• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 328,027 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Petualangan di Itali (Bag. 4)

Bagian 3 : Menjelajah Kerajaan Romawi Masa Lalu

Pukul 6 pagi, kami tiba di Stazione Termini. Inilah stasiun utama di Roma yang ditata modern dipadu bersama pusat-pusat perbelanjaan dan resto. Selain melayani perjalanan antar kota menggunakan kereta, di bawah tanahnya pun terdapat stasiun metro dalam kota. Di sekitarnya kita akan menemui terminal bus di Piazza del Cinquecento (persis di depan stasiun) yang menjadi pusat perhentian bus kota dan ada juga perhentian trem listrik. Di sisi lainnya (di jalan via marsala), kita juga menemukan perhentian bus yang menuju airport Ciampino. Benar-benar layanan transportasi terpusat. Dari loket karcis yang mewah, sampai kios karcis pinggir jalan di sekitar tempat ini, kita bisa mendapatkan tiket2 perjalanan dan tiket2 situs wisata dengan mudah.

Setelah sarapan ala eropa croissant  dan minum expresso (ceile…) di MacDo jalan via Giovanni  Giolitti, kami menuju hostel BB New york yang berada tidak jauh dari stasiun Termini, yaitu di jalan Via Carlo Cattaneo. Alhamdulillah, kami mendapat 3 kamar hostel yang bertempat di bangunan apartemen, yang ternyata terpisah dari pusat hostelnya sendiri. Betul2 eksklusif, kamar mandi bagus, minuman hangat tersedia, lokasi strategis dan yang terpenting, hanya ada kami yang 9 orang ini. Pokoknya untuk sebuah hostel berharga 15 euro per malam, tempat kami ini bagus banget. selamat buat Pras… hostelnya mantap!

Berkeliling Roma

dari : roninrome.com

Enaknya berkeliling kota di Eropa ini adalah kita bisa membeli tiket sehari penuh yang berlaku untuk angkutan subway Metro, trem maupun bus. Ini praktis, kita tinggal melakukan compose tiket saat akan naik dan kita bisa menjelajah kemana saja sesuai dengan trayek angkutan publik tersebut. Yang perlu diperhatikan umumnya mereka menerapkan zona layanan. Asalkan kita tidak keluar dari zona tersebut, artinya karcis satu hari kita tetap berlaku.

Jadilah kami berkeliling menggunakan kombinasi antara metro dan bus dalam kota Roma. Metro untuk kecepatan jelajah, bus untuk melihat kesibukan kota, serta yang terpenting adalah kami harus ‘awas’ terhadap tulisan entrata (masuk) dan  uscita (keluar) yang tersebar di setiap akses menuju angkutan publik. Jadi ingat pepatah Arab, “Kenalilah bahasa setempat, maka anda akan selamat…

Situs bersejarah

Kalau tidak ke Coloseum, berarti belum ke Roma“, begitu kata orang2.  Tempat ini merupakan stadion olah raga zaman kekaisaran Roma dahulu, dimana para gladiator bertarung melawan binatang buas, dimana gegap gempita para penontonnya riuh redam mendukung jagoannya. Coloseum yang kini telah menjadi reruntuhan, menjadi saksi bisu dahsyatnya sejarah, terlepas dari kekejaman, perbudakan dan penaklukan oleh bangsa ‘super power‘  Romawi pada zamannya dulu. Coloseum bisa diakses menggunakan metro B arah Laurentina, hanya dua stasiun dari Termini. Untuk bisa melihat reruntuhannya, kita harus membayar tiket 12 euro atau sekitar 18 euro jika ingin menggunakan guide tour. Di sekelilingnya banyak penjual souvenir dan banyak pula orang2 menggunakan seragam tentara romawi zaman dulu yang menawarkan untuk difoto dengan imbalan beberapa euro. Di salah satu sudut jalan di Coloseum ini terdapat gerbang Arco Di Constantino (mirip2 Arc de triomphe di paris, namun lebih kecil). Dengan harga tiket masuk di atas, kita juga bisa memasuki komplek reruntuhan forum Romano, yang berada di sebelah Coloseum, berisi komplek istana (Palatino) pusat kerajaan kekaisaran Romawi saat itu.

Di dalam Coloseum, kita bisa melihat diorama2 teknologi bangunan Coloseum dan rekonstruksi2 maket apa yang terjadi pada zaman dulu di tempat ini. Selain itu banyak pula pecahan patung2 dan ukiran2 yang melambangkan berbagai kemewahan dan ketinggian seni ukiran dan bahan pada zaman kejayaan Romawi dulu.  Di arenanya sendiri, nampaknya pemerintah itali sedang membangun rekonstruksi tempat pertarungan gladiator. Dari ketinggian, aku terkagum2 melihat maze di bawah tanah, yang nampaknya digunakan sebagai lorong2 para gladiator / atau binatang2 buas berjalan menuju arena pertarungan.  

Setelah puas di Coloseum, kami menyusuri jalan via dei fori imperiali. Jika sahabat ingin berkeliling, di sekitar tempat inilah kita bisa menemui banyak bangunan bersejarah.  Mulai di dinding bangunan gereja tinggi di sebelah kiri jalan, yang terpampang peta2 perkembangan Conqueror Kerajaan Roma, mulai dari kerajaan kecil sampai meluas ke pelosok dunia.  Lalu peninggalan kekaisaran romawi di sebelah kiri jalan, dan berbagai situs lainnya di bagian kanan jalan, misalnya  berturut2 ; Foro Di Cesare, Foro di Augusto, Foro Traiano, Colonna Traiana, Mercati Traianei, bangunan besar monumento a vittorio Emanuelle II sampai Palazzo Venezia.

Kebetulan saat kami di sekitar tempat itu sedang ada karnaval budaya Amerika Latin. Jadilah kami menyaksikan parade perkusi ala brazil, tari2an ala Venezuela dan berbagai parade kebudayaan negara Amerika latin lainnya. Baju-baju ala suku Indian dan Mayan dengan sepatu2 kayu yang terdiri dari kombinasi warna yang kontras dengan alunan musik tradisional, menarik perhatian kami.

Satu blok lainnya yang memiliki banyak situs bersejarah di kota Roma yang terjangkau dengan jalan kaki adalah wilayah Barberini. Tempat ini bisa didatangi menggunakan metro A ke arah Battistini yang berada dua stasiun dari Termini.  Kalau mencari souvenir kota Roma ya di sini. Sepanjang jalan banyak toko2 souvenir dengan harga yang kompetitif, bahkan bisa ditawar ! Souvenir yang di Coloseum dijual sekitar 3 euro, di sini bisa didapat dengan 1 euro saja.

Situs terkenal yang bisa ditemui adalah Fontana de trevi. Sebuah kompleks air mancur dan kolam air yang menempel di bangunan bersejarah. Menurut kepercayaan penduduk setempat, jika kita melempar uang koin ke sini, maka keinginan2 kita dapat terkabul. Tempat ini berada di plaza yang berada di tengah2 pemukiman padat. Sepanjang lorong2 kita bisa menemukan restoran2 khas Italia dan penjual souvenir kaki lima.

Plasa selanjutnya yang kami temui saat menyusuri lorong2 tempat ini adalah tempio adriano dengan tiang2 kuno yang menjulang tinggi. Kini jadi hotel nampaknya. Tak jauh dari situ kita akan menemui Pantheon yaitu gereja dengan bangunan silinder di satu sisi dan tiang2 besar dibagian depannya.

Dengan melewati Palazzo Madama, kami memasuki piazza Navona yang dipenuhi dengan pelukis jalanan serta pengamen jalanan. Plasa ini sangat besar dan menjadi salah satu pusat kegiatan seni di kota Roma.  Sebelah utaranya terdapat  jembatan ponte Umberto 1 yang membelah sungai Fiume Tevere. Di sisi lain sungai, terlihat piazza deu tribunalli yang berdiri megah dan bersebelahan dengan Castel Sant’Angelo. Dengan berdiri di jembatan ini kita bisa lihat basilica vatikan dengan jelas. Jika sahabat tertarik berkeliling di blok ini, sahabat mesti naik bus, karena di wilayah ini jauh dari jangkauan metro.

Satu blok kota Roma yang bisa dikunjungi adalah piazza della repubblica. Tempat ini bisa diakses menggunakan metro turun di repubblica. Tempat ini adalah salah satu putaran jalan tersibuk di roma, menjadi salah satu pusat bisnis, yang di salah satu sudut plasanya  banyak ditemukan penjual buku kaki lima dengan harga yang tidak terlalu mahal.

Oh ya, mumpung ada di Italia, kami menyempatkan untuk datang ke stadion Olympico kandangnya AS Roma dan Lazio. Tempat ini berada di sebelah utara kota Roma, mencapainya dengan menggunakan metro sampai Ottaviano, lalu dilanjutkan dengan naik trem 2D ke arah terminal Manchini. Yang menarik dari stadion ini, pertama jauh dari pemukiman penduduk, aksesnya dengan menyeberangi jembatan panjang, sehingga tempatnya sedikit terisolasi. Kemudian, disampingnya berdiri sekolah/Universitas olah raga, dan sekitarnya menjadi pusat kegiatan olahraga dengan adanya lapangan2 kecil, jogging track. Dan yang ketiga yang menjadi ciri khas stadion kota ini adalah banyaknya patung2 dewa yang tersebar.

Secara garis besar, Roma adalah kota dengan wisata reruntuhan bangunan bersejarah. Jika kita tidak tahu informasi yang berada dibalik suatu reruntuhan, tentunya wisata ini akan membosankan. Di beberapa tempat memang sudah diberi informasi mengenai apa yg pernah terjadi di suatu situs berabad2 yang lalu, tetapi masih ada pula yang tidak ada penjelasannya. Untuk itulah akan lebih menarik jika sahabat berkeliling dengan ditemani oleh orang yang tahu sejarah kota ini. Satu lagi, di kota ini lalu lintasnya parah. Kendaraan sering terlihat ngebut2an, kurang menghargai pejalan kaki dan konon, parkir ala Paris (sundul depan belakang karena sempit),  juga terjadi di sini, namun pada versi yang lebih ganas.

Kuliner

Nah, ini bagian yang terpenting. Betapa gembiranya kami ketika mengetahui bahwa disekitar hostel tempat kami tinggal banyak resto yang menjual makanan halal. Kebab dan turunannya tentu saja jadi andalan utama, murah meriah halalan toyyibah. Tapi setiap Hari berkebab ria tentu saja membosankan. Untungnya kami juga menemukan resto makanan Italia halal Dan makanan India yang tampilannya mirip2 masakan Indonesia. Dengan harga 5 euro saja, sdh cukup memenuhi kebutuhan jasmani kami. so, dua hari di Roma kami aman dari segi kuliner.

Kemudian yang tidak bisa dilewatkan di Italia adalah makan es krim, karena menurut kabar-kabari, es krim berasal dari italia. Dari sekian banyak toko es krim, kami mendapatkan satu toko es krim segar, asli dari buah2an (setidaknya menurut klaim sang penjualnya..) yang berada di dekat Fontana de trevi.  Di toko yang bernama Galetaria Valentino (http://www.gelateriavalentino.it/) ini, dengan merogoh kocek mulai dari 2 euro, kita bisa memilih berbagai rasa (minimal 2 rasa) dengan tempatnya yang seperti krupuk biasa atau krupuk dengan hiasan coklat atau permen… mmm… yummy.

Pertualangan kuliner yang terakhir, masih disekitar Fontana de Trevi, kami memilih resto yang cukup ramai  di datangi orang. Sebab menurut pengalaman di Indonesia, resto dengan ciri seperti itulah yang punya kelebihan, entah rasa masakannya yang enak atau harganya yang murah. Di sekitar fontana de trevi ini, harganya tidak jauh berbeda antara satu resto dengan resto lainnya. Nah, disinilah akhirnya kami menutup malam terakhir di Roma dengan merasakan makanan asli italia spaghetti, ravioli dan pizza. Dari sekian banyak menu, yang bisa kami pesan adalah Pizza mozarella, spaghetti tuna dan ravioli vegetarian. Beberapa teman memilih menu pizza reguler namun tanpa daging bacon. Mantap…

Ada pengalaman menarik saat aku di toilet resto ini, tidak sengaja aku bertemu dengan koki resto. Sambil menunggu antrian toilet, aku sempat mengobrol dengannya. Syukurlah bahasa Inggrisnya lancar, sehingga aku tahu bahwa dikebanyakan resto di sekitar Fontana de Trevi ini ternyata koki2nya adalah Muslim.Subhanallah.

(Bersambung lagi…)

foto-foto kami di kota Roma dapat dilihat di TuanSUFI Gallery.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: