• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 328,027 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Menyambut Panggilan Allah (Seri 1 dari 10)

Subhanallah wal hamdulillah, Allahu Akbar...

Kabar gembira ini disampaikan lewat kawat yang berjarak sekitar 11 ribu kilometer. Sesuatu yang menjadi tekad kami berdua ketika mulai merajut “mitsaqon gholizo” pernikahan 7 tahun yang lalu, nampaknya telah diberi jalan terang oleh Allah. Teringat ucapan Ustadz Ibdalsyah, bahwa panggilan dari langit ini tidak hanya diberikan kepada orang yang ‘hanya’ mampu secara finansial saja, tetapi ada kriteria2 lain yang biasanya kurang kita pahami, sehingga seseorang bisa dipanggil ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Sudah banyak cerita bagaimana seseorang yang kecil kemungkinan atau bahkan malah tidak mungkin menurut pandangan manusia untuk menjawab panggilan Allah ke tanah suci, ternyata mendapatkan kesempatan berangkat yang bahkan melebihi orang2 yang mampu sekalipun. Allah memberikan jalannya, terutama bagi orang-orang memang punya keinginan yang kuat menyambut Panggilan-NYA tersebut. Oleh sebab itulah sahabat2ku semua, mulai sekarang tanamkan dalam hati, kuatkan tekad untuk memenuhi panggilan dalam rangka menegakkan pilar ibadah Rukun Islam kelima yaitu Haji Ke Baitullah, Makkah Al Mukarramah. Insya Allah niat serta ikhtiar kita yang sederhana menuju niat mulia ini akan dibantu oleh Allah.

Paling tidak itulah yang terjadi pada kami sekarang ini. Dalam pandangan pribadiku, kriteria pilihan Allah untuk kami ini adalah sebentuk hadiah untuk seorang istri solehah yang berjuang keras menjaga anak-anak titipan Allah selama hampir 3 tahun sementara aku suaminya harus menunaikan amanah mencari ilmu di seberang samudera. Allah memberi anugerah sedemikian besar bagi wanita mulia ini, yang disamping terus menjaga amanah harta dan anak2 yg kutinggalkan, juga terus berkontribusi fikirannya untuk kemajuan ekonomi syariah di tempat kerjanya, sambil tidak melupakan aktivitas dakwah tiap akhir pekan. Anugerah Allah yang tiba melalui hadiah biaya haji dari kantornya, Bank Muamalat.

Itu artinya, kami diringankan Allah untuk melengkapi biaya naik haji hanya untuk seorang lagi saja yaitu diriku, karena untuk istriku sendiri sudah ditanggung oleh kantornya. Maka kemudian, tabungan haji kami berdua yg dibuka beberapa saat setelah pernikahan kami dulu itu kemudian disatukan, ditambah dengan rizki Allah di sana-sini, sehingga biaya perjalanan haji untukku dapat terpenuhi. Setelah itu kami melengkapi segala administrasi pendaftaran haji, sehingga pada akhir tahun 2009 lalu terdaftarlah kami sebagai calon jamaah haji Indonesia tahun 2010.

Perjalanan panjang menuju waktu keberangkatan haji dalam kurang lebih satu tahun ini kami coba melakukan persiapan yang sematang mungkin. Istriku yang di tanah air, maupun aku yang masih berada di bumi Perancis, mulai mengumpulkan pengetahuan yang berkaitan dengan ibadah paripurna bagi setiap muslim ini. Kami menyadari, bahwa ibadah yang wajibnya sekali saja seumur hidup ini, artinya menuntut sebuah kesempurnaan dalam setiap detil pelaksanaannya. Tanpa persiapan ilmu yang cukup, kami khawatir akan terlewatkan kesempatan2 berharga selama berada di tanah suci nanti. Dengan Ilmu yang memadai insya Allah kami bisa melakukannya dengan lebih cermat dan penuh kehati-hatian ; bukankah Makna taqwa itupun salah satunya adalah kehati-hatian ?  

Apalagi kalau kami mengingat bahwa kesemuanya ini adalah merupakan hadiah Allah bagi kesabaran kami terutama ketegaran istriku, maka sudah sepantasnyalah bagi kami, terutama diriku harus berusaha keras untuk serius mempersiapkan ilmu, fisik, mental dan kekuatan kepemimpinan yang dilandaskan niat beribadah yang sangat kuat, agar pada saatnya nanti kami bisa lurus niat, peka terhadap frekuensi Ilahiyyah, dan sebagai imam keluarga dapat mengarahkan gerakan ibadah kami sesuai dengan yag disyariatkan. Dan tentu saja yang paling utama adalah, dapat menjaring hakikat ibadah luar biasa ini sehingga selesainya nanti kami bisa mendapatkan predikat haji mabrur dan keistiqomahan mempertahankan kemabruran tersebut sampai kami menghadap Allah di akhirat nanti. Sungguh, kemabruran itu bukan karunia yang begitu saja diberikan, tetapi termasuk amalan yang harus terus diperjuangkan. Seperti juga kesholehan, seperti juga ketaqwaan…

Maka selain belajar sendiri, dalam beberapa kesempatan acara manasik haji yang diselenggarakan oleh travel Iskandaria di jakarta berusaha kami ikuti. Memang sebagian besar diikuti oleh istriku, tapi saat aku pulang untuk mengikuti konferensi internasional di Malaysia di bulan Agustus 2010, aku sempat mengikuti dua pertemuan. Hari-hari Menjelang keberangkatan pun aku masih terus kasak-kusuk menghubungi beberapa sahabat ustadz untuk mendiskusikan detil pelaksanaan haji. Selain itu dari sisi fisik, bagiku yang tinggal di Eropa yang terbiasa berjalan kaki menjadi modal yang cukup, cuma ditambah beberapa latihan ringan untuk stamina saja. Sedangkan untuk istriku, pada akhir minggu melakukan latihan berjalan beberapa kilometer. Dari segi ruhiyyah, momentum Ramadhan 1431 sangat strategis untuk dimanfaatkan. Sungguh Maha adil Allah, rupanya setting bulan suci Ramadhan sebelum bulan haji (Dzulhijjah) tiba, dapat digunakan sebagai batu loncatan peningkatan kualitas ruhhiyyah kita untuk menghadapi ibadah haji. Bulan dzulqaidahnya sendiri sebagai sarana pengendapan dan pelipatgandaan hasil-hasil tarbiyyah Ramadhan. Subhanallah. Sungguh skenario luar biasa dari langit.

Dua minggu menjelang keberangkatan tiba, aku pulang menuju tanah air. Dalam situasi masih jetlag, aku melakukan pemeriksaan kesehatan dan disuntik vaksin miningitis. Bersamaan dengan itu aku pun mengurus perubahan nama pasporku yang masih dua nama menjadi 3 nama seperti yang dipersyaratkan oleh imigrasi Arab saudi. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, semuanya selesai dalam hitungan satu – dua – tiga hari. Setelah itu aku berkunjung ke kantor travel untuk menyerahkan pasporku untuk diuruskan VISA HAJI – nya sekaligus mengambil semua perlengkapan haji seperti koper, kain ihram dan sebagainya yang termasuk dalam paket travel. Dan mulai mengintensifkan diskusi tentang haji dengan istriku dan berlatih jalan bersamanya di setiap akhir pekan.

Dua hari sebelum keberangkatan, kami mengumpulkan tetangga, kerabat dan sahabat terdekat untuk memohon doa mereka sekaligus menitipkan anak-anak dan rumah kami. Hubungan intensif kami selama hari-hari menjelang dengan mereka sungguh terasa indah. Setiap bertemu di jalan atau di masjid, mereka sungguh menunjukkan perhatian sangat hangat. Allah menjadikan hubungan ini seperti hubungan antar penghuni surga seperti yang diajarkan-NYA di Quran mulia. Dimataku, sungguh titipan2 mereka untuk disampaikan kepada Allah di tempat-tempat mustajab adalah amanah kepercayaan tidak terkira untuk kami. Sementara ucapan- ucapan menenangkan mereka untuk menjaga anak-anak kami yang masih kecil ini selama kepergian kami, sungguh berasal dari ketulusan hati mereka yang amat dalam. Begitu pula hubungan kami dengan orangtua-orangtua dan kerabat kami. Curahan doa mereka semakin jelas terasa menjadi energi ketentraman di hati kami. Nasihat-nasihat mereka menjadi penambah mantap tekad kami, bahwa sesungguhnya misi kemabruran ini bukanlah untuk kami berdua saja, tetapi untuk mereka juga ; keluarga terdekat, tetangga dan para sahabat yang telah menjadi tangan-tangan Allah yang menjaga apa-apa yang kami tinggalkan di tanah air ini.

Pada saat hari itu tiba, Zaidan menunjukkan beratnya perpisahan. Anak sulungku ini berusaha “lari” untuk tidak mengucapkan salam perpisahan sementara dengan kami, dengan seragam sekolah TK-nya, dia berkeras untuk pergi ke sekolahnya. Beberapa bisikanku untuk menegarkan hatinya belum cukup menghentikan tangisnya. Sampai mbah putri, nenek dan beberapa tetangga membujuknya. Sementara itu, belum pahamnya Maryam terhadap situasi ini cukup mengharukan kami. Matanya yang besar dan tajam menatap tak mengerti kakaknya yang menangis tersebut. Maka pelukanku segera menghujamnya dan kugendong tubuh mungil cantik itu menemui tetangga-tetangga yang sudah mulai ramai di depan rumah untuk melepas kepergian kami.

Saat itulah badai perasaan menimpa kami semua, antara tangisan anak, doa sahabat, tetangga dan kerabat. TuanSUFI sadar untuk lebih mengukuhkan hati, tegar menentramkan gejolak perasaan istri. Biar bagaimana pun selama tiga tahun terakhir ini, TuanSUFI menjadi akrab dengan badai perasaan seperti ini.

Akhirnya tibalah waktu kami untuk berangkat menuju tempat pertemuan di Masjid At tin. Seekor kupu-kupu cantik masuk ke dalam mobil kami, saat kami melambaikan tangan kami pada para tetangga. Membinarkan mata Maryam, menajamkan mata keheranan Zaidan. Sungguh hiburan yang diilhamkan Allah secara gamblang bagi kami, yang dalam sanubari secara diam-diam segera menyatakan, “Ya Allah, kami titipkan anak, keluarga dan harta kami kepadaMU untuk menjadi tamu2MU di tanah suciMU, Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baiknya penerima titipan…, sungguh kupu2 cantik yang Engkau kirimkan hari ini menjadi hiburan tak terduga yang menentramkan kami semua.”

(bersambung)

Galeri foto bisa di lihat di TuanSUFI Galery Picasa

Iklan

Satu Tanggapan

  1. carita yang menarik
    wa jadi kangen dgn suasan masjidil haram dan masjid nabawi …>.<
    Kunjungi blog ane
    http://pitaxxx.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: