• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 304,745 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Berjuang menyerap Nilai Peradaban

Membagi Pengalaman menjalani sidang PhD di Perancis

I am not my self without my determination (noname)

Perasaan nyaman dalam rutinitas sehari-hari, bisa membawa dua efek, pertama efek langsungnya adalah merasa cukup dan turunnya semangat untuk berjuang meningkatkan potensi diri- ini sisi negatif – selain itu juga memiliki sisi positif seperti akan menaikkan rasa percaya diri yang ujung2nya jika kita tidak berintrospeksi diri, maka akan membawa perasaan ujub, merasa mulia, merasa lebih dari yang lainnya – ini negatif juga akhirnya.

Maka sebelum itu datang, aku melihat kesempatan untuk berintropeksi diri dengan cara keluar dari zone kenyamanan itu untuk mencari tambahan ilmu, tambahan wawasan dan tambahan berbagai hal lainnya dalam kaitan meningkatkan kualitas pribadi ini, di belahan bumi Allah yang lain.

Kenapa harus menuju ke tempat yang jauh dari rumah dan berbudaya lain serta tempat yang ternyata langsung menggempur habis segala pola etik, dan memaksa meredefinisi makna-makna kehidupan ? Tak lain dan tidak bukan agar aku bisa mensyukuri pemberian tak ternilai dari Sang Penggenggam langit bumi dan segala isinya, dan lari dari kesempatan untuk takabbur itu tadi.

Setelah mendapatkan surat penerimaan dari professor Fabrice waktu itu, ternyata Allah memudahkan jalanku mendapatkan dukungan finansial dari program beasiswa unggulan DepDiknas, maka di awal tahun 2008, sampailah langkah kaki ini di tempat Napoleon pernah mengabdikan hidupnya dulu. Aku datang langsung kedinginan, karena digempur habis oleh dahsyatnya musim dingin. Dingin fisik. dingin psikis, diselimuti ketidaktahuan, keterasingan dan berbagai jenis ketakutan yang sangat jauh dari zone kenyamanan yang pernah aku alami itu.

tapi aku tetap mempertahankan tekadku.

Sesampainya di tempat aku menjalankan riset, seorang yang merasa jagoan di satu bidang teknologi ini dan sempat berpendapat dgn ilmu yang dimilikinya ia akan bisa menghadapi menghadapi semua jenis tantangan, ternyata kembali menelan kenyataan pahit. Tantangan yang disajikan ke hadapannya ini adalah tantangan yang tidak semudah itu dapat terselesaikan dengan apa yang dia sudah miliki. Keadaanku seperti seorang balita yang diajak berkompetisi lari oleh seorang atlet triatlon yang berpengalaman.

tapi aku tetap mempertahankan tekadku.

Maka oleh sebab itulah dua tahun pertama aku lewati dengan hanya membaca, mencatat, mencoba meresapi dan mencoba membangkitkan kembali kemampuanku dalam angka-angka serta dalam formula-formula alamiah di bangku sekolah menengah dulu.

Aku baca seribu tulisan, dan lagi-lagi aku harus menerima fakta bahwa aku tidak banyak mengerti. Dua tahun berlalu hanya untuk menyadari posisi intelektualku dalam bidang yang kutekuni ini.

tapi aku tetap mempertahankan tekadku.

Belum lagi kehidupan keluargaku, bagaimana teganya suami seperti aku ini meninggalkan istriku dengan anak-anak kami bersamanya di tanah air. meninggalkan hanya sedikit uang untuk biaya hidup mereka, meninggalkan kewajiban-kewajiban seorang ayah untuk melukis jiwa anak-anaknya dengan kebaikan. Semua berkumpul menjadi beban dibenakku seperti besi baja berton-ton.

tapi aku tetap mempertahankan tekadku, dan mencoba meyakinkan istriku dengan rasa malu padanya yang tidak terkira besarnya.

Kehidupan kemudian berjalan di luar bahasa ibu yang menurutku tidak konsisten antara tulisan dan ucapan, sehingga perjuangan dalam berkomunikasi secara verbal dengan cara benar, turun derajat menjadi komunikasi secara fisik asal bisa paham satu sama lain. Bahkan ada suatu saat dimana pita suara malas berkata-kata karena rindu bahasa tanah air.

tapi aku tetap mempertahankan tekadku.

Untuk makanan fisik pun mesti berhati-hati memilihnya, kesempatan memupuk spiritual sebagai makanan batin semakin sedikit, perbedaan perilaku dan pendekatan antar relasi terkadang mengombang-ambing rasa hati antara malu, muak, sulit menerima dan terkadang ingin berlari darinya, tapi tidak mungkin.

tapi aku tetap mempertahankan tekadku.

Sampai saat-saat dimana aku mengalami matahari bersinar, tetapi kehangatannya tidak terasa. Saat dimana aku merasai angin berhembus tapi nyatanya mampu menghempaskan tubuh ini. Saat dimana air menjadi salju salju menjadi es, putih bersih tapi menggigit pori-pori, mengunci ubun-ubun dan menggoyahkan berdiri.Saat musim berganti, tidak menjadi lebih baik, saat-saat dimana serbuk-serbuk sari malah berubah menjadi alergi. saat-saat dimana udara tidak membawa uap air sama sekali dan membuat nafas menjadi sesak.

tapi aku tetap mempertahankan tekadku.

Sampai akhirnya tiba pula kenyataan waktu belajarku habis sebentar lagi, dan pendukung finansial perjalanan ini sudah mencapai titik kritis.

tapi aku tetap mempertahankan tekadku.

Sehingga waktu dua puluh empat jam menjadi sesempit lubang jarum. Kegelapan demi kegelapan dilalui setiap hari, saat mengunci pintu laboratorium seakan jadi kewajiban setiap kedatangan dan kepulanganku darinya. Aktivitas menjadi roda gila yang berputar-putar tidak berhenti dalam membaca – bereksperimen – menulis – mengulang lagi – menambah – mengurangi – menerima koreksi tanpa ampun – menerima penolakan tegas – membaca lagi – bereksperimen lagi – dan seterusnya.

tapi aku tetap mempertahankan tekadku. Walau pun tanpa sadar mata-mata itu mulai mengawasi dan bersinar-sinar menilai dan menjustifikasi.

Sehingga tibalah aku di satu hari sebelum dua jam yang menentukan bagiku untuk melaporkan segala hal yang telah aku lakukan selama ini.

Semua beban tiga setengah tahun tiba-tiba tergambar seperti film yang diputar kembali di depan sudut mataku, dan memenuhi setiap poin syaraf mataku. Sehingga sangat sulit untuk dipejamkan. Kalau pun aku pun tertidur pula malam itu, kurasa itu bukan tidur, tapi pingsan karena kelelahan menerima itu semua.

Maka ketika kubuka mata di hari besar itu, menjadi dua puluh menit sujudku dalam membuka semua relung jiwaku untuk memasrahkan nya kepada Sang Maha. Beban itu seperti mencair dan mengalir membasahi sajadah lalu menguap perlahan-lahan.

Sungguh ternyata pikiranlah yang menciptakan beban itu. Maka ketika aku pasrah total dan bertawakkal untuk mengosongkan pikiran, ternyata beban itu tiba-tiba tidak ada lagi.

Jadilah hari itu menjadi ringan. Sisa-sisa kesakitan jiwa akibat pikiran menumpukkan tiga setengah tahun beban menjelma menjadi rasa gelisah, namun dalam intensitas yang sangat kecil. Itu kelihatannya adalah reaksi proses penyembuhan mandiri tubuh kita dalam mencapai keseimbangannya kembali.

Sepuluh menit sebelum presentasi penelitianku, bertubi-tubi kebaikan Tuhan dari doa-doa orang terkasih menyempurnakan proses penyembuhan jiwa, membangun semangat baru, meningkatkan keyakinan hati sehingga akhirnya semua tantangan dalam sidang itu dapat dihadapi dengan jantan.

dan Karunia besarlah yang kudapat,

Berbagai pujian terhadap kerja keras datang dari pembimbing-pembimbingku.

Pak Profesor fabrice tegas menyatakan, “Di saat  banyak anak-anak muda yang ketika disuruh meneruskan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi memberikan penolakan dengan alasan tidak mau berpisah jauh dengan kekasih-kekasih mereka, Aku membimbing seorang ayah dengan 3 anak yang masih kecil-kecil dari indonesia meninggalkan keluarganya sampai bertahun-tahun untuk itu.”

Pak Olivier menyatakan pula, “Kesungguhannya merupakan suatu nilai besar, mulai dari proses membaca masalah, memahaminya dan mencari solusinya sampai akhirnya merangkai setiap eksperimen menjadi suatu hasil terstruktur dan jelas. Aku cukup bangga karena baginya ini adalah bidang ilmu yang baru sama sekali.

Dan yang tidak terkira bagiku, para juri dengan tegas pula telah memberi  ‘très honourable’ (sangat memuaskan), suatu pencapaian yang tidak rendah dari perjuangan ini…. 

Mataku terbuka lebar,

Aku melihat bahwa sesungguhnya, pendidikan hakiki bukanlah semata-mata hasil akhir, tapi lebih banyak kepada proses, penilaian terhadap kesungguhan dan kerja keras.

Aku pun menyadari, bahwa memiliki keyakinan bahwa Allah akan membantu hamba-NYA yang sudah melangkahkan segenap jiwa raganya untuk menuntut ilmu menjadi senjata terkuat yang dapat membuatku terus bertahan sampai menuntaskan sebuah amanah.

Alhamdulillah,

Ketakutan sebelum melangkah sudah aku taklukkan.

Ketakutan saat melangkah dihapus pula dengan keyakinan ini.

dan kini aku pulang, seperti halnya waktu berangkat dulu, kedinginan secara fisik, namun ada satu hal membara di dalam dada yang membuat hal itu tidak begitu terasa lagi.

ketika keinginan menjadi terlalu banyak, kau menciptakan nerakamu sendiri dan keinginan yang terlalu sedikit pun tidak menjamin kau mendapat surga. Selalu ada surga dalam neraka, sebagaimana ada neraka di dalam surga, tapi di nerakamu itu kau bisa ciptakan surga… (noname)

Kumpulan foto dapat dilihat di : TuanSUFI Galery

Satu Tanggapan

  1. Alhamdulillah..semua perjuangan pasti ada hasil manisnya.

    Saya ingat betapa beratnya perjuangan mas Iqbal selama menempuh PhD, dan mengaca ke perjuangan saya sendiri…still can’t believe that finally we can get through it.

    Tahun 2010, dua tahun sebelum hari H. Dengan tegas klien di perusahaan menolak prototipe saya dengan alasan tidak feasible. External reviewer juga hampir menolak report tahunan saya dengan alasan kurang scientific. Tidak ada yang puas dari dua belah pihak. Padahal saya sudah mati-matian bekerja siang malam untuk memuaskan mereka.

    Bayangan untuk mengundurkan diri sebelum dipaksa mundur sudah didepan mata. Pantang menyerah, ditambah keajaiban dan bantuan dari seorang yang tegas namun berhati malaikat bernama prof FM yang memungkinkan saya lanjut. Harus selesai.

    Tahun 2010 mengulang semua riset, mulai dari nol lagi, dari state of the art lagi. Bekerja siang malam. Pagi hingga sore di kantor, membuat prototipe industri. Malam membaca paper dan experimen. Tidak sedikitpun weekend untuk bersenang-senang, hanya untuk bekerja dan bekerja. Menyelesaikan PhD dalam waktu 2 tahun adalah hal yang nyaris impossible, kecuali bekerja super keras.

    Kemudian 2011 absen sebentar untuk pernikahan, dimana bertemu istri hanya total sebulan, selebihnya istri ditinggal, baik di Indonesia maupun di Perancis.

    Kemudian tantangan lain datang, istri hamil dan melahirkan. Hari-hariku yang super sibuk di tambah lagi dengan kewajiban suami mengurus istri dan bayi yang baru lahir. Untunglah saya dibantu manusia berhati malaikat yang lain lagi yaitu dua sahabat di Dijon, mas A dan mbak I.

    Ketika penulisan hampir selesai, muncul hambatan lain dari perusahaan yang secara tiba-tiba dan tanpa direncanakan meminta prototipe harus siap dalam 3 minggu untuk industrial testing atau thesis dibatalkan.

    Alhamdulillah selesai walau harus meninggalkan anak dan istri lagi. Meneruskan penulisan tanpa penghasilan selama beberapa bulan karena kontrak kerja sudah habis, namun perusahaan tidak henti-hentinya meminta berbagai macam permohonan, walaupun kontrak sudah habis, karena mereka masih memegang kartu AS, yaitu PhD saya musti ditandatangani mereka.

    3 minggu menjelang sidang, datang cobaan lain. Telepon dari Jakarta, ayah tercinta telah tiada. Ya Allah… kuatkanlah hambaMu…

    Dalam kesedihan, menguatkan hati untuk menyelesaikan presentasi dan siap untuk hari H. Demi amanah almarhum ayahanda yang berpesan untuk menyelesaikan perjalanan panjang ini …

    Alhamdulilah hari H terlewati juga.

    ___________________________________

    Memoir of me, sahabat mas Iqbal, we were on the same room, with same supervisor, in the same lab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: