• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 328,539 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Mengenal Akar Keluarga, Memahami Arah Langkah kita

PENGANTAR

Bismillahirohmanirrohim
Mengenal diri, insyaAllah akan membawa kita untuk mengenal Tuhan. Dan saat kita sudah mengenal Tuhan, InsyaAllah kita akan paham untuk apa kita diciptakan. Dengan begitulah kemudian hidup kita akan lebih benderang dengan amal ibadah yang jelas dan benar, sehingga akan selalu mengambil setiap kesempatan bukan hanya sebagai hamba Tuhan-nya, tetapi juga sebagai pemegang amanah khalifah Tuhan yang sudah semestinya punya karya besar sebelum akhirnya kelak kembali kepada-NYA.

Beberapa tulisan ke depan, InsyaAllah menjadi seri tulisan mengenal diri sendiri, dengan kisah-kisah teladan dari siapa pun dari keluarga kami atau pun yang mengenal keluarga kami. Kali ini tulisan bersumber dari ayahanda kami, yang menceritakan tentang kakek buyut saya Raden Mukmin dalam gaya bahasa orang pertama. Semoga bermanfaat.

 

RADEN MUKMIN, SEORANG TUA YANG BIJAK
Dr. H. M.Rais Ahmad

raden Mukmin

Aku merasa sangat beruntung, di masa kecilku hingga berangkat remaja masih berkesempatan berjumpa dengan kedua pasang kakek baik dari pihak bapak maupun dari pihak ibu. Tidak sekedar berjumpa tetapi pergaulanku dengan mereka membuat hidup lebih berarti. Kakek, dalam sebutan bahasa daerahku ‘bakas’, seperti juga cucu-cucuku sekarang memanggilku bakas meskipun kami tidak lagi hidup dan tinggal di kampung tempatku berasal. Kayuagung, awalnya sebuah kampung yang terikat dalam adat istiadat Marga terdiri dari sembilan dusun(Morge Siwe)yang hidup ditepian sungai Komering. Dari pemerintahan Morge yang diatur oleh hukum adat kemudian berkembang menjadi Kecamatan dan belakakangan menjadi ibu kota Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan. Pertemuanku dengan bakas Raden Mukmin cukup intens, karena ibu menetapkan aku sebagai “kurir tetap” untuk mengantarkan penganan dan minuman disela-sela kesibukan sekolahku di pagi hari dan mengaji di sore hari.

Bakas Raden Mukmin adalah kakekku dari pihak bapak, kebetulan tempat tinggal kami dekat. Sejak aku kenal akrab dengan bakas, usianya sudah sudah lebih seratus tahun. Hal ini kami ketahui dari cerita beliau saat gunung Krakatau meletus tahun 1883, debu letusan sampai ke kampung kami dan saat itu beliau sudah berkeluarga. Bapak saya, anak ke lima beliau kelahiran tahun 1901. Meskipun sudah berumur seabad lebih tapi pikiran beliau masih jernih. Ketika aku telah duduk di SMA di kota Palembang, tiap kali liburan tidak pernah aku lewatkan mengunjungi beliau, karena banyak petuah-petuah berharga yang keluar dari ucapannya yang tegas. Ucapannya yang sampai sekarang masih tersimpan dalam memoriku, pernah suatu kali beliau berucap dengan dengan tenang : “Banyak orang sekarang ini pandai mencari uang, tapi sedikit dari mereka yang pandai mengunakannya dengan baik”. Aku berpikir lain dalam mencerna ucapan beliau yang lugas itu. Sepanjang pengetahuanku, bakas tak terdengar pernah sekolah di pendidikan formal, namun ucapannya seperti keluar dari pikiran orang yang mengerti persoalan bisnis dan keuangan. Beliau juga bukan ahli agama, namun kepatuhan dalam ibadahnya sangat menyolok, begitupun dalam bermuamalah, beliau menjadi panutan sanak famili dan kerabat serta masyarakat luar Marga. Tak ada keluh kesah dalam kesehariannya dan setahuku tak pernah menderita sakit, apalagi sampai dirawat di rumah sakit. Dalam kesehariannya yang telah lebih seabad itu, hidupnya penuh ketenangan dan tiap orang datang berkunjung tentu mendapatkan petuah berharga dalam menjalani hidup ini.

Tugas saya sebagai anak paling kecil di keluarga kami antara lain mengantar makanan, minuman di hari-hari tertentu, terutama di hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Apa yang selalu menyenangkanku setiap kali makanan diterima beliau adalah kegembiraan yang tercermin dari air mukanya yang selalu menyebut makanan terhidang dihadapanya adalah makanan kesukaannya dan memuji kenikmatan makanan yang segera beliau santap dengan ekpresi yang penuh kesungguhan. Memang ibu saya (menantu kesayangan beliau) tahu persis selera beliau dengan kopi ‘medok’ rasa manis dan aroma diatas rata-rata dan makanan yang lembut-lembut yang cita rasanya jelas, asinnya, manisnya, asamnya dan juga pedasnya. Saya masih bisa membayangkan setiap hari jumat, sejak pagi beliau mandi di kali dan tiap kepergok disekitar lokasi itu pasti aku dipanggil untuk menggosokkan punggungnya dengan sabun dan sikat yang terbuat dari kulit buah “timput”, buah oyong ukuran besar yang dibiarkan tua sampai bersabut dan dikeringkan. Biasanya cukup lama juga, sampai dirasakan beliau benar-benar sudah bersih. Sekitar pukul 10.00 beliau sudah siap berangkat menuju masjid yang berjarak sekitar 300-400 meter. Dengan pakaian rapih, tongkat dan alas kaki terbuat dari kayu dengan tumpuan pada jempol dan jari kaki lainnya. Ketika berjalan terdengar irama “terompah”nya yang khas. Selain alas kaki buatan sendiri yang disebut terompah dan tongkat kayu, pakaian khas lain adalah kopiah Turki, bulat silinder berwarna merah dan berjambul hitam.

Setelah menamatkan Sekolah Menengah Pertama Negeri, jenjang sekolah satu-satunya yang tertinggi di kampung saya waktu itu, terpaksa aku harus pindah melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas Negeri I Bukit Besar di Kota Palembang. Ketika sekolahku liburan sekitar tahun 60 an, aku pulang kampung dan waktu itu bakas Raden Mukmin jatuh sakit. Anak-anak, cucu, buyut dan cicit beliau sudah kumpul. Nampak penyakit beliau tidak terlalu parah. Namun keperluan hajat tidak lagi ke kali, sesuai kebiasaan beliau yang mementingkan kebersihan maka diperlukan banyak persediaan air dan setiap kali keperluan kebersihan, selalu saja aku yang dipanggil. Setelah beberapa hari, kerabat dekat dan jauh sudah berkumpul di rumah besar yang dibangun oleh beliau sendiri sebagai arsiteknya. Dimulai dari penebangan serumpun pohon “tembesu”, kayu yang terkenal dan terbaik didaerahku untuk bangunan rumah. Terbukti sampai hari ini rumah besar itu masih tegak berdiri dengan kokohnya, sayangnya ahli waris rumah itu yang jatuh ketangan seorang buyut beliau, tak pernah lagi punya keinginan untuk menghuninya. Lantai papan rumah itu ketika masih dihuni sudah berwarna coklat seperti dipolitur, licin dan mengkilap. Memang, dimasa mudanya bakas Raden Mukmin, yang punya nama kecilnya Abdurrahman adalah seorang tukang kayu handal. Pengembaraan profesinya sampai melanglang buana ke daerah Lampung. Jika sempat ditelusuri mungkin masih banyak rumah-rumah model rumah besarnya yang masih berdiri tegak di pedalaman Lampung.

Kesehatan bakas nampak makin menurun. Menjelang waktu magrib, aku ditugaskan bapak dan paman-paman menunggui bakas sendirian, sementara mereka menunaikan shalat magrib berjamaah. Ketika itulah aku mendapatkan pengalaman baru menyaksikan sakratul maut. Posisi bakas tidur miring ke kanan, tangan kanan menempel dipipi kanannya, tangan kiri menyentuh siku kanannya, sehingga terlihat jelas punggung kirinya yang terbuka. Dalam diamnya bakas batuk kecil satu dua kali, kemudian saya perhatikan ada gerakkan di kulit punggung kiri, semacam getaran kencang, namun getaran itu berangsur-angsur melemah, pelan dan akhirnya diam bersamaan dengan itu tubuh bakas juga diam tak bergerak lagi. Secara refleks saya memanggil-manggil bakas, tapi tak ada jawaban sama sekali. Timbul kesadaranku bahwa ruh bakas sudah berangkat bersamaan dengan hilangnya getaran dipunggungnya, barulah aku berseru kepada orang-tua yang baru selesai shalat. Beberapa paman menyalahkanku tidak segera memanggil mereka di saat sakratul maut. Aku Cuma berdiam, karena kejadian itu merupakan pengalaman unik dan baru pertama kali bagiku.

Ibuku, selalu memanggil anakku yang bungsu dengan Raden Mukmin menjelang tahun-tahun terakhirnya di Bogor. Ketika kami sekeluarga pulang kampung, juga turut bersama kami yunda Amron, kakak perempuanku yang juga tinggal di Bogor. Kami sengaja datang bertiga dengan yunda Zubaidah yang tinggal di Palembang menemui kakak kami tertua M.Amin di Kayuagung untuk meminta ibu di boyong ke Bogor. Namun ternyata kakanda M.Amin tetap berkeinginan agar ibu tetap tinggal di Kayuagung. Setelah beberapa lama kakanda M.Amin datang sendiri, mengantarkan Ibu untuk tinggal di Bogor. Kami tentu sangat bergembira menyambut kedatangan ibu. Sejak itulah Ibrahim Fajri dipanggil oleh niyainya (mbah putri) dengan panggilan kesayangan, Raden Mukmin. Adat perkawinan Kayuagung, memberikan gelar kepada Pengantin. Di Jakarta, pernah kami menyaksikan pemberian gelar kepada Penganten, putra keponakan dari pihak Bapak dengan Raden Mukmin. Awal Mei 2013 di Palembang kami kembali menyaksikan keponakan, putra kakak sepupu yang juga dari pihak bapak diberikan gelar Pangeran Raden Mukmin.

Raden Mukmin telah wafat lebih setengah abad yang lalu, namun nama dan kebaikan beliau masih dikenang oleh anak cucu keturunannya sehingga namanya diabadikan dalam gelar-gelar adat yang masih berlaku di masyarakat hukum adat Morgesiwe, Kayuagung, Ogan Komering Ilir. Semoga di alam barzah beliau tenang beristirahat dan menikmati amal sholeh beliau disepanjang usianya yang penuh berkah. Amin ya Rabbal alamin.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Mang rais terima kasih yg sebesar-besarnya telah hadir di acara pernikahanku, dan aku sangat terharu dan bangga membaca tulisan mamang, semoga Sifat dan Perbuatan Buyut Raden Mukmin slalu Mengalir dalam darah anak cucu dan cicitnya……, Mang siapa saja nama-nama yg didalam foto itu…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: