• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 328,539 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Pesantren Ka’bah (Seri 6 dari 10)

Setelah selesai di Pesantren Mina, kini tibalah saatnya untuk mengikuti Pesantren Ka’bah. Kurikulum utamanya selain ukhuwah islamiyah adalah mengenai pendidikan kedisiplinan. Tempat inilah tempat impian bagi seluruh kaum muslimin di dunia sampai akhir zaman kelak. Tempat inilah pusat semua kerinduan orang beriman di segala generasi. Tempat yang khusus didoakan oleh nabi Ibrahim menjadi tempat yang aman dan makmur. Oleh karena itulah, setiap orang yang datang ke sini punya kaitan emosional untuk melakukan ibadah-ibadah yang dicontohkan dan mengejar keutamaan-keutamaan yang dikabarkan. Bahkan ada kecenderungan melakukan aji mumpung ; ‘Mumpung di sini, aku harus dapat sebanyak-banyaknya yang aku bisa dapatkan.‘ Nah, pikiran yang sama pada jutaan jamaah haji yang datang ke masjidil haram ini tentunya membuat ka’bah dan sekitarnya selalu penuh. Ditambah lagi dengan banyaknya variasi ibadah yang dapat dilakukan, membuat gerakan jamaah tidak pernah berhenti sama sekali selama 24 jam. Berlakulah hukum darurat, karena terpaksa saudara-saudara kita satu sama lain melangkahi bahu-bahu atau melewati saudara-saudara kita yang sedang shalat misalnya, yang dalam situasi biasa itu sangat dilarang.

Namun intinya, kita harus berbagi. Inilah dasar ukhuwah Islamiyah dengan memberi kesempatan pada saudara-saudara kita yang belum untuk melakukan ritual-ritualnya. Ka’bah dan pelatarannya cuma segitu-segitunya, jika kita sudah berusaha mendapatkan suatu keutamaan ritual dan dapat, maka segeralah minggir untuk memberi kesempatan kepada yang lain. Jika ternyata juga kita tidak kuasa karena ramainya suasana, ya carilah kesempatan lain. Jika hari itu tidak bisa, maka coba lagi besoknya, atau jika segala usaha sudah dicoba dan tidak berhasil juga, cobalah cari substitusi amal sambil memohon ridho-NYA. Dengan padatnya jamaah yang ada, rupanya Rosul pun tidak menganjurkan harus memaksakan diri untuk mengejar keutamaan saja. Kita pun harus memudahkan saudara-saudara kita yang lain. Maka, misalnya untuk apa harus merangsek ke kerumunan sambil sikut sana-sikut sini hanya untuk dapat mencium hajar aswad yang disunnahkan. Apalagi sampai harus ‘menyewa’ bodyguard yang membuka jalan kita namun menyakiti orang lain. Cukup lambaian dari jauh..

Memburu Amal Ringan tapi Berat Dalam ‘Timbangan’

Di Masjidil Haram ini semua pahala berlipat ganda sampai seratus ribu kali lipat. Maka bukalah keran empati besar-besar, karena sesungguhnya di setiap jengkal wilayahnya dapat saja kita temukan rahmat Allah yang ‘berserakan’ bukan hanya pada beberapa tempat yang punya keutamaan besar (seperti hajar aswad, rukun yamani, multazam, maqam ibrahim, hijr Ismail).

Coba turunkan derajat keinginan-keinginan yang dikendalikan hawa nafsu, lalu tajamkan kepekaan terhadap lumbung-lumbung pahala,Insya Allah kita akan mendapatkan kesempatan beramal sholeh yang ringan dikerjakan tapi berat dalam balasan. Ini beberapa contoh saja, Insya Allah ringan dilakukan.

  • Di sudut rukun Yamani, ada tempat air zamzam yang menghadap teras masjid bersebrangan dengan pelataran ka’bah. Letaknya amat dekat dengan pelataran ka’bah. Orang-orang yang thawaf yang kehausan biasanya berhenti disitu dan meminta minum kepada orang-orang yang ada di sana. Nah, coba luangkan waktu isikan air pada gelas-gelas yang disediakan, lalu berdiri dipinggir beberapa menit saja. Insya Allah dengan memberi minum bagi yang kehausan, kita bisa mendapatkan pahala yang berlipat ganda.
  • Saat shalat berjamaah, umumnya shaf sangat rapat satu sama lain. Cobalah lembutkan tangan kiri dan tangan, dan mudahkan dalam duduk tasyahudnya. Biar saudara di kiri dan kanan kita merasa tentram berjamaah bersama kita.
  • Di sudut hajar aswad ada balkon. Dari sanalah imam akan datang dan begitu juga para jenasah yang hendak di shalatkan dikumpulkan setiap setelah shalat berjamaah. Sesekali coba shalat di dekat-dekat sana, agar perasaan ingat kematian kita menguat sehingga memperbesar motivasi beribadah kita. Selain itu, selalulah mengikuti shalat jenasah, karena Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa pahala shalat jenasah di tanah suci ini pahalanya sebesar gunung Uhud.
  • Sambil berjalan di Masjid Al Haram, cobalah berfikir sebagai ‘pasukan semut‘. Jika sahabat menemukan gelas zamzam berserakan, atau sampah tisu berserakan, pungutlah dan letakkan ke tempat sampah. Semoga dengan begitu, kita bisa dicatat sebagai pemelihara masjid suci.
  • Kemudian, bersiaplah membawa tisu agak banyak, sehingga saudara kiri kanan kita bisa juga menikmatinya. Begitu pula bawa botol minuman sekaligus gelas kecil dua buah. Pada cuaca yang panas, kita semua butuh tisu dan minuman. Begitu indahnya bila kita yang bisa menyediakan untuk mereka yang membutuhkan.  Ini juga bisa kita lakukan jika membawa sajadah agak besar, untuk berbagi dengan saudara yang di sebelah kita yang tidak membawa sajadah.

Yang paling penting jagalah hati untuk tidak berburuk sangka dengan saudara-saudara kita. Singkirkan persoalan kaidah norma-norma dan perilaku yang amat berbeda dari saudara-saudara kita. Mereka itu semua tamu2 Allah, perbedaan budaya kesopanan dan tatakrama yang kadang menguras emosi dikebelakangkan saja. Mengalah untuk mendahulukan saudara itu besar nilainya dimata Allah. Jika tidak kuat berdoalah kebaikan untuk kita dan mereka.

Karena dalam pesantren ini, Insya Allah kita akan melihat berbagai perilaku kaum muslimin dari seluruh dunia. Jika kita ridho, kita akan segera memaklumi sikap-sikap orang turki yang besar-fisiknya dan senang berpegangan erat ketika tawaf. Walau mereka sering berteriak2 dalam berdoa, dan punya kecenderungan menyerobot tempat duduk kita, tetapi ternyata, mereka ini adalah teman yang enak dalam bercakap-cakap. Kita juga akan bertemu dengan sikap-sikap saudara kita dari Afrika yang sebagian besar mereka tampak riang gembira, gemar bergerak cepat ber-zig zag dalam bertawaf, senang berbusana warna-warni dan memiliki bau yang amat khas. Mereka ini ternyata  juga seorang pelindung yang baik bagi orang Indonesia yang kecil-kecil ini. Kita akan sangat jelas melihat keberagaman fisik, sikap dan perilaku dari saudara-saudara kita dari seluruh dunia. Saudara-saudara yang hatinya – di tengah perbedaan yang meruncing tersebut – ternyata menghadap ke tempat yang sama dengan hati kita. Inilah tentunya yang kita mesti selalu sadari, dan menjadi landasan bagi keikhlasan kita dalam bermuamalah dengan mereka. Insya Allah dengan itu, ringan semua bagi kita. tidak ada beban, nyaman bersama mereka.

Menuju Shaf pertama di Baitullah

Untuk kaum muslimin laki-laki, keutamaan shalat berjamaah adalah shaf pertama. Di Masjid mulia ini, ternyata untuk dapat tempat terbaik dalam shalat berjamaah tersebut perlu perjuangan yang tidak ringan. Dimulai dengan datang sekitar 1 jam lebih awal dari waktu shalat, dan mengambil posisi di paling belakang pelataran Ka’bah lalu secara kontinyu sedikit demi sedikit berpindah ke shaf depannya sampai posisi jalur orang berthawaf berkurang karena distop Askar. Aku bergerak pindah itu berpedoman pada tali panjang yang diurai askar sedikit demi sedikit menjadi pembatas jalur lalu lalang orang di sekitar hajar aswad. Nah, saat orang yang bertawaf berkurang, aku segera saja menembus lintasan tawaf untuk duduk mendekat ke shaf pertama Ka’bah. Jangan menunggu sampai orang yang thawaf habis, karena biasanya di shaf2 terdepan tersebut sudah penuh orang.

Nah, pada proses ini perlu kesabaran karena kita akan sering dilangkahi orang. Teruslah berzikir atau tilawah quran atau jika memungkinkan terus melakukan berbagai shalat sunat. Kemudian jika sudah mendapatkan posisi yang baik adalah terus mempertahankannya dengan kelembutan. Banyak saudara-saudara kita yang berpikiran sama dengan kita namun datang belakangan. Mereka-mereka ini kadang2 suka lupa bahwa shaf sudah penuh. Jika posisi terlihat agak longgar sedikit saja, mereka akan segera mengisinya – bahkan kadang2 dengan sedikit memaksa. Nah, kalau sudah begini, aku mencoba berpasrah kepada Allah dan berusaha menjaga hati, untuk tidak usah mengusir mereka dengan keras. tapi mempersilahkan saja mereka untuk bergeser menjauh. Insya Allah jika hati kita tulus kita tidak akan menemui orang2 keras yang tidak mau pindah. Hati mereka akan digerakkan untuk tidak menggangu shaf shalat kita.

Waktu paling enak untuk berjuang menuju shaf pertama ini adalah pagi sebelum shubuh. Jika shubuh sekitar pukul 5.10, maka paling tidak pukul 4 kita sudah mulai ambil posisi. Sambil terus memperbanyak qiyamul lail dan tilawah, Insya Allah kesempatan bagi kita untuk mendekat ke Ka’bah semakin besar. Setelah selesai shalat shubuh, bergeserlah kembali ke posisi dimana bukan jalur thawaf, untuk memberi kesempatan saudara-saudara kita berthawaf dan tentu saja memberi ruang yang nyaman bagi kita untuk ber i’tikaf sampai matahari terbit.

Sedangkan pada waktu dzuhur atau ashar, perlu diperhatikan lebih dahulu dimana posisi matahari berada, agar kita bisa memilih posisi di bawah bayangan Ka’bah. Terus terang, teriknya matahari Jazirah Arab ini cukup menyengat. Bagi kita orang Indonesia, kadang ini dapat mengganggu kekhusyu’an shalat. Kemudian untuk mendapatkan posisi yang baik pada shalat maghrib sekaligus Isya, dimulai sekitar 1 jam sebelum maghrib untuk mulai bergerak menuju shaf depan. Karena umumnya waktu2 ini, situasi akan sangat padat sekali, agak sulit juga kita mendapatkan posisi dekat ka’bah, kecuali jika sahabat melakukan thawaf terlebih dahulu dan berhenti pada saat menemukan tempat untuk duduk kita.

Burung pelindung Nabi dan burung putih di atas Ka’bah

Dahulu, ketika hijrah bersama abu Bakar, Nabi Muhammad SAW terpaksa bersembunyi dari kejaran para pembunuh dari quraisy di gua Tsur. Saat pencari jejak sudah mendekat kepada beliau, Allah mengilhamkan laba-laba untuk membangun sarangnya di pintu gua, dan mendatangkan burung merpati untuk membuat sarang dan bertelur di sana. Nah, sejak itulah burung merpati pelindung nabi yang turun temurun hidup di tanah suci dilindungi dan mendapatkan penghormatan. Semenjak umroh dulu, aku selalu memperhatikan burung-burung yang ikut pula berthawaf di udara di atas Ka’bah. Mereka dengan bebas beterbangan berputar-putar di sana dan sesekali hinggap di tiang-tiang masjidil haram. Di pelataran masjidil haram pun burung-burung ini banyak bergerombol untuk turun karena banyak pula jamaah yang memberikan jagung dan sejenis biji-bijian kepada mereka.

Yang aku sering takjub, di sekian banyak merpati yang terbang berputar-putar di atas ka’bah, selalu ada pula beberapa burung berwarna putih yang selalu saja terbang lebih kencang dan lincah dibandingkan merpati2 tersebut. Mereka selalu ada ba’da shubuh dan menjelang maghrib hari. Sekilas dalam perasaan terdalamku, burung-burung putih ini memancarkan kegembiraan dan kebahagiaan hati mereka. Apakah ini burung-burung para syuhada ? wallahu a’lam.

Begitulah sahabat. Perjuangan untuk istiqomah selalu hadir dalam setiap shalat berjamaah di Ka’bah adalah pesantren tersendiri. Ini juga merupakan salah satu sarana untuk memupuk perasaan kejamaahan kita satu sama lain dan insya Allah dapat diimplementasikan ketika kita kembali lagi ke tanah air. Dengan semua ini, aku tergiring menjadi haqqul yakin, bahwa salah satu indikator kemabruran haji adalah abadinya perasaan tertarik untuk selalu mendekat ke masjid-masjid di mana pun berada, apalagi saat azan shalat kumandangkan ; Seorang haji mestinya menjadi orang-orang yang selalu memakmurkan masjid-masjid Allah.

Namun ada hal yang menjadi titik keprihatinanku, dari apa-apa yang telah diperlihatkan Allah di tanah suci ini, tentang orang-orang yang perilakunya mencerminkan ketidakmabruran, justru ketika masih berada di tanah suci,  Orang-orang yang merasa berat menyambut panggilan bersujud, bukan karena uzur Syar’i tapi karena nafsunya masih lebih besar dari frekuensi akhiratnya. Orang-orang yang membesarkan hal-hal lain pada saat nama-MU dibesarkan dalam azan. Sehingga melalaikan saat-saat nikmat berjamaah.

Ya Robbi beri karunia kesadaran bagi saudara-saudara kami, dan mohon agar kami pun tetap berada dalam koridor ridho-MU. Jangan sampai ketidaktahuan kami, kelalaian kami menjerumuskan kami ke jurang kedurhakaan kepada-MU.

Masjidil Haram, tempat Paling Romantis di dunia..

Kesempatan berhaji dengan istri, sungguh merupakan karunia sangat besar dari Allah. Di sinilah kami berdua, selaku konduktor institusi bernama keluarga mengevaluasi dan meredefinisi visi dan misi kami. Selain ibadah-ibadah ritual lainnya, haji ini membuka kesempatan untuk merenung bersama di antara aku dan istriku tentang berbagai hal langkah2 kami dalam mengarungi biduk rumah tangga. Di sini juga secara batiniah, hati kami disatukan lebih erat lagi dengan doa-doa yang kami panjatkan dan dengan kesabaran-kesabaran yang selalu kami kedepankan. Kami bersyukur pula diberikan situasi yang memungkinkan kami beribadah secara lengkap di Tanah Haram bersama-sama ; berjalan menuju masjid bersama, bertawaf bersama, berdoa berderai airmata berdampingan di multazam, duduk kelelahan bersama ketika sa’i, ber i’tikaf menunggu terbitnya matahari bersama, berlomba-lomba dalam memperbanyak tilawah quran dan berbagai hal romantis lainnya. Pernah suatu ketika pada titik bacaan quran kami, kami berhenti di satu ayat yang sama secara tidak sengaja… Subhanallah, Ayat tentang ketaqwaan di juz 20.

Sungguh dalam proses-proses yang kami jalani ini membuka pemahaman di antara kami menjadi semakin dalam. Bagaimana tidak, karena berkahnya masjidil haram ini ternyata bisa mengalunkan irama jiwa kami dalam satu gerakan. Ini seperti ‘menari-nari indah’ bersinergi satu sama lain dengan sangat teraturnya. Jiwa kami seakan menikmati kebersamaan ini sebagai satu jiwa. Mungkin inilah ‘tari salsa‘ ala Baitullah yang iramanya mengalun nyaman, yang mengilhamkan berbagai cara mengungkapkan kasih sayang disela padat-padatnya ibadah mahdoh kami. Inilah yang membuat semua menjadi ringan, walau ada waktu-waktu tertentu kami terpisah di masjidil haram, namun seakan menyatu, sehingga Allah membantu kami untuk dapat saling bertemu di tengah2 jutaan orang yang beribadah di masjidil haram saat itu. Subhanallah, semakin yakin aku, pesantren Ka’bah ini memang untuk menyatukan jiwa-jiwa kaum muslimin.

Perpisahan Sementara

Hari-hari indah itu akhirnya mencapai akhir. Pukul 3 dini hari, aku bersama istriku mengungkapkan salam perpisahan sementara dengan Baitullah yang penuh rahmat ini. Dengan tawaf dan doa harap-harap cemas, dengan semua yang telah kami lakukan ini, apakah telah membuat ridho Penguasa Jagad Raya? Sementara itu di dada semakin memuncak kepedihan perpisahan,

ya Robbi, hanya inilah yang dapat kami usahakan untuk mendekati-MU, maafkan jika terselip kelalaian di sana-sini, maafkan jika fisik kami yang kadangkala terbatuk-batuk dan ringkih ini tidak dapat menyempurnakan persembahan ibadah kami padamu…

ya Allah, seginilah kami.. sekecil inilah kami… hanya Engkaulah yang Maha pemberi derajat ketinggian. Semoga kami termasuk golongan orang-orang yang mencintaimu dengan segenap jiwa raga kami, dan dengan itu Engkau menjadi cinta pula pada kami. Amin.

Pelan langkah kami meninggalkan masjidil haram. Sesekali menengok melihat Ka’bah yang dimuliakan, seraya berharap, semoga diberi kesempatan untuk kembali lagi… Insya Allah, Insya Allah..

(bersambung)

Galeri foto bisa di lihat di TuanSUFI Galery Picasa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: