• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 345,903 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Bagilah kenikmatan berada di Masjid dengan Anakmu

Citra dari : berjamaah.com

Ada satu tujuan besar tercetus dalam tarhib ramadhan lalu, saat aku dapat kesempatan pulang ke rumah sederhanaku di Indonesia. Kesempatan yang tiba karena perjalanan 11ribu kilometer itu dibiayai oleh profesorku untuk mempresentasikan riset kami di suatu konferensi internasional di Malaysia. Alhamdulillah, karena ilmu, aku bisa mengarungi bumi Allah ini dengan berbagai kemudahan, dan tentu saja dengan itu, aku berkesempatan pula melihat mata bulat anak2ku yang kurindukan.

Tujuan besar yang menjadi tekad di dadaku adalah mengajari jagoan kecilku yang lima tahun itu dan mengenalkan putri cantik kecilku yang dua tahun, tentang disiplin-disiplin dalam amalan utama setiap muslim yang akan amat menentukan nilai amalan-amalan lainnya yaitu shalat.

Sesampainya di tanah air,  seperti orang yang kehausan, aku mendatangi masjid dan beraktivitas di dalamnya, lalu mengikuti pengajian-pengajian, bertemu dengan kawan-kawan satu liqo’ah, mengejar serta mendalami pesan-pesan spiritual yang selama ini terasa dahaganya karena di tempat tinggalku di Perancis tidak dapat kutemui. Dalam agendaku kucatat jadwal-jadwal ustadz dan guru2 agama mengajar berikut tempatnya, sehingga dalam satu minggu, hampir penuh hari-hari dengan acara-acara siraman rohani tersebut. Subhanallah, sungguh kecintaan ini dapat melenakan. Karena setiap cinta ternyata membawa berjuta2 kenikmatan.

Sungguh sahabat…

Ada suatu ketentraman dalam setiap kesempatan tersungkur di masjid di setiap azan dikumandangkan,

ada suatu kelegaan ketika duduk mengumandangkan puji-pujian kepada yang Maha Kuasa,

ada juga suatu kelapangan ketika melakukan tilawah quran merambah pojok-pojok penjelasan kehidupan dalam bilangan juz-juznya,

ada suatu pedoman yang terang saat ucapan-ucapan orang-orang sholeh merasuk pikiran dalam sela-sela diskusi kami.

Mungkin inilah yang namanya terhanyut dalam rasa cinta. Kalau saja aku tidak ingat amanah Allah yang dititipkan padaku –  ya anak2ku itu –  untuk dididik sebaik mungkin agar menjadi mujahid-mujahidah masa depan, tentu aku bisa saja menjadi ‘egois‘ mereguk berbagai rahmat Allah tersebut sendirian, lalu melupakan tekad awalku…

Yah, begitulah sahabat. Di masjid-masjid aku sering melihat banyak ayah-ayah beribadah tanpa membawa anak-anaknya. Di beberapa tempat lainnya bahkan, justru banyak anak-anak berkeliaran di masjid tanpa dituntun oleh ayah-ayahnya. Kedua kejadian ini sungguh bukanlah yang diinginkan oleh Rasulullah tercinta, karena secara gamblang akan langsung membawa ketidakseimbangan proses transfer kesalehan dari orangtua kepada anak-anaknya.

Sebagai ayah, tentu kita semua tidak rela dianggap sebagai ayah yang tidak mau mengajarkan anak-anaknya tentang sholat dan hakekat kejamaahan di masjid karena terlena sendirian dengan kenikmatan beribadah itu tadi. Dan sebagai anak, tentunya anak-anak kita punya hak untuk diajarkan bagaimana beraktifitas di masjid seperti yang dicontohkan Rasulullah.

Di lain pihak, jika saja para ayah yg tidak berkesempatan datang ke masjid itu, membiarkan anaknya tanpa pembekalan dan pengawasannya ketika beraktifitas di masjid, tentu saja anak menjadi bisa jadi pengganggu kekhusyu’an jamaah yang lain.  Sehingga bahkan di beberapa masjid, pengurusnya malah melarang sama sekali anak2 untuk datang ke masjid karena alasan ini. Rangkaian salah kaprah ini akhirnya bergulung-gulung menjadi bola salju yang mampu memutus semangat kesalehan si anak untuk mencintai rumah Allah tersebut. Astaghfirullah…

Nah, dalam tulisan ini aku mengajak sahabat-sahabat untuk berbagi kenikmatan saat berada di masjid dengan anak-anak yang punya semangat datang ke masjid. Tidak hanya untuk anak-anak sendiri, tapi juga mengajarkan kesalehan kepada anak-anak orang lain yang kebetulan ayahnya belum terlihat di masjid. Walau teriakan dan perilaku mereka kadangkala menganggu kita orang dewasa saat berjamaah di masjid, tapi jangan dilupakan fakta bahwa mereka ini lebih bersih hatinya dari dosa dibandingkan kita semua. Jangan-jangan justru teriakan merekalah yang membawa rahmat Allah datang kepada masyarakat di sekitar, bukan dari mulut berbusa-busa kita ketika berdoa berdzikir.

Supaya mereka lebih tertib, ajarkanlah mereka bacaan-bacaan shalat lalu wajibkan mereka membacanya berulang-ulang ketika shalat.  Posisikan mereka dipinggir-pinggir shaf agar tidak memutus shaf jamaah lalu dampingi disebelahnya. Lalu ajari mereka untuk menyempurnakan gerakan-gerakan shalat. Setelah shalat ajarkan berdzikir dengan tangan kecilnya, subhanallah-alhamdulillah-Allahu akbar 33x, mereka insya Allah akan sibuk dengan itu selama beberapa menit. Koreksi perlahan-lahan bila mereka mewiridkannya dengan tergesa-gesa. Dan akhirnya ritual sholat ini ditutup dengan menyuruhnya membacakan doa-doa singkat. Ajarkan agar anak hafal doa-doa tersebut ; doa untuk orang tuanya, doa untuk aktivitas belajarnya, doa untuk kaum muslimin, doa untuk semangat beribadah dan  doa sapu jagad. Secara bertahap tambahkan terus hafalannya. Sebagai ayah tentunya kita harus berusaha semaksimal mungkin menghafal doa-doa beserta maknanya yang ingin diajarkan kepada anak-anak kita.

Begitulah sahabat, anakku Zaidan yang tidak pernah diam selalu bergerak, akhirnya tertib dalam shalatnya. Dia memahami dalam kesederhanaan cara berfikirnya itu, bahwa abinya ini akan menyuruhnya mengulang sholatnya bila dia tidak tertib. Dengan suara kecilnya zaidan membaca alfatihah dan seluruh bacaan sholatnya. Sesekali saat ia lupa, zaidan akan menengok ke ayahnya lalu membaca gerak bibir bacaan ayahnya. Oleh karena itulah selaku ayah, kita mesti membaca perlahan-lahan agar bisa memberi tuntunan pada anak-anak kita. Begitu pula sang imam, sudah mestinya selalu mengakomodir para makmumnya dengan memberi sedikit keleluasaan waktu dalam membaca bacaan shalat. Sehingga tidak muncullah protes anak2 yang belajar seperti zaidan ini karena saat mereka belum selesai membaca bacaan shalat, imamnya sudah bergerak menuju gerakan selanjutnya.

Inilah sinergi antara pendidikan anak dan pengaturan imam makmum di sebuah masjid.

Sungguh Rasulullah telah mengajarkan kita caranya. Tinggal kita melaksanakannya, dan Ramadhan ini bisa dijadikan momentumnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: