• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 314,667 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Seri Belajar dari Tetua : Ibu yang Visioner

Pengantar TuanSUFI :

Kisah kali ini masih diceritakan oleh ayahanda Dr. H. M. Rais. Ahmad, SH, MCL. Nostalgia beliau tentang ayundanya sungguh dalam menangkap partikel amat berharga dari tinta takdir jalan hidup sebuah keluarga yang mengalami ujian dan berhasil tuntas menghadapinya. Kisah seorang ibu yang memiliki visi jauh ke depan sehingga berhasil melihat jalan terang bagi keberlanjutan keselamatan jalan hidup anak-anaknya, di saat semua mata memandang sedih kepadanya. Kisah penuh pengorbanan, yang tidak sedikit pun disesalinya sama sekali, walau salah satu solusinya beliau harus kehilangan anak sulungnya setelah hari pernikahan anaknya tersebut. Dan begitu pula dalam menuntun jalan pendidikan bagi anak bungsunya, beliau rela berpisah bertahun-tahun demi sang putri mendapat pendidikan yang mumpuni di seberang lautan. Seorang ibu yang berjuang sendiri, setelah wafatnya sang suami tercinta. Seorang ibu yang di akhir hayatnya telah membuktikan bahwa visinya adalah benar, sehingga dalam kepergiannya insyaAllah tersenyum menyambut malaikat2 pengalung rahmat dan ampunan yang akan menerangi alam barzakhnya. Amin.

Alasan inilah yang membuatku secara pribadi mencanangkan, bahwa setiap pulang kampung, mestilah mengunjungi beliau. Yang kalau di tahun-tahun yang lalu masih ada nasehat dan canda beliau, setelah kepergiannya beberapa waktu yang lalu, InsyaAllah ziarah kuburnya dan mendoakannya adalah sesuatu yang selalu ada di daftar itenary pulang kampung.

Tak berpanjang kata lagi, inilah kisahnya….

 

YANG PERGI DAN YANG DATANG, Sebuah Penggantian Generasi Tangguh

M.Rais Ahmad

Berita wafatnya Hj.Siti Zubaidah binti Achmad hari ahad, 2 Juni 2013 cukup menyentak, meski kami tahu sakitnya beberapa hari ini, setelah meninggal cucu perempuannya kurang dua bulan yang lalu. Kami berempat saudara berkurang lagi setelah barob Amin meninggal dunia di tahun 2006 dan sondi Amron menyusul di tahun 2011. Tinggal aku sendiri sisa generasi ketiga Raden Mukmin dari putra kelimanya Achmad Raden Mukmin. Hj.Siti Zubaidah meninggalkan seorang anak perempuan, Fauziah dan dua orang cucu laki-laki, Suhud dan Yusuf setelah Mesya Farah Putri wafat 50 hari sebelumnya.

Dalam tradisi keluarga Kayuagung dikenal istilah “tutur” sebagai sebutan penghormatan kepada saudara yang usianya lebih tua. Berturut-turut panggilan adik-adiknya kepada seorang kakak tertua dengan “barob”, saudara kedua dengan panggilan “gulu”, saudara ketiga “tongah”, saudara keempat “sondi” dan yang kelima dan seterusnya dipanggil “bungsu”. Biasanya panggilan itu digandengkan dengan namanya. Hj. Siti Zubaidah adalah anak kelahiran ketiga, kami adik-adiknya memanggilnya Tongah Siti atau Tongah Zubaidah atau dengan kependekan Tongah Bed. Saudara-saudara sepupu juga memanggil dengan panggilan yang sama menurut urutan kelahiran yang bersangkutan. Saya memandang panggilan khusus itu suatu tatakrama yang baik sebagai sopan santun dalam bersaudara dan berkerabat khas cara Kayuagung. Kami Cuma ada empat bersaudara, karena kakak nomor dua meninggal lebih dulu, maka panggilan “gulu” tidak muncul dalam keluarga karena melekat pada almarhum dan tak tergantikan oleh saudara yang lahir belakangan.

Pribadi Tongah Siti (Zubaidah) cukup unik di keluarga kami. Secara diam-diam aku mengaguminya dan berusaha meniru sifat-sifat terpuji yang pernah ditampilkan semasa hidupnya. Sejak muda kepribadian beliau mandiri dan disiplin. Dalam bekerja sangat sigap, hidupnya hemat tapi pemurah. Penuturan dari seorang keponakan perempuan yang pernah tinggal di rumah yang sebaya dengan sondi Amron. Tiap pagi tongah Siti menyiapkan sarapan, sedangkan mereka berdua sengaja kompak bermalas-malasan membiarkan beliau sendiri menyiapkan sarapan. Setelah semua beres baru mereka bangun dan menikmati sarapan yang sudah terhidang, begitulah seterusnya pekerjaan dapur yang lain. Sejak muda beliau bekerja di kantor kecamatan Kayuagung, sedang sondi Amron guru di Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah Dasar).

Tongah Zubaidah menikah dengan Mas Suhud Abdul Kadir berasal dari Jawa Tengah yang juga bekerja di Kantor Kecamatan, awalnya sebagai Mantri Polisi sampai kemudian menjabat sebagai camat Kayuagung. Kemudian mereka pindah ke Jawa sebagai camat di Kalibening, Banjarnegara. Putra pertama lahir bernama Edy Abdurahman, mengambil nama kecil Bakas Raden Mukmin. Diusia Edy kira-kira dua tahun, masih selalu digendong si Mbok, pengasuh setianya, terjadi peristiwa hebat dalam keluarga ini sehingga menjadi sebab mereka boyong kembali ke Sumatera.  Rumah dinas mereka diserang oleh gerombolan Komunis. Mas Suhud dipaksa tongah Bed keluar rumah menyelamatkan diri, istri dengan anak dan si mbok tinggal dan menghadapi pimpinan gerombolan dengan keberanian seorang ibu melindungi anaknya. Terjadi tanya jawab dengan pimpinan gerombolan itu mengenai kepergian camat Kalibening malam itu sehingga tak ada di rumah dan sasaran mereka tak tercapai untuk membunuh camat Suhud Abdul Kadir. Pemimpin gerombolan itu memerintahkan penghuni rumah untuk keluar karena rumah itu akan dibakar. Tanpa bekal apapun, dengan Cuma pakaian yang di badan mereka bergegas keluar menyelamatkan diri. Dari kejauhan terlihat api berkobar menghabisi rumah mereka dan seisinya. Tongah Siti mengira mas Suhud sudah terbunuh, demikian pula mas Suhud mengira anak istri dan pengasuhnya telah mati terbakar. Ternyata Allah telah menyelamatkan mereka semua. Setelah bantuan tentara datang, terjadi kontak senjata sebentar, gerombolan itu sempat menghilang, kemudian keluarga camat pun bertemu dalam keadaan selamat, Alhamdulillah. Kemudian mereka dievakuasi ke rumah saudara mas Suhud. Tak lama keluarga mas Suhud telah berbulat hati akan kembali ke Sumatera.

Keluarga kecil ini memulai lagi kehidupan dari awal, bebas dan tak terikat kedinasan karena kepulangan mereka bukan sengaja dipindahkan oleh pemerintah dari Jawa-Tengah, tapi sepenuhnya inisiatif dan kemauan sendiri dari pihak keluarga yang mengalami trauma atas kejadian yang amat tragis itu. Tidak ada urusan dengan perpindahan jabatan, penempatan kerja apalagi dengan ongkos pindah dan sebagainya, malah sepertinya pemerintah kurang menanggapi dan lamban menanggapi peristiwa luar biasa yang dialami oleh pejabat publik di daerah. Mungkin juga dalam benak keluarga ini ada perasaan kecewa atas sikap pemerintah yang demikian itu. Mereka kembali ke rumah bapak di Kayuagung dalam keadaan tidak punya apa-apa lagi, namun seluruh keluarga dan kerabat menyambut kehadiran dengan penuh antusias kehadiran kembali keluarga Tongah Siti dilingkungan keluarga.  Dengan modal keberanian hidup mas Suhud  mulai ikut berjualan bahan-bahan pokok dengan bersepeda keluar masuk kampung. Beberapa lama kehidupan itu dijalani dengan tekun dan sabar di tengah menggeloranya kemenangan orde baru menggantikan pemerintahan orde lama yang otoriter. Setelah mengalami skrining oleh pemerintahan orde baru, mas Suhud kembali diterima bekerja di pemerintahan. Tidak terlalu lama, kemudian diangkat menjadi camat Kayuagung. Aku tidak sempat mengikuti secara dekat dan langsung kehidupan keseharian keluarga tongah Zubaidah karena sejak awal tahun enam puluhan aku sudah keluar dari Kayuagung. Mula-mula mengikuti kuliah di Fakultas hukum Unsri, kemudian pindah ke Bogor meneruskan kuliah di Fakultas hukum Universitas Ibn Khaldun Bogor dan bergabung dengan komunitas kak Nayni A.Kirom di tempat kosnya. Hanya sekali sekali pulang kampung dan mencoba menyerap cerita, baik langsung dari tongah Bed atau dari opini keluarga dan kerabat yang telah dengan cermat mengikuti perjalanan hidup keluarga mas Suhud. Anak kedua mereka lahir di Kayuagung , seorang putri bernama Fauziah.

Setelah beberapa tahun menjadi camat di Kayuagung, mereka pindah ke Palembang, pindah ke kantor Gubernur Sumatera Selatan, menetap di Palembang menempati rumah dinas yang kemudian boleh dimiliki dengan  kompensasi. Ketika kami mendapat berita dari Mas Yusuf Syakir yang waktu itu sedang kunjungan kerja ke Palembang bahwa mas Suhud sedang dirawat di RS Charitas, aku menyempatkan pulang. Dari Pelabuhan Udara Talang Betutu  langsung ke RS Charitas, dan menurut penjelasan perawat pasien sudah dibawa pulang. Aku bergegas menuju ke rumah dengan dugaan mas Suhud sudah sembuh, ternyata di rumah sudah banyak keluarga yang hadir takziyah. Kepulangan mas Suhud ternyata untuk selama-lamanya, Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Waktu itu tahun 1976 putranya Edy sudah kuliah di Unsri sambil bekerja di pemda  Sumsel sebagai baktinya kepada ibu dan adik perempuannya Fauziah yang masih di SD.

Tahun 1978 diberitakan bapak, Achmad Raden Mukmin sakit berat, aku bergegas pulang dan dari Talang Betutu langsung menuju Kayuagung, mengingat sakit bapak diberitakan berat tak mungkin lagi dibawa ke Palembang. Ternyata kudapati Umak (ibu) sendirian di rumah, bapak siang itu dibawa ke Palembang diperiksakan ke dokter Tamarun, masih keluarga dekat. Malam itu tak mungkin bisa menyusul karena kendaraan umum sudah tidak ada. Malam itu aku sepenuhnya menemani umak dan besok kita menyusul ke Palembang. Pagi sekali kami ke Palembang dan di rumah tongah Zubaidah sudah parkir beberapa kendaraan termasuk sebuah bus pemda. Ternyata mereka telah siap-siap akan ke Kayuagung membawa jenazah bapak. Beliau telah meninggal  sekitar pukul 2.00 pagi di rumah, bertepatan dua tahun setelah mas Suhud.

Tahun 1980 kami berangkat dari Bogor menggunakan kendaraan Pesantren Pertanian Darul Fallah dengan rombongan cukup besar untuk menghadiri pernikahan dan resepsi Edy Abdurahman. Aku dan istri dengan dua anak kami, Iqbal dan Muna, sondi Amron dengan putrinya Rina dan teman sekolah perawatnya, Bapak dan Ibu mertua dan Barop Siti, saudara sepupu yang keluarganya tinggal di Matraman Jakarta. Sampai dirumah  Palembang sudah agak malam, sempat disapa oleh Edy, calon penganten. Ada perasaan beda, tidak biasanya Edy menyambut seadanya karena hubungan kami selalu hangat. Pertanyaan bertubi-tubi setiap kami berjumpa dan dengan antusias mendengar penuturan omnya, kali ini dengan sambutan seadanya. Tapi perasaan itu tak sempat dikomunikasikan kepada siapapun karena suasana sudah cukup ramai. Rencana akad nikah di rumah calon besan besok malamnya. Seperti biasanya aku memberikan sambutan singkat atas nama keluarga besar calon mempelai pria. Prosesi akad nikah berjalan lancar dan acara diakhiri dengan santap malam. Saat pamitan, ternyata penganten Pria dibawa pulang untuk persiapan resepsi besok hari di kediaman pria. Pagi-pagi aku dekati Edy dan menanyakan keperluan kecil untuk persiapan resepsi. Ternyata dia kelupaan beli kaus kaki dan pinjam kaus kakiku, kebetulan aku bawa dua pasang dan ketika akan mengambil sepasang lagi di koper, Edy minta yang sedang aku pakai saja. Resepsi berjalan lancar dan meriah, tamu-tamu datang bergelombang. Ketika tamu mulai reda, kami mulai duduk santai melepas lelah di bawah tenda, tiba-tiba terdengar teriakan wanita dari arah kamar. Ternyata Edy tak sadarkan diri, segera dibawa ke RS Charitas yang tidak berapa jauh dari rumah. Di ambulan Edy dibaringkan tapi terus berontak dan dicoba ditenangkan, sekali-sekali ketika aku panggil namanya dia diam. Tiba di Rumah Sakit semua yang mengantar menunggu dengan cemas dan sekitar pukul 21.00 dokter menyatakan pasien tak tertolong. Seorang pemuda yang baru saja melangsungkan syukuran pernikahan sesuai sunnah RasulNya telah dipanggil Allah, Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, berasal dari Allah dan kembali kehadirat Allah.

Berturut-turut, mas Suhud, suami,  bapak  dan  Edy, anak laki-lakinya telah meninggalkan tongah Zubaidah dalam jarak waktu masing-masing dua tahun.  Seorang anak laki-laki yang telah mulai mengambil alih tanggungjawab bapaknya, mengayomi keluarga kecilnya, ibu dan adik perempuannya. Perhatianku fokus kepada tongah Siti, sejak jenazah Edy disemayamkan di rumah,  kuamati wajah dan kata-kata yang di ucapkannya. Tak nampak isak tangis, apalagi ratapan dan keluhan. Air mukanya tetap tegar dan turut mempersiapkan keberangkatan jenazah ke makam keluarga di Kayuagung. Ketika pentakziyah membaca yasin, aku dekati tongah Siti dan dengan tegar beliau berucap bahwa kepergian Edy telah melepaskan kekhawatiranku terhadap nasib buruknya menjadi anak durhaka kepada ibunya. Gelagat kearah itu sudah mulai aku rasakan mendekati waktu perhelatan perkawinan ini. Mungkin karena terpaksa ia mulai tidak mengikuti petunjukku, beberapa pesan penting untuk kebaikan keluarga mulai dia sepelekan, pada hal belum terikat perkawinan. Aku sampai kepada kesimpulan bahwa Allah telah memanggil kembali Edy dalam rangka menyelamatkannya dari keburukan dosa al baghyu yaitu dosa durhaka kepada ibunya. Aku telah mengikhlaskan kepergian Edy dalam keadaan bersih dan aku akan mengenangnya sampai akhir hayatku sebagai anak laki-laki santun dan hormat kepada sanak famili dan  keluarga dekatnya, menyayangi adiknya, berbakti kepada orang tua terutama kepada ibunya.

Kerongkonganku tersedak dan sekaligus kagum atas ketegaran seorang ibu yang dalam waktu sangat singkat  mampu membuat keputusan besar atas kepergian anak laki-lakinya yang dalam keadaan biasa menjadi tulang punggung kehidupan ibu dan anak perempuan kecilnya. Sebuah keputusan yang dilemmatis bagi seorang ibu yang biasa-biasa saja. Beban yang seharusnya berupa kesedihan berkepanjangan, dalam sekejap berubah menjadi kebahagiaan atas terhindarnya Edy dari dosa besar yang akan membebaninya diakhirat kelak. Kesayangan seorang ibu yang sempurna terhadap anaknya, kesayangan yang mengutamakan kepentingan akhirat yang kekal ketimbangan didunia yang fana. Di pemakaman keadaan tongah Siti biasa saja, ketika selesai pemakaman, pada waktu  makan siang beliau makan dengan lahap seperti biasanya. Sementara ananda Yuli, istri Edy jatuh pingsan.  Keheranan saudara-saudara dekat memperhatikan keadaan tongah Siti menimbulkan juga kekhawatiran jangan-jangan telah terjadi perubahan pikiran?

Kehidupan berjalan terus, anaknya perlu pendidikan, usaha harus berjalan. Rumah yang cukup besar digunakan membuka warung, pergaulan dalam masyarakat berjalan dengan harmonis. Interaksi dengan tetangga dan masyarakat berjalan lancar, pengajian dan acara-acara di kompleks tidak ketinggalan. Ketika putrinya, Fauziah sudah duduk di SMA Negeri  di kota Palembang tiba-tiba beliau mengabari bahwa Fau mau dipindahkan ke Bogor. Alasan utamanya adalah pergaulan anak-anak remaja di kota Palembang sangat menghawatirkan dan  Kami di Bogor  menyambut dengan senang hati dan tangan terbuka kedatangan tongah Bed dan Fau ke Bogor. Alhamdulillah kepindahan Fau ke SMA Negeri 3 Bogor tak ada kesulitan, karena banyak teman gurunya yang turut membantu. Kesulitannya hanya jarak sekolahnya cukup jauh dari Ciampea, karena kami tinggal di Pesantren Pertanian Darul Fallah, Cinangneng, Ciampea. Sebelum tamat, kami pindah ke Bogor karena kesibukan di UIKA mulai terasa setelah diminta mendampingi Rektor baru Dr AM Saefuddin sebagai pembantu Rektor urusan kerjasama dan ISK (Islamisasi Sains dan Kampus). Untuk sementara kontrak rumah di dekat Kampus sekaligus ke sekolah Fau jaraknya bertambah dekat. Setahun kemudian pindah ke Perumahan Budiagung setelah anak kami keempat lahir, Ibrahim Fajri. Tidak berapa lama Fau selesai di SMA dan masuk Akademi Perawat di RS Islam Cempaka Putih Jakarta, kebetulan Direkturnya Dokter Masduki Sulaiman kenal baik dan sering ke Darul Fallah, karena Direktur Pesantren Pertanian Darul Fallah Ir. M.Saleh Widodo keponakannya. Tiga tahunan kemudian Fauziah selesai kuliah dan kembali ke Palembang dan langsung bekerja di Puskesmas di Kabupaten OKI.

Anak-anakku semua mengenal Bude Bednya dengan baik dan hubungan mereka akrab. Keinginan mereka untuk pulang ke Palembang dan Kayuagung cukup kuat. Tarikan tanah asal membuat mereka sering pulang menghadiri event-event penting keluarga atau perayaan resmi adat seperti hari Raya Idul Fitri dan sebagainya. Setiap kali ke Palembang dipastikan anak-anak itu menginap di rumah bude Bednya. Hubungan kami berempat saudara juga terasa sangat dekat, jika lama tak berjumpa ada perasaan kangen ingin bertemu. Demikian pula. sering juga bude Bednya ke Bogor, lebih-lebih ketika umak pindah ke Bogor. Sondi Amron yang sudah tinggal di Bogor juga sering nginap di rumah sekedar  melepas kangen. Terakhir, sebelum sondi Amron meninggal pernah tongah Bed dan sondi Amron bicara di HP berlama-lama. Setelah jatuh dan tulang pangkal pahanya diganti tongah Bed sudah jarang keluar rumah, karena takut terjatuh lagi. Sekali waktu keponakannya Abdul Halim mengajak jalan-jalan ke Kayuagung yang terakhir kalinya di tahun 2009 Setelah puas berkunjung ke teman-teman dan famili dekat, kembali lagi ke Palembang. Di akhir-akhir hayatnya, beliau dirawat di rumah dengan telaten oleh anak dan mantunya Iyus yang sudah menganggap seperti ibunya sendiri.

Kini tongah Siti Zubaidah telah kembali kehadirat Allah, kenangan pribadinya yang kuat, tangguh dan penuh percaya diri telah menjalani hidupnya dengan  tenang dan berserah diri hanya kepada Tuhannya, Allah Subhanahu WaTa’ala. Semoga ada diantara anak cucunya yang mewarisi ketangguhan pribadinya. Semoga amal shalehnya menemani arwah beliau  di alam barzah, dosa dan kesalahannya diampuni oleh Allah. Anak dan dua cucunya tak pernah luput mendoakan ibu dan neneknya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

IMG_1906

Kenangan bersama Bude Bed,  pada mulang tiyuh (Pulang kampung) 2012, Semoga Allah memberkahi beliau.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Wak Bed, begitu kami kakak beradik memanggil beliau, adalah sosok yang hangat dan penyayang. Cinta dan kasihnya kepada ibu saya, H. Siti Amron, adalah cinta yang tak berujung. Seringkali saya menyaksikan bagaimana keduanya saling bertukar cerita berjam-jam, saling berbagi rahasia alias curhat. Sungguh sebuah ikatan persaudaraan yang indah dan patut diteladani. Selamat jalan, wak Bed, terimakasih telah menjadi kakak yang begitu mencintai dan menyayangi ibu kami. Semoga Allah menyediakan tempat yang indah bagimu disana. Amin YRA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: