• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 359,798 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Jangan Berprasangka, tapi kajilah dengan adil…

Kita ini sering memutuskan sesuatu hanya berdasarkan prasangka, bukan berdasarkan kajian keilmuan oleh para ahli-ahli keilmuan. Sehingga apa pun yang diperbuat, walaupun katanya berhasil, tapi sesungguhnya sering tidak mengenai substansi persoalan yang ingin dipecahkan. Faktanya ya sering gagal mencari jalan keluar, dan celakanya, kegiatan ini mengkonsumsi sumber daya yang ada secara berlebih-lebihan, dan pada ujungnya akibatnya pun ditanggung bersama oleh kita semua, danrakyat2 di pelosok yang tidak tahu apa-apa.

Setiap orang di zaman informasi ini, dipastikan mendapatkan akses yang sangat besar terhadap informasi. Tak peduli tukang becak, sampai ke profesor. Begitu juga anak-anak sampai para usia lanjut. Baik wanita, maupun pria. Kemudahan mengakses berbagai jenis informasi, tentunya akan mengakibatkan perbedaan tingkat penerimaan sehingga akan mempengaruhi tindakan dariorang tersebut, kita sebut saja, sebagai tindakan yang terwarnai oleh informasi.

Ada sesuatu hal penting yang dapat membuat air bah informasi tersebut menjadi sesuatu yang tepat guna dan menjadi tindakan yang efektif dan efisien dalam kehidupan, itulah ilmu pengetahuan. Apa pun bidangnya, ilmu pengetahuan memiliki ukuran, standarisasi dan pembuktian-pembuktian yang kritis terhadap sesuatu masalah yang dikajinya Sehingga pada akhirnya akan mendapatkan kesimpulan yang baik dan tepat guna, atau paling tidak telah terkonfirmasi kebenarannya secara baik.

Pada tulisan ini, aku mau mengajak kita semua berintrospeksi mengapa kita lebih senang berprasangka daripada mengkaji segala sesuatu dengan adil. Mudah2an dengan begitu kita bisa lebih obyektif dalam melihat suatu kejadian dan memiliki tindakan yang tepat dalam menyikapinya.

Secara personal, manusia itu memang punya sifat dasar senang berprasangka. Bahasa kitab sucinya adalah ‘Dzon’. Ditambah lagi sifat-sifat dasar yang suka berkeluh kesah, lemah dan punya kecenderungan dengki kepada orang lain. Jika ini tidak direduksi dengan kesabaran untuk berakhlaq baik, maka kesemua sifat tersebut akan menjadi perilaku dan sifat dasarnya sehari-hari.

Selain itu, secara kemasyarakatan ada satu persoalan lagi yang membuat kita menjadi suka berprasangka, yaitu kedudukan ilmuwan yang jauh lebih rendah dibandingkankan penguasa. Walau pun kita banyak menemukan tenaga ahli di kantong-kantong kekuasaan, tapi seringkali mereka sering dipaksa tunduk oleh para makelar-makelar politik dengan alasan kemaslahatan kepentingan golongan-golongan tertentu, pada saat sesuatu hasil kajian ilmu harus diterapkan. Jadilah misalnya sumber energi gas untuk memasak, bertransformasi menjadi reality show horror ledakan di dapur-dapur kecil rakyat.

Sifat kajian ilmu yang kadang perlu waktu dan mahal juga sering jadi alasan dipandang sebelah matanya kajian2 tersebut. Padahal umumnya dalam jangka pendek, suatu kajian iptek yang mumpuni mungkin benar akan menyita banyak sumber daya, tapi dalam jangka panjang kita akan dapat melihat efektifitasnya, yang sesungguhnya menghemat lebih banyak sumberdaya lagi. Ini juga merupakan akibat prasangka yang datang dari kesalahan berfikir dari makelar kekuasaan yang wawasan di kepalanya tidak lebih panjang dari periode berkuasa yang 5 tahunan itu.

Tekanan paling keras bagi pengkaji ilmu pengetahuan adalah soal fasilitas tempat mereka beraktualisasi diri. Bayangkan, mulai dari dana penelitian yang dikurangi, sampai pada laboratorium yang tidak dibangun dengan baik dan tidak dilengkapi dengan alat serta bahan riset-riset yang cukup. Selain itu hubungan ‘link-and-match’ antara industri dan mereka seperti diputus, sehingga tidak ada mekanisme yang sempurna dalam kegiatan transfer teknologi tersebut. Kalau pun ada, mesti melewati makelar-makelar penghisap sumber daya yang membuat segalanya menjadi kacau balau dan mempengaruhi kualitas kajian mereka. Jadi sesungguhnya, alasan mengapa para pengkaji ilmu ini lebih banyak pergi dari Indonesia bukan melulu karena aspek kesejahteraan seperti yang dikatakan artis DPR Angelina Sondakh di Republika beberapa saat yang lalu.

Kesemuanya ini, adalah buah sistem pendidikan dan keseharian kita yang kurang menghargai kedudukan ilmu pengetahuan itu sendiri. Buah dari pendidikan formal yang mahal serta pendidikan non formal yang terlalu instan. Aku merasa miris karena justru sarana media elektronik, media cetak dan berbagai sumber informasi yang secara langsung merasuk ke jantung2 rumah tangga, malah berisi pelecehan-pelecehan terhadap kegiatan-kegiatan transfer ilmu pengetahuan. Dan lebih diarahkan untuk memberi tontonan mimpi yang serba instan tanpa proses belajar dan kerja keras.

Nah, dari berbagai hal yang telah kujabarkan di atas tersebut, maka yang paling penting dari suatu kajian keilmuan adalah implementasinya dalam suatu bentuk teknologi atau sistem sosial. Suatu kajian yang sekedar dipresentasikan saja, barulah mencapai level separuh dari yang diharapkan. Jadi, para pembicara2 di televisi yang hanya melemparkan isu-isu tanpa diterapkan terlebih dahulu dalam skala-skala yang terukur, sama saja orang2 banyak bicara tanpa amal perbuatan. Pantas saja hanya jadi hiburan sesaat yang lalu hilang ditelan realitas yang tidak berubah.

Jadi perlu dibuat suatu kerangka hubungan antara pengkaji ilmu, masyarakat dan penguasa yang jelas. Inilah segitiga transfer yang harus saling mendukung satu sama lain dalam sistem yang adil. Masyarakat menyampaikan kebutuhannya, pemerintah merumuskan langkahnya, dan para pengkaji ilmu membuat sistem sistematis untuk mengakomodir semuanya itu.

Mudah-mudahan bisa terlaksana ya..

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Menyikapi wacana Angelina Sondakh masalah banyaknya para peneliti kita lari ke malaysia..merupakan refleksi dua sisi… satu sisi ketidak perdulian pemerintah dalam hal ini memberikan fasilitas yg memadai…sisi lain dari sudut peneliti itu sendiri yg sdh digandrungi mata’ul hayatiddunya….sehingga kecintaan terhadap negaranya sudah tergerus oleh kepentingan ekonomis (katanya mencintai negara sebagian dr iman)…zaman para nabi yg namanya ulul ilmi dan para khalifa justru yg mengeluarkan dana pribadi. (tp saya tdk berkompeten menyalahkan mereka..itu pilihan hidup)..seharusnya kita pintar” memposisikan diri jg sampai terjebak dalam euforia mata’ul hayatidunya… Masalah kecenderungan terhadap ilmu pengetahuan…menurut saya kita harus lebih spesifikasi lg..yg sangat tidak digandrungi masyarkat indo secara general adalah ilmu pengetahuan yg bersumber dr Al-qur’an…bahkan sebagian besar dr kita tidak menyadari sedemikian hebatnya teori keilmuan dalam al-qur’an menyangkut metodologi…sistematika dan lompatan” berfikir yg menurut saya maha dahsyat dibanding metodologi yg saya pelajari di bangku pendidikan formal. mudah”an kita bagian dari orang yg dibukakan hati untuk melihat keilmiahan Al-qur’an..yg bukan sekedar berisi hukum” sar’i… namun jg scientific… yg telah dicuri dan dimentahkan ole para pemikir barat….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: