• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 349,808 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Perjalanan Perancis Luxemburg Belanda – (bag 4)

Bagian 4 : Keukenhof di Lisse dan Kinderdijk di Rotterdam

Jalan-jalan ke Keukenhof (kebun raya Tulip) yang berada di kota Lisse tidak bisa dilakukan sambil lalu. Mengapa ? pertama, karena di sana kita akan dimanjakan oleh pemandangan warna warni yang indah dari tanaman tulip dan berbagai bunga lainnya, sehingga waktu akan terasa cepat sekali. Kedua, tamannya luas sekali yaitu 32 hektar, dengan rancangan konfigurasi bunga yang tak terduga sehingga membangkitkan rasa penasaran untuk mengarunginya. Untuk sahabat yang ingin datang ke sini menggunakan transportasi publik bisa naik kereta api ke kota Leiden dan kemudian naik bus Keukenhof Express dari stasiun (bus tersedia setiap 15 menit sekali dan waktu perjalanan 25 menit).

Kebun raya tulip Keukenhof yang hanya buka dua bulan dalam tahun ini (dari pertengahan Maret sampai pertengahan bulan Mei) merupakan salah satu atraksi populer andalan Belanda. Konon ada sekitar tujuh juta bunga yang ditanam ! dan menurut sejarahnya, pada awal abad ke-15 taman ini  digunakan sebagai area berburu dan sebagai perkebunan tradisional bagi istana yang dimiliki oleh bangsawan bernama Jacoba van Beieren.  Nama Keukenhof yang berarti “kebun tanaman”  tata letaknya dirancang pada pertengahan Abad ke-19 oleh arsitek lansekap yang membuat taman Vondelpark di Amsterdam, yaitu dengan gaya taman Inggris. Pada tahun 1949 sekelompok petani bunga mengadakan pameran bunga musim semi pameran di tempat ini, dan dari tahun ke tahun terbukti berhasil menjadi promosi besar bagi perdagangan bunga Belanda.

Koleksi bunga di susun dalam  beberapa paviliun yang kebanyakan berisi bunga tulip dan turunannya, bunga krisan (chrysanthemums), mawar, anggrek (orchid), begonia, bunga lili dan tanaman lainnya. Penampilannya diatur oleh petani2 bunga yang berbeda, dan dinilai sebagai bagian dari sebuah kompetisi. Selain itu, untuk mempercantik taman, beberapa karya seni patung-patung perunggu disebar di seluruh kebun. Sahabat juga dapat menemui beberapa tempat atraksi untuk anak-anak seperti kebun binatang mini dan tempat bermain.

Nah, pada bulan April setiap tahun ada acara Parade Bunga (dikenal sebagai “Bloemencorso”) yang lewat melalui jalan-jalan kota di sekitar daerah perkebunan bunga ini. Parade mobil hias menggunakan ribuan bunga diiringi marching band, dimulai pagi hari dari kota Noordwijk, melewati  kota Lisse di siang hari, dan berakhir di kota Haarlem malam hari harinya (rutenya sepanjang 40 km). Penonton menyaksikannya dari pinggir jalan. Kami yang datang pada awal Mei ini cuma menyaksikan beritanya saja dari parade ini…. (sayang karena kami baru tahu ada acara ini belakangan). Jika masih ada waktu dan stamina, sahabat bisa mengunjungi Museum de zwarte Tulp di kota Lisse.  Di sini, sahabat bisa melihat sejarah perdagangan bunga di dunia dan bagaimana bunga tulip dibudidayakan.

Foto kami di kota Lisse dapat dilihat di TuanSUFI Galery – Kuekenhof

Menuju Rotterdam kembali

Kalau saja kami tidak ingat ingin menghadiri undangan pernikahan seorang sahabat di Rotterdam dan kaki ini masih mau diajak kompromi, tentu kami masih berusaha bertahan di kebun tulip Keukenhof ini. Sekitar pukul 15.30, kami berangkat lagi menuju Rotterdam, kini langsung ke gedung yang dipakai untuk pernikahan sahabat kami Lea, anak dari Pak Willy yang  menyediakan tempat menginap di awal perjalanan kami kemarin. Alhamdulillah Lea yang blasteran belanda dan Indonesia ini, mendapatkan jodoh orang Pakistan. Uniknya, pengantin menggunakan dua baju pengantin yang berbeda, sekitar 2 jam pertama menggunakan baju ala Jawa Barat dan dua jam terakhir menggunakan baju ala Pakistan. Kami duduk di meja-meja panjang mengikuti acara dengan hikmat ala Indonesia dan Pakistan dengan lantunan ayat suci dan asmaul husna ala ESQ. Lalu bersantap masakan Indonesia !!! Subhanallah, ada sambel terasi dan ikan goreng kering…  Benar2 mantap! Setelah seharian jalan2 di kebun, malamnya makan enak. he he he, bisa kebayang kan kuantitasnya. 🙂

Setelah memberi doa selamat kepada kedua mempelai dan keluarga, kami berpamit untuk melanjutkan perjalanan kembali. Waktu menunjukkan pukul 19.30, masih sore hari di musim semi ini, karena matahari terbenam masih pukul 21 malam nanti. Aku mengeset GPS untuk menuju Kinderdijk, yaitu suatu wilayah yang isinya sekumpulan kincir angin, tapi begitu GPS menunjukkan tanda sampai, ternyata kami berhenti di kawasan antah barantah Industri di Rotterdam. Selidik demi selidik, ternyata jalannya bernama Kinderdijk, tapi bukan wilayah kincir angin yang kami maksudkan, GPS-nya tidak salah…

Alhamdulillah, setelah kuset GPS sekali lagi, kami akhirnya sampai juga  di Kinderdijk. jalannya tidak terlalu besar, pemandangan sekitarnya adalah sungai besar dan berbagai perkebunan. Suasana sore hari yang mulai temaran, membawa kedamaian bagi kami yang memang sudah lelah dan kenyang ini. Dengan sisa-sisa semangat, kami menyusuri jalan setapak di pinggir sungai menuju kincir2 angin besar yang ada di sana. Yah, karena sudah sore hari semua atraksi wisata sudah pada tutup semua di sini. Tapi tak apalah, menikmati bangunan kincir angin ratusan tahun ini dengan suara putarannya yang khas tetap membuat hati ini senang.

Kenapa sih tempat ini begitu penting ?  pertama sejak tahun 1997, Kinderdijk sudah menjadi salah satu tempat dalam daftar Warisan Dunia UNESCO. yang kedua, kami semua suka air (he he he, ini ngga penting sebenernya…) dan yang ketiga Belanda yang terkenal dengan kincir anginnya, masak sih ngga mampir ke kompleks kincir anginnya.

Kata orang-orang, sampai saat ini ternyata masih lebih dari 1.000 kincir angin yang beroperasi di Belanda. Nah, di wilayah Kinderdijk ini, kita bisa melihat  19 kincir angin (8 bangunan kincir dari batu bata pada bagian kanal Nederwaard yg dibangun tahun 1738, 8 bangunan kincir angin kayu di bagian kanal Overwaard yg dibangun 1740, 2 bangunan kincir angin baru windmills di kanal polder Nieuw-Lekkerland yg dibuat tahun 1760 dan 1 kincir angin di kanal polder Blokweer yang dibangun pada 1521 dan terbakar tahun 1997. Namun sejak musim semi 2000 sudah direstorasi kembali). Kincir2 ini terpelihara baik sampai sekarang dan beroperasi mengalirkan kelebihan air kanal polder Alblasserwaard – yang terletak di bawah permukaan laut – dan di alirkan ke laut melalui sungai sluiced Lek. Kincirnya sendiri berfungsi untuk mentransformasikan kekuatan angin ke roda besar yang digunakan untuk meraup air. Dengan menggunakan ini, tentu saja akan menghemat energi dibandingkan dengan menggunakan pompa tenaga listrik yang sekarang. dan menurut yang kubaca, stasiun kincir angin Kinderdijk ini termasuk salah satu Water screw pumping-stations yang terbesar di Eropa Barat. Mantap…

Foto kami di kota Rotterdam dapat dilihat di TuanSUFI Galery – Nikah Lea & Kinderdijk

Penutup

Emang dasar berada di kawasan Kincir angin… Saat kami duduk menikmati matahari terbenam, Setia ditemani oleh bebek2 berenang santai bersama anak-anaknya. tiba-tiba saja angin semilir berubah menjadi kencang.

Biar bagaimana pun, perjalanan ini harus diakhiri. Melihat keanekaragaman perilaku dan hasil karya manusia di bumi Allah Belanda ini, Alhamdulillah sudah terlaksana. Memenuhi undangan seorang sahabat yang berbahagia, Alhamdulillah, pun sudah terlaksana.

Malam sudah mulai tiba, dan kami masih perlu sekitar 8 jam lagi untuk kembali ke Perancis. Bersama malam kami menyusuri autoroutes Belanda – Perancis yang sepi. Membawa kenang2an. Membawa kisah baru lagi.

Semoga bisa bermanfaat bagi sahabat2 yang membacanya.

menikmati angin dan gerakan kincirnya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: