• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 299,138 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Sihir Masa Kini

Kalau kita mencoba memperhatikan keramaian dan riuh redam masyarakat di tahun-tahun belakangan ini, tentang sosial media yg semakin punya pengaruh pada pola pikir, sahut-sahutannya antara hater dan lover  terhadap suatu berita. Kita akan menemukan bahwa para pelaku media baik media cetak, elektronik terutama media digital telah meletakkannya sebagai sarana utama untuk mengalirkan berbagai macam propaganda dalam memperebutkan pengaruh pada floating mass masyarakat Indonesia dan dunia penikmat teknologi informasi dan pengguna internet yang sangat luas ini. Tak peduli apa pun tujuannya, media digital ini bisa kita manfaatkan.

Media digital yang penyampaian beritanya cenderung ringkas dan dituntut lebih cepat dari apa pun, terkadang membuat fakta menjadi tidak lengkap disajikan atau bahkan malah berubah menjadi opini si penulis-penulisnya yang diamini oleh redaksi-redaksinya. End user akhirnya menerima separuh berita dan terarahkan pola kesan berfikirnya sesuai dengan kehendak si penghasil informasi dengan mudah.

Jika kita tarik fenomena ini ke beberapa ribu tahun yang lalu, ketika penguasa lalim Firaun di zaman nabi Musa berusaha mencegah perkembangan dakwah nabi Musa. Dalam kisah yang dikabarkan oleh Alquran di surah Yunus ayat 79-82, Firaun memerintahkan pembantu2nya untuk mengumpulkan ahli-ahli sihir terhebat. Untuk mengubah persepsi rakyatnya bahwa yang dibawa oleh nabi Musa tak lain adalah sesuatu yang tidak lebih baik atau jauh lebih buruk dari kemakmuran yg sdh dicapai oleh rezim Firaun.

Menurut beberapa ustadz yang sempat saya tanyakan, kata sihir satu akar kata dgn kata sahur/sahr. Artinya bisa berupa waktu malam, yaitu waktu dimana manusia makan sahur; atau waktu yg gelap dan samar2 antara siang dan malam sehingga waktu ini adalah waktu yg serba tidak jelas. Artinya berarti sihir itu fungsinya adalah mencoba menimbulkan ketidak jelasan, atau bisa juga untuk mengalihkan orang dari obyek yg sebenarnya. Contoh2 yg kita dapatkan di buku2 teks, pada zaman dulu, tukang sihir mampu mengubah tali jadi ular, tongkatnya nenjadi kadal, katak dan sebagainya. Oleh sebab itulah maka jika dinisbatkan pada saat ini, sihir paling modern adalah media massa. Kita semua bisa “disihir” dengan opini dan media kata dalam bentuk visual atau audio yang dapat memalingkan dari kebenaran suatu fakta, akibatnya tidak sedikit umat Islam yang terbius dgn “sihir digital dan elektronik” yang dilakukan oleh para pendusta. Wallahu a’lam..

Tapi harus dipahami pula, bahwa mekanisme penyebaran informasi itu tidak bisa juga langsung dianggap sebagai sihir digital yg kita nisbatkan kepada kejadian ribuan tahun yng lalu di pelataran kerajaannya Firaun. Teknologi informasi bukanlah sihir yg dimaksud dgn terminologi sihir yg diturunkan oleh Yajuj dan ma’juj itu. Walau pun fungsinya ternyata dapat menyebabkan hal yg setara dengan akibat sihir yg haram tersebut.

Supaya adil, kita mestinya bisa menarik garis tegas pada pemanfaatan media massa menggunakan teknologi informasi, bahwa selama itu tdk menjadi kedustaan dan membuat orang jadi bingung karena fikirannya jadi samar-samar, maka itu bukanlah makna sihir yang dimaksud di atas.

Jadi boleh dinyatakan bahwa teknologi digital itu seperti ‘pisau’ yang bisa digunakan utk melukai orang, tapi juga bisa digunakan utk menyembelih ayam untuk bisa memasak opor ayam. Teknologi digital juga bisa bermanfaat utk tausiah dan saling nasihat menasihati dalam kebaikan dan berbagai aktivitas positif lainnya, tapi teknologi digital juga bisa dijadikan media berzina, berbuat maksiat dan berbagai keburukan lainnya.

Alhamdulillah dalam tradisi Islam diajarkan yang namanya mekanisme tabayyun (yaitu verifikasi) terhadap berita2 yg disampaikan oleh orang fasik yg meragukan. Ini bisa dijadikan penawar pertama dari “sihir” yg membawa kedustaan tersebut.

Dan penawar tingkat lanjutannya adalah metode pewarisan kebaikan dengan mekanisme sanad seperti yg kita temukan dalam pencatatan hadits nabi yg mengedepankan track record kejujuran dan kebesaran jiwa dan perilaku para penyampainya.

Jadi bagaimana menurut saudara?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: