• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 328,027 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Kisah Pelajar di Masjidil Haram (Seri 7 dari 10)

Dalam perjalanan haji pada umumnya, selain oleh para pembimbing haji official yang ditunjuk pemerintah, para jamaah juga akan didampingi oleh pembimbing yang memang menetap di tanah suci baik untuk bekerja maupun menuntut ilmu. Mereka juga terdaftar sebagai pembimbing-pembimbing haji setempat yang mengenal dengan baik keadaan tanah suci dan berkemampuan bahasa Arab yang cukup baik. Nah, Bagi mereka yang sedang menuntut ilmu di sekitar tanah suci, sebagian dari mereka bersekolah formal seperti universitas, namun sebagian lainnya belajar informal di Majelis ta’lim.

Selama ini dalam benakku, yang terbiasa pada pola pendidikan formal mulai dari pendidikan pra sekolah, pendidikan tingkat dasar, tingkat menengah, tingkat atas, sampai pendidikan tinggi/universitas, belajar informal ini adalah sesuatu yang kuanggap sekedar pendidikan pelengkap saja.

Aku sendiri menjalaninya paralel dengan pendidikan formalku misalnya mengikut pendidikan madrasah atau taman Pendidikan Alquran bersamaan dengan mengikuti pendidikan tingkat dasar dan menengah. Ketika agak menginjak usia remaja aku juga mengikuti pendidikan informal di pesantren kilat, pengajian2 remaja, organisasi2 remaja seperti kerohanian Islam, pramuka, pencinta alam, klub science, dan pasukan pengibar bendera sampai organisasi olahraga beladiri bersamaan waktunya dengan ketika aku menjalani pendidikan formal tingkat atas.

Hal ini terus berlanjut saat Aku mengikuti pendidikan tinggi sampai aku bekerja sebagai pendidik di suatu Universitas di Depok, selain pendidikan formal, aku sering menyempatkan diri untuk menambah pengetahuan dan keterampilanku dalam pelatihan2, workshop atau seminar-seminar yang berisi pendidikan motivasi, pelajaran agama, kemampuan teknik teknologi atau sekedar sosialisasi metode2 baru yang memudahkan kehidupan manusia.

Pengalaman berhaji ini ternyata membuka mataku, justru pendidikan yang kubilang ‘informal’ ini adalah bentuk pendidikan yang menurutku lebih jujur dalam menjaga keaslian sumber ilmu karena persambungan turun-temurun antara guru murid yang dikuatkan oleh legitimasi yang disebut ijasah sanad. Sebuah Konsep sanad (periwayat) dan ijazah memelihara serta menjamin kesahihan sesuatu perkara yang diriwayatkan serta menjadi satu keistimewaan metode pewarisan ilmu buat umat Muhammad SAW.

Aku jadi mengerti perkataan imam syafi’i rohimakumullah, bahwa “Perumpamaan orang yang menuntut ilmu tanpa isnad adalah seperti seorang pemikul kayu di waktu malam yang memikul seikat kayu yang di dalamnya terdapat seekor ular dalam keadaan dia tidak menyadarinya.” Ini tentunya sejalan dengan tuntunan Rosul yang menetapkan bahwa di antara syarat utama untuk berdakwah adalah izin yang berkesinambungan sehingga langsung dari sumber Rasulullah, dalilnya, “dan berilah peringatan serta nasihat kepada kaum kerabatmu yang terdekat”

Kalau kita lalu melihat sejarah, maka yang menjadi para pendakwah atau da’i itu adalah para sahabat yang menguasai dengan baik tentang hukum agama, hafal dan memahami al Qur’an dan hadith Nabi dengan sempurna. Dan yang menjadikan mereka lebih meyakinkan lagi adalah adanya izin atau ijazah yang diterima dari Nabi SAW untuk berdakwah dan menyeru masyarakat kepada agama yang benar. Langkah strategis ini diberitakan melalui hadith pada Mu’az ibn Jabal ketika beliau diutus ke Yaman untuk berdakwah dan memberi petunjuk tentang hukum2 Islam. Selanjutnya generasi Tabi’in juga berpegang teguh dengan cara-cara ini, di mana Hasan al Basri telah dapat izin dan ijazah mengajar dari Ali bin Abi Thalib. Hasan Al Basri ditemukan beliau setelah menilai 99 holaqoh (grup) pengajian yang terdapat di Masjid Jami’ Basrah Iraq yang ternyata disampaikan oleh mereka yang kurang kompeten. Saat itu kemudian Ali Rodhiallahu anhu pun menyatakan kepadanya “Orang seperti engkaulah yang layak mengajar”.

Singkat kata, sampai hari ini pun dapat kita temukan terutama di pusat-pusat peradaban islam terutama di sekitar kota Makkah dan Madinah ini. Ijasah sanad sebagai sarana legitimasi yang pewarisan ilmu secara turun temurun tidak terputus dari sumbernya, yang bisa kita temukan di waktu-waktu tertentu di pelataran masjidil Haram atau pun di salah satu tempat di Masjid Nabawi. Seseorang pembimbing kami yang mengikut majelis2 ilmu ini, ternyata bisa menghabiskan harinya dengan belajar sampai 30 puluhan kitab per hari. Di mulai dari ba’da shubuh sampai pukul sebelas malam ! Pelajaran diberikan oleh guru-guru ini disampaikan setahap demi setahap, sekitar 1 sampai 2 jam, lalu pembimbing kami itu berangkat ke guru-guru yang lain di waktu-waktu selanjutnya. Sebagian besar guru-guru tersebut bahkan memiliki majelis ta’lim sendiri di dekat kediamannya, tidak hanya mengadakan kajian di masjid-masjid saja.

Yang menariknya, rezim Saud yang kini berkuasa di negara saudi Arabia ini terkadang memotong perkembangan ilmu2 yang dianggap kurang murni menurut mereka. Maka guru2 yang seperti ini kecenderungannya ada di pelosok2 yang informasinya hanya bisa diketahui dari mulut-ke-mulut dari murid2 setianya. Inilah kondisi dimana perkembangan ilmu ternyata juga dipengaruhi oleh keputusan2 politis penguasa. Namun, dalam arti positif, ternyata perkembangan ilmu2 tersebut tidak serta merta berhenti. Aku jadi tahu bahwa untuk kitab2 tertentu tidak bisa ditemukan begitu saja di toko2 buku dan karena tetap banyak permintaan dari para pencari ilmu ini, maka dijual secara ‘gelap’. Dengan kode tertentu, maka si penjual buku baru akan mengeluarkan kitab2 tersebut.

Nah, itulah sahabat. Satu pengalamanku lagi yang dapat kusampaikan sebagai oleh2 dari tanah suci. Suatu saat nanti, mudah2an jika diberi kesempatan Allah, aku ingin mencoba menimba ilmu langsung ke ulama2 di tanah suci yang memegang ijasah sanad ini. Tentu jika kemampuan bahasa Arabku sudah cukup. Oh ya, banyak pula para ulama dari negeri kita Indonesia yang menjadi terpandang keilmuannya sebagai salah seorang pemegang ijasah sanad ini, salah satunya adalah Syech Yasin al padani. Nama lengkapnya Abu al faidh’ alam Ad diin Muhammad Yasin  bin Isa Al padani, lahirnya di Makkah, namun akar keluarganya dari Sumatera Barat. Silahkan sahabat ke situs scahrony.wordpress.com untuk membaca kisah beliau.

(bersambung)

Galeri foto bisa di lihat di TuanSUFI Galery Picasa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: