• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 314,672 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Hakikat Ibadah dan Fitnah Ibadah

Seri Pengajian Masjid Alitisham, Ust. Ahmadi Utsman, 8Safar1436/30Nov2014

Semoga dengan memulai hari ini dengan kebaikan, menjadikan seluruh hari ini penuh dengan kabaikan dan semoga Allah membuka bagi kita jalan-jalan kebaikan dan kebenaran yang menyelamatkan kita semua.

Qs. Al an’am:162 – manusia hendaknya mampu memaknai kehidupannya dengan ibadah-ibadah yang dilakukannya.

Qs. Thoha:90 – Betapa dalam ibadah ini, ternyata tidak selancar yang dibayangkan, karena di dalamnya ada fitnah-fitnah yang dapat menodai ibadah-ibadah tersebut untuk dicatat sebagai amal sholeh olah Allah.

Harapan orang dalam beribadah :
– diterima oleh Allah
– menjadikan kita bertaqwa pada-NYA
– pola pikir bahwa hidup ini hanya perlu diisi ibadah saja kepada Allah, tidak melakukan selain itu, sehingga tidak membuat kita jauh dari Allah.

Ada sebuah kisah tentang fitnah yang terjadi pada zaman nabi Musa, ketika Samiri (Musa bin Zoffar dari daerah AlKirman suku Samiri’) membuat patung sapi emas yang bisa bicara.

Samiri lahir di padang pasir, ibunya wafat ketika masih pada periode nifas. Lalu dia kemudian dirawat oleh Jibril dan diberi kelebihan-kelebihan dari 3 jari tangannya, yaitu satu jari bisa mengeluarkan susu, jari lainnya bisa  mengeluarkan madu, dan bisa mengeluarkan minyak samin untuk bisa bertahan hidup di padang pasir. Singkat cerita, ketika di Mesir, Samiri ini adalah tetangganya nabi Musa sebelum beliau menyelamatkan bani Isroil sebelum peristiwa hijrah ke Madyan.

Ketika periode dakwah nabi Musa dan Harun ke Firaun, Samiri termasuk yang ikut beriman. Tekanan penguasa Firaun yang melakukan kedzoliman dalam bahasa-bahasa kemanusiaan, dalam menghancurkan reputasi nabi Musa dan Harun, berlanjut semakin meningkat dan represif keberlanjutan dakwah nabi Musa. Samiri terus melihat dan mempelajari pola cara-cara nabi Musa menghadapi itu semua dan memahami bahwa situasi bani Isroil yang materialistis dan bermental budak adalah sebuah kesempatan untuk mengambil alih.

=> Fitnah itu bisa datang dari penguasa atau dari orang terdekat, bukan hanya
dari diri sendiri yang bermaksiat.

Kesempatan itu datang ketika nabi Musa rindu bertemu Allah ke bukit Tursina, meninggalkan kaumnya yang kondisinya masih belum stabil dan menitipkannya kepada nabi Harun saudaranya. Kelemahan ummat Isroil terhadap material,
dimanfaatkan oleh Samiri untuk menawarkan hal-hal yang tidak bisa diberikan oleh nabi Musa kepada mereka terkait materi. Samiri membuat representasi Tuhan dalam bentuk patung sapi yang dibuat dari emas-emas bani Isroil yang dilebur
dan diberi teknologi malaikat kemampuan bicara.

=> Samiri adalah orang yang punya kelebihan pengetahuan, namun tidak konsisten dalam ibadah dan aqidahnya. Akibatnya dari 300ribuan ummat nabi Musa, sekitar 112ribunya menjadi musyrik dan menyembah berhala sapi yang bisa bicara tersebut.

=> mengaca pada situasi kekinian, setiap ajaran sesat yang membonsai suatu agama, berisi dispensasi2 atau keringanan2 dlm beragama akan banyak pengikutnya. Bukan hanya orang2 miskin yang berharap lebih, tapi ternyata juga
orang2 berada, yang menunjukkan bahwa kemajuan dalam materi tidak menjamin kemajuan spiritual. Aktivitas diskon dalam beragama seperti boleh nikah mut’ah, shalat hanya perlu satu kali setiap hari atau cukup eling saja, lalu tidak
perlu shaum di bulan Ramadhan yang menarik orang2 tersebut menjadi sesat, padahal kalau mereka mau berfikir sedikit saja, bahwa hakikat ibadah itu adalah kepatuhan kepada perintah Allah, bukan malah membuat2 keringanan sendiri.

Ketika pulang dari bukit Tursina, Nabi Musa melihat kenyataan itu dan langsung bertanya kepada yang diamanahi menjaga bani isroil yaitu nabi Harun. Nabi Musa tidak langsung melabrak bani Isroil yang memilih musyrik, tapi konfirmasi
dahulu pada pemegang amanah yaitu saudaranya. Ketika dijelaskan mengerucut kepada Samiri, baru kemudian nabi Musa mendatangi Samiri sebagai pelaku utama penyesatan untuk menanyakan alasannya.

Samiri memberi alasan, bahwa ia bisa melihat apa yang tidak dilihat orang lain, untuk dia manfaatkan agar patung itu seakan hidup, yaitu bekas tapak-tapak utusan Allah. Ulama berpendapat 3 hal tentang ini, yaitu :

  1. Malaikat jibril yang sering menemui Musa, sering diperhatikan oleh Samiri karena efeknya cukup berat bagi nabi Musa secara fisik dan ternyata bekas tapak-tapak jibril itu berefek juga pada lingkungan, misalnya dapat menumbuhkan
    rumput-rumput. Bekas tapak2 yang memiliki kelebihan yang dapat ‘menumbuhkan’.
  2. Malaikat jibril yang selama ini ikut membesarkan Samiri, sehingga dia sering melihat bahwa bekas-bekas jibril itu ada kekuatan yang bisa dimanfaatkan.
  3. Samiri yang sering bersama nabi Musa, mengetahui rahasia-rahasia nabi Musa ketika mengajarkan agama sehingga doa-doanya selalu dikabulkan Allah. Rahasia inilah yang kemudian digunakan oleh Samiri untuk membuat patung emas sapi itu berbicara.

=> Banyak orang mendekati ulama atau orang2 sholeh untuk mendapatkan kharismanya untuk kemudian dimanfaatkan untuk kepentingannya sendiri atau malah untuk membuat kerusakan.
=> Seorang yang memperlajari agama sangat tergantung pada orientasi awalnya, jika untuk tujuan keuntungan pribadinya, ia dapat memanfaatkan kharisma yg ia dapatkan untuk mempengaruhi orang lain yang lebih awam mengikuti ajaran sesatnya.
=> Maka berhati-hatilah dengan ilmu, dengan ibadah yang telah kita lakukan, jika Allah sudah memberi kelebihan, maka jangan dimanfaatkan atau diselewengkan untuk niat yang membawa kerusakan.

Nabi Musa melihat bahwa Samiri telah membuat sesembahan selain Allah dan telah berhasil membuat orang2 senang (mempengaruhi faktor emosional), sehingga sampai rela beri’tikaf (berdiam diri) disekelilingnya sambil berbuat maksiat.

=> Manusia bisa disibukkan oleh hal-hal yang menyita perhatiannya sehingga menjauhkannya dari perintah Allah dan malah semakin mendekatkannya pada larangan2 Allah. Dalam konteks kekinian, berhati2 jika internet, gadget, media televisi dsb melalaikan kita dari ibadah kepada Allah.

Akhirnya Samiri dihukum dikucilkan dan tidak boleh orang-orang bani Isroil bersentuhan sama sekali dengannya. Sedangkan bani Isroil yang musyrik syariat taubatnya adalah dibunuh, dalam beberapa riwayat, akibat dari musyriknya mereka itu berpengaruh pada fisik mereka yang menguning.

=> Kita harus memutus penyebab utama kemusyrikan di masa kini. Taubat yang benar adalah tidak sama sekali bersentuhan dengan hal2 tersebut, tidak ada toleransi sedikitpun untuk mendekatinya.

Bani Isroil itu tipikal bangsa yang sangat sulit istiqomah dalam memegang perintah nabi2 yang telah didatangkan padanya. Walau pun berulang kali mereka terpaksa menerima konsekuensi yang berat gara2 pembangkangannya itu. Padahal secara kemanusiaan yang punya adab, tentu tidak berani menentang karena sesungguhnya sudah sangat banyak yang telah diberikan untuk manusia dari Allah, yaitu :

  • Alam ditundukkan untuk manusia
  • diberi akal, hati dan keinginan
  • diturunkan nabi dan Rosul untuk mengarahkan tujuan hidup
  • diturunkan kitab suci sebagai pegangan hidup, kini kita diwariskan Quran dan sunnah.
  • disediakan surga dan neraka sebagai imbalan dan balasan.

Bahkan dengan akalnya, manusia pun diberi kemampuan untuk menangkap pesan-pesan tauhid dari alam semesta, misalnya :

  • Mengetahui Maha bijaksana Allah dalam menciptakan alam semesta dengan sangat sempurna, seperti : planet2, gunung, semut2, lebah, nyamuk, dll.
  • Tidak ada sesuatu di muka bumi ini KECUALI ada hikmahnya. Saking banyaknya hikmah/pembelajaran yang diturunkan di kehidupan manusia dan sekitarnya, sampai kebanyakan manusia tidak menyadarinya lagi.

Maka IBADAH itu adalah bukan sekedar melatih spiritual kita saja, tapi harusnya merupakan seluruh pola hidup kita. Semua harus bernilai ibadah. sebagai ilustrasi :

  • saat manusia perlu melaksanakan shalat, ia akan mencari sumber air untuk bersuci, saat orang2 mulai berkumpul dalam masyarakat dan perlu shalat, maka dibangunlah masjid, ketika masjid sudah ada, maka ditentukanlah pemimpin/imamnya, kemudian untuk memelihara fisik dan aktivitas peribadahan di masjid dibentuklah pengurusnya – proses ini adalah ibadah berkesinambungan yg setiap rangkaiannya haruslah bernilai ibadah.
  • Dalam kehidupan sehari-hari, mulai bangun, shalat, mandi, bekerja, bermuamalah sampai tidur kembali haruslah bernilai ibadah. Tidak ada dikotomi antara ibadah mahdoh (ritual) dengan ibadah yang terimplementasi dalam kehidupan.
  • Dalam membentuk rumah tangga misalnya, dimulai dari mencari pasangan hidup yang seiman, melakukan proses ijab qobul, membina pernikahan, mendidik anak, mewariskan kebaikan, juga harusnya merupakan rangkaian ibadah berkesinambungan.
  • Ada orang mempersiapkan biaya haji selama 25 tahun, setiap hari menyisihkan uang hasil ikhtiarnya, padahal untuk suatu ibadah yang berlangsung paling lama 40 hari saja. Nah, 25 tahunnya itu mestinya bernilai ibadah.

Ibadah juga jangan tercampur dengan ego, tapi harus selalu dalam tatanan aturan Allah supaya bisa dirasakan efeknya.

Semakin tinggi kualitas manusia di mata Allah adalah ketika manusia melibatkan ibadah dalam setiap detik kehidupannya, bukan sekedar ibadah2 ritual saja, tapi implementasi ibadah ritual itu setiap detik harus bersama Allah. Inilah prinsip
Qs. Al An’am : 162.

BAGAIMANA SESUATU BISA BERNILAI IBADAH ? (syarat diterimanya ibadah)

1. Ikhlas
– Banyak manusia kehilangan atau mengalami perubahan niat utamanya yaitu mengesakan Allah dalam setiap tujuan dan ketaatan, sehingga akhirnya ibadahnya terhenti.
– Taat kepada Allah dan Rasul-NYA adalah ketaatan mutlak, sedang taat kepada ulil amri adalah ketaatan kondisional.
– Manusia diberikan fitrah loyalitas (Al wala’), jika terlalu banyak memecahnya kepada loyalitas2 semu seperti kecintaan kepada harta, keluarga, kelompok/kaum, maka cinta kepada Allah tinggal sisanya saja, sehingga kondisi ini menyebabkan
dia tidak berhasil untuk ikhlas. Seharusnya cinta kepada Allah itu jadi satu loyalitas mutlak, sehingga kemudian semua cinta lainnya akan dipantulkan dari Sang Maha Cinta kepada semua yang kita cintai.
– Perbandingan di dunia kita sekarang ini, di barat : infrastruktur materi utk level negara sangat tertata rapi, namun institusi keluarga sangat berantakan karena hanya dilandasi oleh standar materi. Sedangkan di dunia Islam, yang
secara ajaran harusnya lebih baik, baru mampu menata level keluarga saja dengan infrastruktur yang masih berantakan. Dalam keluarga2 Islam berhasil dibentuk budaya hormat kepada orang tua dan menyayangi anak. Pewarisan nilai-nilai
kebaikan semakin mendapatkan bentuknya, anak2 sholeh penghafal Quran mulai semakin banyak, dan orang yg memegang teguh ajaran Islam teguh seperti karang untuk istiqomah berbuat dan beraktifitas menurut ajaran Islam tersebut. Namun saat ini institusi keluarga pun sedang terancam oleh paham2 barat itu tadi, banyak orang tidak sadar bahwa ini adalah kelebihan ummat Islam dibandingkan yang lain.
Untuk mempertemukan dua hal yang masih terjadi jurang pemisah ini, orang2 di barat bisa belajar untuk urusan keluarga dan sebaliknya orang2 di negara Islam harus belajar ke barat untuk urusan infrastruktur.
– Satu perbandingan lagi tentang salah satu etnis timur yang sangat melindungi aset dunianya, sampai2 berhati-hati pada istri dan anak-anaknya sendiri, sulit mempercayai orang lain. Dalam Islam membangun as-shiddiq (kejujuran-
kepercayaan) sangat penting di mulai dalam institusi keluarga.
– Syekh Aaidh al-Qarni, pengarang buku La Tahzan, merasa takjub karena di Indonesia, justru apa-apa yang dia nyatakan dalam bukunya ternyata semuanya di masyarakat kita sudah biasa melakukannya, tidak seperti di tempatnya sana.
– Ikhlas melalui niat memiliki makna :
a- memfokuskan (tarokuzu) dan berkonsentrasi dalam beribadah
b- menjelaskan tujuan inti (tamyiz) sebagai bukti loyalitas kepada Allah atau hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja. Jika ini baik, maka akan timbul sifat ihsan karena merasa diawasi oleh Allah. Qs. Azzumar:2-3 menyatakan bahwa Allah tidak menerima, kecuali orang-orang yang fokus kepada-Nya.

– Hadits Rasulullah SAW, Ada 3 hal yang menjadikan hati orang Islam menjadi kuat, tidak rapuh atau tidak goyah (dalam keyakinannya) yaitu :
– Ikhlas dalam beramal
– Saling menasihati sesama ummat Islam
– Selalu konsisten dalam kejamaahan

2. Berkesesuaian dengan syariat Allah dan ajaran Rasulullah SAW
– Jangan sibuk hal kecil yang bersifat mubah dan malah melupakan yang wajib.
– Syetan suka membuat hiasan-hiasan sehingga manusia akan lebih menyibukkan diri dengan hal2 yang kecil dan melupakan hal2 yang besar.

Qs. An An’am:153
dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah
agar kamu bertakwa.

Qs. Annisa:125
Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus ? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi esayanganNya.

Pola pikir kebanyakan kaum Muslimin di negeri kita : Bahwa ibadah itu cuma ada ibadah mahdoh (ritual) dan itu dipisahkan dengan kehidupan sehari-hari (sekulerisme). Pola-pola ini masuk ke :
– Sistem pendidikan
– sistem pengadilan ada hukum negara dan ada hukum agama
– ibadah itu hanya di masjid saja, di luar masjid bukan ibadah, dan kerja adalah bukan ibadah, padahal seluruh hidup adalah ibadah, termasuk berpolitik, bermuamalah dan semua hal dalam kehidupan.
– Ummat Islam harus disadarkan kembali bahwa yang dinyatakan dalam Qs. Al An’am:162 harus menjadi sistem bergerak ummat Islam. Dan inti pembangunan nilai-nilai Islam ini ada pada keluarga-keluarga Muslim. Caranya :

a- Tanamkan paradigma hidup adalah ibadah dalam keluarga2 kita.
Paradigma Tauhid :
– Penghambaan (ubudiyyah) – Allah adalah tempat menundukkan diri beribadah kepadanya
– Pengakuan (rububiyah) – Tidak ada sesuatu hal pun kecuali dari Allah, tidak ada yang bebas dari nilai-nilai Ketuhanan Allah.
– Pengetahuan (Asma’ wa syifa) – memahami konsep asmaul husna sebagai nilai-nilai ideal kebaikan yang harus kita perjuangkan membentuk akhlaqul karimah dan sebagai ummat rahmatan lil alamin.

Penanaman paradigma ini perlu proses panjang (untuk masyarakat yg terkotak-kotak dalam sekulerisme ini), perlu kekuatan/kekuasaan, perlu keteladanan. Penanaman paradigma Tauhid ini banyak metodenya, misalnya melalui
cerita, melalui diskusi, melalui nasihat, melalui keteladanan dalam seluruh aspek kehidupan.
b- Sistem pendidikan hanyalah pelengkap mindset yang sudah terbentuk di rumah dalam tatanan implementasi yang lebih luas lagi bagi kaum muslimin sebagai dai yang harus mewariskan kebaikan-kebaikan ajaran Islam.

Wallahu a’lam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: