• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 314,466 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Pesantren Mina (Seri 5 dari 10)

Sesungguhnya Mina ini seperti Rahim, ketika terjadi kehamilan, daerah ini diluaskan Allah SWT, maka semestinya kita tidak perlu khawatir tidak mendapat tempat di mina (Hadits)

Perjalanan selanjutnya setelah mereguk ketentraman padang Arafah yang panas dan beristirahat malam di Muzdalifah adalah kembali ke perkemahan Mina. Beberapa saat sebelum shubuh di hari tasyrik pertama idul qurban, kami melontar jumroh terlebih dahulu di area jamarat Aqabah untuk kemudian kami bertahallul awwal, membuka status ihram kami. Setelah itu, pesantren kolosal Mina resmi dibuka. Rupanya obsesi ketakjubanku terhadap hadits di atas, terwujud dalam salah satu mimpiku ketika Mabid di Mina ini, satu jam setelah tengah malam, antara sadar dan tidak sadar aku merasakan tenda kami ini beserta seluruh yang ada di dalamnya berdenyut seperti hidup. Aku seperti merasakan ‘hidup’nya makhluk Allah bernama Mina ini. Ketika kesadaranku kembali penuh, segeralah aku mengambil wudhu dan tersungkur bersyukur. Pengalaman spiritual yang kualami ini, bagiku adalah untuk penguat semangat ibadahku di tanah suci ini. Tidaklah perlu dijadikan suatu pertanda apalagi pedoman bagi sahabat, karena bisa jadi pengalaman spiritual tersebut akan berbeda satu sama lain. Yang penting semua itu bisa jadi pemicu untuk menjadi hamba dan khalifah yang lebih baik lagi.

Introspeksi Sifat Bangsaku

Menurutku, di tempat inilah sebagian besar pendidikan Allah melalui ibadah haji disampaikan. Sensasi tinggal di tenda besar, berbagi kasur dan tempat shalat serta berbagai kemurahan Allah dalam bentuk ‘sedekah’ kepada hamba-NYA kami rasakan. Begitu pula nikmatnya mengantri untuk menggunakan toilet dan mendapatkan makan. Oleh sebab itulah tekad kami berdua semenjak awal haji, adalah terus tinggal di Mina walau apa pun yang terjadi. Meski apartemen kami dapat dijangkau dalam waktu singkat sekalipun, tidak usahlah berfikir untuk kembali ke sana. Di tempat ini juga, semua hal yang tadinya mudah diakses dengan kekuasaan maupun kelapangan yang ada pada kita, menjadi sedikit tertunda karena harus berbagi dengan orang lain. Semua hal kebutuhan kita memang sama sekali tidak berkurang, bahkan berlebih, hanya saja dalam mendapatkannya kita harus mengedepankan sifat sabar sedikit saja. Nah, sahabat karena saat itu kami dikelompokkan berdasarkan bangsa-bangsa, maka pada kesempatan besar di Mina ini aku seperti dipertontonkan parade akhlaq dan sifat-sifat dasar kita semua orang Indonesia. Jadilah mabid di Mina ini membawa pula kesempatan berintrospeksi diri. Bukan untuk menjelek-jelekkan, tapi hanya untuk meningkatkan kualitas diri kita. Inilah akhlaq buruk yang harus segera diubah setelah keluar dari pesantren Mina ini sebagai salah satu bentuk kemabruran haji-haji kita. Tiga besar diantaranya adalah :

Yang pertama, sifat bangsa kita ini adalah rakus dan serakah sehingga sering berlebih-lebihan, namun di luar kemampuannya untuk menghabiskan apa yang diambilnya, entah apa yang ada di dalam benaknya, aku melihat dengan jelas seseorang mengambil makanan berlebih-lebihan, lalu setelah itu tidak sedikit pun disentuhnya oleh perutnya yang ternyata tidak lapar. Ketika seorang lainnya bertanya, dia menjawab enteng, ‘kan saya sudah bayar mahal, jadi jatah makan saya harus tetap diambil dong…‘ astaghfirullah.. astaghfirullah…

Yang kedua, sifat bangsa kita ini tidak sabaran. Sehingga sering tidak mau antri dan membuat kekacauan dalam suatu antrian. Hebatnya lagi begitu ditegur, beliau-beliau inilah yang lebih marah dari kita sambil berbusa-busa mengemukakan betapa pentingnya dirinya itu untuk duluan daripada yang lain. Masya Allah… Aku berlindung kepada Allah dari yg demikian itu.

Yang ketiga, sifat bangsa kita ini kurang menjaga kebersihan dan kerapihan. Betapa tenda dan lorong-lorong jalanan itu penuh sampah bertebaran, walaupun tempat sampah pun bisa ditemukan dimana-mana. Kesadaran akhlak menjaga kebersihan rupanya baru sampai taraf membebankan tanggungjawab tersebut kepada petugas2 kebersihan yang ada, bukan dimulai dari dirinya. Pikiran2 seperti ‘kan ada yang bersihin nanti’ itu seperti bakteri2 jahat yang menguasai benak saudara2 kita tersebut. Padahal dengan begitu kan yang terganggu adalah kita sendiri saat sampah menumpuk dimana-mana. Jika setiap orang membuang sampah pada tempatnya, Insya Allah kenyamanan dan -tentu saja- kesehatan kita semua terjaga dengan baik. Kadang ketika aku melewati maktab negara sahabat Malaysia yang berada di samping maktab kita, aku suka miris, karena sangat kontras sekali bedanya. Lorong2 maktab kita kotor dan becek banyak sampah, sementara tetangga kita bersih dan kering.

Nah, menurutku kesemua itu karena kebanyakan kita rupanya lebih mengedepankan egoisme pribadi dibandingkan orang lain. Kita juga melupakan sabar dan rasa malu kita kepada Allah karena dalam pengawasan-NYA di tanah suci ini saja, masih menunjukkan ketidakmampuan kita mengendalikan hawa nafsu pribadi. Situasi ini adalah potret kita semua rakyat Indonesia. Mungkin dalam manasik sebelum berangkat haji, perlu ditambah pula pelajaran akhlaq2 Islam paling dasar yang mungkin saja sudah terlupakan atau tertutup oleh kebiasaan-kebiasaan buruk selama ini. Sekedar mengingatkan saja, agar haji kita semua semakin meningkat kualitasnya tanpa dihiasi dengan akhlaq2 kotor tersebut dalam pelaksanaannya. 

Pesan Ukhuwah di Mina

Selanjutnya, di Mina ini pun adalah tempat mendidik disiplin dalam diam, untuk menghadapi persiapan besar disiplin dalam bergerak. Mina akan menyerap ego-ego pribadi agar bisa lebur dalam ego jamaah yang bergerak lebih dinamis sehingga membawa keselamatan di jamarat (tempat melempar jumroh). Aku mendapat kesadaran bahwa kegagalan jamaah haji kita dalam menyatukan ego2 pribadi ke ego jamaah di Minalah yang menyebabkan kecelakaan-kecelakaan fatal di jamarat. Ego perorangan atau sekelompok kecil orang akan membawa tabrakan antara jamaah yang ingin melempar dengan jamaah yang sudah melempar. Ketidakmambruran di Mina akan mengundang sepasukan malaikat maut berputar-putar di jamarat. Innalillahi.. Jika ditarik ke situasi dunia Islam sekarang ini, ikatan ‘ego jamaah kaum muslimin’ – atau boleh kita sebut ‘ukhuwah islamiyah’ – masih sering dikalahkan oleh ego-ego sekelompok kecil (asshobiyah). Kita masih sering lebih mengedepankan kepentingan2 kita pribadi dan kurang suka berkorban untuk menjadi tiang-tiang atau elemen2 kecil yang menunjang satu sama lain bangunan Islam kita. Kita semua inginnya menjadi pemimpin dan cenderung merasa superior dibandingkan saudara2 kita yang lain. Pesantren Mina membawa pesan seperti yang pernah dinyatakan oleh nabi SAW tercinta, ‘Kaum muslimin itu seperti satu tubuh..’

Mudah2an suatu saat dalam kehidupanku ini aku bisa melihat musyawarah besar kaum muslimin yang sudah memiliki kesadaran yang terbentuk dari pesantren Mina ini. Sehingga aku bisa menyaksikan proses terjadinya peradaban Muslim yang pernah terbentuk beberapa ratus tahun yang lalu untuk kembali berdiri megah menebarkan rahmat bagi seluruh alam.

Antara doa dan Nafsu di jamarat

Selama mabid di Mina, di setiap hari tasyrik idul adha, kami punya kewajiban melempar jumroh. Karena ramainya suasana, umumnya kami berkelompok besar untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Pemimpin-pemimpin kelompok membawa bendera-bendera yang beraneka warna, bersama jamaahnya berjalan beriringan 3-4 orang per baris menuju jamarat menempuh jarak sekitar 2 kilometer. Hal ini menjadi pemandangan menarik seperti di film-film silat cina. Mereka2 ini seperti sekelompok pendekar2 dari perguruan silat yang mendatangi pertemuan para pendekar. Bedanya dengan kami, setiap kelompok umumnya berzikir bersama selama perjalanan, mengumandangkan kalimat-kalimat toyyibah dan didominasi pakaian putih-putih.

Nah, mendekati jamarat, umumnya ada perasaan menggebu-gebu untuk segera melempar jamarat dengan 7 batu yang sudah kita siapkan. Nafas kok tiba-tiba jadi memburu, lalu kecepatan jalan kita semakin cepat. Rasanya ingin segera melempar syetan2 yang disimbolisasi oleh tiang jamarat yang kini berbentuk elips besar tersebut. Saat kuperhatikan, perasaan yang sama sepertinya menghinggapi hampir semua jamaah haji di jamarat. Mereka yang awalnya berjalan santai, begitu mulai mendekati jamarat berubah menjadi lebih cepat. Inilah yang kusebut dengan ‘nafsu jamarat’. saat itulah kebanyakan kita semua seperti tidak sabar lagi ingin melempar dan melabrak lurus saja dari ujung jamarat terdekat dan akhirnya bertabrakan dengan saudara-saudara kita yang baru selesai melempar. Nah, sebetulnya kita perlu menahan nafsu tersebut karena kita bisa lebih sabar sedikit untuk memutar ke sisi selanjutnya dari jamarat yang biasanya justru tidak terlalu banyak kelompok orang di sana. Toh ‘syetannya’ tidak kemana-mana, lalu untuk apa terburu-buru… 😉

Kemudian, ada ritual yang suka terlewatkan yaitu berdoa setelah melempar. Nabi mencontohkan untuk berjalan sekitar 10 meter dari lokasi jamarat lalu berhenti sejenak menghadap kiblat dan memanjatkan doa. Dengan situasi yang padat, kami berijtihad untuk mencari tempat yang lowong untuk berhenti sejenak melakukan doa tersebut. Ritual ini sangat penting, dan sepertinya terlupakan tidak ditulis di buku pedoman haji yang kami dapatkan. Hanya doa setelah jamarat yang ketiga saja (Aqabah) ada tuntunannya. Semoga ini bisa digaris bawahi bagi sahabat2 yang kelak berangkat ke tanah suci.

Pasukan pembersih dari langit

Di hari kedua mabid, dimana sebagian dari saudara2 kami mengambil nafar awwal untuk meninggalkan Mina, dan sebagian yang lain (termasuk aku dan istriku) tetap bertahan satu malam lagi untuk mengambil nafar tsani di keesokan harinya, tiba2 saja aku merasakan angin dingin sekali. Kukira badanku mulai jatuh sakit, ternyata dalam hitungan menit turun hujan deras. Keadaan tanah yang berbatu, dalam hujan yang cuma 10 menit itu menghasilkan aliran air yang cukup besar yang membawa material sampah2 yang berserakan di sepanjang jalan raya. Sungguh alhamdulillah, di maktab kami, air bah tersebut hanya mengalir di jalan utama pintu masuk saja, tidak masuk ke lorong-lorong tenda kami, sehingga air tidak masuk ke dalam tenda dan membasahi kasur2 kami. Hal yang sama kemudian terjadi pula di hari ketiga di Mina, namun dengan intensitas yang lebih dahsyat dan lebih lama. Hujan air disertai dengan es batu yang berjatuhan, membawa sampah-sampah di jalanan ke satu titik, membersihkan sekaligus menghilangkan bau yang tidak sedap dari sampah-sampah tersebut.

Menurut para petugas Maktab tempat kami tinggal, peristiwa hujan yang membersihkan ini hampir terjadi tiap tahun di hari-hari terakhir di Mina. Inilah salah satu karunia Allah bagi negeri yang diberkahi Makkah al MUkarramah, dan juga campur tangan langsung Allah dalam melaksanakan perjamuan bagi tamu-tamu Allah di Mina. Sesuatu yang harus disyukuri, harus dipahami sebagai pelajaran spiritual yang luar biasa.

Aya-aya waé (Ada-ada saja)

Bagian ini adalah catatan-catatan tidak terlupakan di pesantren Mina.

Ada yang berkelahi di maktab

Entah apa yang terjadi, di pagi menjelang siang dua jamaah berpakaian ihram berbaku hantam. Sementara syetan tertawa-tawa kegirangan, malaikat mengurut dada sambil geleng-geleng kepala. Dua jamaah ini melanggar larangan ihram disadari atau tidak, namun emosi amarahlah yang berkuasa saat itu, sehingga akal sehat mereka hilang. Setelah bertanya-tanya, ternyata urusannya cuma tidak terima karena dinasehati orang lain. Yah, sahabat, parade rasa lelah dan sesak, merasa sudah membayar mahal dan  jauh dari kemewahan di negerinya bisa membuat orang kemasukan syetan. Justru itulah yang harus di lawan, jika seseorang sudah berusaha ‘memberi’, lebih baik ya ditinggalkan saja atau tidak dilayani. Kontak fisik di Arab bisa kena hukum qisas, serahkan saja pada mekanisme hukum. Aku pun sempat mengalami saat menegur seorang bapak yang tidak mau antri. Saat suaranya mulai meninggi dan menantang-nantang, aku coba bertahan untuk tidak menjawabnya, karena berdebat saja dilarang, apalagi lebih dari itu. Yang penting sudah mengingatkan, setelah itu ku serahkan saja pada Allah, jazakallah (semoga Allah membalasnya).

Musyawarah ‘Ahli hisap’

Nah yang ini juga nafsu adiktif yang harusnya juga dilawan. Sekumpulan ‘ahli hisap’ yang baik, umumnya berkumpul di satu tempat untuk menyalurkan hajatnya tersebut. Sementara mereka yang egois, berlaku semena-mena di sembarang tempat membagikan asap tembakau yang mengganggu orang di sekitarnya tanpa peduli sedikit pun. Bahkan ada yang melakukannya di dalam tenda !. Kontroversi hukum merokok mestinya dilihat dari statemen yang selalu ada di bungkus rokok yaitu membahayakan kesehatan, baik dirinya atau pun di sekitarnya. Apalagi Nabi SAW pernah menjelaskan bahwa, segala hal yang membawa mudharat pada diri sendiri atau bahkan orang lain adalah salah satu bentuk kedzoliman. Maka, sahabat, peryataanku ini pernah kusampaikan pada saudara2ku jamaah haji bahwa cobalah bulatkan tekad untuk meninggalkannya paling tidak selama berihram saja. Bagaimana status itu bisa sempurna kalau kita ‘istiqomah’ melakukan kedzaliman walau itu terhadap diri sendiri. Malu lah sedikit kepada Allah, dan kuasai keinginan tidak tertahankan di kepala itu dengan keimanan dan kehati-hatian. Untuk yang masih ragu-ragu, ada kok yang berhasil dan bahkan berhenti merokok sama sekali setelah haji. Menurut pengalaman beliau-beliau ini, jika pun keinginan merokok tak tertahankan lagi, mereka segera berdoa di tempat2 makbul untuk meminta pertolongan Allah membantu mengurangi keinginan2 tersebut. Insya Allah, dengan keyakinan kuat, doa-doa itu dikabulkan. Dan ingat pula, bahwa pemerintah Arab Saudi sudah membuat peraturan larangan merokok di tempat2 umum. Di airport jeddah misalnya, jika ketahuan akan kena denda 200 riyal.

Dasar orang Melayu

Suatu pagi menjelang dzuhur saudaraku bercerita apa yang ia temui saat jalan pagi-pagi tadi. Ia melihat2 perkemahan orang-orang timur tengah yang berada di bukit-bukit Mina di luar maktab-maktab yang sudah disediakan. Saudara2 kita tersebut dalam mabid di mina ini membawa perbekalan daging2 kambing/sapi dan dimasak langsung dengan kaleng2 kotak besar setiap harinya. Mereka membawa kompor-kompor sederhana lalu setelah matang dimakan bersama dengan roti-roti besar yang mereka sediakan pula. Hari ini mereka memasak sup kambing. Saudaraku ini, ditawarkan untuk mencicipi, dan tentu saja dengan senang hati mencoba masakan mereka. Sebagai orang timur yang sopan, saudaraku itu ambil secukupnya. Tak lama kemudian ternyata datang beberapa orang Melayu negara tetangga kita juga ingin mencicipi, dan tentu saja saudara kita dari Arab dengan senang hati memberikan. Eeh.. yang tidak disangka dan diduga adalah, si Melayu ini keliatannya keenakan, dia minta daging lagi untuk istrinya dan untuk teman2nya yang lain di maktab. He he he.. kemaruk juga dia. Lupa apa kalau kita ini sudah punya jatah makanan sendiri di maktab yang berlimpah. Lupa kali, bahwa saudara2 arab kita ini harus ke sana ke sini memanggul bahan makanannya, harus memotong2nya, harus memasaknya dengan susah payah sambil terus melaksanakan kewajiiban2 hajinya. Itulah sahabat, satu lagi pentingnya menahan keinginan diri lagi. Memang tidak ada kata2 menolak dari saudara kita dari Arab tadi, tapi cobalah kita menyadari, dengan nikmat kemudahan yang sudah ada saja pada kita, kita masih saja meminta2 kenikmatan orang lain… think.. think.. brother.

Lempar ketokan sembunyi badan di toilet

Kalau kisah ini terjadi ketika aku mengantri di toilet. Untuk menyiasati antrian, biasanya aku akan datang ke toilet pada waktu-waktu orang-orang mengantri makan. Insya Allah toilet akan sepi. Namun karena kebutuhan ini sudah mendesak, aku datang di waktu yang masih cukup ramai. Singkatnya, dalam beberapa menit mengantri aku sudah ada di depan pintu. Bapak yang dibelakangku ini nampaknya tidak sabaran sama sekali. Begitu kiri kanan toilet kami sudah keluar masuk orang bergantian, ketidaksabarannya memuncak. Segera saja di mengetok-ngetok pintu toilet persis di depanku itu. Lama-lama semakin keras. Aku sempat bilang, ‘sudahlah pak, tunggu aja sebentar,’ tapi bapak itu tetap saja berusaha mengetuk2. Akhirnya pintu itu terbuka juga, bapak yang di dalam toilet langsung melotot dan mendampratku, orang yang berdiri tepat di depan pintu toilet tersebut. He he he.. inilah pepatah baru oleh2 dari Mina, ‘Lempar ketokan, sembunyi badan’. Anyway, aku sendiri ngga apa-apa, hitung2 dapat rezeki sabar karena dimarahi orang. Yang penting toilet itu sekarang jatahku…

Pramuka pemberi makanan di Mina

Di tabloid lokal Arab yang diperuntukkan bagi jamaah haji yang sudah ditranslasi ke bahasa Indonesia (melayual-nadwah.com) disebutkan bahwa pelayanan terhadap jamaah diperkuat juga oleh para pramuka. Hal ini baru terlihat jelas saat kami di Mina dan di Arafah. Anak-anak usia SMP, menjadi pasukan pembersih, pembagi makanan dan minuman dengan semangatnya melayani kami di sana. Sesekali mereka juga berlari-larian bercanda, saat membawa gerobak-gerobak berisi makanan dari dapur untuk mengisi pusat-pusat pembagian makanan, sambil teriak2, awas.. awas.. panas… hajji hajji tarik.. minggir. Mereka berkerja gembira ria tak kenal lelah gaya ABG-ABG Arab. Nah, lucunya, kadang karena mungkin berbeda budaya dengan kita yang penuh norma2 ini, saat mereka kontak langsung dengan jamaah Indonesia sering juga membuat kesal para orang2 tua kita. Mereka membagi makanan dengan asal dan sedikit tidak acuh. Kadang cuma satu sendok saja dan sangat sedikit lalu kita diusir untuk jalan terus. Seseorang jamaah bersungut-sungut curhat denganku, “Kalau di Indonesia sudah saya tampar anak yg kurang sopan itu, untunglah disini saya masih sadar bahwa saya sedang berihram.” Sabar…, sabar pak.

Tapi terus terang mereka inilah yang membuat tempat mabid kita di Mina menjadi nyaman. Sebagian dari mereka juga menyapu dan membersihkan sampah, mengisi penampungan2 air panas untuk membuat teh dan kopi sekaligus mendistribusikan jus-jus dalam kotak di kulkas-kulkas yang tersebar hampir di setiap pojok maktab. Dengan tidak mengingat-ingat perbedaan budaya dalam berkomunikasi, aku memberikan penghargaan tinggi pada anak-anak yang mau bekerja keras melayani kami semua itu..

Kegembiraan saudara yang sakit

Di dalam rombongan kami, ada seorang bapak yang sedang menderita sakit stroke.  Walaupun terjadi beberapa bulan sebelum haji, namun bapak ini belum sepenuhnya pulih. Jalan masih sulit, pakai sandal pun masih perlu dibantu. Tongkatnya menjadi andalan saat beliau ini harus terpisah dengan istrinya di Mina yang berada di bagian tenda wanita. Jadilah kami berganti-ganti menemaninya jika beliau butuh pertolongan. Dalam beberapa waktu awal di Mina sempat tekanan darahnya naik tinggi di atas normal, dokter kami bahkan sudah menghubungi rumah sakit dan dalam beberapa menit saja petugas sudah ada di depan tenda untuk membawanya. Satu malam beliau diperiksa intensif di rumah sakit dan keesokan paginya beliau sudah bersama-sama kita kembali.

Nah alhamdulillah, menjelang akhir waktu mabid, kesehatan bapak ini terus meningkat pesat. Pak dokter kami yang rutin mengecek keadaan darah beliau setiap harinya bersyukur berkali-kali melihat keadaan menggembirakan ini. Dan bapak itu kelihatan tertawa-tawa senang cukup lama di tengah-tengah kami. Aku sempat berkaca-kaca melihatnya, kegembiraan beliau ini ternyata membawa teladan semangat amat besar sekali bagiku. Betapa tidak, seorang dengan kondisi serba terbatas, tetap menyambut panggilan Allah berhaji yang membutuhkan kesiapan fisik mental sangat tinggi. Dengan cara jalannya yang lambat dan terpincang-pincang, dan tekanan darah yang turun naik, satu persatu fardhu dan wajib haji berhasil dilaluinya. Masya Allah, jika beliau merasa sakit, tidak kulihat sedikit pun keluhan darinya, beliau hanya diam berbaring dan mencoba beristirahat. Jadi, kegembiraan beliau ini adalah energi dari langit yang telah meringankan keadaan fisiknya, sekaligus membawa dorongan bagi kami-kami yang sehat untuk terus berbuat maksimal. merci beaucup, monsieur Tarmizi..

Makan kambing Arab di Apartemen

Kalau ini bukanlah ritual haji lagi. Ini adalah tradisi syukuran kami setelah melewati aktivitas haji di Arafah dan Mina. Sebagian besar fardhu dan wajib haji alhamdulillah sudah dilaksanakan. Pak Ustadz Rusli Hasbi bisik-bisik untuk mempersiapkan acara makan-makan ini menjelang mabid mina berakhir. Nah, sekembalinya kami ke apartemen, kami semua makan-makan ala Arab. Menunya nasi briyani dengan daging kambing dan ayam di atasnya. Satu tampah untuk delapan orang, segitu pun ternyata tetap saja sudah berlebihan untuk perut-perut Indonesia ini. Ketika bertanya dengan orang Arab yang bekerja di apartemen, untuk mereka satu tampah nasi itu ternyata untuk 4 orang !

Begitulah sahabat, pengalaman kami di Mina. Semoga Allah meridhoi.

(Bersambung)

Galeri foto bisa di lihat di TuanSUFI Galery Picasa

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: