• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 328,538 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Antara Sepeda dan Musim dingin

Setiap melihat keluar jendela di pagi hari pada hari-hari kelam di musim dingin ini, selalu ada saja perasaan yang campur aduk yang tiba-tiba muncul. Mulai dari ingatan akan kampung halaman yang mataharinya selalu menghangatkan kulit, juga hadirnya ingatan2 thdp ramainya teriakan anak2 di rumah yang jg menghangatkan telinga, sampai ingatan2 terhadap seluruh aspek yg bisa mendatangkan kehangatan baik secara fisik mau pun psikis yg selama ini Alhamdulillah selalu mudah didapatkan.

Nah, dahsyatnya musim dingin ini, ternyata sangat mampu membatasi semua aspek penimbul semangat tersebut dan menggantinya dengan semangat lain untuk berjuang menahan dingin yang menusuk kesetiap relung diri, dan energi2 utk tetap istiqomah beraktivitas seperti biasanya di laboraturium — ini kalau positif. Tapi sebaliknya pun seringkali malah membangkitkan semangat lain untuk tetap berada di balik selimut hangat, memejamkan mata kembali sambil berharap2 mimpi berada di lingkungan yang menyenangkan. Bahkan, bagi sebagian kecil orang yg tinggal di barat, situasi negatif ini bisa menerjunkan psikis ke titik tanpa semangat sama sekali, yang dikenal dengan istilah depresi musim dingin.

Lalu kenapa sepeda ? Bukan bicara tentang teknologi pemanas saja yang jelas2 sangat dibutuhkan. Atau bicara tentang tips agar kulit tidak kering karena kamar yang selalu kedap tanpa sirkulasi. Atau pemberitahuan tentang perlunya menaruh air di dekat pemanas agar udara di kamar memiliki kelembaban yang  cukup, dan berbagai tips lainnya untuk bertahan menghadapi suhu super dingin ini. Mengapa justru membicarakan bersepeda disituasi dimana berjalan kaki saja sulit ?

Nah, inilah yang menarik. Terus terang, ada lagi satu semangat dalam diri ini untuk mencoba hal pengalaman baru yang sedikit ekstrim dengan si biru yg selalu setia menemaniku dalam menuntut ilmu di tanah napoleon ini.  Mulai dari bagaimana perjuangan melawan keengganan keluar apartemen. Lalu melengkapi diri dengan baju tempur tahan dingin, sarung tangan, penutup kepala dan syal penutup muka (seperti burqa yang dilarang di negeri bebas ini :)). Tak lupa sepatu musim dingin yang menggigit pijakan dengan kuat.  Lalu meluncur dalam jalan2 yang memutih bahkan sebelum salju turun, menikmati tempaan angin yang menusuk sampai tulang dan kekagetan2 karena rem yang sudah membuat ban berhenti, ternyata tidak pula mampu membuat sepedaku berhenti.

Ada pra kondisi yang harus dipenuhi untuk tetap aman berkendara sepeda di musim dingin, karena bagiku, yg kucoba ini adalah utk mencari Pengalaman bukan mencari penyakit. Yang jelas, selama salju tidak menjadi es, itu tetap aman. Contoh situasinya, Jika suhu minus terus menerus beberapa hari setelah turun salju yg cuma diawal2 saja, itu tandanya es ada dimana2, sangat berbahaya. Sebaliknya jika suhu minus, tetapi selalu (sering) turun salju, itu boleh di coba, karena bagian salju yg mulai mengeras jadi es akan tertimpa lagi dgn salju lembut yg turun setelahnya, sehingga tidak terlalu licin.

Beberapa pengalaman yang menarik

Suatu pagi, setelah beberapa hari selalu minus derajat, jalan di depan apartemen seperti melembab. Memang tidak turun salju, tapi seingatku turun hujan rintik2. Di depan jendela apartemen, kulihat banyak orang berjalan perlahan sambil memegang pagar. Sepeda yang sdh kusiapkan, akhirnya kembali kuparkir saat kutahu ternyata jalan tersebut licin luar biasa. Bekas2 hujan yang tetap berbentuk seperti genangan air, ternyata sudah menjadi es dan itu tersebar merata di jalanan.  Tumben para petugas pembersih jalan belum menaburkan garam di sana, sehingga pagi itu aku dan orang2 di Residence Jean Moulin terpaksa terseok-seok berjalan sambil bertahan supaya tidak terjerembab. Mustahil bisa naik sepeda dengan selamat….

Ada satu kondisi bersepeda yang paling menyakitkan di musim dingin ini, yaitu saat bertiup angin keras yang membekukan. Apalagi jika angin itu berlawanan arah dengan kita. Seluruh jari-jari yg sudah tertutup sarung tangan tebal saja terasa perih dan ngilu, beberapa kulit tipis di dekat kuku-kuku mengelupas seperti orang kurang vitamin. Kalau sudah begini, sesampainya aku di apartemen, kurendam tanganku dengan air hangat. Selain itu, angin ini pun sangat menyakitkan kulit muka. Pipi seperti membeku, kuping jadi berdesing, yang biasanya lentur jadi pedih rasanya. Menghadapi ini, aku mempersenjatai diri dengan penutup kepala tebal dan syal yang dililitkan hampir keseluruh muka kecuali mata menutup sampai leher.

Saat sepedaku harus parkir di halaman berjam-jam dalam kondisi sangat dingin ternyata, membuat minyak-minyak pelumas di seluruh bagiannya membeku. Sehingga saat kukendarai sepeda jadi berat luar biasa.  Kontur jalan le creusot yang turun naik, membuat aku ngos-ngosan kalau sudah begini. Bahkan di jalan2 yang menanjak ekstrim, sepeda kutuntun saja.  Habis nafas…. coy. Selain itu, ternyata rantai pengaman sepedaku yang menggunakan gembok, ikut beku juga dan sulit ditekuk. Sehingga untuk melepas sepeda dari tempat parkirnya saja aku kesusahan 🙂

Yang seru adalah saat berkendara sepeda di tengah hujan salju yang lebat. Salju yang putih seperti kapas memenuhi kepala, tangan dan punggungku. Di saat2 ini, cukup nyaman, karena saat hujan salju biasanya suhunya tidak terlalu dingin. Yang membahayakan adalah jika hujan salju terjadinya cukup lama. Biasanya, jalan akan menjadi becek karena lalu lalang kendaraan. Beceknya salju ini, akan cepat menjadi lapisan es tipis, yang akan menjadi sangat licin.  Pernah suatu saat mobil yang berjalan berlawanan arah di depanku menjadi tidak terkendali mendekati sepedaku. Cepat2 saja aku menghindari dan berhenti mengamati mobil2 yang seperti jadi bola pinball bergeser ke sana kemari tanpa bisa dihentikan. Sambil siap2 menghindar kalau sudah membahayakan.

Beberapa tips praktis

Yang jelas jangan belok secara ekstrim. Licinnya jalan bisa menyebabkan kita terhempas dengan sukses. Mengerem yang terbaik adalah melewatkan sepeda di atas onggokan salju yang mulai mengeras, sebab jika kita tetap berada di jalanan berair, walau pun rem bekerja dengan baik pada ban, nyatanya friksi antara ban dan jalan yg licin membuat sepeda tetap tidak berhenti.

Ketika salju mencair juga adalah situasi yang harus dicermati. Kita seperti berkendara di dalam kubangan. Yang kalau jatuh sudah pasti langsung basah semua.

Suhu paling nyaman bagiku untuk bersepeda di musim dingin ini adalah 0°,  karena dinginnya cukup, sehingga kalau harus menggenjot sadel di jalan yang menanjak, tidak sampai keluar keringat di badan yang terbungkus rapat baju dingin. Jika suhu di atas nol, keringatan ini akan menambah badan lebih dingin lagi. Kalau terlalu lama dibiarkan, biasanya akan menyebabkan ‘masuk angin’. Suhu ekstrim sampai -8, masih bisa ditembus, asalkan tidak berangin.  Tapi jika berangin suhu minus 2 s/d 3 saja terasa seperti minus 8. Lebih baik jangan bersepeda deh…

Lalu jika salju sangat tebal sampai puluhan centimeter, lebih baik jalan kaki. Karena jalan kaki aja susah, apalagi naik sepeda… just for fun, ingat jangan cari penyakit…

Galeri Foto, silahkan klik di TuanSUFI Picasa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: