• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 349,807 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Perubahan Seorang laki-laki yang menjadi Ayah

Dulu waktu bujangan, makan sesuatu itu enteng saja, begitu terhidang langsung di-‘sabet‘ habis. Sekarang saat mau makan  pasti ingat anak dulu, apalagi jika tahu anak agak sulit makan dan sangat menyukai makanan tersebut.

Dulu gaya makan sangat cepat, dalam hitungan 2-3 menit semua sudah habis tandas. Sekarang sengaja mengurangi kecepatan hanya karena ingin anak bisa menghabiskan makanannya lebih dulu dari dirinya.

Dulu waktu sendiri, jika berangkat ke suatu tempat seperti angin bertiup. tiba2 muncul dan hilang begitu saja. Sekarang, semua perlengkapan anak harus diperiksa dulu, menaikkannya ke mobil atau menggendongnya serta selalu bersabar menunggu istri menyiapkan itu semua.

Dulu waktu bujangan masuk ke semua tempat mudah saja. Sekarang, selalu berfikir dulu baik atau tidak, aman atau tidak untuk anak2nya.

Dulu saat waktu luang, selalu mengutak-atik komputer atau tidur. Sekarang, setiap waktu luang selalu bermain dulu dengan anak, menemaninya menggambar atau membaca buku.

Dulu saat ingin mandi, langsung masuk kamar mandi lalu berlama-lama sampai puas di dalamnya. Sekarang, selalu bertanya dulu apakah anak2 sudah mandi, bahkan seringkali harus memandikan anak2 dulu sampai keinginan untuk mandi sendiri jadi terlupakan.

Dulu saat harus berangkat ke kantor, aku bisa langsung bergerak cepat walau bangun kesiangan. Sekarang, harus mengecek kesiapan anak dulu lalu mengantarnya ke sekolah.

Dulu mengaji Quran itu dinikmati sendiri, sekarang harus memotivasi anak untuk mencintainya dan belajar membaca dan akhirnya memahaminya.

Dulu hafalan Quran, hadits dan doa itu sangat berat, sekarang harusnya kita punya amunisi baru motivasi menambah itu semua agar kita memiliki punya kekuatan menyuruh anak menghafal.

Dulu kita bisa saja berbuat semaunya, berbicara semaunya. Sekarang selalu ada pasangan mata kecil yang menatap kita setiap hari setiap waktu. Maka dari itulah kita mesti sedikit menahan diri, bicara dan sikap menjadi lebih terkendali.

Yah, mendidik anak terbaik adalah dengan keteladanan, bagaimana kita bisa menganjurkan atau melarang sesuatu jika kita sendiri tidak melakukannya atau tidak meninggalkannya. Anak akan selalu melihat ayahnya, maka sebagai ayah kita harus bisa menjadi idolanya, menjadi sosok yang dapat dipercaya olehnya, menjadi contoh kehidupan yang membuatnya semangat serta mengarahkannya ke arah yang diridhoi Allah SWT.

Teriring doa harapan tak putus kepada Ilahi, jadikan kami sebagai ayah-ayah yang berhasil mendidik anak-anak menjadi mujahid pejuang-pejuang masa depan. Jadikan kami ayah-ayah yang istiqomah menjadi teladan yang baik bagi anak-anak kami. Amin.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Artikel yang bagus untuk dibaca oleh para calon ayah…

    *twotumbsup*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: