shoodiqiina wash-shoodiqooti wash-shoobiriina wash-shoobirooti wal-khoosyi’iina wal-khoosyi’aati wal-mutashoddiqiina wal-mutashoddiqooti wash-shooo`imiina wash-shooo`imaati wal-haafizhiina furuujahum wal-haafizhooti waz-zaakiriinalloha kasiirow waz-zaakirooti a’addallohu lahum maghfirotaw wa ajron ‘azhiimaa

“Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”

(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 35)

Karena itu segala aturan, ketetapan maupun ketentuan hukum dari Allah dan RasulNya, disikapi dgn komitmen dan keimanan yg kuat oleh setiap orang beriman.

Allah mengingatkan tdk pantas bagi orang beriman mencari-cari alasan terhadap segala aturan dan ketetapan dari Allah dan RasulNya, dgn lebih mengedepankan budaya dan tradisi-tradisi masyarakat atau tradisi nenek moyang.

2. Ada empat alasan mengapa setiap mukmin hrs tunduk dan taat kepada ketentuan Allah & RasulNya:

a. Keselamatan dan kebahagiaan hidup kita tergantung dari ketaatan kita kepada ketentuan Allah dan RasulNya. Ini sesuai dengan janji dari Allah, dimana Allah SWT telah berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا  

yaaa ayyuhallaziina aamanuttaqulloha wa quuluu qoulan sadiidaa

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar,”

(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 70)

يُّصْلِحْ  لَـكُمْ اَعْمَالَـكُمْ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ  وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ  فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

yushlih lakum a’maalakum wa yaghfir lakum zunuubakum, wa may yuthi’illaaha wa rosuulahuu fa qod faaza fauzan ‘azhiimaa

“niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.”

(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 71)

b. Manusia akan celaka dan dilanda kerusakan,  jika tdk memiliki komitmen keimanan kpd aturan Allah dan RasulNya, sebagaimana firman Allah :

Yakni akhir ayat 36 diatas: 

“Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.”

(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 36)

Juga firman Allah SWT berikut ini : 

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَـقُّ اَهْوَآءَهُمْ  لَفَسَدَتِ السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّ ۗ  بَلْ اَتَيْنٰهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ  عَنْ ذِكْرِهِمْ مُّعْرِضُوْنَ 

wa lawittaba’al-haqqu ahwaaa`ahum lafasadatis-samaawaatu wal-ardhu wa man fiihinn, bal atainaahum bizikrihim fa hum ‘an zikrihim mu’ridhuun

“Dan seandainya kebenaran itu menuruti keinginan mereka, pasti binasalah langit dan bumi, dan semua yang ada di dalamnya. Bahkan Kami telah memberikan peringatan kepada mereka, tetapi mereka berpaling dari peringatan itu.”

(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 71)

c. Aturan Allah dan RasulNya itu sesuai dengan fitrah manusia, dan sangat adil bagi setiap manusia.

Allah SWT berfirman:

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا   ۗ  فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا   ۗ  لَا تَبْدِيْلَ لِخَـلْقِ اللّٰهِ  ۗ  ذٰ لِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ   ۙ   وَلٰـكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ   

fa aqim waj-haka lid-diini haniifaa, fithrotallohillatii fathoron-naasa ‘alaihaa, laa tabdiila likholqillaah, zaalikad-diinul qoyyimu wa laakinna aksaron-naasi laa ya’lamuun

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,”

(QS. Ar-Rum 30: Ayat 30)

مُنِيْبِيْنَ اِلَيْهِ وَاتَّقُوْهُ وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَلَا تَكُوْنُوْا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ 

muniibiina ilaihi wattaquuhu wa aqiimush-sholaata wa laa takuunuu minal-musyrikiin

“dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta laksanakanlah sholat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah,”

(QS. Ar-Rum 30: Ayat 31)

Allah SWT berfirman:

مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا   ۗ  كُلُّ حِزْبٍۢ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ

minallaziina farroquu diinahum wa kaanuu syiya’aa, kullu hizbim bimaa ladaihim farihuun

“yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”

(QS. Ar-Rum 30: Ayat 32)

Kita sangat bersedih kpd penyelenggara negara, yg memberi kebebasan kpd aliran-aliran sesat dan aliran kepercayaan yg menyimpang yg tdk sesuai dgn fitrah penciptaan manusia, yg pasti bakal menimbulkan kerusakan akal dan kebodohan manusia.

d. Allah dan RasulNya tdk pernah menyuruh atau menetapkan sesuatu perintah, kecuali hal itu demi kebaikan dan kebahagiaan umat manusia. Dan tdk melarang sesuatu dalam ketetapanNya, kecuali karena apabila dilanggar akan berakibat buruk dan menghancurkan manusia itu sendiri kpd kebinasaan dan penyesalan.

Allah SWT berfirman:

اَ لَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُمِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَهٗ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰٮةِ وَالْاِنْجِيْلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهٰٮهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰۤئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ اِصْرَهُمْ وَالْاَغْلٰلَ الَّتِيْ كَانَتْ عَلَيْهِمْ   ۗ  فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِهٖ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَ اتَّبَـعُوا النُّوْرَ الَّذِيْۤ اُنْزِلَ مَعَهٗ ۤ   ۙ  اُولٰۤئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

allaziina yattabi’uunar-rosuulan-nabiyyal-ummiyyallazii yajiduunahuu maktuuban ‘indahum fit-taurooti wal-injiili ya`muruhum bil-ma’ruufi wa yan-haahum ‘anil-mungkari wa yuhillu lahumuth-thoyyibaati wa yuharrimu ‘alaihimul-khobaaa`isa wa yadho’u ‘an-hum ishrohum wal-aghlaalallatii kaanat ‘alaihim, fallaziina aamanuu bihii wa ‘azzaruuhu wa nashoruuhu wattaba’un-nuurollaziii unzila ma’ahuuu ulaaa`ika humul-muflihuun

“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang beruntung.”

(QS. Al-A’raf 7: Ayat 157)

Oleh karena itu, segala yg membawa dampak keburukan bagi manusia (pribadi maupun umum) pada hukum azalinya (hukum dasarnya) adalah dilarang (diharamkan) oleh Allah. Daging babi, khamar (minuman beralkohol), berjudi, merokok, semuanya itu membawa dampak keburukan, maka hukum dasarnya diharamkan oleh Allah dan RasulNya.

Semoga kita mampu bersikap dan berperilaku dgn benar sebagai orang beriman yg tdk sekedar mengaku beriman saja, yakni rela diatur dgn tunduk dan taat kepada Aturan Allah dan RasulNya s.a.w. sehingga menjadi orang-orang yg diselamatkan oleh Allah S.W.T. Aamiin.

Semoga ayat-ayat Al Qur’an di atas, memberi pencerahan dan memperkuat iman, ilmu, dan amal perilaku umat Islam dlm menjalani kehidupannya di dunia. Semangat dlm berjuang menegakkan ajaran agama dan membela negara, agar mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan selamat di alam akhirat.  Semoga menjadi ilmu yg bermanfaat. Aamiin. (Mohon bantu sebarkan agar dapat bagian pahala ilmu yg bermanfaat).

سبحانك اللهم وبحمدك اشهد ان لا اله الا انت استغفرك ةاتوب اليك

Dicatat oleh : Willyuddin A.R. Dhani

Iklan

Visi & misi Keluarga Muslim

Seri mengaji tafsir Masjid Al Hijri 1, Ahad, 22/10/17, Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc.

Surat Al Ahzab:  30-31

اعوذبالله من الشيطان الرجيم.

بسم الله الرحمن الرحيم

Allah SWT berfirman:

يٰنِسَآءَ النَّبِيِّ مَنْ يَّأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ يُّضٰعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ   ۗ  وَكَانَ ذٰ لِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرًا

yaa nisaaa`an-nabiyyi may ya`ti mingkunna bifaahisyatim mubayyinatiy yudhoo’af lahal-‘azaabu dhi’faiin, wa kaana zaalika ‘alallohi yasiiroo

“Wahai istri-istri Nabi! Barang siapa di antara kamu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya azab-Nya akan dilipatgandakan dua kali lipat kepadanya. Dan yang demikian itu, mudah bagi Allah.”

(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 30)

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يَّقْنُتْ مِنْكُنَّ لِلّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَتَعْمَلْ صَالِحًـا نُّؤْتِهَـآ اَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ ۙ  وَاَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيْمًا

wa may yaqnut mingkunna lillaahi wa rosuulihii wa ta’mal shoolihan nu`tihaa ajrohaa marrotaini wa a’tadnaa lahaa rizqong kariimaa

“Dan barang siapa di antara kamu (istri-istri Nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan kebajikan, niscaya Kami berikan pahala kepadanya dua kali lipat dan Kami sediakan rezeki yang mulia baginya.”

(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 31)

PELAJARAN & HIKMAH YG ADA DI DALAMNYA:

1. Pada ayat ini melanjutkan penjelasan ayat sebelumnya, yg membahas tentang ancaman siksaan bagi istri-istri yg durhaka, tetapi juga menjelaskan yg taat kepada perintah Allah dan ajaran RasulNya menjadi istri-istri sholehah yg qonaah, sederhana akan mendapatkan kemuliaan dan penghormatan dari Allah dgn diberikan rezki yg baik.

2. Meskipun ayat-ayat ini khitobnya penjelasan keadaan istri-istri nabi, tetapi pelajaran ini berlaku umum untuk seluruh kaum muslimin.

3. Dalam Islam suami-suami hrs mempunyai visi membangun keluarga yg diberkahi Allah dgn mengajak dan membimbing istri-istrinya untuk memiliki visi dan misi yg sama. Krn istri-istri tsb diharapkan akan menjadi pasangan-pasangan yg abadi kelak di alam akhirat ( surga). Tetapi apabila istri-istri menentang visi & misi suami (imam) dikhawatirkan menjadi istri durhaka sebagaimana istri nabi Nuh dan Nabi Luth.

ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّـلَّذِيْنَ كَفَرُوا امْرَاَتَ نُوْحٍ وَّ امْرَاَتَ لُوْطٍ   ۗ  كَانَـتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَـيْنِ فَخَانَتٰهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللّٰهِ شَيْـئًا وَّقِيْلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِيْنَ

dhoroballohu masalal lillaziina kafarumro`ata nuuhiw wamro`ata luuth, kaanataa tahta ‘abdaini min ‘ibaadinaa shoolihaini fa khoonataahumaa fa lam yughniyaa ‘an-humaa minallohi syai`aw wa qiiladkhulan-naaro ma’ad-daakhiliin

“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh, dan istri Lut. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada kedua istri itu), Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).”

(QS. At-Tahrim 66: Ayat 10)

Sebaliknya jika istri sdh taat kepada aturan Allah, aturan NabiNya, dan taat kepada suaminya, walaupun suaminya seorang perdurhaka pun, maka ia akan tetap dimuliakan oleh Allah, seperti istri Fir’aun.

Allah SWT berfirman:

وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّـلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا امْرَاَتَ فِرْعَوْنَ ۘ  اِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِيْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَـنَّةِ وَنَجِّنِيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ 

wa dhoroballohu masalal lillaziina aamanumro`ata fir’auun, iz qoolat robbibni lii ‘indaka baitan fil-jannati wa najjinii min fir’auna wa ‘amalihii wa najjinii minal-qoumizh-zhoolimiin

“Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir’aun, ketika dia berkata, Ya Tuhanku, bangunkan lah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim,”

(QS. At-Tahrim 66: Ayat 11)

Maka berbahagialah istri-istri yang sholehah, seperti yg rajin ngaji di Al Hijri tiap Ahad pagi yg dilantai atas. (Kelakar ustadz Didin).

4. Dalam hubungan membangun keluarga yg diberkahi Allah, keluarga itu berkaitan dengan pewarisan harta pusaka (waris) yg penjelasannya dibahas dalam ayat-ayat waris.

Karena itu dalam membangun keluarga yg diberkahi Allah maka istri-istri yg sholehah itu yg menjaga kehormatannya seperti yg dijelaskan Allah 

Allah SWT berfirman:

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَاۤ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ  ۗ  فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ  ۗ  وَالّٰتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّ  ۚ  فَاِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًا   ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا

ar-rijaalu qowwaamuuna ‘alan-nisaaa`i bimaa fadhdholallohu ba’dhohum ‘alaa ba’dhiw wa bimaaa anfaquu min amwaalihim, fash-shoolihaatu qoonitaatun haafizhootul lil-ghoibi bimaa hafizhollaah, wallaatii takhoofuuna nusyuuzahunna fa’izhuuhunna wahjuruuhunna fil-madhooji’i wadhribuuhunn, fa in atho’nakum fa laa tabghuu ‘alaihinna sabiilaa, innalloha kaana ‘aliyyang kabiiroo

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Maha Tinggi, Maha Besar.”

(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 34)

Saat ini, kondisi keluarga-keluarga di Indonesia mulai mengkhawatirkan karena tertipu dgn perkembangam globalisasi sehingga angka perceraian mencapai 30%, sebagian besar karena perselingkuhan dan sebagian lain krn alasan ekonomi (materialistik).

5. Karena itu kewajiban suami itu sangat penting, yakni menjelaskan dan membimbing istri dan keluarganya tentang visi dan misi membangun keluarga yg diberkahi Allah, maka suami yg baik adalah yg memperlakukan istri-istrinya dgn baik, berbicara lembut, melindunginya dari segala keburukan lahir dan batin.

 Nabi menjelaskan : Tidaklah seseorang itu memuliakan istrinya kecuali dia orang yg mulia, dan tdklah seseorang itu menghinakan istrinya kecuali orang tsb adalah orang yg hina.

Maka berbahagialah keluarga-keluarga muslim yg dibangun atas dasar misi dan visi untuk menjadi keluarga yg diberkahi Allah S.W.T. 

Semoga kita dan keluarga-keluarga kita dijadikan sebagai keluarga-keluarga yg diberkahi Allah. Aamiin.

Demikian pengajian Subuh ini disebarluaskan. Semoga ayat-ayat Al Qur’an di atas, memberi pencerahan dan memperkuat iman, ilmu, dan amal perilaku umat Islam dlm menjalani kehidupannya di dunia. Semangat dlm berjuang menegakkan ajaran agama dan membela negara, agar mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan selamat di alam akhirat.  Semoga menjadi ilmu yg bermanfaat. Aamiin.

سبحانك اللهم وبحمدك اشهد ان لا اله الا انت استغفرك ةاتوب اليك

Dicatat oleh : Willyuddin A.R. Dhani

Membimbing Keluarga dengan Kebijaksanaan 

Seri mengaji tafsir Masjid Al Hijri 1, Ahad, 15/10/17, Ust. Dr. H. Ibdalsyah MA.

Surat Al Ahzab:  28-29.

اعوذبالله من الشيطان الرجيم.

بسم الله الرحمن الرحيم

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّاَزْوَاجِكَ اِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا وَزِيْنَتَهَا فَتَعَالَيْنَ اُمَتِّعْكُنَّ وَاُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيْلًا

yaaa ayyuhan-nabiyyu qul li`azwaajika ing kuntunna turidnal-hayaatad-dun-yaa wa ziinatahaa fa ta’aalaina umatti’kunna wa usarrihkunna saroohan jamiilaa

“Wahai nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, Jika kamu menginginkan kehidupan di dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikan kepadamu mut‘ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.”

(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 28)

Allah SWT berfirman:

وَاِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَالدَّارَ الْاٰخِرَةَ فَاِنَّ  اللّٰهَ اَعَدَّ لِلْمُحْسِنٰتِ مِنْكُنَّ اَجْرًا عَظِيْمًا

wa ing kuntunna turidnalloha wa rosuulahuu wad-daarol-aakhirota fa innalloha a’adda lil-muhsinaati mingkunna ajron ‘azhiimaa

“Dan jika kamu menginginkan Allah dan Rasul-Nya dan negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan pahala yang besar bagi siapa yang berbuat baik di antara kamu.”

(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 29)

PELAJARAN DAN HIKMAH YG ADA DI DALAMNYA:

1. Ayat ini, berkaitan dengan kisah pasca perang Al Ahzab (dengan kaum kafir dan para sekutunya), dimana Rasulullah s.a.w tdk mendapatkan ghonimah yg banyak, ketika itu istri-istri Rasul s.a.w mengharapkan dapat bagian masing-masing dari harta, krn selama ini hidupnya bersama dengan Rasulullah s.a.w dalam kesederhanaan, krn Rasulullah lebih sering memberi sedekah pembagian ghanimah kepada orang lain dalam rangka dakwah mengajak orang lain untuk ber Islam.

Ketika istri-istri Nabi mengharapkan pemenuhan kebutuhan dzahir (materi dunia) tsb, sedangkan Rasul memiliki keterbatasan harta yg dikaruniakan kepada beliau, maka turunlah wahyu ayat ke 28 & 29 surat Al Ahzab ini.

2. Dalam kehidupan berumah tangga, memang kewajiban suami utk memenuhi dan menafkahi istri secara dzahir dan batin dengan cara yang ma’ruf sesuai dengan kemampuan dan apa yang telah ditaqdirkan oleh Allah. Sesuai dgn perintah Allah.

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَحِلُّ لَـكُمْ اَنْ تَرِثُوا النِّسَآءَ كَرْهًا  ۗ  وَلَا تَعْضُلُوْهُنَّ لِتَذْهَبُوْا بِبَعْضِ مَاۤ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اِلَّاۤ اَنْ يَّأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ  ۚ  وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ  ۚ  فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰۤى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـئًـا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا

yaaa ayyuhallaziina aamanuu laa yahillu lakum an tarisun-nisaaa`a kar-haa, wa laa ta’dhuluuhunna litaz-habuu biba’dhi maaa aataitumuuhunna illaaa ay ya`tiina bifaahisyatim mubayyinah, wa ‘aasyiruuhunna bil-ma’ruuf, fa ing karihtumuuhunna fa ‘asaaa an takrohuu syai`aw wa yaj’alallohu fiihi khoirong kasiiroo

“Wahai orang-orang yang beriman! Tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya”

(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 19)

Allah SWT berfirman:

نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّـكُمْ ۖ  فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ اَنّٰى شِئْتُمْ  وَقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ ۗ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّکُمْ مُّلٰقُوْهُ ۗ  وَ بَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ

nisaaa`ukum harsul lakum fa`tuu harsakum annaa syi`tum wa qoddimuu li`anfusikum, wattaqulloha wa’lamuuu annakum mulaaquuh, wa basysyiril-mu`miniin

“Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman.”

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 223)

Karena itu wanita muslimah yg shalehah adalah wanita yang menghargai dan tetap hormat kepada suaminya dalam keadaan suka maupun duka, menjaga kehormatan diri dan keluarganya dari hasutan dan tipu daya setan yg selalu ingin mencerai beraikan kehidupan rumah tangga orang-orang yg beriman.

Allah SWT berfirman:

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَاۤ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ  ۗ  فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ  ۗ  وَالّٰتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّ  ۚ  فَاِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًا   ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا

ar-rijaalu qowwaamuuna ‘alan-nisaaa`i bimaa fadhdholallohu ba’dhohum ‘alaa ba’dhiw wa bimaaa anfaquu min amwaalihim, fash-shoolihaatu qoonitaatun haafizhootul lil-ghoibi bimaa hafizhollaah, wallaatii takhoofuuna nusyuuzahunna fa’izhuuhunna wahjuruuhunna fil-madhooji’i wadhribuuhunn, fa in atho’nakum fa laa tabghuu ‘alaihinna sabiilaa, innalloha kaana ‘aliyyang kabiiroo

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Maha Tinggi, Maha Besar.”

(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 34)

3. Kewajiban lainnya dari seorang suami terhadap istrinya yang telah ditetapkan oleh Allah, adalah membimbing istri dan keluarga utk menjadi manusia-manusia yg bertaqwa, secara sabar, bijak dan penuh kasih sayang, agar keluarganya terhindar dari ancaman api neraka. Sesuai dengan perintah Allah

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ  نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ  لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

yaaa ayyuhallaziina aamanuu quuu anfusakum wa ahliikum naarow wa quuduhan-naasu wal-hijaarotu ‘alaihaa malaaa`ikatun ghilaazhun syidaadul laa ya’shuunalloha maaa amarohum wa yaf’aluuna maa yu`maruun

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

(QS. At-Tahrim 66: Ayat 6)

Mengapa dalam membimbing keluarganya harus tetap dengan sabar, bijak dan penuh kasih sayang? Karena diantara anak dan istrinya kemungkinan akan ada yg menjadi musuhnya, sehingga suami tdk boleh berputus asa terhadap apapun ujian hidupnya dalam membina rumah tangganya.

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ  اٰمَنُوْۤا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْ ۚ   وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

yaaa ayyuhallaziina aamanuuu inna min azwaajikum wa aulaadikum ‘aduwwal lakum fahzaruuhum, wa in ta’fuu wa tashfahuu wa taghfiruu fa innalloha ghofuurur rohiim

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

(QS. At-Taghabun 64: Ayat 14)

Allah SWT berfirman:

اِنَّمَاۤ  اَمْوَالُـكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ    ۗ  وَاللّٰهُ عِنْدَهٗۤ اَجْرٌ عَظِيْمٌ

innamaaa amwaalukum wa aulaadukum fitnah, wallohu ‘indahuuu ajrun ‘azhiim

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.”

(QS. At-Taghabun 64: Ayat 15)

Karena kelebihan seorang suami ini, maka Rasulullah pun  pernah bersabda: “Seandainya aku diijinkan menyuruh manusia untuk bersujud kepada sesama manusia, niscaya aku perintahkan kepada wanita (istri) untuk bersujud kepada suaminya.

Hal ini karena beratnya tanggung jawab suami untuk keselamatan istri dan keluarganya dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan harus dilakukan dengan penuh kesabaran dan ketawakalan. 

Adakalanya seorang suami mendapatkan perlawanan yg sangat keras dari istri atau anaknya, sehingga dapat mempermalukannya dalam lingkungan sosial masyarakatnya, karena akhlaq istri dan anaknya yg tidak baik. Maka kesabaran dan kearifan suami akan mendatangkan ampunan Allah.

4. Bagi perempuan (istri-istri) yg lebih cenderung dan selalu menuntut pemenuhan materi terhadap suaminya (materialistik), yg tdk dapat dipenuhi oleh suaminya karena keterbatasan karunia Allah yg ditaqdirkan kepada suaminya, maka suami boleh menceraikannya dengan cara yg baik, sesuai dan merujuk kepada ayat 28 & 29 surat Al Ahzab tersebut di atas. Wallahu a’lam.

Namun kepada istri-istri yang lebih cenderung materialistik dan suka menuntut hal-hal diluar kemampuan suaminya, hendaklah berhati hati, karena kedudukannya di sisi Allah tdk beda dengan istri-istri durhaka seperti istri nabi Nuh dan nabi Luth _alaihissalam_. Karakter istri durhaka seperti yg dijelaskan oleh

Rasul s.a.w yg pernah bersabda yg artinya kurang lebih demikian:

“Aku lihat isi neraka sebagian besar adalah kaum wanita, karena mereka lemah akal (kurang bersyukur). Para sahabat bertanya, apa yg dimaksud lemah akalnya? Dijelaskan oleh Rasul s.a.w dgn bersabda seberapa pun kalian telah berbuat baik kepada mereka, tetapi ketika mereka mendapati satu keburukanmu (yg tidak berkenan dihatinya) maka mereka akan berkata, kamu belum pernah sedikitpun berbuat baik kepadaku.

Berbahagialah jika seorang suami memiliki istri-istri yg shalehah dan keturunan yg shaleh-shalehah. Semoga kita termasuk suami yg demikian. Aamiin.

Dan merugilah istri-istri yg durhaka kepada para suaminya. 

Demikian pengajian Subuh ini disebarluaskan. Semoga ayat-ayat al Qur’an di atas, memberi pencerahan dan memperkuat iman, ilmu, dan amal perilaku umat Islam dlm menjalani kehidupannya di dunia. Semangat dlm berjuang menegakkan ajaran agama dan membela negara, agar mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan selamat di alam akhirat.  Semoga menjadi ilmu yg bermanfaat. Aamiin. (Mohon bantu sebarkan agar dapat bagian pahala ilmu yg bermanfaat).

سبحانك اللهم وبحمدك اشهد ان لا اله الا انت استغفرك ةاتوب اليك

Dicatat oleh : Willyuddin A.R. Dhani

KEHINAAN BAGI PENGKHIANAT

Seri mengaji Tafsir Al-Hijri, Ahad, 8/10/17, Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, MS

Tadabbur QS. Al-Ahzab Ayat 26-27
Allah Azza Wa Jalla berfirman,

وَأَنْزَلَ الَّذِينَ ظَاهَرُوهُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ صَيَاصِيهِمْ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا

Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizah) yang membantu mereka (golongan-golongan yang bersekutu) dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian mereka kamu bunuh dan sebagian yang lain kamu tawan.
وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَمْ تَطَئُوهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا

Dan Dia mewariskan kepadamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu.

Hikmah dan Pelajaran :

kedua ayat ini menjelaskan penyerangan kaum Mukminin terhadap kaum Yahudi Bani Quraizah. Bani Quraizah merupakan salahsatu kabilah Yahudi yang sangat terkenal di Madinah. Karena benteng pemukiman Bani Quraizah masih berlokasi di wilayah Madinah, maka Rasulullah saw melakukan atau mengadakan perjanjian dengan mereka untuk saling menjaga, melindungi wilayah Madinah dari serangan pihak luar, dan tidak saling mengkhianati satu sama lainnya. Salah satu isi perjanjian adalah ketika kaum Muslimin mendapatkan ancaman serangan dari musuh pihak luar Madinah, maka Bani Quraizah harus membantu umat Islam. 

Pengkhianatan Bani Quraizah terhadap perjanjiannya dengan umat Islam terjadi ketika umat Islam menghadapi pasukan golongan yang bersekutu yang dikenal dengan perang Ahzab. Mereka (Bani Quraizah) membangun kerjasama dengan pasukan golongan bersekutu, memberi sejumlah informasi ke pihak musuh, dan termasuk akan melakukan serangan terhadap umat Islam dari dalam. Tindakan mereka kaum Yahudi ini bagai menggunting dalam lipatan. Demi melihat pasukan golongan bersekutu yang jumlahnya begitu banyak, seolah tidak ada harapan menang bagi umat Islam, mereka pun berani berkhianat, melanggar perjanjiannya dengan Rasulullah muhammad saw.

Kondisi ini menjelaskan bahwa orang yang tidak beriman memang sulit untuk setia dengan janji terhadap umat Islam, akan selalu bekhianat dan mencari kesempatan untuk menghancurkan umat Islam. Prediksi Bani Quraizah jauh dari harapan, Allah justru memenangkan umat Islam, pasukan golongan berekutu itu lari pulang ke negeri-negeri mereka masing-masing. Dan karena Bani Quraizah ini telah membatalkan janji, telah berkhianat, dan telah membuat makar untuk menghancurkan Islam dari belakang, mereka pun harus menanggung akibat dari perbuatan mereka sendiri, umat Islam mendapat perintah dari Allah dan Rasul-Nya untuk membuat perhitungan dengan mereka.

Gambaran kerjasama yang dilakukan oleh Kaum Yahudi dengan pihak golongan bersekutu, saling bahu membahu diantara mereka sesama kafirin, bukanlah sesuatu yang aneh sebab memang demikianlah mereka disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya di surat Al-Anfal ayat 73. 

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah (saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar._ (QS. 8 : 73)

Bani Quraizah pun melanggar janji, padahal mereka melakukan perjanjian di Madinah, tertulis, dihadiri sejumlah saksi, dan ditandatangani oleh mereka. Alhasil, sejak dahulu hanya umat Islam yang bisa menjaga dan menepati janji. Memenuhi janji adalah diantara prinsip ajaran Islam. Pada surat Al-Maidah ayat 1 Allah memerintahkan ummat Islam untuk memenuhi janji-janjinya baik dalam urusan ekonomi atau pun politik. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ 

Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji.

Allah memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin dengan pertolongan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Pada dua ayat di atas (QS. Al-Ahzab : 26-27) terdapat dua pertolongan Allah kepada umat Islam menghadapi pengkhianatan Bani Quraizah: Pertama, ketakutan yang Allah hadirkan di hati-hati kaum Yahudi Bani quraizah. Karena ketakutan itulah, mereka keluar dari benteng-benteng mereka yang tinggi dan kokoh, yang secara logika sulit untuk ditembusi dan diterobosi. Kedua, Kepanikan yang luar biasa diantara mereka, sehingga pasrah dengan apa pun hukuman yang dijatuhkan kepada mereka. Dan pada akhirnya mereka disembelih oleh ummat Islam, sebagai akibat dari pengkhianatan mereka sendiri. Sekitar 800 orang laki-laki dewasa mereka  disembelih oleh ummat Islam. 

Korelasinya dengan perjanjian yang terjadi antara ummat Islam Palestina dengan kaum Yahudi dewasa ini. Mereka kaum Yahudi, jika kondisi tidak menguntungkan, akan menawarkan perjanjian damai dengan ummat Islam, namun sejatinya hanya untuk menunggu dan mencari kesempatan atau peluang yang pas dan tepat untuk menyerang umat Islam. Begitu kondisi mereka terjepit, maka perjanjian akan mereka tawarkan kepada ummat Islam. Demikian itulah seterusnya. Mereka Kaum Yahudi adalah trouble maker (pencipta dan pembuat masalah).

Hal yang menarik pula untuk kita angkat, bahwa kenyataannya hari ini, tentara-tentara Yahudi itu tetap dihinakan oleh Allah dengan rasa takut yang dalam di hati-hati mereka ketika menghadapi Ummat Islam. Maha benar Allah yang berfirman, _waqazafa fii quluubihim ar-ru’ba_ (Dan Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka). Begitu besar rasa takut mereka meskipun hanya menghadapi kaum wanita atau anak-anak Palestina yang hanya bersenjatakan ketapel. Tak heran jika sebagian besar tentara Yahudi itu memakai pampers karena ketakutan dari dalam diri mereka. Dalam kondisi sangat takut dan panik terkadang seseorang itu ngompol sendiri, nah begitulah mereka para tentara Yahudi. 

Allah selalu akan mendatangkan pertolongan kepada orang-orang yang beriman dari berbagai arah yang tidak terduga sebelumnya. Kasus kemenangan umat Islam di Jakarta pada pemilihan Gubernur DKI Jakarta merupakan salahsatu bentuk pertologan Allah kepada umat Islam. Keyakinan seperti ini harus selalu terbangun selagi ummat Islam konsisten di atas kebenaran.

Dua ayat di atas juga menyiratkan bahwa Allah senantiasa menjaga Nabi dan generasi sahabat-sahabatnya. Sahabat Nabi adalah sebaik-baik generasi ummat Islam. Mereka laksana bintang-bintang yang menghasilkan cahaya sendiri. Maka siapa saja yang mengikuti cahaya dari bintang-bintang itu niscaya akan mendapatkan petunjuk. Sayyid Quthub dalam kitabnya Ma’aalim fittariq menjelaskan bahwa sahabat itu _Jailun Qur’aniyyun_ generasi terbaik al-Qur’-an. Kepada siapa pun dari mereka yang kita mengikutinya, niscaya kita akan mendapatkan hidayah. Yang disebut sebagai sahabat adalah mereka yang hidup semasa dengan Nabi Muhammad saw, berjumpa dengan beliau saw, beriman dengan ajaran yang dibawah oleh beliau saw dan meninggal dengan tetap pada keimanan itu. Siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik niscaya akan mendapatkan petunjuk dan kemuliaan. Allah berfirman,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung._ (QS. 9: 100)
Terakhir, Ummat Islam harus saling bersinergi, saling ta’awwun (tolong menolong), saling bahu membahu, saling menguatkan satu sama lainnya. Dengan cara demikian inilah pertolongan Allah di dunia akan diturunkan kepada ummat Islam. Dan kelak di akhirat, ada diantara ummat Islam yang akan mendapatkan pemuliaan dari Allah meskipun mereka bukan Nabi, bukan pula sahabat Nabi, bukan pula para syuhada, tetapi mereka adalah yang dahulunya di dunia saling bersinergi dengan saudara muslimnya, saling mencintai dan mengasihi karena Allah.

Wallahu a’lam 

Ditulis oleh Samsul Basri, SSi, MEI

Orang Mukmin selalu dilindungi Allah

Seri mengaji tafsir  Al Hijri, Ahad, 01/10/17,  Ust. Dr. Ibdalsyah MA.

Surat Al Ahzab:  24-25

اعوذبالله من الشيطان الرجيم.

بسم الله الرحمن الرحيم

Allah SWT berfirman:

لِّيَجْزِيَ اللّٰهُ الصّٰدِقِيْنَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنٰفِقِيْنَ اِنْ شَآءَ اَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْ   ۗ  اِنَّ اللّٰهَ كَانَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا   

liyajziyallohush-shoodiqiina bishidqihim wa yu’azzibal-munaafiqiina in syaaa`a au yatuuba ‘alaihim, innalloha kaana ghofuuror rohiimaa

“agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan mengazab orang munafik jika Dia kehendaki, atau menerima tobat mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 24)

وَرَدَّ اللّٰهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوْا خَيْرًا   ۗ  وَكَفَى اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ الْقِتَالَ    ۗ  وَكَانَ اللّٰهُ قَوِيًّا عَزِيْزًا   

wa roddallohullaziina kafaruu bighoizhihim lam yanaaluu khoiroo, wa kafallohul-mu`miniinal-qitaal, wa kaanallohu qowiyyan ‘aziizaa

“Dan Allah menghalau orang-orang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, karena mereka (juga) tidak memperoleh keuntungan apa pun. Cukuplah Allah (yang menolong) menghindarkan orang-orang mukmin dalam peperangan. Dan Allah Maha Kuat, Maha Perkasa.” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 25)

PELAJARAN & HIKMAH YG ADA:

1. Ayat ini untuk menjelaskan ayat sebelumnya yaitu ayat 23 dimana Allah SWT berfirman:

مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ رِجَالٌ صَدَقُوْا مَا عَاهَدُوا اللّٰهَ عَلَيْهِ ۚ  فَمِنْهُمْ مَّنْ قَضٰى نَحْبَهٗ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّنْتَظِرُ   ۖ   وَمَا بَدَّلُوْا تَبْدِيْلًا  

minal-mu`miniina rijaalun shodaquu maa ‘aahadulloha ‘alaiih, fa min-hum mang qodhoo nahbahuu wa min-hum may yantazhiru wa maa baddaluu tabdiilaa

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya),” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 23)

Bahwa Allah selalu memberi balasan kpd orang-orang yang beriman dgn balasan yg terbaik, krn orang beriman selalu memenuhi janji dan tdk mengingkari kebenaran, bahkan rela berkurban utk menegakkan kebenaran keimanannya.

Org beriman sangat menginginkan balasan di negeri akhirat, dan Allah akan sempurnakan balasannya. Dan orang beriman selalu mencari jalan utk mendapatkan kebahagiaan akhirat.

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْۤا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّـكُمْ تُفْلِحُوْنَ

yaaa ayyuhallaziina aamanuttaqulloha wabtaghuuu ilaihil-wasiilata wa jaahiduu fii sabiilihii la’allakum tuflihuun

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 35)

Wasilah yg benar dlm Islam sesuai Sabda Rasul dgn 3 jalan:

Pertama : Wasilah dgn banyak beramal sholeh yg diridhoi Allah, misalnya dgn banyak berinfaq. Krn dgn berinfaq dia membuka sarana kebaikan Qs. 2:261.

Allah SWT berfirman:

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ  كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ   وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَآءُ  ۗ  وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

masalullaziina yunfiquuna amwaalahum fii sabiilillaahi kamasali habbatin ambatat sab’a sanaabila fii kulli sumbulatim mi`atu habbah, wallohu yudhoo’ifu limay yasyaaa`, wallohu waasi’un ‘aliim

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 261)

Contoh lain dgn meringankan kesulitan org lain. Sesuai dgn sabda Rasul: Barangsiapa meringankan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan meringankan kesulitannya di dunia dan kesulitannya di akhirat.

Kedua : Wasilah dgn meminta doa kpd orang-orang sholeh yg masih hidup, sebagaimana pernah terjadi antara Rasul kpd Umar bin Khotob saat hendak pergi haji. Ketika Umar berpamitan kpd Rasul maka Rasul s.a.w bersabda Wahai Umar jangan lupa sertakan doamu untukku setiap engkau berdoa.

Ketika ada orang yg datang meminta kpd Rasul utk dido’akan, maka dan Rasul membimbing dgn berdoa: Ya Allah berilah kebaikan sebagaimana kebaikan yg dimintakan oleh RasulMu Muhammad s.a.w.

Ketiga : wasilah dgn Asmaul Husna dan banyak bersholawat untuk Rasulullah s.a.w.

2. Orang beriman harus selalu mendahulukan kebenaran dlm berbicara, dalam menulis, dan dalam segala hal. Dan kebenaran itu hrs dapat dipertanggung jawabkan di hadapan Allah. Krn itu rujukan perkataannya, ilmunya dan amalnya adalah petunjuk Allah dan RasulNya.

Artinya: orang beriman itu akan selalu berusaha _sidqul kalam_ = berbicara benar dan _Sidqul muamalah_ benar dalam perbuatannya.

3. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang kepada hambaNya. Terhadap orang munafik saja, kemungkinan Allah akan memberi hidayah dan menerima taubatnya orang munafik tsb. Apalagi kpd orang mukmin. Oleh karena itu orang mukmin hrs selalu   bersangka baik kepada Allah dan tdk boleh berputus asa dgn Rahmat Allah.

4. Sesungguhnya Allah akan selalu melindungi orang-orang mukmin dari segala bentuk serangan dan permusuhan orang-orang kafir, musyrik dan munafik. Sehingga tdk mungkin orang-orang kafir itu dapat mengalahkan orang beriman. Dan ini adalah janji yg pasti berlaku dari Allah.

Allah SWT berfirman:

اۨ لَّذِيْنَ يَتَرَ بَّصُوْنَ بِكُمْ  ۚ  فَاِنْ كَانَ لَـكُمْ فَتْحٌ مِّنَ اللّٰهِ قَالُـوْۤا اَلَمْ نَـكُنْ مَّعَكُمْ     ۖ  وَاِنْ كَانَ لِلْكٰفِرِيْنَ نَصِيْبٌ ۙ  قَالُـوْۤا اَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُمْ مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ   ۗ  فَاللّٰهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ   ۗ  وَلَنْ يَّجْعَلَ اللّٰهُ لِلْكٰفِرِيْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ سَبِيْلًا

allaziina yatarobbashuuna bikum, fa ing kaana lakum fat-hum minallohi qooluuu a lam nakum ma’akum wa ing kaana lil-kaafiriina nashiibung qooluuu a lam nastahwiz ‘alaikum wa namna’kum minal-mu`miniin, fallohu yahkumu bainakum yaumal-qiyaamah, wa lay yaj’alallohu lil-kaafiriina ‘alal-mu`miniina sabiilaa

“(yaitu) orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu. Apabila kamu mendapat kemenangan dari Allah mereka berkata, Bukankah kami (turut berperang) bersama kamu? Dan jika orang kafir mendapat bagian, mereka berkata, Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang mukmin? Maka Allah akan memberi putusan di antara kamu pada hari Kiamat. *Allah tidak akan memberi jalan kepada orang kafir untuk mengalahkan orang-orang beriman*.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 141)

Ayat yg menunjukkan pembelaan Allah kpd orang-orang beriman ini, hendaklah menjadi penguat keyakinan, menjadi pendorong semangan dan menjadi dasar komitmen maupun konsistensi perjuangan orang beriman dlm mendahwahkan kebenaran syariat dan hukum-hukum Allah dan RasulNya.

Jika kemenangan yg dijanjikan itu belum terwujud, maka hal itu merupakan ujian keistiqomahan dan komitmen yg belum sesuai dgn persyaratan yg diinginkan Allah. Lbh dari itu, hal tsb merupakan indikasi ada sesuatu yg salah atau yg kurang dalam proses perjuangan atau untuk memperjuangkannya. Misalnya, kurang kompak atau kurang bersatu, kurang sabar sehingga mudah dicerai berai, mudah ditakut-takuti dll sebagainya.

Maka mari kita terus berbenah dan introspeksi diri utk menyongsong datangnya kemenangan dan kemuliaan yg dijanjikan.

Demikian pengajian subuh ini disebarluaskan. Semoga ayat-ayat al Qur’an di atas, memberi pencerahan dan memperkuat iman, ilmu, amal perilaku umat Islam dlm menjalani kehidupannya di dunia. Semangat dlm berjuang menegakkan ajaran agama dan membela negara, agar mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan selamat di alam akhirat.  Semoga menjadi ilmu yg bermanfaat. Aamiin. (Mohon bantu Sebarkan agar dapat bagian pahala ilmu yg bermanfaat).

سبحانك اللهم وبحمدك اشهد ان لا اله الا انت استغفرك ةاتوب اليك

Dicatat oleh : Willyuddin A.R. Dhani

Keteladanan Holistik Nabi Muhammad SAW 

Seri Mengaji Tafsir Masjid Al Hijri 1, Ahad, 17/09/17,  Prof. Dr. KH. Didin Hafiduddin  M.Sc.

Surat Al Ahzab:  21

اعوذبالله من الشيطان الرجيم.

بسم الله الرحمن الرحيم

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا   

laqod kaana lakum fii rosuulillaahi uswatun hasanatul limang kaana yarjulloha wal-yaumal-aakhiro wa zakarollaaha kasiiroo

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”

(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 21)

PELAJARAN & HIKMAH YG ADA DI DALAMNYA:

1. Ayat ini sering dibaca oleh para penceramah, terutama pada saat bulan Rabiul Awwal.

2. Bagi orang-orang yg beriman, diri Rasulullah s.a.w itu merupakan contoh teladan yg paling baik bagi manusia. Baik dalam perilakunya, perkataannya dan dalam segala hal. Karena beliau tidak pernah berkata-kata , berbuat sesuatu,  meninggalkan sesuatu atau melarang sesuatu, kecuali berdasarkan petunjuk wahyu Allah dan tidak berdasarkan hawa nafsunya.

3. Beliau adalah seorang ahli komunikasi yg terpercaya, ahli strategi dan ahli diplomasi yg tidak ada celanya.

4. Siapa pun yg mengaku beriman dan ingin disayang Allah, maka harus meneladani Rasulullah s.a.w. Umat ini tdk membutuhkan orang-orang yang pinter dan pandai tetapi tdk menjadi teladan. Lihat Ali Imran:164.

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ  ۚ  وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

laqod mannallohu ‘alal-mu`miniina iz ba’asa fiihim rosuulam min anfusihim yatluu ‘alaihim aayaatihii wa yuzakkiihim wa yu’allimuhumul-kitaaba wal-hikmah, wa ing kaanuu ming qoblu lafii dholaalim mubiin

“Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 164)

5. Yg dibutuhkan oleh umat ini adalah keteladanan dari para tokohnya, yg meneladani (ittiba) atau mengikuti dan mentaati Rasulullah s.a.w. yakni keteladanan dlm perilakunya, ucapannya dalam kepribadiannya.

Sbgmana Allah telah membuat ketentuan dlm Al Qur’an.

Allah SWT berfirman:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ  يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ  وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

qul ing kuntum tuhibbuunalloha fattabi’uunii yuhbibkumullohu wa yaghfir lakum zunuubakum, wallohu ghofuurur rohiim

“Katakanlah (Muhammad), Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 31)

قُلْ اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ ۚ  فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْكٰفِرِيْنَ

qul athii’ulloha war-rosuul, fa in tawallau fa innalloha laa yuhibbul-kaafiriin

“Katakanlah (Muhammad), Taatilah Allah dan Rasul. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”

(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 32)

مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللّٰهَ   ۚ  وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا  

may yuthi’ir-rosuula fa qod athoo’alloh, wa man tawallaa fa maaa arsalnaaka ‘alaihim hafiizhoo

“Barang siapa menaati Rasul (Muhammad) maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barang siapa berpaling (dari ketaatan itu) maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 80)

6. Keteladanan dalam hal lisan, Rasul memberi panduan dlm sabdanya: _”Siapa saja yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah kalian berbicara yg baik-baik, atau lebih baik kalian diam”_

Dlm perbuatan Rasulullah s.a.w sangat baik kepada tetangganya, kepada tamunya, dgn mengajarkan akhlaq kpd sesama manusia, diantaranya dgn bersabda; _”Barang siapa yg mengaku beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah berbuat baik kepada tetangganya dan kepada tamunya”_

Juga dalam sabdanya; “_Seorang muslim itu adalah yg menjadikan tetangganya dan orang yang ada di sekitarnya selamat dari lisan dan perbuatannya”_

7. Keteladanan dalam kepribadiannya, Rasulullah s.a.w selalu berpenampilan sederhana, menarik, simpatik, bersahaja dan menghargai para sahabatnya, umatnya, menghormati lawannya.

Berdasarkan itulah maka Allah memuji Nabi Muhammad s.a.w dgn kalimatNya bahwa beliau memiliki akhlaq yang agung;

Allah SWT berfirman:

وَاِنَّكَ  لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

wa innaka la’alaa khuluqin ‘azhiim

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.”

(QS. Al-Qalam 68: Ayat 4)

Dari pengajian dan materi ini, semoga kita mampu mengambil pelajaran dan hikmahnya agar kita termasuk hamba Allah yang mampu _ittiba_ dan mengambil contoh keteladanan yang baik dari Rasulullah s.a.w dan menjadi manusia-manusia yg sholeh dan sholehah, berbudi pekerti yg baik, menjadi teladan yang baik dan menjadi imam atau pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yg bertaqwa. Aamiin.

Demikian pengajian subuh ini disebarluaskan. Semoga ayat-ayat Al Qur’an di atas, memberi pencerahan dan memperkuat iman, ilmu, amal perilaku umat Islam dlm menjalani kehidupannya di dunia. Semangat dlm berjuang menegakkan ajaran agama dan membela negara, agar mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan selamat di alam akhirat.  Semoga menjadi ilmu yg bermanfaat. Aamiin. 

سبحانك اللهم وبحمدك اشهد ان لا اله الا انت استغفرك ةاتوب اليك

Salam ukhuwah dari Bogor.
Dicatat oleh : Willyuddin A.R. Dhani

Tiga Kelompok Manusia 

Seri Mengaji Tafsir masjid Al Hijri, Ahad, 10/09/17,  Prof. Dr. KH. Didin Hafiduddin  M.Sc.

Surat Al Ahzab:  19-20

اعوذبالله من الشيطان الرجيم.

بسم الله الرحمن الرحيم

Allah SWT berfirman:

اَشِحَّةً عَلَيْكُمْ    ۚ  فَاِذَا جَآءَ الْخَوْفُ رَاَيْتَهُمْ يَنْظُرُوْنَ اِلَيْكَ تَدُوْرُ اَعْيُنُهُمْ كَالَّذِيْ يُغْشٰى عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ   ۚ  فَاِذَا ذَهَبَ الْخَـوْفُ سَلَقُوْكُمْ بِاَ لْسِنَةٍ حِدَادٍ اَشِحَّةً عَلَى الْخَيْـرِ  ۗ  اُولٰٓئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوْا فَاَحْبَطَ اللّٰهُ اَعْمَالَهُمْ   ۗ  وَكَانَ ذٰ لِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرًا

asyihhatan ‘alaikum fa izaa jaaa`al-khoufu ro`aitahum yanzhuruuna ilaika taduuru a’yunuhum kallazii yughsyaa ‘alaihi minal-mauut, fa izaa zahabal-khoufu salaquukum bi`alsinatin hidaadin asyihhatan ‘alal-khoiir, ulaaa`ika lam yu`minuu fa ahbathollaahu a’maalahum, wa kaana zaalika ‘alallohi yasiiroo

“mereka kikir terhadapmu. Apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka kikir untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapus amalnya. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.”(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 19)

Allah SWT berfirman:

يَحْسَبُوْنَ الْاَحْزَابَ لَمْ يَذْهَبُوْا   ۚ  وَاِنْ يَّأْتِ الْاَحْزَابُ يَوَدُّوْا لَوْ اَنَّهُمْ بَادُوْنَ فِى الْاَعْرَابِ يَسْـاَ لُوْنَ عَنْ اَنْۢبَآئِكُمْ   ۗ  وَلَوْ كَانُوْا فِيْكُمْ مَّا قٰتَلُوْۤا اِلَّا قَلِيْلًا

yahsabuunal-ahzaaba lam yaz-habuu, wa iy ya`til-ahzaabu yawadduu lau annahum baaduuna fil-a’roobi yas`aluuna ‘an ambaaa`ikum, walau kaanuu fiikum maa qootaluuu illaa qoliilaa

“Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan (yang bersekutu) itu belum pergi, dan jika golongan-golongan (yang bersekutu) itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanyakan berita tentang kamu. Dan sekiranya mereka berada bersamamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja.” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 20)

*PELAJARAN & HIKMAH YG ADA :*

Surat yg membahas ttg kisah perang ahzab (musuh yg bersekutu) ini, menjelaskan karakter manusia menjadi 3 kelompok. 

Kelompok 1 (pertama) adalah klompok yg mukmin, yg mengatakan *_sami’na wa atho’na_* konsisten thd keimanan dan selalu aktif ikut berjuang mempertahankan dan membela keimanan, bersatu bergerak bersama-sama untuk membela orang-orang beriman. 

Dlm hadits Rasulullah s.a.w bersabda: *_Akan senantiasa ada di kalangan umatku yg konsisten dalam keimanannya, tdk pernah menyurutkan dan melemahkan mereka, kebencian dan permusuhan orang-orang kafir, demikian itulah mereka sampai Allah memberikan keputusanNya sampai hari kiamat_*

Kelompok kedua; kelompok kafir yang selalu memusuhi dan menghalang-halangi tegaknya hukum Allah, memusuhi orang beriman, menghalangi perjuangan orang beriman, bahkan melarang orang beriman mensmpakkan jatidiri keimanannya, dgn tuduhan-tuduhan keji, seperti tuduhan sebagai teroris, anti toleran, anti persatuan dan tuduhan keji lainnya. Makanya Allah tegaskan dlm al Qur’an surat Al Baqarah : 120.

Allah SWT berfirman:

وَلَنْ تَرْضٰى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَّصٰرٰى حَتّٰى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ   قُلْ اِنَّ هُدَى اللّٰهِ هُوَ الْهُدٰى  ۗ  وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ اَهْوَآءَهُمْ بَعْدَ  الَّذِيْ جَآءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ  مَا لَـكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍ

wa lan tardhoo ‘angkal-yahuudu wa lan-nashooroo hattaa tattabi’a millatahum, qul inna hudallohi huwal-hudaa, wa la`inittaba’ta ahwaaa`ahum ba’dallazii jaaa`aka minal-‘ilmi maa laka minallohi miw waliyyiw wa laa nashiir

“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya). Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 120)

Ciri mereka selalu memusuhi umat islam dengan mulutnya, dengan sikap dan perilakunya, dalam segala permasalahan yg dicari-cari. Walaupun permusuhan mereka itu dilakukan secara sembunyi, tdk pernah berani berhadapan langsung, ketika umat islam mayoritas. Tetapi manakala umat islam sudah lemah, mereka akan membunuh, membantai dan menghancurkan umat islam. Contoh kasus terakhir ini adalah pembantaian kaum muslimin di Rohingya. 

Semoga Allah menyalamatkan dan melindungi saudara-saudara kita di Rohingya, dan menjadikan mereka yg gugur sebagai korban kedzaliman penguasanya, menjadi syahid di sisi Allah S.W.T. Aamiin

Kelompok ke 3: Kelompok munafikuun, yg diantara ciri-cirinya dijelaskan dalam ayat 19&20 surat al ahzab di atas.

Yakni, tidak ingin ikut berjuang, menghindari perjuangan sambil mencela atau bahkan menyalahkan orang-orang yg berjuang, karena menganggap orang yg berjuang di jalan Allah membuat situasi keamanan dan kenyamanan terganggu. 

Allah umpamakan kebencian mereka terhadap kaum mukmin yg berjuang melawan sekutu yg berbuat kedzaliman dan kekufuran, dgn pandangan yg terbalik-balik krn benci kpd orang mukmin campur ketakutan kepada serangan orang kafir.

Sehingga mereka kikir, tdk mau membantu perjuangan kaum mukminin yg terus istiqomah dlm berjuang.

Ketika situasi telah aman mereka tetap nyinyir dan terus mencela orang beriman, dengan pernyataan yg menyakiti hati umat islam, sehingga tampaklah mereka itu lbh suka bergaul akrab dgn orang kafir, dan cenderung membela kaum kafir. 

Karakter seperti ini pun bahkan terus terjadi dan terlihat nyata di negeri muslim seperti di Indonesia sekaarang ini. Contohnya ttg GENOCIDE pembunuhan biadab terhadap kaum muslimin di Rohingya, pernyataan orang-mumafik aneh-aneh dan tetap menyakiti kaum muslim yg jelas-jelas didzalimi.

Maka Allah akan terus mebuka kedok-kedok kekufuran mereka.

Demikian pengajian subuh ini disebarluaskan. Semoga ayat-ayat al Qur’an di atas, memberi pencerahan dan memperkuat iman, ilmu, amal perilaku umat islam dlm menjalani kehidupannya di dunia. Semangat dlm berjuang menegakkan ajaran agama dan membela negara, agar mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan selamat di alam akhirat.  Semoga menjadi ilmu yg bermanfaat. Aamin. (Mohon bantu Sebarkan agar dapat bagian pahala ilmu yg bermanfaat).

سبحانك اللهم وبحمدك اشهد ان لا اله الا انت استغفرك ةاتوب اليك

Dicatat oleh : Willyuddin A.R. Dhani