• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 346,032 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Saran Wisata Untuk Seorang Kawan dari Mancanegara

Akhir tahun 2011 lalu, di message facebook tiba2 ramai ketika salah seorang teman dari Malaysia dengan semangatnya menyatakan akan bertahun baruan di indonesia dan meminta saran kira-kira tempat apa saja yang menarik dikunjungi dalam kunjungan 5 hari itu di kota jakarta dan kota bandung.

Dengan serta merta kawan2 mahasiswa Gunadarma yang sedang mengambil master VIBOT  di Le creusot Perancis, berganti-ganti menyebut berbagai tujuan wisata alam, wisata kuliner, wisata kota yang terkenal di tempat itu.

Aku teringat, bahwa selama aku membuat rencana perjalanan di perancis ini, tidak pernah sedikit pun menanyakan hal yang sama kepada orang lain, tetapi cukup mencari di internet dengan keyword city sight seeing atau langsung menuliskan obyek2 yang memang kita cari sesuai dengan kehendak kita. Bahkan tak jarang, aku menemukan lebih banyak daripada pengetahuan orang kota yang kutuju tentang kotanya tersebut.

Sambil iseng, setelah memberi beberapa saran pada kawan malaysiaku tadi, aku coba mencari informasi tentang obyek2 wisata di Indonesia melalu internet.

Perbedaan yang aku temukan dengan mencari kota-kota di perancis adalah, bahwa titik point obyek2 wisata indonesia lebih banyak ditemukan dari blog-blog personal yang bertestemoni tentang kegembiraannya (atau sebaliknya ketidaknyamanannya) terhadap apa yang telah dia alami di suatu obyek wisata. Situs-situs official dari kota yang bersangkutan nyatanya lebih banyak berisi informasi yang kurang dibutuhkan bagi orang2 yang mau berkunjung ke kota tersebut. Bahkan beberapa situs pemerintah kota kualitasnya cuma seperti situs bikinan mahasiswa teknik informatika tingkat satu, yang baru belajar cara me-lay-out website.

Kalaupun kutemukan tampilan yang bagus dan profesional, namun kualitas informasinya sudah ketinggalan zaman dan tidak pernah update sedikit pun dari awal launching – nya. Entah apa yang ada di pikiran para staf pemkot, sehingga punya website tapi tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Nah, ini yang perlu dibenahi. Jika belajar dari pemerintah kota-kota di Perancis (atau pun pemerintah daerah di Eropa lainnya), mereka membuat situs kota itu hidup sekali, mereka menyediakan kontent bagi warga kotanya, baik utk pelayanan administrasi, info situasi kota (transportasi, perumahan, taman, peta kota), berita dan skedul program kota, informasi SWOT kotanya utk para penanam modal, dan tentu saja tidak lupa menyediakan konten pariwisata. Bahkan mereka mengkhususkan utk pariwisata ini ada website tersendiri, yang disebut office-de-tourisme. Semua informasi berpusat dari ini, lengkap sekali detil sampai disediakan brosur utk bisa diprint segala. Cukup buka situs dan anda akan mendapatkan semuanya, sehingga tinggal memutuskan akan pergi atau tidak.

Berbeda yang aku alami saat aku mencari informasi pariwisata di negara kita, maka aku segera disuguhi berbagai blog yang – memang – cukup lengkap, tapi perlu dibaca sana-sini dulu berbagai opini personal dari mereka, dan mencoba menyimpulkannya sendiri. Kadang karena tidak seragamnya pendapat itu, kesimpulan untuk berangkat atau tidak itu sering tidak pernah tuntas, karena keburu capek cari informasi.

SO, what di you think?

Iklan

Kisah Pelajar di Masjidil Haram (Seri 7 dari 10)

Dalam perjalanan haji pada umumnya, selain oleh para pembimbing haji official yang ditunjuk pemerintah, para jamaah juga akan didampingi oleh pembimbing yang memang menetap di tanah suci baik untuk bekerja maupun menuntut ilmu. Mereka juga terdaftar sebagai pembimbing-pembimbing haji setempat yang mengenal dengan baik keadaan tanah suci dan berkemampuan bahasa Arab yang cukup baik. Nah, Bagi mereka yang sedang menuntut ilmu di sekitar tanah suci, sebagian dari mereka bersekolah formal seperti universitas, namun sebagian lainnya belajar informal di Majelis ta’lim.

Selama ini dalam benakku, yang terbiasa pada pola pendidikan formal mulai dari pendidikan pra sekolah, pendidikan tingkat dasar, tingkat menengah, tingkat atas, sampai pendidikan tinggi/universitas, belajar informal ini adalah sesuatu yang kuanggap sekedar pendidikan pelengkap saja.

Aku sendiri menjalaninya paralel dengan pendidikan formalku misalnya mengikut pendidikan madrasah atau taman Pendidikan Alquran bersamaan dengan mengikuti pendidikan tingkat dasar dan menengah. Ketika agak menginjak usia remaja aku juga mengikuti pendidikan informal di pesantren kilat, pengajian2 remaja, organisasi2 remaja seperti kerohanian Islam, pramuka, pencinta alam, klub science, dan pasukan pengibar bendera sampai organisasi olahraga beladiri bersamaan waktunya dengan ketika aku menjalani pendidikan formal tingkat atas.

Hal ini terus berlanjut saat Aku mengikuti pendidikan tinggi sampai aku bekerja sebagai pendidik di suatu Universitas di Depok, selain pendidikan formal, aku sering menyempatkan diri untuk menambah pengetahuan dan keterampilanku dalam pelatihan2, workshop atau seminar-seminar yang berisi pendidikan motivasi, pelajaran agama, kemampuan teknik teknologi atau sekedar sosialisasi metode2 baru yang memudahkan kehidupan manusia.

Pengalaman berhaji ini ternyata membuka mataku, justru pendidikan yang kubilang ‘informal’ ini adalah bentuk pendidikan yang menurutku lebih jujur dalam menjaga keaslian sumber ilmu karena persambungan turun-temurun antara guru murid yang dikuatkan oleh legitimasi yang disebut ijasah sanad. Sebuah Konsep sanad (periwayat) dan ijazah memelihara serta menjamin kesahihan sesuatu perkara yang diriwayatkan serta menjadi satu keistimewaan metode pewarisan ilmu buat umat Muhammad SAW.

Aku jadi mengerti perkataan imam syafi’i rohimakumullah, bahwa “Perumpamaan orang yang menuntut ilmu tanpa isnad adalah seperti seorang pemikul kayu di waktu malam yang memikul seikat kayu yang di dalamnya terdapat seekor ular dalam keadaan dia tidak menyadarinya.” Ini tentunya sejalan dengan tuntunan Rosul yang menetapkan bahwa di antara syarat utama untuk berdakwah adalah izin yang berkesinambungan sehingga langsung dari sumber Rasulullah, dalilnya, “dan berilah peringatan serta nasihat kepada kaum kerabatmu yang terdekat”

Kalau kita lalu melihat sejarah, maka yang menjadi para pendakwah atau da’i itu adalah para sahabat yang menguasai dengan baik tentang hukum agama, hafal dan memahami al Qur’an dan hadith Nabi dengan sempurna. Dan yang menjadikan mereka lebih meyakinkan lagi adalah adanya izin atau ijazah yang diterima dari Nabi SAW untuk berdakwah dan menyeru masyarakat kepada agama yang benar. Langkah strategis ini diberitakan melalui hadith pada Mu’az ibn Jabal ketika beliau diutus ke Yaman untuk berdakwah dan memberi petunjuk tentang hukum2 Islam. Selanjutnya generasi Tabi’in juga berpegang teguh dengan cara-cara ini, di mana Hasan al Basri telah dapat izin dan ijazah mengajar dari Ali bin Abi Thalib. Hasan Al Basri ditemukan beliau setelah menilai 99 holaqoh (grup) pengajian yang terdapat di Masjid Jami’ Basrah Iraq yang ternyata disampaikan oleh mereka yang kurang kompeten. Saat itu kemudian Ali Rodhiallahu anhu pun menyatakan kepadanya “Orang seperti engkaulah yang layak mengajar”.

Singkat kata, sampai hari ini pun dapat kita temukan terutama di pusat-pusat peradaban islam terutama di sekitar kota Makkah dan Madinah ini. Ijasah sanad sebagai sarana legitimasi yang pewarisan ilmu secara turun temurun tidak terputus dari sumbernya, yang bisa kita temukan di waktu-waktu tertentu di pelataran masjidil Haram atau pun di salah satu tempat di Masjid Nabawi. Seseorang pembimbing kami yang mengikut majelis2 ilmu ini, ternyata bisa menghabiskan harinya dengan belajar sampai 30 puluhan kitab per hari. Di mulai dari ba’da shubuh sampai pukul sebelas malam ! Pelajaran diberikan oleh guru-guru ini disampaikan setahap demi setahap, sekitar 1 sampai 2 jam, lalu pembimbing kami itu berangkat ke guru-guru yang lain di waktu-waktu selanjutnya. Sebagian besar guru-guru tersebut bahkan memiliki majelis ta’lim sendiri di dekat kediamannya, tidak hanya mengadakan kajian di masjid-masjid saja.

Yang menariknya, rezim Saud yang kini berkuasa di negara saudi Arabia ini terkadang memotong perkembangan ilmu2 yang dianggap kurang murni menurut mereka. Maka guru2 yang seperti ini kecenderungannya ada di pelosok2 yang informasinya hanya bisa diketahui dari mulut-ke-mulut dari murid2 setianya. Inilah kondisi dimana perkembangan ilmu ternyata juga dipengaruhi oleh keputusan2 politis penguasa. Namun, dalam arti positif, ternyata perkembangan ilmu2 tersebut tidak serta merta berhenti. Aku jadi tahu bahwa untuk kitab2 tertentu tidak bisa ditemukan begitu saja di toko2 buku dan karena tetap banyak permintaan dari para pencari ilmu ini, maka dijual secara ‘gelap’. Dengan kode tertentu, maka si penjual buku baru akan mengeluarkan kitab2 tersebut.

Nah, itulah sahabat. Satu pengalamanku lagi yang dapat kusampaikan sebagai oleh2 dari tanah suci. Suatu saat nanti, mudah2an jika diberi kesempatan Allah, aku ingin mencoba menimba ilmu langsung ke ulama2 di tanah suci yang memegang ijasah sanad ini. Tentu jika kemampuan bahasa Arabku sudah cukup. Oh ya, banyak pula para ulama dari negeri kita Indonesia yang menjadi terpandang keilmuannya sebagai salah seorang pemegang ijasah sanad ini, salah satunya adalah Syech Yasin al padani. Nama lengkapnya Abu al faidh’ alam Ad diin Muhammad Yasin  bin Isa Al padani, lahirnya di Makkah, namun akar keluarganya dari Sumatera Barat. Silahkan sahabat ke situs scahrony.wordpress.com untuk membaca kisah beliau.

(bersambung)

Galeri foto bisa di lihat di TuanSUFI Galery Picasa

Pesantren Ka’bah (Seri 6 dari 10)

Setelah selesai di Pesantren Mina, kini tibalah saatnya untuk mengikuti Pesantren Ka’bah. Kurikulum utamanya selain ukhuwah islamiyah adalah mengenai pendidikan kedisiplinan. Tempat inilah tempat impian bagi seluruh kaum muslimin di dunia sampai akhir zaman kelak. Tempat inilah pusat semua kerinduan orang beriman di segala generasi. Tempat yang khusus didoakan oleh nabi Ibrahim menjadi tempat yang aman dan makmur. Oleh karena itulah, setiap orang yang datang ke sini punya kaitan emosional untuk melakukan ibadah-ibadah yang dicontohkan dan mengejar keutamaan-keutamaan yang dikabarkan. Bahkan ada kecenderungan melakukan aji mumpung ; ‘Mumpung di sini, aku harus dapat sebanyak-banyaknya yang aku bisa dapatkan.‘ Nah, pikiran yang sama pada jutaan jamaah haji yang datang ke masjidil haram ini tentunya membuat ka’bah dan sekitarnya selalu penuh. Ditambah lagi dengan banyaknya variasi ibadah yang dapat dilakukan, membuat gerakan jamaah tidak pernah berhenti sama sekali selama 24 jam. Berlakulah hukum darurat, karena terpaksa saudara-saudara kita satu sama lain melangkahi bahu-bahu atau melewati saudara-saudara kita yang sedang shalat misalnya, yang dalam situasi biasa itu sangat dilarang.

Namun intinya, kita harus berbagi. Inilah dasar ukhuwah Islamiyah dengan memberi kesempatan pada saudara-saudara kita yang belum untuk melakukan ritual-ritualnya. Ka’bah dan pelatarannya cuma segitu-segitunya, jika kita sudah berusaha mendapatkan suatu keutamaan ritual dan dapat, maka segeralah minggir untuk memberi kesempatan kepada yang lain. Jika ternyata juga kita tidak kuasa karena ramainya suasana, ya carilah kesempatan lain. Jika hari itu tidak bisa, maka coba lagi besoknya, atau jika segala usaha sudah dicoba dan tidak berhasil juga, cobalah cari substitusi amal sambil memohon ridho-NYA. Dengan padatnya jamaah yang ada, rupanya Rosul pun tidak menganjurkan harus memaksakan diri untuk mengejar keutamaan saja. Kita pun harus memudahkan saudara-saudara kita yang lain. Maka, misalnya untuk apa harus merangsek ke kerumunan sambil sikut sana-sikut sini hanya untuk dapat mencium hajar aswad yang disunnahkan. Apalagi sampai harus ‘menyewa’ bodyguard yang membuka jalan kita namun menyakiti orang lain. Cukup lambaian dari jauh..

Memburu Amal Ringan tapi Berat Dalam ‘Timbangan’

Di Masjidil Haram ini semua pahala berlipat ganda sampai seratus ribu kali lipat. Maka bukalah keran empati besar-besar, karena sesungguhnya di setiap jengkal wilayahnya dapat saja kita temukan rahmat Allah yang ‘berserakan’ bukan hanya pada beberapa tempat yang punya keutamaan besar (seperti hajar aswad, rukun yamani, multazam, maqam ibrahim, hijr Ismail).

Coba turunkan derajat keinginan-keinginan yang dikendalikan hawa nafsu, lalu tajamkan kepekaan terhadap lumbung-lumbung pahala,Insya Allah kita akan mendapatkan kesempatan beramal sholeh yang ringan dikerjakan tapi berat dalam balasan. Ini beberapa contoh saja, Insya Allah ringan dilakukan.

  • Di sudut rukun Yamani, ada tempat air zamzam yang menghadap teras masjid bersebrangan dengan pelataran ka’bah. Letaknya amat dekat dengan pelataran ka’bah. Orang-orang yang thawaf yang kehausan biasanya berhenti disitu dan meminta minum kepada orang-orang yang ada di sana. Nah, coba luangkan waktu isikan air pada gelas-gelas yang disediakan, lalu berdiri dipinggir beberapa menit saja. Insya Allah dengan memberi minum bagi yang kehausan, kita bisa mendapatkan pahala yang berlipat ganda.
  • Saat shalat berjamaah, umumnya shaf sangat rapat satu sama lain. Cobalah lembutkan tangan kiri dan tangan, dan mudahkan dalam duduk tasyahudnya. Biar saudara di kiri dan kanan kita merasa tentram berjamaah bersama kita.
  • Di sudut hajar aswad ada balkon. Dari sanalah imam akan datang dan begitu juga para jenasah yang hendak di shalatkan dikumpulkan setiap setelah shalat berjamaah. Sesekali coba shalat di dekat-dekat sana, agar perasaan ingat kematian kita menguat sehingga memperbesar motivasi beribadah kita. Selain itu, selalulah mengikuti shalat jenasah, karena Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa pahala shalat jenasah di tanah suci ini pahalanya sebesar gunung Uhud.
  • Sambil berjalan di Masjid Al Haram, cobalah berfikir sebagai ‘pasukan semut‘. Jika sahabat menemukan gelas zamzam berserakan, atau sampah tisu berserakan, pungutlah dan letakkan ke tempat sampah. Semoga dengan begitu, kita bisa dicatat sebagai pemelihara masjid suci.
  • Kemudian, bersiaplah membawa tisu agak banyak, sehingga saudara kiri kanan kita bisa juga menikmatinya. Begitu pula bawa botol minuman sekaligus gelas kecil dua buah. Pada cuaca yang panas, kita semua butuh tisu dan minuman. Begitu indahnya bila kita yang bisa menyediakan untuk mereka yang membutuhkan.  Ini juga bisa kita lakukan jika membawa sajadah agak besar, untuk berbagi dengan saudara yang di sebelah kita yang tidak membawa sajadah.

Yang paling penting jagalah hati untuk tidak berburuk sangka dengan saudara-saudara kita. Singkirkan persoalan kaidah norma-norma dan perilaku yang amat berbeda dari saudara-saudara kita. Mereka itu semua tamu2 Allah, perbedaan budaya kesopanan dan tatakrama yang kadang menguras emosi dikebelakangkan saja. Mengalah untuk mendahulukan saudara itu besar nilainya dimata Allah. Jika tidak kuat berdoalah kebaikan untuk kita dan mereka.

Karena dalam pesantren ini, Insya Allah kita akan melihat berbagai perilaku kaum muslimin dari seluruh dunia. Jika kita ridho, kita akan segera memaklumi sikap-sikap orang turki yang besar-fisiknya dan senang berpegangan erat ketika tawaf. Walau mereka sering berteriak2 dalam berdoa, dan punya kecenderungan menyerobot tempat duduk kita, tetapi ternyata, mereka ini adalah teman yang enak dalam bercakap-cakap. Kita juga akan bertemu dengan sikap-sikap saudara kita dari Afrika yang sebagian besar mereka tampak riang gembira, gemar bergerak cepat ber-zig zag dalam bertawaf, senang berbusana warna-warni dan memiliki bau yang amat khas. Mereka ini ternyata  juga seorang pelindung yang baik bagi orang Indonesia yang kecil-kecil ini. Kita akan sangat jelas melihat keberagaman fisik, sikap dan perilaku dari saudara-saudara kita dari seluruh dunia. Saudara-saudara yang hatinya – di tengah perbedaan yang meruncing tersebut – ternyata menghadap ke tempat yang sama dengan hati kita. Inilah tentunya yang kita mesti selalu sadari, dan menjadi landasan bagi keikhlasan kita dalam bermuamalah dengan mereka. Insya Allah dengan itu, ringan semua bagi kita. tidak ada beban, nyaman bersama mereka.

Menuju Shaf pertama di Baitullah

Untuk kaum muslimin laki-laki, keutamaan shalat berjamaah adalah shaf pertama. Di Masjid mulia ini, ternyata untuk dapat tempat terbaik dalam shalat berjamaah tersebut perlu perjuangan yang tidak ringan. Dimulai dengan datang sekitar 1 jam lebih awal dari waktu shalat, dan mengambil posisi di paling belakang pelataran Ka’bah lalu secara kontinyu sedikit demi sedikit berpindah ke shaf depannya sampai posisi jalur orang berthawaf berkurang karena distop Askar. Aku bergerak pindah itu berpedoman pada tali panjang yang diurai askar sedikit demi sedikit menjadi pembatas jalur lalu lalang orang di sekitar hajar aswad. Nah, saat orang yang bertawaf berkurang, aku segera saja menembus lintasan tawaf untuk duduk mendekat ke shaf pertama Ka’bah. Jangan menunggu sampai orang yang thawaf habis, karena biasanya di shaf2 terdepan tersebut sudah penuh orang.

Nah, pada proses ini perlu kesabaran karena kita akan sering dilangkahi orang. Teruslah berzikir atau tilawah quran atau jika memungkinkan terus melakukan berbagai shalat sunat. Kemudian jika sudah mendapatkan posisi yang baik adalah terus mempertahankannya dengan kelembutan. Banyak saudara-saudara kita yang berpikiran sama dengan kita namun datang belakangan. Mereka-mereka ini kadang2 suka lupa bahwa shaf sudah penuh. Jika posisi terlihat agak longgar sedikit saja, mereka akan segera mengisinya – bahkan kadang2 dengan sedikit memaksa. Nah, kalau sudah begini, aku mencoba berpasrah kepada Allah dan berusaha menjaga hati, untuk tidak usah mengusir mereka dengan keras. tapi mempersilahkan saja mereka untuk bergeser menjauh. Insya Allah jika hati kita tulus kita tidak akan menemui orang2 keras yang tidak mau pindah. Hati mereka akan digerakkan untuk tidak menggangu shaf shalat kita.

Waktu paling enak untuk berjuang menuju shaf pertama ini adalah pagi sebelum shubuh. Jika shubuh sekitar pukul 5.10, maka paling tidak pukul 4 kita sudah mulai ambil posisi. Sambil terus memperbanyak qiyamul lail dan tilawah, Insya Allah kesempatan bagi kita untuk mendekat ke Ka’bah semakin besar. Setelah selesai shalat shubuh, bergeserlah kembali ke posisi dimana bukan jalur thawaf, untuk memberi kesempatan saudara-saudara kita berthawaf dan tentu saja memberi ruang yang nyaman bagi kita untuk ber i’tikaf sampai matahari terbit.

Sedangkan pada waktu dzuhur atau ashar, perlu diperhatikan lebih dahulu dimana posisi matahari berada, agar kita bisa memilih posisi di bawah bayangan Ka’bah. Terus terang, teriknya matahari Jazirah Arab ini cukup menyengat. Bagi kita orang Indonesia, kadang ini dapat mengganggu kekhusyu’an shalat. Kemudian untuk mendapatkan posisi yang baik pada shalat maghrib sekaligus Isya, dimulai sekitar 1 jam sebelum maghrib untuk mulai bergerak menuju shaf depan. Karena umumnya waktu2 ini, situasi akan sangat padat sekali, agak sulit juga kita mendapatkan posisi dekat ka’bah, kecuali jika sahabat melakukan thawaf terlebih dahulu dan berhenti pada saat menemukan tempat untuk duduk kita.

Burung pelindung Nabi dan burung putih di atas Ka’bah

Dahulu, ketika hijrah bersama abu Bakar, Nabi Muhammad SAW terpaksa bersembunyi dari kejaran para pembunuh dari quraisy di gua Tsur. Saat pencari jejak sudah mendekat kepada beliau, Allah mengilhamkan laba-laba untuk membangun sarangnya di pintu gua, dan mendatangkan burung merpati untuk membuat sarang dan bertelur di sana. Nah, sejak itulah burung merpati pelindung nabi yang turun temurun hidup di tanah suci dilindungi dan mendapatkan penghormatan. Semenjak umroh dulu, aku selalu memperhatikan burung-burung yang ikut pula berthawaf di udara di atas Ka’bah. Mereka dengan bebas beterbangan berputar-putar di sana dan sesekali hinggap di tiang-tiang masjidil haram. Di pelataran masjidil haram pun burung-burung ini banyak bergerombol untuk turun karena banyak pula jamaah yang memberikan jagung dan sejenis biji-bijian kepada mereka.

Yang aku sering takjub, di sekian banyak merpati yang terbang berputar-putar di atas ka’bah, selalu ada pula beberapa burung berwarna putih yang selalu saja terbang lebih kencang dan lincah dibandingkan merpati2 tersebut. Mereka selalu ada ba’da shubuh dan menjelang maghrib hari. Sekilas dalam perasaan terdalamku, burung-burung putih ini memancarkan kegembiraan dan kebahagiaan hati mereka. Apakah ini burung-burung para syuhada ? wallahu a’lam.

Begitulah sahabat. Perjuangan untuk istiqomah selalu hadir dalam setiap shalat berjamaah di Ka’bah adalah pesantren tersendiri. Ini juga merupakan salah satu sarana untuk memupuk perasaan kejamaahan kita satu sama lain dan insya Allah dapat diimplementasikan ketika kita kembali lagi ke tanah air. Dengan semua ini, aku tergiring menjadi haqqul yakin, bahwa salah satu indikator kemabruran haji adalah abadinya perasaan tertarik untuk selalu mendekat ke masjid-masjid di mana pun berada, apalagi saat azan shalat kumandangkan ; Seorang haji mestinya menjadi orang-orang yang selalu memakmurkan masjid-masjid Allah.

Namun ada hal yang menjadi titik keprihatinanku, dari apa-apa yang telah diperlihatkan Allah di tanah suci ini, tentang orang-orang yang perilakunya mencerminkan ketidakmabruran, justru ketika masih berada di tanah suci,  Orang-orang yang merasa berat menyambut panggilan bersujud, bukan karena uzur Syar’i tapi karena nafsunya masih lebih besar dari frekuensi akhiratnya. Orang-orang yang membesarkan hal-hal lain pada saat nama-MU dibesarkan dalam azan. Sehingga melalaikan saat-saat nikmat berjamaah.

Ya Robbi beri karunia kesadaran bagi saudara-saudara kami, dan mohon agar kami pun tetap berada dalam koridor ridho-MU. Jangan sampai ketidaktahuan kami, kelalaian kami menjerumuskan kami ke jurang kedurhakaan kepada-MU.

Masjidil Haram, tempat Paling Romantis di dunia..

Kesempatan berhaji dengan istri, sungguh merupakan karunia sangat besar dari Allah. Di sinilah kami berdua, selaku konduktor institusi bernama keluarga mengevaluasi dan meredefinisi visi dan misi kami. Selain ibadah-ibadah ritual lainnya, haji ini membuka kesempatan untuk merenung bersama di antara aku dan istriku tentang berbagai hal langkah2 kami dalam mengarungi biduk rumah tangga. Di sini juga secara batiniah, hati kami disatukan lebih erat lagi dengan doa-doa yang kami panjatkan dan dengan kesabaran-kesabaran yang selalu kami kedepankan. Kami bersyukur pula diberikan situasi yang memungkinkan kami beribadah secara lengkap di Tanah Haram bersama-sama ; berjalan menuju masjid bersama, bertawaf bersama, berdoa berderai airmata berdampingan di multazam, duduk kelelahan bersama ketika sa’i, ber i’tikaf menunggu terbitnya matahari bersama, berlomba-lomba dalam memperbanyak tilawah quran dan berbagai hal romantis lainnya. Pernah suatu ketika pada titik bacaan quran kami, kami berhenti di satu ayat yang sama secara tidak sengaja… Subhanallah, Ayat tentang ketaqwaan di juz 20.

Sungguh dalam proses-proses yang kami jalani ini membuka pemahaman di antara kami menjadi semakin dalam. Bagaimana tidak, karena berkahnya masjidil haram ini ternyata bisa mengalunkan irama jiwa kami dalam satu gerakan. Ini seperti ‘menari-nari indah’ bersinergi satu sama lain dengan sangat teraturnya. Jiwa kami seakan menikmati kebersamaan ini sebagai satu jiwa. Mungkin inilah ‘tari salsa‘ ala Baitullah yang iramanya mengalun nyaman, yang mengilhamkan berbagai cara mengungkapkan kasih sayang disela padat-padatnya ibadah mahdoh kami. Inilah yang membuat semua menjadi ringan, walau ada waktu-waktu tertentu kami terpisah di masjidil haram, namun seakan menyatu, sehingga Allah membantu kami untuk dapat saling bertemu di tengah2 jutaan orang yang beribadah di masjidil haram saat itu. Subhanallah, semakin yakin aku, pesantren Ka’bah ini memang untuk menyatukan jiwa-jiwa kaum muslimin.

Perpisahan Sementara

Hari-hari indah itu akhirnya mencapai akhir. Pukul 3 dini hari, aku bersama istriku mengungkapkan salam perpisahan sementara dengan Baitullah yang penuh rahmat ini. Dengan tawaf dan doa harap-harap cemas, dengan semua yang telah kami lakukan ini, apakah telah membuat ridho Penguasa Jagad Raya? Sementara itu di dada semakin memuncak kepedihan perpisahan,

ya Robbi, hanya inilah yang dapat kami usahakan untuk mendekati-MU, maafkan jika terselip kelalaian di sana-sini, maafkan jika fisik kami yang kadangkala terbatuk-batuk dan ringkih ini tidak dapat menyempurnakan persembahan ibadah kami padamu…

ya Allah, seginilah kami.. sekecil inilah kami… hanya Engkaulah yang Maha pemberi derajat ketinggian. Semoga kami termasuk golongan orang-orang yang mencintaimu dengan segenap jiwa raga kami, dan dengan itu Engkau menjadi cinta pula pada kami. Amin.

Pelan langkah kami meninggalkan masjidil haram. Sesekali menengok melihat Ka’bah yang dimuliakan, seraya berharap, semoga diberi kesempatan untuk kembali lagi… Insya Allah, Insya Allah..

(bersambung)

Galeri foto bisa di lihat di TuanSUFI Galery Picasa

Pesantren Mina (Seri 5 dari 10)

Sesungguhnya Mina ini seperti Rahim, ketika terjadi kehamilan, daerah ini diluaskan Allah SWT, maka semestinya kita tidak perlu khawatir tidak mendapat tempat di mina (Hadits)

Perjalanan selanjutnya setelah mereguk ketentraman padang Arafah yang panas dan beristirahat malam di Muzdalifah adalah kembali ke perkemahan Mina. Beberapa saat sebelum shubuh di hari tasyrik pertama idul qurban, kami melontar jumroh terlebih dahulu di area jamarat Aqabah untuk kemudian kami bertahallul awwal, membuka status ihram kami. Setelah itu, pesantren kolosal Mina resmi dibuka. Rupanya obsesi ketakjubanku terhadap hadits di atas, terwujud dalam salah satu mimpiku ketika Mabid di Mina ini, satu jam setelah tengah malam, antara sadar dan tidak sadar aku merasakan tenda kami ini beserta seluruh yang ada di dalamnya berdenyut seperti hidup. Aku seperti merasakan ‘hidup’nya makhluk Allah bernama Mina ini. Ketika kesadaranku kembali penuh, segeralah aku mengambil wudhu dan tersungkur bersyukur. Pengalaman spiritual yang kualami ini, bagiku adalah untuk penguat semangat ibadahku di tanah suci ini. Tidaklah perlu dijadikan suatu pertanda apalagi pedoman bagi sahabat, karena bisa jadi pengalaman spiritual tersebut akan berbeda satu sama lain. Yang penting semua itu bisa jadi pemicu untuk menjadi hamba dan khalifah yang lebih baik lagi.

Introspeksi Sifat Bangsaku

Menurutku, di tempat inilah sebagian besar pendidikan Allah melalui ibadah haji disampaikan. Sensasi tinggal di tenda besar, berbagi kasur dan tempat shalat serta berbagai kemurahan Allah dalam bentuk ‘sedekah’ kepada hamba-NYA kami rasakan. Begitu pula nikmatnya mengantri untuk menggunakan toilet dan mendapatkan makan. Oleh sebab itulah tekad kami berdua semenjak awal haji, adalah terus tinggal di Mina walau apa pun yang terjadi. Meski apartemen kami dapat dijangkau dalam waktu singkat sekalipun, tidak usahlah berfikir untuk kembali ke sana. Di tempat ini juga, semua hal yang tadinya mudah diakses dengan kekuasaan maupun kelapangan yang ada pada kita, menjadi sedikit tertunda karena harus berbagi dengan orang lain. Semua hal kebutuhan kita memang sama sekali tidak berkurang, bahkan berlebih, hanya saja dalam mendapatkannya kita harus mengedepankan sifat sabar sedikit saja. Nah, sahabat karena saat itu kami dikelompokkan berdasarkan bangsa-bangsa, maka pada kesempatan besar di Mina ini aku seperti dipertontonkan parade akhlaq dan sifat-sifat dasar kita semua orang Indonesia. Jadilah mabid di Mina ini membawa pula kesempatan berintrospeksi diri. Bukan untuk menjelek-jelekkan, tapi hanya untuk meningkatkan kualitas diri kita. Inilah akhlaq buruk yang harus segera diubah setelah keluar dari pesantren Mina ini sebagai salah satu bentuk kemabruran haji-haji kita. Tiga besar diantaranya adalah :

Yang pertama, sifat bangsa kita ini adalah rakus dan serakah sehingga sering berlebih-lebihan, namun di luar kemampuannya untuk menghabiskan apa yang diambilnya, entah apa yang ada di dalam benaknya, aku melihat dengan jelas seseorang mengambil makanan berlebih-lebihan, lalu setelah itu tidak sedikit pun disentuhnya oleh perutnya yang ternyata tidak lapar. Ketika seorang lainnya bertanya, dia menjawab enteng, ‘kan saya sudah bayar mahal, jadi jatah makan saya harus tetap diambil dong…‘ astaghfirullah.. astaghfirullah…

Yang kedua, sifat bangsa kita ini tidak sabaran. Sehingga sering tidak mau antri dan membuat kekacauan dalam suatu antrian. Hebatnya lagi begitu ditegur, beliau-beliau inilah yang lebih marah dari kita sambil berbusa-busa mengemukakan betapa pentingnya dirinya itu untuk duluan daripada yang lain. Masya Allah… Aku berlindung kepada Allah dari yg demikian itu.

Yang ketiga, sifat bangsa kita ini kurang menjaga kebersihan dan kerapihan. Betapa tenda dan lorong-lorong jalanan itu penuh sampah bertebaran, walaupun tempat sampah pun bisa ditemukan dimana-mana. Kesadaran akhlak menjaga kebersihan rupanya baru sampai taraf membebankan tanggungjawab tersebut kepada petugas2 kebersihan yang ada, bukan dimulai dari dirinya. Pikiran2 seperti ‘kan ada yang bersihin nanti’ itu seperti bakteri2 jahat yang menguasai benak saudara2 kita tersebut. Padahal dengan begitu kan yang terganggu adalah kita sendiri saat sampah menumpuk dimana-mana. Jika setiap orang membuang sampah pada tempatnya, Insya Allah kenyamanan dan -tentu saja- kesehatan kita semua terjaga dengan baik. Kadang ketika aku melewati maktab negara sahabat Malaysia yang berada di samping maktab kita, aku suka miris, karena sangat kontras sekali bedanya. Lorong2 maktab kita kotor dan becek banyak sampah, sementara tetangga kita bersih dan kering.

Nah, menurutku kesemua itu karena kebanyakan kita rupanya lebih mengedepankan egoisme pribadi dibandingkan orang lain. Kita juga melupakan sabar dan rasa malu kita kepada Allah karena dalam pengawasan-NYA di tanah suci ini saja, masih menunjukkan ketidakmampuan kita mengendalikan hawa nafsu pribadi. Situasi ini adalah potret kita semua rakyat Indonesia. Mungkin dalam manasik sebelum berangkat haji, perlu ditambah pula pelajaran akhlaq2 Islam paling dasar yang mungkin saja sudah terlupakan atau tertutup oleh kebiasaan-kebiasaan buruk selama ini. Sekedar mengingatkan saja, agar haji kita semua semakin meningkat kualitasnya tanpa dihiasi dengan akhlaq2 kotor tersebut dalam pelaksanaannya.  Baca lebih lanjut

Meniti Makna Wukuf di Padang Arafah (Seri 4 dari 10)

Haji itu adalah wukuf di Arafah (Nabi Muhammad)

Dengan menginap di Mina satu malam di hari Tarwiyah, kami mencoba menyesuaikan diri akibat perubahan kondisi dari kehidupan serba nyaman dan terjaga privasi di apartemen, menjadi kehidupan yang berlandaskan kebersamaan dan berbagi fasilitas di maktab. Sungguh walaupun terlihat lebih tidak pasti, namun Allah memberikan sedekah-NYA kepada tamu-tamu-NYA ini. Kami  diperbolehkan untuk melakukan berbagai kemudahan-kemudahan seperti meng-qashar (meringkas) shalat fardhu yang 4 rakaat menjadi 2 rakaat. Lalu menikmati jamuan kebersamaan spiritual di Mina. Hati ini terasa lebih lapang dan semakin mantap dalam menghadapi hari arafah.

Maka ketika pagi hari Arafah menjelang, terasa ada energi semangat amat dahsyat yang mendorong aktivitas kami menuju padang Arafah. Sisi dalam jiwa seperti penuh dengan harapan dan kerinduan khas yang menggunung. Bukan hanya diakibatkan oleh tenda merah bergaris dan situasi arafah yang penuh manusia yang berusaha menggaet frekuensi ampunan Allah dengan kapasitasnya masing-masing, tapi ternyata ada juga pancaran bening dari sisi terdalam spiritual yang bergetar-getar semakin membesar.

Subhanallah,tenda kami ternyata ada di shaf pertama sisi yang menghadap Ka’bah. Sehingga sujud kami adalah sujud-sujud yang terdepan diantara lima juta tamu Allah yang datang pada tahun ini. semoga inilah karunia-NYA, yang membuat kami diampuni dan diijabahi. Sungguh, situasi panas terik matahari padang Arafah menjadi detik-detik tak terlupakan karena tidak sedikit pun mempengaruhi percakapan kami dengan Sang Pengatur matahari. Putaran bumi seakan berhenti, aliran air mata menggelapkan semuanya, sehingga fokus pandangan matahati kami hanya pada satu sinar besar yang amat menentramkan.

Arafah Sejuta Makna

Awalnya, khutbah Arafah setelah shalat dzuhurlah yang mulai menggiring hati kami untuk larut bersama dalam wukuf, namun beberapa saat selanjutnya, setiap orang mulai berasyik masyuk dengan Tuhannya dengan gayanya masing-masing. Mungkin inilah yang disebut dengan Arafah sebagai lambang maqam ma’rifah billah, merasakan situasi kegembiraan dan kedekatan dengan Sang Pencipta, yang kabarnya rasa ini tidak semua bisa mendapatkannya. Maka itulah rupanya dzikir yang dicontohkan Nabi terkasih kami amatlah pendek, tapi bermakna dalam sekali. Dzikir yang mengiringi rasa tentram karena kedekatan antara hamba dan Penciptanya di padang Arafah.

Sebaik-baik doa pada hari Arafah, dan sebaik-baik yang kubaca dan dibaca pula oleh nabi-nabi sebelumku yaitu Lailaha illallahu wahdahula syarikalah, lahulmulku wala hul hamdu wa huwa ‘ala kulii syai-in qodiir (Tiada Tuhan kecuali Allah dan tidak ada sekutu bagiNYA, bagiNYA segala kerajaan dan segala puji. Dia yang menghidupkan dan yang mematikan dan Dialah Maha berkehendak)

Kami kemudian mencoba melepaskan kebanggaan duniawi kami, menunjukkan sikap merendah dan mengakui dosa2 selama ini yg telah menyimpangkan jutaan kilometer jarak kita dari jalan Allah yang sesungguhnya. Di Arafah inilah kesempatan kita untuk mengembalikan setiap langkah menuju titik nol dengan langkah yang diajarkan-NYA. Berserasi dengan frekuensi Ilahiyah sebagai hamba-hamba yang bersyukur dan terus berusaha istiqomah dekat dengan Tuhannya. Inilah hikmah Arafah sebagai tempat pembebasan. Seperti yang Nabi pesankan, ‘Tidak ada hari yang paling banyak Allah menentukan pembebasan hambaNya dari neraka kecuali hari Arafah.’

Di arafah juga kami berusaha memanjatkan permohonan2 kami. Sembari berhati-hati memilih kata-kata agar tidak berlebihan dan tidak meminta sesuatu yang berada di luar pengetahuan kami yang sangat sempit ini. Berdoa dengan memohon yang terbaik menurut Allah, berdoa agar dapat bersikap yang terbaik menurut-NYA dalam menyikapi segala pemberian dari-NYA. Sungguh indah bila mengingat pernyataan mulia dari kekasih Allah Muhammad SAW, ‘Doa yang paling afdal adalah doa di hari arafah’.

Menjelang terbenam matahari Arafah, kami keluar dari tenda. Tersentak hati semakin haru, pemandangan yang dihamparkan di depanku ini adalah pemandangan yang pernah diilhamkan-NYA pada salah satu mimpiku beberapa saat yang lalu. Persis sekali. Pertanyaan yang sempat terlontar dalam mimpiku saat itu, kini terjawablah sudah, ini adalah Arafah…  miniatur padang mahsyar, tempat manusia dikumpulkan di hari pertanggungjawaban. Semoga kami termasuk dalam golongan yang mendapatkan naungan di saat-saat tidak ada naungan lain kecuali naungan Allah. Semakin turun matahari, semakin deras doa kami panjatkan. Seakan kami tidak hendak membiarkan sedetikpun kami lewatkan dalam hari yang dikhususkan ini, ketidakrelaan untuk membiarkan momen-momen luar biasa ini membuat air mata semakin deras. Ya Robbi,.. ya Robbi.

Di saat inilah aku melihat seorang bidadari Arafah. Seseorang yang hampir tujuh tahun menjaga amanah dengan cara yang amat luar biasa. Seorang yang diberkahi, dan selalu berusaha istiqomah menjaga semua tugas2 yang dibebankan kepadanya. Bidadari yang mata lentiknya yang basah tiba2 saja bertemu dengan mataku ; dekat sekali, membuatku terhentak, kesempatan berwukuf di arafah ini, sesungguhnya datang dari dalam sanubarinya. Kesempatan menyambut panggilan ini tercipta sebagai hadiah baginya, sehingga aku pendampingnya pun terbawa bersamanya. Ya Allah, berkahilah bidadari Arafah-MU ini. Dan terima kasih telah menakdirkan bidadari ini menjadi pendampingku di dunia ini. semoga ikatan kuat ini, terus abadi sampai di akhirat saat bertemu denganMU.

Akhirnya, Arafah sesungguhnya adalah tempat mu’tamar akbar, pertemuan tahunan seluruh kaum muslimin di dunia. Seharusnya bisa digunakan sebagai sarana membuat kesepakatan bersama metode perjuangan kaum muslimin dalam menunaikan kewajiban khalifatullah fil ardhi di dunia ini. Kita mesti mencoba menghilangkan sekat2 sosial politik, untuk berbicara bersama atas nama kaum muslimin. Jika yang haji tiap tahun sekitar 5 juta orang, artinya per orang bisa mensosialisasikan hasil mu’tamar ini ke 1000 orang di negaranya. Jika hasil mu’tamar arafah ini berupa rencana taktis, seharusnya dalam 10 tahun saja kaum muslimin sudah berkembang pesat di segala bidang.

Tarik Nafas di Muzdalifah

‘Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosa orang2 yang berwukuf di arafah dan orang2 yang bermalam di masy’aril haram (Muzdalifah) dan membebaskan mereka dari tuntutan balasan dan dosa2 mereka. Umar ibn khattab berdiri, apakah ini khusus untuk kita saja ya Nabi?, Rasulullah menjawab, ini untukmu, dan untuk orang2 yang datang sesudahmu hingga hari kiamat kelak.  Sungguh kebaikan Allah amat banyak dan dia maha Pemurah.’ Kata Umar.

Hebatnya nabi kita. Setelah dijamu makna Arafah, beliau berhenti dan beristirahat di Muzdalifah.  Tempat ini sungguh punya pemandangan yang kota Makkah yang indah sekali. Kami mencontoh nabi untuk beristirahat sejenak di sana.  Di sela-sela waktu aku mengumpulkan batu-batu kerikil untuk keperluan melempar jumroh esok hari. Kami ini, yang 5 juta ini, yang menjadi tamu-tamu Allah tahun 1431H ini, seperti tentara-tentara yang sedang menyiapkan diri untuk melawan musuh yang disimbolisasikan dengan melempar jamarat. Subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil adzim…

(Bersambung)

Galeri foto bisa di lihat di TuanSUFI Galery Picasa

Hari-hari Menjelang Hari Arafah 1431 Hijriah (Seri 3 dari 10)

Selain beratnya perpisahan dengan keluarga, haji tahun ini diwarnai dengan pedihnya bencana alam di negeri kami. Keberangkatan di awal November 2010 ini bertepatan dengan riuhnya letusan abu dan tanda-tanda final gunung merapi untuk memuntahkan isi perutnya. Lambatnya pernyataan status aman atas debu vulkanik oleh pengelola bandara internasional Soekarno Hatta Jakarta, membuat para perusahaan penerbangan lebih melihat pernyataan otoritas Australia yang paranoid seperti Amerika yang menyatakan status bahaya yang sudah di-hearing lebih dahulu secara ‘prematur’ hanya karena jatuhnya bagian2 mesin pesawat milik mereka yaitu Qantas yang menimpa rakyat kita juga. Mereka mencari kambing hitam atas buruknya perawatan mesin terbang mereka itu dengan alasan kemasukan abu vulkanik. Nah, Hal ini berimbas kepada jadwal penerbangan yang kacau hingga 4 hari yang membuat ribuan tamu Allah terpaksa tertunda keberangkatannya ke tanah suci sampai 3-4 hari. Padahal mereka ini dikejar dengan batas ditutupnya bandara intenasional King Abdul Aziz Jeddah tanggal 12 November 2010. Sungguh, kalau aku mengedepankan su’udzon, negara kapitalis Australia ini memang gemar menyusahkan atau menyudutkan umat Islam dengan memanfaatkan lambatnya birokrasi negara kita. Ini perlulah digaris bawahi, bagi pemimpin2 umat Islam yang berada di pemerintahan mestinya lain kali bisa cepat bertindak memberi jaminan keamanan ; ini kan tak lain dan tak bukan melindungi kepentingan ummatnya sendiri tanpa dilangkahi sama negara lain mana pun. Tapi aku berusaha berbaik sangka aja deh, bahwa skenario ini adalah sudah benar memang harus seperti itu, sebagai kenyataan karena lemahnya situasi kami manusia, yang hanya mampu merencanakan, tetapi Kehendak Tuhanlah yang menentukan semuanya.

Alhamdulillah, pada hari keberangkatan, rombongan kami hanya mengalami penundaan 3 jam saja. Perjalanan menggunakan Emirates, transit di dubai setelah 8 jam terbang dan menunggu sekitar 2 jam dari rencana untuk kemudian terbang selama 2 jam lagi menuju Jeddah. Di Dubai inilah aku dan istriku berganti pakaian Ihram sebagai jaga-jaga atas keputusan kontroversi miqat di Bandara Jeddah dengan alasan darurat. Sebab dalam hadits manapun yang menjelaskan mengenai miqat, tidak kutemukan adanya miqat makkani di Jeddah. Nah, menurut keyakinanku, maka sesuai dengan ijtihad ulama pula, bahwa miqat yang diambil dalam perjalanan menggunakan pesawat terbang adalah wilayah Yalamlam, yaitu miqat bagi jamaah yang datang dari Yaman dan Asia. Yaitu, sekitar 30 menit sebelum pesawat mendarat di King Abdul Aziz Jeddah, yang biasanya diumumkan oleh pilot dan tervisualisasi di GPS LCD di depan tempat duduk kita. Disinilah niat umroh dicanangkan, menanggalkan status keduniaan, menerima konsekuensi aturan ketat untuk dapat membuka frekuensi Ilhahiyyah menjadi tamu-tamu-NYA.

6 hari menjelang hari Arafah ; Ahlan Wa sahlan di Tanah Suci

Setelah mendarat di Jeddah, kami kemudian mengalami step demi step pemeriksaan imigrasi. Alhamdulillah, karena masih ba’da shubuh hari semuanya bisa berjalan tidak terlalu lama. Formulir kedatangan diisi dan disetorkan ke loket, sidik jari kami di pindai, sebagian diambil fotonya lagi, kemudian pasport kami diberi stempel-stempel administratif untuk keperluan transportasi darat selama di tanah suci, kurang lebih 4 counter yang harus kami hadapi untuk memberikan sobekan-sobekan buku coklat administrasi haji dan semuanya memakan waktu sekitar 1 jam. Selesai mengumpulkan tas-tas dan pasport kepada travel secara kolektif, kemudian kami menunggu giliran keberangkatan darat lagi di ruang tunggu bandara Jeddah sekitar 4 jam, beberapa anggota rombongan berganti ihram di sini, sedang aku mengambil kesempatan untuk mandi menyegarkan diri.

Setelah makan pagi, tibalah giliran rombongan kami diberangkatkan ke Makkah menggunakan bus. Perjalanan sekitar dua setengah jam dan setiap bus dikonfirmasi data jamaahnya, sekaligus mendapatkan pembagian makanan kecil serta air zamzam di tempat yang bernama checkpoint yang letaknya sekitar 15km dipinggir kota Makkah. Rupanya pemerintah Arab saudi mengkoordinir sumbangan para dermawan di tempat ini. Belum habis kue-kue tersebut, kami berhenti lagi di bangunan milik Muassasah pelayan maktab 100, tempat kami tinggal selama haji kelak. Disana kami kembali disuguhi teh, kopi dan makanan kecil lainnya, serta kami dibagikan gelang tanda pengenal maktab dan id card-nya. Setelah itu menjelang Ashar barulah kami diantar ke apartemen yang terletak di dekat jabal Nur – Gua Hira, ditempat yang bernama Ghasala. Masih di wilayah tanah suci, sekitar 7km dari Masjidil Haram.

Setelah mendapatkan kamar masing2, dan merapikan barang-barang kami dalam status ihram, sekitar pukul 20.00, kami berangkat ke masjidil haram menggunakan bus untuk melakukan Umroh sekaligus Thawaf Qudum di dalamnya, yaitu thawaf penghormatan ketika kita masuk masjidil haram pertama kali. Sekitar pukul 21 kami memulai thawaf, situasi masjidil haram cukup padat sehingga kami baru bisa memulai sa’i 10 menit setelah tengah malam setelah berdoa panjang di Multazam bersama istri. Alhamdulillah sekitar 01.30 kami bertahallul dan bersiap pulang kembali ke apartemen dengan jemputan di depan Masjid kucing. Perjumpaan lagi dengan Ka’bah menggedor hati kami. Tempat ini selalu saja membawa kesan mendalam setiap melihat dan berada di sekitarnya. Kelelahan perjalanan panjang pesawat tidak dirasa lagi, sebagaimana aliran air mata yang sulit terbendung. Setiap putaran penuh dzikir, doa dan harapan. Pada setiap rukun-rukunnya terlewati, seakan semakin dekat dengan pintu raksasa yang semakin terbuka lebar di dalam pikiranku. Setelah itu di pelataran ruang maha megah itu, tak kuat lagi kami tegak berdiri, shalat sunnah ba’da thawaf di Multazam yang sangat sibuk, seakan shalat komunikasi sendirian dengan Sang Penguasa matahari. Sujudnya seakan2 tertahan dengan kerinduan memuncak, yang membuat berat sekali untuk bangun dan berpisah dengan-NYA…   Baca lebih lanjut

Berangkat meninggalkan materi (Seri 2 dari 10)

Rupanya ada dua cara untuk meninggalkan materi (atau bahasa agamanya ‘dunia’), yang pertama ya menjalani kematian dan yang kedua ini adalah pergi haji. Untuk cara pertama, tidak boleh diusahakan :). Biar bagaimana pun jika sudah saatnya, maka dia akan datang menghampiri, yang penting selama hidup, kita persiapkan bekal menghadapi hari pertanggungjawaban kelak. Tapi untuk cara yang kedua, Insya Allah bisa dicoba. Selain merupakan cara Allah mengajari hamba-NYA untuk meninggalkan materi sementara, namun tidak sedikit pula orang berkehendak kepergian hajinya adalah kepergian yang merupakan ‘point of no return’, berharap menjemput panggilan Allah sepenuhnya utk meninggalkan dunia. Yah, sebagian pendapat ulama menyatakan, haji adalah penyempurna lengkapnya rukun Islam bagi seorang manusia, sesuatu yang lengkap adalah tanda selesai tugasnya sebagai khalifah di dunia. Seperti kisah Rosul mulia saat beliau melaksanakan hajinya, khutbah di kaki jabal rahmah membuat sahabat Abu Bakar tersedu-sedu karena mengisyaratkan selesainya tugas beliau sebagai penyampai Risalah, dan fakta kemudian beliau wafat menghadap Allah.

Haji juga adalah panggilan Allah kepada hambaNYA untuk dilatih secara langsung menyempurnakan amal-amalnya. TuanSUFI merasa setiap ritual yang dijalani merupakan suatu kesinambungan yang menempa fisik, pikiran sekaligus ruh dalam lingkungan spiritual yang sangat kental mengepung dari segala arah. Semua aspek aqidah dan ibadah mahdhoh termaktub di dalamnya. Latihan lengkap yang menguatkan fisik, akal, hati, perasaan dan sosial.

Dalam tuntunan Rosul mulia, ibadah haji dibingkai dengan dua miqad, yaitu miqad zamani (ketentuan waktu) dan miqad makkani (ketentuan tempat). Itu artinya pelajaran disiplin dalam bergerak dinamis dengan memperhatikan waktu dan tempatnya. Nilai kemuliaan ibadah ini akan didapat jika kita melaksanakan ritual2 rukun, wajib maupun sunnahnya tepat pada waktu dan akurat pada tempatnya. Tersebutlah lokasi-lokasi mulia di kota suci Makkah Al Mukarramah seperti Masjidil Haram, Masya’ir al Muqaddasah (Arafah, Muzdalifah dan Mina) disana kita akan melakukan thawaf (berputar 7 kali) & sa’i (perjalanan 7 kali antara bukit safa dan Marwa) ; pasangan ibadah yang disebut umroh, mabid (menginap), wukuf(berdiam), melempar jumrah (stoning), pada waktu-waktu yang telah ditentukan.

Itulah hari-hari padat beribadat, mulai 8 Dzulhijjah hari tarwiyah merupakan pemanasan ; mabid satu malam di Mina, lalu bergerak menuju padang arafah di 9 Dzulhijjah hari Arafah untuk wukuf pada waktu mulai tergelincir sampai tenggelamnya matahari hari itu. Kemudian, awal 10 Dzulhijjah hari Nahar diisi dengan berpindah ke Muzdalifah untuk menghabiskan malam disana, bersiap -siap melakukan pelemparan jumrah Aqabah di hari yang sama. Hari-hari tasyrik 11,12 dan 13 Dzulhijjah jamaah kembali ke Mina untuk bermabid sambil setiap harinya melempar jumrah Ula, Wustho dan aqabah, jikalau ada yang mengambil mabid dua hari saja di 11 dan 12 Dzulhijjah dibolehkan, itulah yang disebut Nabi Nafar Awwal, jika disempurnakan mabid sampai tanggal 13 Dzulhijjah, yang disebut Nafar Tsani, maka InsyaAllah semakin disempurnakan ketaqwaannya.    Baca lebih lanjut