• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 349,808 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Perjalanan Patrimoine 2010 : Tonnerre

Pendahuluan : Di setiap tahun, minggu terakhir bulan september di Perancis ada dua hari yang dikenal Journée de Patrimoine. Di hari ini, semua chateau (kastil), istana, rumah-rumah bersejarah bahkan museum dibuka gratis untuk umum. Bahasa kerennya ‘open house’. Selain kastil2 terkenal abad pertengahan yang dikelola pemerintah, kastil2 milik pribadi yang diwarisi secara turun temurun pun dibuka pula. Dengan begitu para pemilik kastil akan mendapat kucuran euro untuk pemeliharaan kastil tersebut oleh pemerintah. Nah, untuk menyambut ini, setiap region perancis punya caranya masing-masing. Contohnya region Bourgogne tempat aku tinggal ini, membuat program tarif kereta murah berlaku satu hari dan kemana saja dengan harga flat 5 euro. Tentu jika dibandingkan dengan biaya kereta express regional biasanya yang berkisar 15-30 euro, ini sangat murah.

Inilah kesempatan besar untuk bertualang dengan biaya murah di Perancis… !  Tahun pertama aku di Perancis, aku sempat jalan2 bersama teman2 ke wilayah bourgogne selatan, yaitu beaune, Chalon sur saone, Tournous, Autun dan Macon. Tahun kedua aku malah melintas lebih jauh ke timur luar wilayah Bourgogne yaitu ke region France-compte, berkunjung ke kota Besançon melihat citadelle (saat itu tidak banyak kota yang kami kunjungi, karena hari-hari tersebut bertepatan dengan hari idul fitri). Nah, tahun ketiga ini, aku berkesempatan untuk bertualang ke wilayah Bourgogne timur laut yaitu kota Tonnerre dan Auxerre. Berikut ini adalah ceritanya.

Hari 1 : Perjalanan ke Tonnerre YONNE – BOURGOGNE

Konon, Pertama kali kota ini ditemukan oleh bangsa Celtic dan Gallo-Romains, yang sedang mencari daerah untuk menjadi penyangga kekuasaan mereka. Waktu mereka datang sudah ada penduduk yang tinggal disana, karena kekayaan sumber daya alam, dengan air yang mengalir dari sumber air la Dionne Fosse, serta adanya hutan yang lebih dari cukup untuk menyangga kehidupan. Dalam cerita sejarah Romawi, kata Tonnerre yang berarti juga halilintar, berasal dari istilah castrum Tornodurum, yang berarti “Citadelle de Tornus” atau dalam bahasa kita benteng Tornus. Dari segi letak, kota ini berada di persimpangan ekonomi antara wilayah Champagne, Bourgogne dan Kerajaan Perancis (Rouyaume de France) dulu. Karena itulah maka kehidupan dan bangunan2 di Kota ini sangat dipengaruhi abad pertengahan. Salah satu yang sangat terkenal dari kota ini adalah monumen rumah sakit terbesar dan tertua di Eropa yang menceritakan jejak sejarah rumah sakit dan medis sejak abad ketiga belas hingga saat ini.

Kebetulan dalam menyambut patrimoine, kota Tonnerre membuat Les Fêtes Médiévales de Tonnerre (festival abad pertengahan). Sejak masuk centre ville (pusat kota) pertama kali, kami disuguhi suasana jalan2 abad pertengahan. Orang2 yang berkostum kesatria, dan bangsawan2 abad lalu, sampai yang berkostum karung gandum. Jalan rayanya dilapisi jerami, dan bangunan2nya didekorasi sedemikian rupa seakan kembali ke masa lalu. Kami kemudian tertarik masuk sebentar ke sebuah bangunan tua, yang ternyata adalah pasar. Namanya adalah Marché couvert. Dewan Kota tonnerre pada tahun 1902 membangun pasar ini untuk memenuhi kebutuhan penduduk, dengan membuat atap kaca supaya cukup cahaya. Pasar ini menghadap ke dua jalan yaitu rue du Collège dan rue du Grenier-à-Sel, dimana yang satu dengan arsitektur dari besi dan kaca dan yang satunya lagi arsitekturnya batu. Saat kami datangi, kegiatan pasar ini masih tetap berlangsung, kini jualan kebutuhan makanan untuk masyarakat.

Marché couvert (dari : culture.gouv.fr)

Semakin masuk ke centre ville, kami menemukan office de tourisme yang berada di pojok bangunan besar panjang sekali. Ternyata itulah bangunan L’hôpital Notre Dame des Fontenilles. Bangunan yang dirancang oleh Marguerite de Bourgogne (bellesoeur dari Louis IX), merupakan karya arsitektur peninggalan abad ketiga belas dengan hiasan kaca patri, dan balok2 penyangga besar dari kayu ek. Awalnya adalah gereja, tetapi kemudian berubah menjadi rumah sakit dengan 40 tempat tidur.

Di 1650, aula bangunan ini dikosongkan karena alasan kesehatan dan akhirnya digunakan menjadi tanah pemakaman. Lalu sebuah rumah sakit kedua dibangun disampingnya, dengan lantai batu. Selama dua abad kemudian (Abad 14-16), wabah kusta, kelaparan, dan perang agama mempengaruhi keuangan rumah sakit. Lalu untuk itu dibuatlah mekanisme sumbangan bagi orang-orang kaya dengan istilah “membeli” keselamatan mereka. Dengan begitu, dana yang terkumpul memungkinkan masyarakat miskin untuk dijamin pula dengan istilah “Paix Eternelle“. Dengan demikian, gedung ini penuh dengan harta yang diserahkan selama bertahun-tahun oleh dermawan.

Nah, semua kisah masa silam itu dapat dilihat di gedung yang kini menjadi museum rumah sakit Tonnerre. Di dalamnya dapat kita lihat peninggalan aktivitas rumah sakit tersebut. Koleksi yang terdiri dari patung, lukisan, seni2 keagamaan pada bangunan2 abad keenam belas, perabotan, perlengkapan medis, ruang perawatan (chambre de malades) abad kesembilan belas, ruang operasi (salle d’opération) abad kedua puluh, dapur rumah sakit, jendela abad ketiga belas, perhiasan kerajaan, piagam dan segel-segel yang terkait.

Museum rumah sakit Tonnerre (dari culture.gouv.fr)

Satu lagi yang tidak bisa dilewatkan dari kota ini adalah La Fosse Dionne. Ini sumber air para Vauclusienne (orang2 yang tinggal di dataran tinggi biasanya berhubungan dengan Romawi), dengan debit air yang selalu konstan, penuh kisah-kisah intrik menjadi tradisi turun menurun : legenda menyatakan bahwa ini adalah kolam renang kematian, pintu masuk ke neraka, dan kisah yang lain mengatakan bahwa tempat ini adalah Basilic tempat bersemayamnya ular dengan mata yang mematikan sebelum Saint Yohanes dari Réôme menyingkirkannya. Sumber mata air ini adalah suatu sistem perairan bawah tanah yang sangat rumit berbentuk mangkuk yang di bagian terbawahnya adalah pintu masuk ke suatu galeri masa lalu. Bagian ini adalah area yang paling sulit untuk dieksplorasi karena sempit, berputar-putar dan sangat dalam. Dalam suatu percobaan menyelam oleh penyelam profesional yang mampu mencapai jarak penyelaman 360m di lorong tersebut, setara dengan kedalaman 61m saja dari permukaan. Bahkan sampai saat ini, jaringan perairan bawah tanah ini masih merupakan misteri. Pada 1758, Louis d’Eon, walikota Tonnerre, kakek dari Chevalier d’Eon, menjadikan tempat ini sebagai pusat tempat pencucian (binatu).

La Fosse Dionne (dari : yonne-89.net)

Selanjutnya, kota Tonnerre ini juga terkenal dengan tokoh kontroversi yang pernah hidup pada pertengahan abad 17. dialah Sang Legendaris Chevalier d’Eon.

Namanya adalah Charles Genevieve Louis Auguste Andre Timothee d’Eon de Beaumont, lahir pada 5 Oktober 1728 di Hotel d’Uzès di Tonnerre. Ini adalah nama yang tidak biasa di wilayah Perancis, dan itulah juga yang mungkin menjadi kontroversi dalam kehidupan tokoh ini. Raja Louis XV, melihat bakatnya yang hebat dalam penanganan senjata dan kemampuan diplomasi yang baik. Setelah dilatih, d’Eon menjadi bagian dari les services de la diplomatie paralléle, “Le Secret du Roi”. Dia ditugaskan untuk menjadi mata-mata dan menyamar sebagai seorang wanita untuk misi pertama ke Rusia dan menjadi tukang baca ratu Tsar Elizabeth dengan nama Lia de Beaumont. Setelah itu D’Eon Kemudian dikirim sebagai seorang diplomat di London (sebagai laki2, tidak menyamar lagi menjadi wanita), sehingga muncul rumor ketidakpastian seksnya yang mengkhawatirkan.

Lalu ketika raja Louis XVI berkuasa, pada 1774, d’Eon ditarik kembali ke Perancis. Ternyata dia mengadopsi kebiasaan lamanya berlaku sebagai wanita. Saat kembali ke Tonnerre di tahun 1778 ia menyamar sebagai wanita, dan tinggal di sana sampai 1785. Lalu setelah itu ia kembali ke London (sebagai wanita) dan meninggal di sana pada 21 Mei 1810. Publik Inggris menuntut otopsi kematiannya. mereka mendapatkan fakta bahwa D’Eon memang laki-laki. Tapi ada satu hal yang pasti: D’Eon telah menghabiskan 47 tahun hidupnya sebagai seorang pria, dan pihak lain dengan kedok perempuan. Kisah lengkapnya ada di fr.academic.ru.

Kembali ke perjalanan kami, festival abad pertengahan di Tonnerre ini selain mendekorasi bangunan dan jalanan jerami, juga diisi dengan warung-warung tenda yang menjual berbagai macam barang. Kutemukan banyak dari mereka yang menjual makanan, seperti keju, sosis, mustard, roti-roti khas perancis, kue-kue khas seperti macaron dan kue apple pie.  Ada juga yang menjual dekorasi2 untuk rumah khas abad pertengahan, lukisan, tembikar, sampai patung dan kerajinan tanah liat yang proses pembuatan bisa kita lihat langsung di sana. Aku juga menemukan penjual bulu domba yang membuat berbagai kerajinan sandang dan sepatu.

Menarik juga ya. Padahal kota ini tadinya kuharapkan kota yang ramai dan termasuk jenis kota besar. Ternyata tidak lebih besar dari kota tempat tinggalku di Le Creusot. Tapi memang karena pariwisatanya dikemas dengan menarik, kita jadi seakan2 bisa melihat kebesaran kota ini di masa lalu. So, lebay itu ternyata perlu juga untuk pariwisata… he he he.

Foto-foto dapat dilihat di TuanSUFI Galery – Tonnerre

———–

Link terkait dapat dilihat di :

  1. Official website : http://www.tonnerre.fr
  2. Office de tourisme : http://www.ville-tonnerre.com/OT/Pages/fil.htm
  3. http://www.actuacity.com/tonnerre_89700/monuments/
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: