• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 416,596 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal
  • Iklan

Dakwah adalah jalan hidup kaum muslimin

Seri Mengaji Masjid Al I’tisham Jumat, Ust. Syamsul Bahri, 13 Juli 2018 / 29 Syawal 1439h

Tadabbur hadits :
Dari Abu Sa’îd al-Khudri Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya (kekuasaannya); jika ia tidak mampu, maka dengan lidahnya (menasihatinya); dan jika ia tidak mampu juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju), dan demikian itu adalah selemah-lemah iman.’”

# Pelajaran 1 :

Qs. Yusuf : 108 – Dakwah itu adalah jalan hidup Rasulullah, mengajak manusia ke jalan Allah berdasarkan hujjah, deklarasi bahwa diri beliau adalah pelaku utama dakwah.

Qs. 3:31 menjadi pelaku dakwah adalah tanda cinta kepada Allah.
Krn dakwah adalah jalan hidup Rasulullah maka kita hrs melakukannya sesuai dgn tingkat kesungguhan yg Allah berikan kpd kita.

# Pelajaran ke-2

Man ro a : barang siapa melihat. Melihat dalam arti memahami dgn ilmu dari suatu kemungkaran. Ada 3 syarat, sesuatu itu dapat disebut sebagai kemungkaran, yaitu :

1#. Kemungkaran yg dilakukan secara perbuatan dan pelakunya.

Jadi hal2 semisal : berbuka di siang hari Ramadhan secara perbuatan dzohirnya munkar, tapi pelakunya blm tentu mungkar, jika dia melakukannya krn ada alasan syar’i seperti : safar, sakit, haid.

Kemungkaran itu adalah berbuat kemaksiatan dgn niat pelakunya yg menyengaja melakukannya.

2#. Ketika para ulama bersepakat itu adalah munkar, tdk ada khilaf sama sekali.

Ada 2 jenis khilafiyah :
1. Dlm persoalan agama : ketika berbeda agama, silahkan jalankan masing2 ajaran agamanya. Misal : tdk perlu mengucapkan selamat kpd perayaan agama lain yg terkait dgn keyakinan, atau tdk perlu menyumbang pembangunan rumah ibadah agama lain. Batasannya adalah utk kegiatan2 terkait kemanusiaan tdk ada larangan bermuamalah selama didlmnya ada maslahat bagi kaum muslimin, misalnya : saling mengirim makanan, berdagang, dll.
2. Dlm masalah aqidah atau keyakinan.

Dua hal ini tak boleh membuat kita berselisih, krn tdk ada ruang toleransi sedikitpun. Tdk boleh berlapang dada atau memberikan keluasan bahkan kemakluman kpd hal2 ini.

Sedangkan jika ada yg menganggap qunut di waktu shubuh adalah kemungkaran. Ini masuk kepada khilafiyah krn merupakan masalah furuiyyah bukan ushul / aqidah.

Apalagi menghukumi semua muslim yg diluar kelompoknya disebut kafir.

Atau menghukumi org2 yg bekerja di pemerintahan disebut kafir krn menggunakan sistem thogut.

Kita harus berhati-hati dlm hal ini, krn Nabi SAW telah memperingatkan kaum muslimin, bahwa berbantah2 di wilayah furuiyyah akan melemahkan kaum muslimin, maka bersabarlah (al-Hadits)

3#. Sesuatu itu bisa jadi kemungkaran, tapi dilakukan utk mencegah kemungkaran yg lebih besar, maka hal tersebut tdk boleh dianggap mungkar.
– Ini adalah salah satu kaidah dlm dakwah untuk mengingkari suatu kemungkaran.
– Contoh : pelajaran dari nabi Khidir yg setelah ditolong nelayan, beliau merusak perahunya utk mencegah dirampasnya perahu tsb oleh penguasa dzolim. Nabi Khidir juga membunuh jiwa yg blm baligh, untuk mencegah takdir masa depan kekafiran.
– Dalilnya adalah Qs. Al anam : 108

Contoh lainnya :
– ada yg menganggap pemilu sbg kemungkaran, shgg golput, padahal ini hal penting utk mendptkan pemimpin yg membela Islam dan kaum muslimin. Pedomannya adalah kita memilih calon yg disepakati ulama. Golput boleh saja jika semua paslon tdk ada yg berpihak kpd kaum muslimin.
– ketika ada badui buang air di masjid nabawi, sahabat yg akan bertindak ditahan oleh nabi SAW, biarkan sampai selesai, selain untuk mencegah kotorannya meluas, juga utk menunjukkan keluhuran akhlaq kaum muslimin dlm menyikapi kejahilliyahan. Akhirnya sikap ini menjadi sebab org badui tsb beserta semua sukunya ikut memeluk islam.
– dlm pemukiman padat yg kebakaran boleh kita merusak rumah utk memutus jalur api.

# Pelajaran 3

Gambaran keluasan Islam :

– bertaqwalah kpd Allah dgn cara yg paling kamu sanggupi.

Allah menghendaki kemudahan bagi makhluk Nya.

Allah menghendaki agar dalam menjalankan agama tdk kesulitan.

– Menghadapi kemungkaran dgn tangan juga bermakna kekuasaan, spt orgtua yg melarang anak perempuanya keluar malam dgn laki2, pengusaha yg mewajibkan karyawan nya shalat berjamaah.
Selain itu, ini juga bisa berarti menggunakan kekuatan Harta, sehingga bisa mengajak org menghentikan maksiat.

– Menghadapi kemungkaran dgn cara lisan, berlaku juga dgn tulisan.
– jika tidak mampu, mengingkari kemungkaran dgn hati, selemah2 iman. Tapi tidak ada yg lebih rendah lagi dari ini.

Ruh iman tdk akan se- kufu dgn hal2 yg merusak keimanan. Maka jika tdk ada getaran ketika terjadi kemungkaran yg terjadi di sekitar kita, bisa jadi sdh habis tak bersisa iman kita.

– Hati punya perkataan, yaitu aqidah. Jika hati kita melakukan pembenaran thdp kemaksiatan

– Ada 2 pendapat hati yg bisa membatalkan iman atau islamnya seseorang : misal ada yg bermaksiat dlm keluarga melakukan selingkuh krn lemah iman shgg melakukan perzinahan atau meninggalkan shalat, namun hatinya menyadari itu sbg dosa besar, jika masih ada ini maka tdk sampai membatalkan imannya walaupun tercatat sebagai dosa dan kekejian yg sangat besar. Tapi kalau dalam hatinya, ia menganggap kemaksiatan itu tidak masalah lagi bagi dirinya maka sdh batal imannya.

– Hati kita punya perbuatan, yaitu niat. Mengucapkan / melafaskan niat dlm ibadah menurut iman syafii, tujuannya : Utk mengajarkan/membiasakan kpd org lain, utk ikrar, utk pengulangan apa yg ada di dlm hati.

– Maka berhati-hatilah dgn niat, setiap kita berniat melaksanakan sesuatu, luruskan niat apakah sudah sesuai dgn syariat Allah atau tidak.

# Syarat pemimpin itu salah satunya adalah dicintai oleh rakyatnya. Bisa jadi krn Masyarakat sdh melihat bahwa pemimpin itu tdk pantas.

Qs. Assyuara:83-85 – Pemimpin yang baik itu dekat dan dicintai org2 sholeh

Kasus momen2 kepemimpinan dari surah Al Kahfi :

  1. Kisah Ashabul kahfi – pemimpin dzolim kpd kaum muslimin, kaum muslimin diburu hebdak di habisi.
  2. Kisah shohibul janattain (pemilik dua kebun) ketika kaum muslimin hidup dgn org kafir yg memegang kekuasaan dan mereka mencemooh org Islam, namun sdh tidak diburu/ditindas secara fisik.
  3. Kisah nabi musa belajar dgn khidir, musa sdh dpt mempercayai masyarakatnya ketika ditinggalkan krn pemimpin2 sudah dekat dgn ulama.Kisah Dzulkarnain pemimpin yg dekat dgn ulama, diberi kemenangan ke timur dan ke barat.

Wallahu a’lam

Iklan

Agar Ketaqwaan dapat terus dipertahankan

Seri Mengaji masjid Alitisham, Ust Sambo, 7Juli2018 / 23Syawal1439

Di luar Ramadhan adalah pembuktian pelatihan Ramadhan itu berhasil atau tidak.

Penurunan ibadah sedikit secara kuantitas sesuatu yg wajar, tapi jgn dari sisi kualitas/mutu ibadah. Memang, spy berhasil, pada bulan Ramadhan yg tujuannya mendapatkan ketaqwaan maka harus mencapai 2 target :

1- kuantitas (yg bisa dihitung) : mencari amal yg sebanyak-banyaknya. Krn dlm ramadhan, pengalinya 70, 700 sampai tak hingga.(=nguber Setoran).
Capaian bisa dihitung, dilihat, diukur, misal mengaji sekian juz, shodaqoh sekian rupiah, qobliyah ba’diyah apa saja yg, dhuha, dll. Ini harus full membekas dlm keseharian.

2- kualitas (yg bisa dirasa) : rasa kenikmatan dlm beribadah, hrs dapat dgn meningkatkan kuantitas ibadah sebanyak-banyaknya.
Jika dlm Ramadhan ibadahnya kurang full, maka penurunan ibadahnya setelah Ramadhan akan langsung jauh perbedaannya. Bahkan di Ramadhan hari2 terakhir saja sudah menghilang dari masjid, padahal justru 10 terakhir kita bisa mendapatkan rasa.

Maka yg dpt taqwa, kuantitas ibadahnya tdk akan menurun jauh sekali dan kualitas ibadahnya cenderung stabil di hari2 luar Ramadhan.

Faktanya secara kuantitatif, ummat ini sedikit sekali yg dapat taqwa krn Ramadhan mereka yg kurang maksimal dan kurang Istiqomah berlatih sampai sebulan penuh.

# Target kualitatif yg harus terus berkesinambungan ketika dan setelah Ramadhan yg menunjukkan Ramadhan kita sukses :

1. Semangat berbuat kebaikan, beramal sholih.

2. Nikmat beribadah : nikmat sujud, nikmat baca Quran. Titik nikmat itu didapat jika sudah melakukan secara maksimal.

3. Terasa Allah itu dekat : Allah itu ada kapanpun dimanapun. Sehingga selalu bersungguh-sungguh dalam perintah, dan berhati-hati dan waspada dalam larangan.

4. Sadar akan Allah sehingga kita takut dan khawatir melanggar, pengendalian penuh terhadap hawa nafsu dan semangat penuh dalam ketaatan kepada Allah.

Badan / fisik / jasmani itu enak maksiat krn hawa nafsu berada disini, maka harus ada hati / ruhani yg mengendalikan. hanya ibadah yg pakai hati yg akan menimbulkan kesadaran akan Allah.

5. Mencintai akhirat, sehingga istiqomah dalam semangat berbekal untuk akhirat.
– Dunia menjadi kecil.
– Tujuan2 hidupnya adalah akhirat.

Jika ciri ini tdk ditemukan pada kita maka2 kita dalam kerugian krn Ramadhan kita gagal. Dan berharap ketemu Ramadhan tahun depan utk memperbaikinya.

Sambil menunggu kesempatan Ramadhan, berusaha Istiqomah dalam :

1. Jaga standar minimal dlm keadaan normal (tidak mengapa ditinggalkan ketika sakit, musafir, darurat krn kesulitan atau darurat karena kebutuhan) :
– Shalat malam 2+1 rakaat
– Shaum sebulan 3 hari.
– Tilawah Quran khatam 3 bulan sekali, atau tiap hari minimal 1-2 lembar.
– Dhuha 2 rakaat

2. Jaga kualitas ibadah

3. Mengendalikan hawa nafsu : nafsu marah, nafsu bermaksiat, cinta/mengejar dunia. Ketika org cinta dunia, maka terlihat cara mengejarnya ngotot, dan ibadahnya menurun.

Ketaqwaan adalah sesuatu yang harus sdlalu diperjuangkan.

Wallahu a’lam.

Supaya Ibadah Menjadi Akhlaqul Karimah

Seri mengaji masjid Alitisham Sabtu Ust Sambo, 19 Mei 2018 / 3 Ramadhan 1439

Ujung dari iman, ilmu, ibadah itu hasil akhirnya / buahnya adalah akhlaq.

– Qs. 18:24 – Seperti pohon yg akarnya kuat, batangnya besar, daunnya rindang dan berbuah banyak.

– Nabi diutus utk menyempurnakan akhlaq yg baik (hadits)

– Akhlaq yg dibentuk oleh iman, ibadah, dan ilmu bukan oleh budaya spt moral, etika, budi pekerti (sopan santun) atau norma. Inilah yg banyak dilatih di bulan Ramadhan.

Syariat – Tarekat – Ma’rifat / hakikat

– Yg paling mulia org yg taqwa (Quran 2:187)

– Yg paling mulia itu org yg berakhlaqul karimah (hadits)

# Spy akhlaq bernilai, dan mampu menghantarkan ke surga, dihapus dosa, dimuliakan hidup kita, motivasinya :

1. Ikhlas mencari ridho Allah
Jenis akhlaq : Akhlaq perbuatan, akhlaq ucapan / diam, akhlaq hati.

Krn akhlaq itu sdh menjadi karakter, tdk bisa dibuat-buat, maka yg hrs ditingkatkan adalah ibadahnya. Bgmn cara memasukkan ibadah ke dalam hati spy dia memancar keluar menjadi perilaku. Misal : shalat, ujungnya salam, keluar dari shalat ia menyebarkan salam, rahmat dan berkah, serta kedamaian.

2. Menyebar rahmat ke sekitar.

Allah menciptakan alam semesta karena :

A. sifat Arrohman arrohim, agar Allah bisa menyebarkan rahmatNya. (Qs. 55) : kita diturunkan Quran, kita berkata2, dsb adalah bentuk rahmanNya, Allah menurunkan Muhammad sbg rahmatan lil ‘alamin (Quran). Krn kita pengikut Rasulullah, maka ummatnya hrs demikian krn mencontoh uswatun hasanah.

B. Agar Allah di kenal oleh makhluknya, alam itu bermakna tanda2 kebesaran Allah. Utk mengenal Allah, kenali ciptaannya, yaitu ilmu.

Dakwah terbaik adalah akhlaq, hidupnya hebat, bahkan wafatnya Rasulullah membawa karunia iman, spt yahudi buta yg selalu mencaci Rasul setiap saat diberi makan oleh beliau. Begitu Abubakar menggantikan beliau, dan mengabarkan wafatnya beliau.

Kemuliaan Allah itu disampaikan oleh hebatnya alam semesta begitu juga oleh perilaku pengikutnya sbg agen2 Allah dimuka bumi ; yg berakhlaqul karimah, terpijarkan inilah kebesaran Allah.

Berimannya suami krn akhlaq istrinya, begitulah sebaliknya, berimannya anak2nya krn akhlaq orangtuanya, begitu sebaliknya. Juga ketika bertetangga. Tidak cukup dgn menyampaikan dalil2 saja, malah lebih efektif dgn perilaku.

# Bagaimana transformasi ibadah menjadi karakter akhlaqul Karimah dlm ibadah ramadhan :

1. Ikhlas dalam ibadah

#- tingkatan ikhlas :
– ikhlas budak : amal agar jauh dari neraka, dekat ke surga (mengerjakan krn takut),
– ikhlas kuli : mengerjakan sesuatu untuk mendapatkan balasan.
– mengerjakan sesuatu agar dicinta dan disayang Allah, mencari ridho dan mencari wajah Allah (Ibtigho wahjillah)

#- Tahapan ikhlas :
– ikhlas dlm ibadah mahdoh : shalat, shaum, dzikir, dll. (Inna sholati wannusuki…6:162)
– ikhlas dlm setiap kebaikan
– Ikhlas dlm akhlaqul karimah, ikhlas 24 jam.
Sifat org taqwa itu ikhlas.
– saat ada lintasan riya, maka segera kita istighfar dan jangan diiyakan oleh hati.

Tingkatan keimanan : Muslimin – mukminin – Muttaqin (level yg mungkin kita capai) muhsinin (level para sahabat) – muqorrobin (di dekati Allah, para nabi, malaikat)

2. Latihan ibadah yg terbaik

– bedanya org taqwa dgn sekedar org beriman, krn amalnya pasti yg terbaik, dan pasti diterima oleh Allah spt pada Qs.5:27
– jgn sampai utk dunia kita yg terbaik, sdg ibadahnya malah pas-pasan atau bahkan lalai.
– akhlaq yg baik bisa menarik rahmat dan mendorongnya ke surga, akhlaq buruk bisa menjerumuskan ke neraka. Sbg contoh outlier, spt pelacur yg memberi minum anjing, spt wanita yg suka ibadah tapi berakhlaq buruk sampai kucingnya mati.

3. Ibadah dgn menghadirkan hati disetiap prosesnya – fokus / konsentrasi

– ibadah2 spt sholat, shaum, sedekah dll, semua melibatkan hatinya, akan menyempurnakan efeknya. Bahkan utk perbuatan sehari2 yg dikerjakan dgn menjiwainya akan menjadi sesuatu yg luar biasa.
– Allah tdk menerima amal seorang hamba kecuali hatinya ikut bukan hanya fisiknya (hadits).
– Allah tdk menerima amal kecuali amalan org taqwa (quran), maka sdh pasti org taqwa itu amalannya hatinya hadir dan selalu menjiwai.

4. Menjiwai dan menghayati, serta meresapinya

– membuat hati bergetar, ketika shalat, baca quran, dll.
– saat menjiwai sesuatu, maka akan menghasilkan kerasi2 akhlaqul karimah

5. Merefleksikan dalam nilai2 kehidupan

– mengamalkan dlm keseharian, misalnya dalam ibadah mahdoh, sholat atau ke pengajian : datang dgn ikhlas, hatinya hadir /fokus, menjiwainya shgg hati tergetar, baru akan mudah mengamalkannya.

# Ramadhan ini adalah kesempatan kita berlatih melakukannya.

– Tahapan2 di atas harus dilewati setiap langkahnya dgn sempurna, tdk bisa melompat.
– Allah menilai sesuatu sesuai dgn syariat yg diturunkannya, utk kita yg berjarak jauh dgn nabi SAW tentu passing grade nya berbeda dgn menilai para sahabat. Itulah maha baiknya Allah kepada kita. Maka bermuhajadah utk setiap yg kita lakukan.

– Seperti Abu bakar, yg khawatir krn pas dekat nabi ingat surga, tapi ketika jauh melupakan.

# Hambatan yg harus dihilangkan supaya 5 hal di atas mudah dilakukan :

1- Dosa yg banyak, maka pintunya adalah perbanyaklah taubatan nasuha. Dosa yg banyak akan menutup hati (Qs.al mutaffifin – bal rona…)

2- hawa nafsu, maka hrs dikendalikan, dan shaum Ramadhan adalah latihan pengendalian nafsu.

3- cinta dunia / mengutamakan dunia, maka berlatih zuhud (meninggalkan dunia). Mengurangi kontak dgn kelezatan dunia, dlm Ramadhan ada i’tikaf (mengurangi makan, tidur, memperbanyak ibadah mengisi hari).

Wallahu a’lam

TARHIB RAMADHAN 1439H

Seri Pengajian rutin Tafsir Sabtu Sore ba’da Ashar di Masjid Al Hijri 2 Kampus UIKA, Prof. Dr. KH. Didin Hafiduddin, M.Sc., Sabtu, 12 Mei 2018

اعوذ بالله من الشيطان الرجيم
بسم الله ابرحمن الرحيم

Dalam sejarah setiap menjelang bulan Ramadhan Rasulullah s.a.w selalu mengingatkan kepada umatnya dengan bersabda yg artinya : “Telah datang kepada kalian syahrul mubarok (bulan yg diberkahi)”.

Bulan Ramadhan adalah bulannya bagi orang-orang yg taqwa.
Yakni yg beriman dan selalu menegakkan aturan Allah. Yakni menjalankan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangamNya dgn didasari dengan keimanan yg full (benar dan kokoh).

Bahkan negeri yg dijanjikan akan diberkahi Allah adalah yg penduduknya selalu beriman dan bertaqwa

Dalam surat al a’raf : 96

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالْاَرْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
walau anna ahlal-qurooo aamanuu wattaqou lafatahnaa ‘alaihim barokaatim minas-samaaa`i wal-ardhi wa laaking kazzabuu fa akhoznaahum bimaa kaanuu yaksibuun

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 96)

Dan ketaqwaan itu jelas ukurannya yakni komitmen keyakinannya dalam mengikuti petunjuk Allah, yg diturunkan oleh Allah yaitu Al Qur’an yg awal turunnya di bulan Ramadhan.

Allah SWT berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَـصُمْهُ ۗ وَمَنْ کَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ وَلِتُکْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ وَلَعَلَّکُمْ تَشْكُرُوْنَ
syahru romadhoonallaziii unzila fiihil-qur`aanu hudal lin-naasi wa bayyinaatim minal-hudaa wal-furqoon, fa man syahida mingkumusy-syahro falyashum-h, wa mang kaana mariidhon au ‘alaa safarin fa ‘iddatum min ayyaamin ukhor, yuriidullohu bikumul-yusro wa laa yuriidu bikumul-‘usro wa litukmilul-‘iddata wa litukabbirulloha ‘alaa maa hadaakum wa la’allakum tasykuruun

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 185)

Mengapa bangsa kita ini terus terombang-ambing dalam kebimbangan, ketidak jelasan? Mau pilih walikota, bupati, gubernur, presiden, dan dlm urusan politik, semuanya bingung gak jelas? Krn komitmen thd panduan Allah dlm menjalani kehidupan ini masih belum kokoh dan belum sepenuhnya. Bahkan masih banyak orang yg ngaku Islam tapi phobi, takut kepada penegakan syariat aturan Allah.

Bulan ramadhan juga bulan jihad. Bahkan perang pertama dlm Islam yakni perang badar, terjadi di bulan Ramadhan. Perang yg dlm rangka mempertahankan diri dari permusuhan dan serangan kaum kafir, musyrikin yg tdk seimbang jumlahnya dgn kondisi dan jumlah kaum muslimin.

Bulan ramadhan juga bulan penaklukan kota Mekah secara damai. Tdk ada dendam dan permusuhan, tidak ada darah yg tertumpah akibat peperangan, kecuali hanya bbrp orang yg memang sangat memusuhi agama Allah, sampai detik terakhir pada saat futuh Mekah tsb

Penaklukan Baitul Maqdis juga terjadi di bulan Ramadhan ketika kekhalifahan Islam dipimpin oleh Umar bin Khathab.
Sehingga bulan ramadhan itu adalah bulan perjuangan dan bulan kemenangan.

Juga kemerdekaan bangsa kita ini (bangsa Indonesia) terjadi di bulan Ramadhan, yang semuanya ini atas berkah dan Rahmat Allah. Bagaimana mungkin umat Islam di Indonesia saat ini bahkan tdk mau menyadari dan mensyukurinya dengan tunduk, patuh dan taat kepada aturan syariat Allah? Yang ada malah mencibir dan menolak ditegakkannya syariat Allah?

Bulan Ramadhan adalah bulan yg siang harinya Allah perintahkan utk berpuasa, dalam rangka memperkuat kesabaran, ruh perjuangan, dan memperjuangkan kasih sayang, yg mana sebagai bentuk ujian yg dapat mempercepat datangnya pertolongan Allah.

Banyak kisah yg ternyata Allah memberikan pertolongan itu kpd orang yg mampu menahan lapar dan haus.

Seperti kisah Thalut yg harus menghadapi Jalut, dimana ketika para pengikut thalut diberi ujian dengan kehausan dan melewati sungai Tigris yg jernih. Thalut sdh membuat instruksi kpd pengikutnya utk tdk tertipu dengan banyak meminum air yg sangat jernih itu, krn menyebabkan menjadi lemah tak berdaya.

Maka bulan Ramadhan adalah juga bulan pelatihan kesabaran dlm menghadapi segala bentuk kesulitan. Yakni kesulitan lapar, kesulitan hrs tetap berjuang memenuhi kebutuhan sehari hari, kesulitan dalam mempertahankan kekuatan iman (keyakinannya) agar tdk terbeli dgn tipu daya materi dunia.

Bulan Ramadhan adalah bulan revolusi mental (tapi bukan revolusi mental ala jkweee lho ya?), tapi revolusi mental seperti yg diajarkan dan diwariskan oleh Rasulullah s.a.w. yakni yg berkomitmen thd syariat Allah.

Krn itu bulan ramadhan juga bulan yg harus dimanfaatkan utk perjuangan politik Islam, agar dapat melahirkan pemimpin-pemimpin Islam dari golongan orang beriman yg berpihak kepada kemajuan umat, bangsa dan membela negara dari segala bentuk penjajahan, penjarahan serangan dari bangsa lain.

Kita harus manfaatkan bulan Ramadhan untuk melakukan dakwah perubahan dari segala aspek kehidupan, baik yg berdimensi pribadi, keluarga, sosial dan dalam berbangsa dan bernegara.

Demikian pengajian rutin Sabtu sore ba’da ashar ini dicatat dan disebar luaskan.

Dicatat oleh : Willyuddin A.R. Dhani

Wallahu a’lam

Keadaan Hati

Ust Syukron Makmun

“I’rab Hati (Tingkah Keadaan Hati itu ada 4 Macam)”

1. Rofa’ (terangkat)
2. Fathah (terbuka)
3. Khofadz (turun)
4. Waqof (berhenti/mati)

ﻓﺮﻓﻊ ﺍﻟﻘﻠﺐ:
ﻓﻰ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﻠﻪ .

وﻓﺘﺢ ﺍﻟﻘﻠﺐ:
ﻓﻰ ﺍﻟﺮﺿﺎﺀ ﻋﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .

وﺧﻔﺾ ﺍﻟﻘﻠﺐ:
ﻓﻰ ﺍﻟﺎﺷﺘﻐﺎﻝ ﺑﻐﻴﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .

وﻭﻗﻒ ﺍﻟﻘﻠﺐ:
ﻓﻰ ﺍﻟﻐﻔﻠﺔ ﻋﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .

Rofa‘ (terangkat) nya Hati adalah ketika dzikir kepada Allah SWT mengikuti Teladan Rasulullah SAW,

Fathah (Terbuka) nya Hati adalah ketika Ridho atas Ketentuan Taqdir Allah SWT,

Khofadz (turun) nya hati adalah ketika sibuk dengan selain Allah SWT,

Waqof (Berhenti/Mati) nya hati adalah ketika Jauh atau Lalai dari Perintah Allah SWT.

ﻓﻌﻠﺎﻣﺔ ﺍﻟﺮﻓﻊ ﺛﻠﺎﺛﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ:
ﻭﺟﻮﺩ ﺍﻟﻤﻮﺍﻓﻘﺔ , وﻓﻘﺪ ﺍﻟﻤﺨﺎﻟﻔﺔ , ودوام ﺍﻟﺸﻮﻕ .

وﻋﻠﺎﻣﺔ ﺍﻟﻔﺘﺢ ﺛﻠﺎﺛﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ:
ﺍﻟﺘﻮﻛﻞ , وﺍﻟﺼﺪﻕ , وﺍﻟﻴﻘﻴﻦ .

️Tanda Rofa’ nya hati ada 3 :

1. Ada Kecocokan.
2. Hilangnya Penyimpangan.
3. Lestarinya Kerinduan.

Tanda Fathah nya Hati ada 3 :

1. Kepasrahan.
2. Kejujuran.
3. Keyakinan.

وﻋﻠﺎﻣﺔ ﺍﻟﺨﻔﺾ ﺛﻠﺎﺛﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ:
ﺍﻟﻌﺠﺐ , وﺍﻟﺮﻳﺎﺀ , وﺍﻟﺤﺮﺹ ﻭﻫﻮ ﻣﺮﻋﺎﺓ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ .
وﻋﻠﺎﻣﺔ ﺍﻟﻮﻗﻒ ﺛﻠﺎﺛﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ ؛
ﺯﻭﺍﻝ ﺣﻠﺎﻭﺓ ﺍﻟﻂﺎﻋﺔ , وﻋﺪﻡ ﻣﺮﺍﺭﺓ ﺍﻟﻤﻌﺼﻴﺔ , وﺍﻟﺘﺒﺎﺱ ﺍﻟﺤﻠﺎﻝ . –

Tanda Khofadz nya (turunnya) Hati ada 3 :

1. Bangga diri.
2. Pamer.
3. Tamak yaitu selalu Menomer Satukan Urusan Dunia.

Tanda Waqofnya Hati ada 3 :

1. Hilangnya rasa manis dalam ketaatan.
2. Tiadanya rasa pahit dalam kemaksiatan.
3. Ketidak jelasan kehalalan.

Wallaahu A’lam Bishowwab.

ﻣﻨﻬﺎﺝ ﺍﻟﻌﺎﺭﻓﻴﻦ
ﻟﻠﺎﻣﺎﻡ ﺃﺑﻰ ﺣﺎﻣﺪ ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻰ .

(Nasehat Al Imam Al Ghazali, di Dalam Kitab Minhajul ‘Arifin)

Wallahu a’lam

Tentang Ijtihad

Seri mengaji mushalla Alitisham ahad shubuh, 22 April 2018 / 6 Syaban 1439, ust. Syatibi Satiri.

Ijtihad : Pemikiran yg diperbolehkan sbg penetap syariat utk menetapkan dalil, dalil yg diambil yaitu Quran dan sunnah nabi, ada 2 macam :

1. mengambil hukum dari yg dzhohir (quran dan hadits), yg cakupannya termasuk dari nash2 tsb secara eksplisit.

2. Mengambil hukum dari yg dipahami atau dari kandungan makna secara implisit. Jika dlm nash2 tsb ada alasan penentu yg menjelaskannya, serta dijelaskan juga posisi atau peristiwa yg terjadi terkait nash tsb. Disebut dgn qiyas (menyamakan satu hukum dgn hukum yg sdh jelas dalilnya, krn kesamaan alasan penentu hukum). Contoh : khmar bermakna perasan anggur yg memabukkan. Diqiyaskan dgn zabit yaitu buah lain yg diperas dan difragmentasi krn sama2 memabukkan. Narkoba juga termasuk kpd hal ini.

# Zaman sahabat, berbentuk fatwa yg terbatas dan sangat berhati2 sekali. Hanya Utk permasalahan yg sdh terlanjur terjadi dan butuh penentuan hukum segera. Pijakan para sahabat : Quran (pondasi dan tiang agama, sangat memahami dgn jelas, krn turun dgn bahasa mereka, & mengetahui asbabun nuzul peristiwa yg terjadi ketika turunnya ayat tsb) dan sunnah Rasulullah (ketika mereka percaya pasti itu sunnah jika yg meriwayatkannya dpt dipercaya dan diketahui dgn jelas, ingatannya sempurna, adallah (terkait kepantasan, menjaga perilaku agama secara ibadah dan muamalahnya), tradisi ilmiah ini terpelihara sampai pada zaman imam bukhari yg hafal 600ribu hadits, tapi dgn pengujian selama 15 tahun, hanya dpt memastikan 4000 hadits saja yg sanadnya terpercaya.

Abu bakar, jika ada permasalahan akan mengecek ke Quran terlebih dahulu, baru ke hadits dan kemudian jika hrs berijtihad, dgn bermusyawarah dgn 40 sahabat lainnya untuk menentukan hukum.

Umar melakukan hal yg sama dgn tambahan, apakah Abubakar pernah memutuskan sebelum ini, begitu juga khalifah Usman dan Ali.
Keputusan mereka ini, kesepakatan sahabat dlm musyawarah dgn frame yg sangat tegas, sbgmn nasihat Umar kpd sahabat2 yg akan menjadi qodi di Kuffah : perhatikan apa yg jelas bagimu dlm Quran, jgn pertanyakan hal yg sdh jelas tsb kpd org lain, sedangkan apa yg blm jelas dlm quran, maka telitilah dlm sunnah nabi SAW, dan jika blm jelas pula, maka berijtihadlah dgn kemampuan memahami quran dan hadits,

Pesan Umar Kpd Abu Musa : keputusan pemerintah thdp agama adalah keputusan yg kokoh, pahamilah dgn benar dgn hatimu sesuai dgn Quran dan hadits. Ketahui ttg persamaan dan analogi.
Sahabat ibnu masud menutup ijtihadnya dgn kalimat : jika ini benar, adalah dari Allah, jika salah maka itu dari keterbatasan diriku.

# Zaman khulafaur rosyidin : Saat sdh diputuskan suatu perkara, ditetapkan dan hrs dipatuhi dan tidak boleh ada yg bertentangan dgn keputusan tersebut, inilah yg disebut ijma’ para sahabat.

# Zaman tabiin, sahabat sdh menyebar kemana2, maka ijma’ sahabat berbeda menfatwakan syariah tergantung pada cara memahami Quran mereka, krn :

1- ada lafaz yg memiliki makna lebih dari satu, misalnya : Qs. 2:228, makna istilah tiga kuru’, menurut khalifah umar dan ibn Mas’ud maknanya adalah tiga kali haid, zaid bin tsabit maknanya adalah tiga kali masa suci, lebih lama.

2- ada 2 hukum dgn tema yg berbeda tapi dianggap hukum yg satu, dimana hukum yg satu dianggap mencakup yg lain, misalnya ayat yg menjelaskan wanita beriddah krn ditinggal wafat suaminya (4 bulan 10 hari), dianggap mencakup juga wanita hamil yg ditinggal mati suaminya, Padahal wanita hamil iddahnya melahirkan, apakah di bawah 4 bulan 10 hari tsb sdh melahirkan, maka lebih cepat.

3- perbedaan yg disebabkan oleh sunnah nabi, ketika disampaikan ada 2 cara :
– sunnah yg jelas dan terbuka (spt shalat dan tata caranya, ttg haji dan kelengkapannya), dicontohkan nabi kepada banyak sahabat.
– Ada sunnah Dinyatakan nabi dihadapan satu org atau bbrp org saja. Terbatas sahabat yg hadir.

Beberapa tipe / jenis sunnah nabi :
sunnah qouliyah (ucapan)
Sunnah fi’liyah (apa yg dilakukan nabi, spt cara nabi berwudhu)
Sunnah Takririyah : nabi tdk hadir dlm suatu peristiwa, atau hadir tapi nabi tdknmelakukannya, mendiamkannya saja sahabat yg melakukannya.
Sunnah Wasfiyah : sunnah khusus nabi, spt model rambut nabi, model baju nabi. Jarang yg membahasnya krn kekhasan nabi SAW.

4- perbedaan krn pendapat masing2 yg berbeda.
– Mempertimbangkan kemaslahatan dan mendekati pada ruh penetapan syariah, krn tdk ditemukan di quran atau di hadits atau ijma’ sahabat.

Wallahu a’lam

Masjid dan Pemimpin Kaum Muslimin

Seri Kajian Tafsir Al Hijri 1 Air Mancur Bogor, Ahad, 15 April 2018, Prof. Dr. KH. Didin Hafiduddin, M.Sc.

Qs. Saba’ (34):10-11

اعوذبالله من الشيطان الرجيم.
بسم الله الرحمن الرحيم

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا دَاوٗدَ مِنَّا فَضْلًا ۗ يٰجِبَالُ اَوِّبِيْ مَعَهٗ وَالطَّيْرَ ۚ وَاَلَــنَّا لَـهُ الْحَدِيْدَ
wa laqod aatainaa daawuuda minnaa fadhlaa, yaa jibaalu awwibii ma’ahuu wath-thoiir, wa alannaa lahul-hadiid

“Dan sungguh, telah Kami berikan kepada Dawud karunia dari Kami. (Kami berfirman), Wahai gunung-gunung dan burung-burung! Bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud, dan Kami telah melunakkan besi untuknya,”
(QS. Saba’ 34: Ayat 10)

اَنِ اعْمَلْ سٰبِغٰتٍ وَّقَدِّرْ فِى السَّرْدِ وَاعْمَلُوْا صَالِحًـا ۗ اِنِّيْ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
ani’mal saabighootiw wa qoddir fis-sardi wa’maluu shoolihaa, innii bimaa ta’maluuna bashiir

“(yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Saba’ 34: Ayat 11)

PELAJARAN & HIKMAH YG ADA

1. Ayat-ayat ini berkaitan dgn kisah 2 orang nabi yg diberikan mu’jizat yg berbeda-beda oleh Allah, yakni nabi Daud dan nabi Sulaiman. Nabi Daud dan Nabi Sulaiman membangun masjid Al Aqsa.
Sedangkan Masjidil Haram dibangun oleh Ibrahim dan Ismail, dan masjid Nabawi dibangun oleh Nabi Muhammad s.a.w. Karena itu setiap masjid yg telah dibangun tidak boleh dijadikan masjid eksklusif (tertutup) hanya utk kelompok atau keluarga tertentu. Harus menjadi masjid umat, terbuka utk umum, walaupun dibangun oleh keluarga, atau organisasi tertentu. Sebab yg memakmurkan masjid hanyalah orang beriman.

Allah SWT berfirman:
اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَ قَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ فَعَسٰٓى اُولٰۤئِكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ
innamaa ya’muru masaajidallohi man aamana billaahi wal-yaumil-aakhiri wa aqoomash-sholaata wa aataz-zakaata wa lam yakhsya illalloh, fa ‘asaaa ulaaa`ika ay yakuunuu minal-muhtadiin

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 18)

2. Dalam ayat 10 di atas, Allah memberikan mu’jizat kpd Nabi Daud sebuah kerajaan, dan mengajak burung-burung dan gunung-gunung ikut bertasbih menyucikan dan mengagungkan Allah bersama Daud.

Allah juga memberikan mu’jizat kekuatan dan ketrampilan utk membuat baju besi dengan menganyamnya dengan ukuran yg berbeda-beda. Allah lunakkan besi seperti adonan kue, dan nabi Daud dapat menganyamnya sesuai dengan desain dan ukuran pemesannya.

Nabi Daud mendapatkan penghasilan dari ketrampilan dan usahanya sendiri membuat / memproduksi baju besi.
Yg dengan itu nabi Daud menghidupi keluarganya, berinfaq dan bersedekah utk masyarakat dan bangsanya (negaranya).

Maka nabi pernah bersabda, sabaik-baik penghasilan (nafkah) adalah hasil jerih payahnya sendiri, seperti yg dilakukan nabi Daud.

3. Sudah seharusnya, seorang raja, pemimpin, atau presiden itu memberi contoh kepada rakyatnya, memberi keteladanan dan komitmen utk memenuhi kebutuhan keluarga, masyarakat, dan membangun bangsanya dari hasil jerih payah dan usahanya sendiri.
Ibrah kepemimpinan para nabi, para sahabat nabi dan para pemimpin dari kalangan orang beriman yg diridhoi Allah inilah yg harus jadi komitmen dan keteladanan, bahwa pemimpin yg baik itu haruslah yg berdaya dgn karyanya sendiri, mampu memberdayakan rakyatnya sendiri dengan cara mandiri, mampu membangun usaha-usaha yg dikelola oleh rakyatnya sendiri secara mandiri.

Bukan pemimpin yang pandai berhutang secara ribawi dan membebani hutang kpd generasi pewarisnya.
Apalagi dengan menyengsarakan rakyatnya, memalak rakyatnya sendiri dengan alasan pungutan pajak, mengambil dan men curangi hak-hak rakyatnya sendiri.

Bukan pula pemimpin yg pandai mempersulit urusan rakyatnya sendiri, pandai menjual atau menggadaikan aset rakyat dan aset bangsanya kepada bangsa asing dan memfasilitasi bangsa asing utk menjajah dan menghinakan (merendahkan) rakyat dan bangsanya sendiri.

Pemimpin-pemimpin yg seperti ini adalah seburuk-buruknya pemimpin, yang haram utk dipilih atau dibaiat oleh kaum muslimin.

Demikian pengajian rutin Ahad pagi ba’da subuh ini dicatat dan disebar luaskan.

Semoga ayat-ayat Al Qur’an di atas, memberi pencerahan dan memperkuat iman, ilmu, dan amal perilaku kita dlm menjalani kehidupannya di dunia. Semangat dlm berjuang menegakkan ajaran agama yg diwariskan Rasul kepada kita, dan optimis dalam menjalani perjuangan da’wah utk membela negara, agar mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan selamat di alam akhirat. Semoga menjadi ilmu yg bermanfaat. Aamiin. (Mohon bantu sebarkan agar dapat bagian pahala ilmu yg bermanfaat). Wallahu a’lam.

سبحانك اللهم وبحمدك اشهد ان لا اله الا انت استغفرك ةاتوب اليك
Bogor, 15/04/18
Salam ukhuwah dari Bogor.

Dicatat oleh : Willyuddin A.R. Dhani