• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 299,138 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Langkah Tepat agar Tidak Tersesat dlm beragama

Seri Mengaji Masjid Alitisham Sabtu, Ust Sambo, 20feb2016 / 12JumadiAwwal1437

Langkah2 dalam belajar agama :

1#- Berfikir kritis, menggunakan akal dan hati : benar (ghaib/abstrak/aqidah – hati), baik (realistis/duniawi – pikiran), pantas (etis/akhlaq – perasaan)

Allah memberi petunjuk lewat 4 jalan :

1- lewat apa yg ada dlm manusia pikiran dan hati

2- lewat Quran dan hadits

3- lewat hamba2 Allah yg lain : ulama (kriteria : paham ilmu bahasa, ilmu tafsir, hafal Quran dan ribuan hadits, ushul fiqh, sehingga pengetahuannya komprehensif sehingga dia punya hak untuk menilai dan mempengaruhi keyakinan / men-judge org lain sudah sesuai dengan kaidah2 ajaran agama atau tidak).

4- lewat fenomena alam – sampai level kecerdasan tertentu, seperti kejadian Qabil yg didatangkan gagak.

Bentuk teguran Allah : Akibat kesalahan manusia akibatnya bisa langsung dirasakan. Tebang hutan, banjir dan longsor

Qs. 30:41 – Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Qs. 32:21 – Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).

Qs. 35:37 – Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.

Beberapa contoh kasus dlm masyarakat terkait dgn perbedaan pandangan atas ajaran agama yg berpotensi meruncing yg hrsnya bisa dihindari dgn berfikir kritis :
– Setelah shalat bersalam-salaman langsung dihakimi bid’ah dholalah sehingga masuk neraka.
– Jika isbal maka akan masuk neraka. Secara akal tdk bisa diterima, padahal ada hadits lain yg menjelaskan itu semua terkait kesombongan dlm berpakaian yg dilarang.
– Ayat bunuhlah org kafir dimanapun ketemu, tdk serta merta kita jadi pembunuh. Harus dipikirkan dulu, lihat dalil, tanya kepada ulama.

Ulama yg paham ilmu boleh men-judge org lain soal keyakinan org lain, ini benar, ini salah. Ini lurus, ini sesat, tetapi org biasa tidak boleh. Tetapi kita selaku jamaah kebanyakan, tdk boleh melakukannya.

2# Banyak bertanya, ragu banyak bertanya. Keraguan itu salah satu dari petunjuk Allah utk kita.

Qs. 39:17-18
17 : Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku,

18 : yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.

Jika msh ragu juga, maka jgn segera ambil kesimpulan dulu, di pending saja dulu kegiatan2 terkait itu, apalagi langsung begitu saja menjudge haram atau halal, krn bisa jadi bersamaan dgn berjalannya waktu dan keahlian kita, baru akan sampai pemahaman kita terhadap sesuatu.

Contoh dalam .masyarakat :
– menentukan syawal, sesuatu yg hitam atau putih, antara haram atau wajib ; 30ramadhan atau 1 syawal. Harus ulama yg menentukan.

3# jika sdh mendapatkan yg kita yakini benar, maka tetap beri ruang untuk perbaikan. Tdk boleh kita tutup keyakinan tersebut dgn harga mati, tdk mau menggali lagi.
– kebenaran selain kebenaran Qot’i (yg sdh pasti) di dunia itu maksimal 95%, 100%nya setelah kita kita mati.

Misalnya dlm fenomena di masyarakat :
– soal qunut shubuh atau tidak
– Qodim qoul jalil : imam syafii, ketika di bagdad telah berfatwa tentang suatu hal, lalu setelah sekian lama, di mesir beliau berfatwa kembali tetapi isinya berbeda utk masalah yg sama. (Koreksi lebih lembut dan semakin bijak).
– Kita sebagai pengikut ulama mazhab, tdk boleh Muzabzab : mengambil yg enaknya saja. Kecuali jika memang keadaan yg memaksa, seperti ketika haji bersentuhan dgn yg bukan muhrim akan membatalkan wudhu.
– Ulama imam bukhori : Dalam mengumpulkan hadits, setelah prosesnya dijalani dgn benar, maka utk memutuskan digunakan atau tidak hadits tersebut, beliau melakukan puasa, beramal sholeh, mhn ampun, shalat sunnah istikharah dulu.

Next : Syarat belajar spy akal jernih terus, tdk menutup akal, krn akan beda pendapatnya, ada 5 syarat : tdk taqlid, hawa nafsu, kurangi dosa, jgn sombong, perbanyak taubat/istighfar/amal sholeh.

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: