• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 328,538 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Menghadiri Pernikahan Sahabat Perancis

Nathalie Ravey, adalah seseorang yang selalu kami cari kalau berhubungan dengan administrasi di LE2i. Natalie juga tempat kami meminta tolong untuk mengatur perjalanan2 dinas kami atas nama lab LE2I IUT Le Creusot, seorang notulen yang handal dalam rapat2 rutin kamis pagi, sekaligus seksi sibuk penyedia dan pendistribusi peralatan2 kantor kami di setiap bulan september awal dari tahun ajaran baru.

Nathalie juga menjadi salah seorang yang seringkali direpotkan oleh aku yang masih ber – alif ba ta dalam berbahasa perancis ini, untuk membuat rendézvous dengan pihak bank, dokter atau hubungan telpon lainnya. Beliau juga selalu istiqomah untuk tidak berbahasa Inggris, sehingga saat kami berkomunikasi sering terjadi kelucuan2 karena tidak nyambungnya pesan2 di antara kami.

Nah, sejak minggu kedua bulan mei 2010, di mading ruang rapat LE2i tertempel undangan sederhana.  Ternyata adalah undangan pernikahannya. Pantas saja sejak seminggu terakhir, nathalie ngga pernah kelihatan di lab, rupanya dia sudah mengambil cuti untuk mempersiapkan acara besarnya itu.

Segeralah kami yang berada di lab berpatungan untuk membeli hadiah bersama untuk nathalie. Seorang sahabat kami, Mickaël Provost, menjadi koordinatornya. Seminggu itu dia sudah mulai mengumpulkan pesan2 ucapan selamat untuk natalie di sebuah poster besar. Disitu tertulis bahasa perancis, bahasa Inggris dan kelihatan juga tulisan arab ucapan2 untuk natalie. Di whiteboard ruang rapat sudah terisi siapa-siapa yang berkesempatan hadir dalam acara tersebut beserta distribusinya terhadap mobil2 yang tersedia untuk berangkat.

Pada hari H, salah satu check point keberangkatan adalah di Residence Jean Moulin, tempatku tinggal. Dari sini berangkat 7 orang menuju kota kecil loisy tempat acara berlangsung. Perjalanannya sekitar 1 jam 15 menit, dipandu GPS kami menikmati suasana jalan nasional perancis (biasa dilambangkan dengan N lalu nomornya) yang kiri kanannya dihiasi pemandangan indah musim semi. Warna kuning bunga matahari dan hijau pepohonan, hewan2 ternak sapi dan kuda burung2 di langit yang biru tua, serta cuaca yang teramat cerah membuat aku berkali2 komentar, “bener2 waktu yang tepat untuk pesta pernikahan.”

Sesampai di kantor Mairie (kantor walikota) Loisy , prosesi pernikahan baru saja dimulai. Lazimnya di Perancis ini mereka menikah di kantor walikota  (atau catatan sipil di Indonesia), lalu jika dibutuhkan, setelah itu mereka akan melakukannya sekali lagi di gereja atau yang muslim akan ke masjid. Pada pernikahan Nathalie, beliau hanya melangsungkannya di kantor mairie saja. Setelah dicatat dan diberi berbagai macam nasehat dan pembacaan hak2 di antara mereka, selesailah acara tersebut. Para tetamu keluar lebih dahulu, menunggu di halaman Mairie, lalu tak lama kemudian kedua mempelai keluar di balkon sambil melambaikan tangan. Setelah itu turun dan bergabung dengan tetamu untuk sesi foto keluarga dan sahabat terdekat. Setelah itu semua tamu berkonvoi menuju tempat hidangan disajikan. Mobil pengantin yang dihias bendera2 dan hiasan2 yang meriah, berjalan diiringi oleh mobil para tetamu yang terus menekan klakson keras2 selama perjalanan.

Inilah ‘pernikahan cerdas’ yang aku saksikan. Alih-alih menjamu dengan segala macam kebutuhan pernak-pernik yang pasti akan sangat mahal jika harus melaksanakan di gedung khusus dan menyediakan makanan prasmanan ala perancis yang serba wah. Nathalie dan keluarganya cukup menggunakan bungalow mereka untuk pesta kebun dengan sajian kue-kue dan roti saja.

Tempatnya di bawah rimbun pepohonan. Dipinggir sungai dekat sebuah Moulin (kincir angin) tua. Tidak ada pelaminan, hanya dibantu oleh 2 orang yang menyediakan makanan dan minuman. Tidak perlu piring untuk setiap orang, cukup gelas untuk bersulang yang disediakan di depan pintu masuk area acara, yang diberikan dengan ramah oleh keluarga dari Nathalie.

Sang pengantin berkeliling melayani perbincangan2 dengan para tetamu. Untuk beberapa saat, Nathalie dengan keranjang bunga kecil yang cantik ditangannya, berbicara dengan kami, lalu setelah itu  ia berlalu menuju ke sekelompok sahabat2nya yang lain. Begitu juga suaminya. Sementara anak2 berlari-larian di area yang lebih luas. Pesta yang tidak diiringi oleh musik, tapi ditemani dengan suara2 alam seperti kicauan burung, angin semilir dan cahaya kelap-kelip dari daun2 yang melindungi dari panasnya matahari.

Aku sendiri cukup mencicipi jus dan lipton tea saja dan beberapa kue2 dan roti kecil, lalu berkeliling menikmati damainya sungai di sekitar tempat itu. (sambil menghibur diri yang ngga sempat makan siang dulu tadi sebelum berangkat, karena mengharap bisa makan di pesta… he he he).

Jika dibanding dengan pernikahan di Indonesia, ini memang pernikahan seperti ini tidak ada apa2nya. Kultur kita yang hobi mengedepankan upacara2, dengan seragam2 untuk keluarga, dengan undangan sampai ribuan orang, dengan hiasan2 bunga dan pelaminan yang bertahtakan kemewahan, serta dengan hiburan2 yang meriah, seringkali malah terlihat berlebihan dan cenderung menghilangkan sapaan akrab antara yang punya hajat dengan para tetamunya. Kebanyakan dari kita di Indonesia malah enggan dengan acara pernikahan yang sederhana dan menganggap kemewahan pesta adalah salah satu sarana menaikkan gengsi keluarga, sehingga bersusah payah sampai berhutang sana sini untuk bisa melakukannya sehebat mungkin.

Memang kalau kita mencoba  membandingkan biayanya, pesta yang sederhana di perancis ini tetap saja setara dengan pesta pernikahan level menengah di negara kita.  Namun dalam pengalamanku mengikuti acara pernikahan sahabatku ini, aku tetap merasa kehangatan komunikasi antara kami para tamu undangan dengan pengantin dan keluarganya. Menurutku itulah poin paling penting dalam aktivitas bersyukur dan mohon doa dalam suatu walimatul ursy’ ini. Kemewahan atau sesuatu yang berlebihan justru malah bisa menghilangkan ‘kehangatan’ itu.

Kalau boleh aku ambil pelajaran, orang barat ini cenderung rasional dan efisien soal biaya, dan efektif dalam aktifitas. Mereka akan sangat disiplin dalam jumlah undangan yang akan hadir, membatasinya hanya untuk dua orang dan kadang dalam undangan diberikan nomor telpon atau bahkan amplop balasan untuk konfirmasi kedatangan. Jangan harap bisa ikut pesta kalau datang tanpa reservasi.

Mungkin perlu dipikirkan secara kreatif untuk kita di Indonesia dalam mengakomodasi pesta pernikahan agar selain bisa mengatur para keluarga  dan undangan yang banyak itu dengan acara yang tetap hangat. Makanan sebagai komponen jamuan tentu saja boleh saja tetap dilaksanakan, tetapi sesuatu yang berlebihan  dalam dekorasi atau acara2 perlu dipikirkan lagi.

Mungkin perlu juga membuka kembali buku-buku sejarah untuk melihat apakah sesungguhnya memang begitulah upacara adat pernikahan yang sesungguhnya. Atau justru malah kita yang terlalu berlebihan menterjemahkan sejarah dengan nafsu kita.

Tapi ini cuma opini saja kok. Mudah2an kita dan keluarga bukan termasuk orang yang berlebih2an. Dan untuk sahabatku nathalie, selamat menempuh hidup baru.

Viva les mariés… Felicitation mon ami.

——–

Kumpulan foto ada di TuanSUFI PICASA Galery

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: