• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 345,903 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Hari-hari Menjelang Hari Arafah 1431 Hijriah (Seri 3 dari 10)

Selain beratnya perpisahan dengan keluarga, haji tahun ini diwarnai dengan pedihnya bencana alam di negeri kami. Keberangkatan di awal November 2010 ini bertepatan dengan riuhnya letusan abu dan tanda-tanda final gunung merapi untuk memuntahkan isi perutnya. Lambatnya pernyataan status aman atas debu vulkanik oleh pengelola bandara internasional Soekarno Hatta Jakarta, membuat para perusahaan penerbangan lebih melihat pernyataan otoritas Australia yang paranoid seperti Amerika yang menyatakan status bahaya yang sudah di-hearing lebih dahulu secara ‘prematur’ hanya karena jatuhnya bagian2 mesin pesawat milik mereka yaitu Qantas yang menimpa rakyat kita juga. Mereka mencari kambing hitam atas buruknya perawatan mesin terbang mereka itu dengan alasan kemasukan abu vulkanik. Nah, Hal ini berimbas kepada jadwal penerbangan yang kacau hingga 4 hari yang membuat ribuan tamu Allah terpaksa tertunda keberangkatannya ke tanah suci sampai 3-4 hari. Padahal mereka ini dikejar dengan batas ditutupnya bandara intenasional King Abdul Aziz Jeddah tanggal 12 November 2010. Sungguh, kalau aku mengedepankan su’udzon, negara kapitalis Australia ini memang gemar menyusahkan atau menyudutkan umat Islam dengan memanfaatkan lambatnya birokrasi negara kita. Ini perlulah digaris bawahi, bagi pemimpin2 umat Islam yang berada di pemerintahan mestinya lain kali bisa cepat bertindak memberi jaminan keamanan ; ini kan tak lain dan tak bukan melindungi kepentingan ummatnya sendiri tanpa dilangkahi sama negara lain mana pun. Tapi aku berusaha berbaik sangka aja deh, bahwa skenario ini adalah sudah benar memang harus seperti itu, sebagai kenyataan karena lemahnya situasi kami manusia, yang hanya mampu merencanakan, tetapi Kehendak Tuhanlah yang menentukan semuanya.

Alhamdulillah, pada hari keberangkatan, rombongan kami hanya mengalami penundaan 3 jam saja. Perjalanan menggunakan Emirates, transit di dubai setelah 8 jam terbang dan menunggu sekitar 2 jam dari rencana untuk kemudian terbang selama 2 jam lagi menuju Jeddah. Di Dubai inilah aku dan istriku berganti pakaian Ihram sebagai jaga-jaga atas keputusan kontroversi miqat di Bandara Jeddah dengan alasan darurat. Sebab dalam hadits manapun yang menjelaskan mengenai miqat, tidak kutemukan adanya miqat makkani di Jeddah. Nah, menurut keyakinanku, maka sesuai dengan ijtihad ulama pula, bahwa miqat yang diambil dalam perjalanan menggunakan pesawat terbang adalah wilayah Yalamlam, yaitu miqat bagi jamaah yang datang dari Yaman dan Asia. Yaitu, sekitar 30 menit sebelum pesawat mendarat di King Abdul Aziz Jeddah, yang biasanya diumumkan oleh pilot dan tervisualisasi di GPS LCD di depan tempat duduk kita. Disinilah niat umroh dicanangkan, menanggalkan status keduniaan, menerima konsekuensi aturan ketat untuk dapat membuka frekuensi Ilhahiyyah menjadi tamu-tamu-NYA.

6 hari menjelang hari Arafah ; Ahlan Wa sahlan di Tanah Suci

Setelah mendarat di Jeddah, kami kemudian mengalami step demi step pemeriksaan imigrasi. Alhamdulillah, karena masih ba’da shubuh hari semuanya bisa berjalan tidak terlalu lama. Formulir kedatangan diisi dan disetorkan ke loket, sidik jari kami di pindai, sebagian diambil fotonya lagi, kemudian pasport kami diberi stempel-stempel administratif untuk keperluan transportasi darat selama di tanah suci, kurang lebih 4 counter yang harus kami hadapi untuk memberikan sobekan-sobekan buku coklat administrasi haji dan semuanya memakan waktu sekitar 1 jam. Selesai mengumpulkan tas-tas dan pasport kepada travel secara kolektif, kemudian kami menunggu giliran keberangkatan darat lagi di ruang tunggu bandara Jeddah sekitar 4 jam, beberapa anggota rombongan berganti ihram di sini, sedang aku mengambil kesempatan untuk mandi menyegarkan diri.

Setelah makan pagi, tibalah giliran rombongan kami diberangkatkan ke Makkah menggunakan bus. Perjalanan sekitar dua setengah jam dan setiap bus dikonfirmasi data jamaahnya, sekaligus mendapatkan pembagian makanan kecil serta air zamzam di tempat yang bernama checkpoint yang letaknya sekitar 15km dipinggir kota Makkah. Rupanya pemerintah Arab saudi mengkoordinir sumbangan para dermawan di tempat ini. Belum habis kue-kue tersebut, kami berhenti lagi di bangunan milik Muassasah pelayan maktab 100, tempat kami tinggal selama haji kelak. Disana kami kembali disuguhi teh, kopi dan makanan kecil lainnya, serta kami dibagikan gelang tanda pengenal maktab dan id card-nya. Setelah itu menjelang Ashar barulah kami diantar ke apartemen yang terletak di dekat jabal Nur – Gua Hira, ditempat yang bernama Ghasala. Masih di wilayah tanah suci, sekitar 7km dari Masjidil Haram.

Setelah mendapatkan kamar masing2, dan merapikan barang-barang kami dalam status ihram, sekitar pukul 20.00, kami berangkat ke masjidil haram menggunakan bus untuk melakukan Umroh sekaligus Thawaf Qudum di dalamnya, yaitu thawaf penghormatan ketika kita masuk masjidil haram pertama kali. Sekitar pukul 21 kami memulai thawaf, situasi masjidil haram cukup padat sehingga kami baru bisa memulai sa’i 10 menit setelah tengah malam setelah berdoa panjang di Multazam bersama istri. Alhamdulillah sekitar 01.30 kami bertahallul dan bersiap pulang kembali ke apartemen dengan jemputan di depan Masjid kucing. Perjumpaan lagi dengan Ka’bah menggedor hati kami. Tempat ini selalu saja membawa kesan mendalam setiap melihat dan berada di sekitarnya. Kelelahan perjalanan panjang pesawat tidak dirasa lagi, sebagaimana aliran air mata yang sulit terbendung. Setiap putaran penuh dzikir, doa dan harapan. Pada setiap rukun-rukunnya terlewati, seakan semakin dekat dengan pintu raksasa yang semakin terbuka lebar di dalam pikiranku. Setelah itu di pelataran ruang maha megah itu, tak kuat lagi kami tegak berdiri, shalat sunnah ba’da thawaf di Multazam yang sangat sibuk, seakan shalat komunikasi sendirian dengan Sang Penguasa matahari. Sujudnya seakan2 tertahan dengan kerinduan memuncak, yang membuat berat sekali untuk bangun dan berpisah dengan-NYA…  

5 hari menjelang hari Arafah ; Parade Kepatuhan Kolosal

Setelah istirahat malam dan shalat shubuh berjamaah di Musalla apartemen, sekitar pukul 9 pagi, kami berangkat lagi ke Masjidil haram dengan bus. Niatku bersama istri adalah beri’tikaf seharian di sana untuk memulai program tilawah, dzikir dan doa intensif kami. Masuk lewat pintu King Abdul Aziz, persis di depan gedung bigband jam raksasa bertuliskan Allah, mengantar istri ke petak khusus wanita lalu aku menuju ke pelataran thawaf, ikut berpusar dalam gerakan harmoni alam semesta. Teringat doa-doa handai taulan, duduklah aku di sisi Multazam, shalat dan terus berdoa sampai tak terasa waktu dzuhur hampir tiba.

Sebuah adegan kolosal segera dimulai. Setiap manusia yang ada disini berkehendak sama ; ingin berdekatan dengan rumah Allah Ka’bah. Waktu2 berjamaah adalah kesempatan besar untuk disapa Allah secara langsung, maka setiap orang ingin mendapatkan tempat paling dekat dengan representasi-NYA tersebut. Tak pelak, keikhlasan bercampur dengan nafsu kekurangsabaran manusia. Mereka yang datang belakangan terkadang tetap saja tidak mau besar hati menerima untuk duduk agak jauh di belakang, sehingga rajin melangkahi pundak-pundak saudara2nya yang sudah datang duluan. Ketidakdisiplinan ini bahkan menghasilkan shaf-shaf liar yang membuat berkurangnya kekhusyu’an dengan berkurangnya area ruku’ dan sujud kita. Atau mendatangkan kesempitan shaf yang tiba-tiba terjadi karena satu dua orang bertubuh besar menyisip di kiri dan kanan kita. Untuk itulah Asykar (atau pasukan penertib Al Haram) tak henti-hentinya berteriak2 dan bertindak menghadapi kekacauan tersebut. Sungguh saudara2ku, setengah jam sebelum shalat fardhu adalah masa-masa kritis pergulatan hawa nafsu manusia. Disinilah aku sadari, bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang tidak memperhatikan saudaranya pada saat memenuhi keinginan pribadinya tersebut. Egoisme kental terasa, justru di saat2 kita beribadah seperti ini. Entah bagaimana reaksi malaikat di alamnya melihat manusia yang seperti ini.

Nah, jika saat shalat tiba, barulah masa2 keributan itu tiba-tiba berhenti. Keriuhan suara2 tiba-tiba hilang, putaran thawaf tidak kelihatan, shaf tersusun di keliling Ka’bah, semua gerakan menjadi sama, dan semua kepatuhan hanya pada aksi-aksi satu imam saja. Dalam situasi ini Allah telah membuka mataku, bahwa inilah rupanya kedisiplinan yang dulu pernah terbentuk pada zaman Nabi SAW tercinta masih hidup. Kedisiplinan yang telah menghasilkan peradaban dan kecemerlangan manusia dalam memimpin kehidupan dunia. Sinergi antara imam dan makmum seperti shalat yang JUGA BERLAKU di luar shalat. Kaum mukminin yang mempunyai niat yang sama, visi yang jauh ke depan mencapai kehidupan setelah kematian, memiliki misi keteraturan yang saling menyangga dan tidak menyakiti satu sama lain dalam kerapatan shaf, bergerak bersama sinergi. ketika ruku’ semua ruku’, ketika sujud semua sujud menunjukkan kepatuhan dan kerendahatian. Aku berharap, semoga dalam hidupku di dunia ini sempat melihat tanda-tanda ke arah itu pada ummat ini.

Memang semua yang terjadi di pelataran ka’bah ini adalah cermin, bahwa keteraturan ummat hanyanya baru pada ketika shalat saja. Apa yang terjadi sebelum dan sesudah shalat, masih terlihat kekacauan. Egoisme kita masih berkutat dalam level pribadi-pribadi saja, belum menyatu sama sekali dalam level ummat. Sehingga pergesekan justru terjadi diantara kita sendiri pada area-area muamalah bahkan area ibadah. YA robbi.. tolonglah kaum muslimin ini.

3 hari menjelang hari Arafah ; Jum’atan jutaan tamu Allah

Sejak hari keempat sebelum arafah kemarin, aku dan beberapa saudara mulai mengisi shubuh hari kami di masjid yang ada di sekitar apartemen. Kami berusaha mendawamkan untuk bersubuh dan beri’tikaf sampai matahari terbit menyambut anugerah pahala umroh dan haji yang sempurna seperti yang telah Rosul SAW nyatakan. Jarak yang lumayan jauh dari Masjidil haram ini membuat kami belum bisa setiap saat shalat fardhu di sana, mudah2an amalan yang seperti ini membawa rahmat-NYA dan menjadi penguat niat kami menghadapi aktivitas haji yang akan segera datang.

Hari ini adalah hari Jumat pertama kami di tanah suci. Saat kami tiba, radius 2 km dari Masjidil haram sudah mulai padat padahal baru pukul 8.30 pagi. Rupanya hari ini adalah hari terakhir kedatangan jamaah haji dari seluruh dunia, dan sudah dapat dipastikan, mereka semua akan langsung bergerak ke Makkah untuk melaksanakan umroh. Bus kami pun hanya bisa mencapai Masjid Al jin yang berada sekitar satu setengah kilo dari al haram. Baru sekitar pukul 9.30 pagi kami mendapat tempat di lantai 2 dan berusaha bertahan sampai waktu shalat jum’at tiba. Berdoa semoga keinginan untuk ke toilet tidak mendesak, sebab sekali kami keluar, maka akan sulit mendapatkan tempat lagi. Perkiraan jamaah yang datang ke masjidil haram ini sudah mencapai 2 sampai 3 juta orang, Inilah jumatan kolosal menjelang haji tahun ini.

Matahari menanjak perlahan2 mulai menyinari kami yang tadinya tertutup tribun masjid. Beberapa kali air zamzam di botolku jadi pelembab yang menyegarkan wajah yang mulai panas kena matahari ini. Waktu demi waktu yang diisi dengan tilawah dan dzikir membuat detik demi detik berjalan tidak terasa. Sehingga tibalah kami melaksanakan ibadah shalat jumat. Khutbahnya dibuka dengan ucapan talbiyah dan selamat datang pada tamu-tamu Allah, lalu menekankan pentingnya ukhuwah islamiyyah di antara kita dan urgensinya menjaga semangat (izzah) sebagai ummat yang mulia. Doa di khutbah yang kedua memeras air mata ketika khatib memohon pertolongan kepada Allah terhadap seluruh kaum muslimin yang tertindas, terfitnah, teraniaya di seluruh muka bumi ini.

Sungguh sahabat, setelah shalat jumat selesai pukul 12.40, kami baru bisa keluar sekitar pukul 14. Aliran manusia tidak habis-habisnya keluar masuk di masjid suci ini.

Nah, dua hari selanjutnya, atas anjuran ustadz kami, aktivitas ibadah dikonsentrasikan di masjid sekitar apartemen saja. Sebab untuk mengisi energi dalam menghadapi hari Arafah. Kami disuruh menjaga stamina dan kesehatan, karena kondisi masjidil haram sudah sangat padat, maka untuk beribadah di sana akan sangat membutuhkan energi yang tidak sedikit, dan lagi sekaligus memberi kesempatan saudara-saudara kita tamu Allah yang datang belakangan untuk melaksanakan kewajiban2 awal haji mereka. Penuhnya Alharam Bahkan diumumkan di telpon mobile kami yang menggunakan salah satu vendor komunikasi Arab saudi mobily berupa pesan pendek broadcast yang menyarankan untuk tidak ke masjidil haram.

1 hari menjelang hari Arafah ; Aliran Putih di hari tarwiyah

Ketika aku keluar apartemen untuk shalat shubuh di masjid, di sekitar kami sudah dipenuhi mobil2 minibus yang memasang tenda-tenda di pinggir-pinggir jalan atau di tanah2 kosong. Hampir di setiap masjid yang ada di sekitar wilayah jabal tsur ini ternyata mulai dikelilingi oleh tamu-tamu Allah yang akan ke Arafah esok hari. Shaf masjid hari ini sudah penuh dengan saudara-saudara mukmin yang sudah berihram kembali. Begitu pula aku dan istriku.

Ratusan tahun yang lalu, sebelum masuk ke Arafah, nabi SAW tercinta bermabid semalam di Mina. Beliau datang bersama 150ribu kaum muslimin untuk bersiap-siap menghadapi hari Arafah di Mina. Seperti juga kami hari ini, kami seperti aliran berbaju putih-putih yang bergerak dengan berkendaraan maupun berjalan kaki, menuju tenda-tenda di maktab-maktab yang disediakan berdasarkan negara-negara tempat kami berasal. Hari 8 Dzulhijjah ini, kami semua mulai menyatukan hati untuk kelak menyerahkan jiwa raga kami untuk ditempa dengan kekolosalan ibadah haji ini. Sungguh, debaran jantung kami kian meningkat, hati kami berbunga-bunga sambil berharap cemas semoga fisik dan jiwa kami bisa merasakan pendidikan Allah dalam beberapa saat ke depan. Rasa takut pun memuncak, kalau-kalau kesalahan niat kami atau pun keliaran hawa nafsu kami selama ini, menjadi penghalang terhadap frekuensi Allah tersebut. Doa talbiyah, doa-doa taubat, serta doa-doa pengharapan tak putus disampaikan agar dapat menenangkan hati kami ini.

Labbaik Allahumma labbaik..

(bersambung)

Galeri foto bisa di lihat di TuanSUFI Galery Picasa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: