• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 336,015 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Berangkat meninggalkan materi (Seri 2 dari 10)

Rupanya ada dua cara untuk meninggalkan materi (atau bahasa agamanya ‘dunia’), yang pertama ya menjalani kematian dan yang kedua ini adalah pergi haji. Untuk cara pertama, tidak boleh diusahakan :). Biar bagaimana pun jika sudah saatnya, maka dia akan datang menghampiri, yang penting selama hidup, kita persiapkan bekal menghadapi hari pertanggungjawaban kelak. Tapi untuk cara yang kedua, Insya Allah bisa dicoba. Selain merupakan cara Allah mengajari hamba-NYA untuk meninggalkan materi sementara, namun tidak sedikit pula orang berkehendak kepergian hajinya adalah kepergian yang merupakan ‘point of no return’, berharap menjemput panggilan Allah sepenuhnya utk meninggalkan dunia. Yah, sebagian pendapat ulama menyatakan, haji adalah penyempurna lengkapnya rukun Islam bagi seorang manusia, sesuatu yang lengkap adalah tanda selesai tugasnya sebagai khalifah di dunia. Seperti kisah Rosul mulia saat beliau melaksanakan hajinya, khutbah di kaki jabal rahmah membuat sahabat Abu Bakar tersedu-sedu karena mengisyaratkan selesainya tugas beliau sebagai penyampai Risalah, dan fakta kemudian beliau wafat menghadap Allah.

Haji juga adalah panggilan Allah kepada hambaNYA untuk dilatih secara langsung menyempurnakan amal-amalnya. TuanSUFI merasa setiap ritual yang dijalani merupakan suatu kesinambungan yang menempa fisik, pikiran sekaligus ruh dalam lingkungan spiritual yang sangat kental mengepung dari segala arah. Semua aspek aqidah dan ibadah mahdhoh termaktub di dalamnya. Latihan lengkap yang menguatkan fisik, akal, hati, perasaan dan sosial.

Dalam tuntunan Rosul mulia, ibadah haji dibingkai dengan dua miqad, yaitu miqad zamani (ketentuan waktu) dan miqad makkani (ketentuan tempat). Itu artinya pelajaran disiplin dalam bergerak dinamis dengan memperhatikan waktu dan tempatnya. Nilai kemuliaan ibadah ini akan didapat jika kita melaksanakan ritual2 rukun, wajib maupun sunnahnya tepat pada waktu dan akurat pada tempatnya. Tersebutlah lokasi-lokasi mulia di kota suci Makkah Al Mukarramah seperti Masjidil Haram, Masya’ir al Muqaddasah (Arafah, Muzdalifah dan Mina) disana kita akan melakukan thawaf (berputar 7 kali) & sa’i (perjalanan 7 kali antara bukit safa dan Marwa) ; pasangan ibadah yang disebut umroh, mabid (menginap), wukuf(berdiam), melempar jumrah (stoning), pada waktu-waktu yang telah ditentukan.

Itulah hari-hari padat beribadat, mulai 8 Dzulhijjah hari tarwiyah merupakan pemanasan ; mabid satu malam di Mina, lalu bergerak menuju padang arafah di 9 Dzulhijjah hari Arafah untuk wukuf pada waktu mulai tergelincir sampai tenggelamnya matahari hari itu. Kemudian, awal 10 Dzulhijjah hari Nahar diisi dengan berpindah ke Muzdalifah untuk menghabiskan malam disana, bersiap -siap melakukan pelemparan jumrah Aqabah di hari yang sama. Hari-hari tasyrik 11,12 dan 13 Dzulhijjah jamaah kembali ke Mina untuk bermabid sambil setiap harinya melempar jumrah Ula, Wustho dan aqabah, jikalau ada yang mengambil mabid dua hari saja di 11 dan 12 Dzulhijjah dibolehkan, itulah yang disebut Nabi Nafar Awwal, jika disempurnakan mabid sampai tanggal 13 Dzulhijjah, yang disebut Nafar Tsani, maka InsyaAllah semakin disempurnakan ketaqwaannya.   

Dalam waktu-waktu setelah itu jamaah haji kemudian diwajibkan melakukan thawaf ifadhoh beserta sa’i di Masjidil Haram untuk menyempurnakan semua aktivitas hajinya sehingga dia diperbolehkan melakukan tahallul tsani (melepas status ihramnya secara total karena sudah selesai), dan satu lagi kewajiban yaitu thawaf wada’ (perpisahaan) saat jamaah hendak meninggalkan kota suci Makkah Al mukarramah.

Hebatnya, kita pun secara fisik diseragamkan Allah dalam status Ihram di hari-hari dan tempat2 khusus tersebut. Jamaah haji dibatasi oleh larangan-larangan dan kewajiban2 saat status kehambaan ini. Allah menuliskannya langsung di Quran mulia (Qs 2:197) dan ditekankan lagi dalam hadits utk tidak berkata rafats (kata-kata kotor), berbuat kemaksiatan dan kedurhakaan (fusuq ; termasuk pula merusak pepohonan, berburu, menikah), berbuat yg mengakibatkan pertengkaran (jidal ; berdebat, ujub, berselisih, caci maki) dan selalu bertalbiyah (pernyataan menjawab panggilan Allah). Disinilah jamaah pun dilatih untuk apa adanya menunjukkan sisi dasar kemanusiaannya yang mungkin selama ini selalu ditutupi oleh topeng2 dan kepalsuan. Dengan pakaian dua lembar kain tanpa jahitan, tidak boleh menutup kepala, bersandal menunjukkan mata kaki, tidak boleh memakai wangi-wangian..

Sebagai ‘bonus’, Allah juga menciptakan lokasi2 utama dimana doa diijabah dan pahala dilipatgandakan sebagai penggerak emosional manusia untuk terus meredefinisi semangatnya yang umumnya tergerus oleh keterbatasan fisiknya oleh padatnya jadwal haji tersebut. Sebutlah Hajar aswad (batu hitam) dan rukun Yamani di Ka’bah yang dapat menghancurkan dosa-dosa. Lalu ada lokasi dimana doa diijabah yaitu Multazam yang berada diantara hajar aswad dan pintu ka’bah, Lalu ada Hijr Ismail, tempat dimana jika shalat didalamnya seperti shalat di dalam ka’bah. Lalu Maqom Ibrahim, sebagai tempat shalat dimana pijakan Nabi Ibrahim ketika membangun Ka’bah dan pertamakali azan dikumandangkan untuk panggilan haji oleh Ibrahim. Kemudian Sumur zamzam, air tak pernah habis yang berkhasiat menyembuhkan dan mengenyangkan ; Air terbaik di muka bumi. Masjidil haram sendiri, shalat di dalamnya berkalilipat pahala sampai seratus ribu kali.

Inilah kesempatan manusia untuk mengalami simulasi kehidupan akhirat dengan bergerak dan berdiam berkesinambungan tiada henti. Inilah penjabaran konsep-konsep dimana hubungan antara hamba dengan Pencipta-NYA sangat dekat sekali. Semua ini jika dihayati dan disikapi dengan benar, Insya Allah sesuai janjiNYA, tidak ada imbalan lain kecuali surga. Apabila pelakunya sampai wafat disana, insyaAllah akan abadi dalam kebahagiaan, dan jikalah mereka kelak kembali ke tanah airnya, InsyaAllah mengalami perubahan spiritual yang memancar dari akhlaqul karimahnya (perilaku yang baik) ; kemabruran. Untuk itulah tak henti permohonan kepada Allah dipanjatkan, semoga kami termasuk ke dalam golongan orang2 yang dapat istiqomah seperti itu.

Oleh sebab itulah, Setiap detik, setiap kesempatan harusnya dimanfaatkan untuk sebanyak mungkin melakukan komunikasi dengan Tuhan baik dengan shalat sebagai dzikrul akbar (dengan berjamaah fardhu dan perbanyak shalat sunat) atau pun dengan melipatgandakan kualitas dzikir-dzikir yang diajarkan nabi. Menit-menit untuk tilawatil Quran dan terus mendalami ilmu-ilmu keislaman dan juga kegiatan thawaf sunnah serta umroh pun harus selalu jadi prioritas. Sambil tak lupa saling tolong menolong dan memudahkan saudara-saudara kita sesama tamu Allah, serta selalu fokus terhadap aktivitas rukun, wajib dan sunnah haji. tentu saja terus memperbanyak doa kepada Allah. Hari-hari kita berada di tanah haram, mestinya tidak diselang dengan aktivitas keduniaan kecuali urusan makan dan menjaga kesehatan.

Secara pribadi, aku kurang setuju jika dalam waktu-waktu mengisi hari beribadah di Makkah sebelum melakukan thawaf perpisahan, diselang oleh kegiatan2 keluar tanah haram untuk belanja atau kegiatan keduniaan lainnya. Kecuali memang ingin melakukan umrah sehingga harus menuju miqad makkani terdekat seperti di ja’ronah atau tan’im untuk berihram kembali. Apalagi misalnya harus pergi jauh ke Jeddah untuk ‘melihat’ pusat perbelanjaan Balad atau sekedar melihat laut merah dan sepeda raksasa Bani Adam. Aku lebih setuju jika kegiatan ziarah yang dilakukan masih berada di dalam tanah haram seperti ziarah ke gua Hira di jabal Nur, gua tsur di jabal tsur atau masjid jin di dekat pekuburan Ma’la. Karena yang terpenting adalah ; Tetap ada muatan kental ibadahnya dan tidak terpisah dari tanah suci (dan tentu saja tidak mengorbankan waktu shalat berjamaah di Masjidil Haram). Maka saat itu kutetapkan sejak awal bersama istriku, apapun tawaran dari travel untuk jalan-jalan ke Jeddah saat2 kita di Makkah, tidaklah akan kami ikuti, biarlah pada kesempatan satu kali seumur hidup ini kami meninggalkan syahwat2 keduniaan seperti berjalan2 (travelling) atau apalagi belanja (shopping), mengkonsentrasikan semuanya pada orientasi akhirat, berasyik masyuk bersama Allah dan jutaan malaikat, bertangis-tangisan dalam putaran thawaf di titik nol bumi, bersujud lama di depan Baitullah, menjadi tamu-tamu yang dijamu langsung di ruang tamu Allah di bumi, mengharap jamuan penuh barokah, terharu biru, tanpa kata-kata; hanya harap, “Ya Allah, jadikan kami termasuk dalam golongan orang yang istiqomah mencintaiMU dengan segenap jiwa raga kami.., sehingga ENGKAU pun mencintai kami.”

itu saja, tidak banyak yg mampu dinyatakan, karena tiba2 pikiran dan ucapan menjadi kosong sama sekali… hening sekali…

Itulah sahabat, ringkasan perjalanan kami meninggalkan dunia. Semoga bisa memberikan gambaran mengenai ibadah rukun Islam kelima yang merupakan ibadah paripurna ; ibadah haji ke Baitullah.

(bersambung)

Galeri foto bisa di lihat di TuanSUFI Galery Picasa

Iklan

4 Tanggapan

  1. salah bukti ALLAH didunia menjanjikan tempat kembali yang indah disisiNYa pada hari nanti adalah kerinduan kita akan tempat2 yang dimuliakan dan diperintahkanNYA untuk mendatanginya di dunia… keindahannya terasa di hati walau hanya dengan kain ihram, padang pasir yang panas/dingin, debu, kelelahan, tanpa berbalut oleh penafsiran kemewahan dunia yang banyak mengecohkan… semoga ALLAH mengizinkan untuk kembali ke tempat-tempat yang dimuliakanNYA itu dan berkenan menerima kita semua para muslimin dan muslimat didunia untuk kembali ketempat yang indah di sisi ALLAH pada hari nanti…

  2. tulisan yg bagus ! semoga menjadi haji yg mabrur ! amin

    • inspired sharenya Bal….

      Idealnya adalah begitu, menyempurnakan sikap, hati jiwa & pikiran bila kt hendak bertemu Allah, terlebih di tanah suci yg Nota bene mengeluarkan materi yg tdk sedikit utk menuju ke sana, jg menanti hidayah & kesempatan yg Allah berikan…sehingga tdk ada fikiran tdk afdol bila hanya 1 kali pergi Haji (yg banyak dilakukan org Indo, utk berlomba2, berkali2 pergi ke tanah suci, hanya untuk mengafdolkan, krn merasa selalu kurang sempurna)

      semoga hidayah & kesempatan itu akan datang utk saya jg suatu hari…..
      Saat ini, (terinspirasi dari tulisan mu Bal), saya belajar sungguh2 untuk meninggalkan materi di saat saya sholat & bertemu Allah…smoga proses pembelajaran itu, mengantarkan aku ke Baitullah suatu hari nanti

      smoga telah sempurna perjalanan rukun Islammu & tercapai kemambruran mu. Amien

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: