• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 300,769 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Menyikapi alkhoto’u (kesalahan dn kekeliruan)

Seri Mengaji Liqo Ust. Yasir, 9des2015 / 27safar1437, rumah Akh Yana.

Qs. al isyiqoq (84) – menguatkan keimanan kita,
– Memotivasi spy dpt kitab dari sebelah kanan, bukan lewat kiri dan belakangnya. Hadits :
ya Allah hisablah kami dgn hisaban yasiiro (hisab yg mudah).
– Bahwa di akhirat nanti ada tabaqo an tabaq (satu tingkatan ketingkatan yg lain)

# Ada 2 jenis manusia ketika menghadapi kesalahan :
– org berbuat salah sendiri dan terpuruk
– org melihat kesalahan diri dan org lain dan dipelajarinya (sebagai ibroh). Hadits : al insan adalah tempatnya salah dan lupa.
Qudroh insaniyah adalah melakukan kesalahan dan lupa. Dalam Qs. 22:5 – diceritakan bahwa pada proses penciptaan manusia akan sampai dlm level lupa ketika umurnya terlalu panjang.

Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.

# Ada 2 jenis kesalahan dilihat dari banyaknya pelakunya :
– kesalahan dlm bentuk individu dan ada peluang utk memperbaiki diri.
– kesalahan dlm bentuk kelembagaan, peluang memperbaiki diri itu adalah dengan sanksi.

# Belajar dari karisma Umar bin khattab yg mampu menggetarkan sekumpulan istri2 nabi yg sedang berkumpul bersama nabi dan membubarkannya, karena saking lurus dan tegasnya Umar membeda antara benar dan salah.  Ketika Umar dibaiat menjadi khalifah hanya ada 2 org yg berani mengingatkan Umar ttg ketegasannya itu. Utsman bin Affan dan abdurahman bin Auf, “kami minta kepadamu ketika menjadi khalifah menjadi sedikit lebih lembut.”, Umar tdk marah, lalu berkata, “aminkan doaku ini ; sungguh aku ini kasar, maka lembutkanlah aku.”

# Belajar dari sikap nabi sbg Qudwah pembeda benar dan salah.

Qs. 48:29 – Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras (izzati) terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

nabi SAW pernah ditegur soal sikap yg tdk benar dlm dakwah, bahwa tdk selalu terus menerus bersikap kukuh atau tegas, perlu juga berlemah lembut kpd manusia.

3:159 – Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Sikap terhadap Kesalahan

1- menyikapi kesalahan sendiri

Nabi SAW itu ma’sum (Qs. 48:2 – telah diampuni dosanya yg lalu maupun yg nanti / bukan bermakna suci dari dosa tdk ada org suci dlm konsep Islam – tapi ada kesempatan mendapatkannya bagi kaum muslimin, yaitu dgn melakukan puasa arafah) bukan berarti tdk pernah berbuat salah.

Dlm Quran ada ayat pedoman yg mengingatkan kita ketika melakukan kesalahan :

Qs. 3:135 – Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

bentuk kesalahan dalam ayat ini termasuk kesalahan yang fahisya – dosa dan kotor, misal zina Qs. 17:32, perbuatan keji dan seburuk2 jalan. Satu2nya yg dpt menyelamatkan adalah pernikahan.

Maka jika melakukan dosa yg dimurkai Allah, maka sikap kita:
– Dzikrullah – segera mengingat Allah, istighfar
– tdk mengulangi perbuatan sbg syarat taubat Qs. 25:70-71 – apresiasi Allah thdp org yg bertaubat. Jawaban bagi org nasrani yg bangga krn yesus menanggung dosa2 mereka, di islam dosa ditanggung masing2 tapi jika bertaubat Allah akan menghapusnya.

Qs. Al-Furqan : 70 – kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Qs. Al-Furqan : 71 – Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.

Qs. 4:17-18 standar batas taubat diterima

Qs. 4:17 – Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Qs. 4:18 – Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.

2. menyikapi kesalahan org lain

Sikap ini termasuk dalam definisi org dermawan, tdk melihat situasi apapun utk berbuat baik. ketika ada org yg berbuat salah kepada kita, maka sikap kita :
– Menahan amarah (ukurannya kata2 keras dan buruk) – hadits : bukan org hebat yg menang dlm gulat,  org yg kuat adalah org yg bisa menguasai diri ketika dia emosi.
– Memaafkan
– berbuat baik kepadanya.

Qs. 3:134-135 – (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Qs. 3:135 – Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Seperti teladan nabi SAW terhadap org yahudi yg setiap hari meludah kpd beliau. Setiap hari beliau tdk mengikuti kondisi emosionalnya, dan menjadi yg pertama hadir ketika org yahudi tersebut sakit.

Spt juga sikap Abu Bakar ketika saudaranya sendiri yg selalu dibantunya dan dipenuhi kebutuhan hidup sehari2, justru memfitnah aisyah. Terucap dlm sumpahnya krn tekanan keras spt itu utk tdk mau membantu saudaranya lagi, tapi ditegur Allah dalam Qs. 24:22 – Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,
Setelah mendengar ayat ini Abu bakar menangis hampir seminggu.

Khusus utk istri atau anak, kita pun diajarkan Allah untuk bersikap jika mereka melakukan kesalahan, yaitu :
-berhati2 terhadap mereka
– memaafkan
– tdk memarahi
– mengampuni mereka

Qs. attaghobun (64):14 – Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ada psikologis seorang istri yg perlu kita perhatikan : memaafkan mudah, melupakan tidak pernah. maka ketika marah, kendalikan kata2 kita.

penutup : buatlah spy tangan dan kaki kita tdk jadi saksi memberatkan krn Allah telah mengampuni dosa2 kita dan menggantikannya dgn kebaikan

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: