• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 349,808 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Perjalanan Perancis Luxemburg Belanda

Bagian 1 : Perancis – Luxemburg

Rencana berpergian dibuat hanya dalam waktu seminggu. Memanfaatkan libur panjang mulai dari kamis sampai senin. Dalam dua hari menjelang hari H semua disiapkan. Fitrin mencari mobil sewaan murah, Mas Aris dan Ivan menyiapkan rencana konsumsi dan perbekalan selama perjalanan dan aku dengan persetujuan semuanya menyiapkan itenari perjalanan di kota-kota yang akan dilewati.

Karena kami akan berkeliling menggunakan mobil, maka perkiraan waktu perjalanan yang paling mendekati sesungguhnya adalah melalui google map, karena sudah ada informasi jarak, waktu tempuh, biaya perkiraan bensin dan yang terpenting kita bisa kustomisasi rutenya. Selain itu, aku juga membuat ringkasan tempat-tempat menarik yang mungkin didatangi, yang menjadi dasar penyusunan itenary tersebut.

Singkat cerita, sehari sebelum hari H, kami mengambil kendaraan sewaan di gare dijon, alhamdulillah ternyata tepat mendapatkan mobil citroén C8, mobil besar dengan lima pintu kapasitas 7 sampai 8 orang, dengan GPS, dan otomatisasi fungsi2 di semua dashboardnya, mobil canggih, sesuai dengan yang kami pesan di situs BSP Auto.

Perjalanan dimulai pagi hari sekitar pukul 6 keesokan harinya dari dijon. Disupiri oleh Uni Fitrin, kami masuk ke autoroute A31 (217 km – sekitar 2 jam lebih sedikit), lalu mampir dulu di Nancy untuk makan pagi dan menikmati pusat kotanya. Di sini kami mampir di alun2 kota, mulai di halaman place Stanislas yang sering disebut juga dengan Place Royale yang dibangun sekitar tahun 1752 dan 1760. Di sekitar alun-alun ini dikelilingi oleh lima istana megah, dengan balkon yang menghadap alun-alun. Di tengah alun-alun terdapat patung Raja Stanislas yang membangun istana ini. Di sepanjang sisi utara adalah bangunan museum galeri sejarah yang memanjang sepanjang jalan Rue Héré. Fitur yang paling khas di alun-alun ini adalah pintu pagar besi tempa yang tinggi & megah berlapis emas (karya Jean Lamour) di dua tempat, yaitu di jalan masuk ke alun-alun dan di sekitar Fountains (kolam air taman) Neptunus dan Amphitrite (keduanya karya Barthélemy Guibal). Istana terbesar di area ini adalah Hôtel de Ville (Town Hall – kantor walikota). Setelah puas menyalurkan hasrat berfoto, kami pun menemukan sebuah office de tourism yang berada di dekat hotel de Ville dan aku pun menyempatkan membeli beberapa suvenir serta brosur kota ini. Inilah sesungguhnya yang perlu juga diperhatikan oleh dinas pariwisata di tanah air, dimana selalu mudah didapatkan info2 pariwisata secara gratis, sampai yang berbayar untuk detil info yang lebih lengkap. Setelah itu, kami semua menuju ke taman parc de la Pépiniér untuk sarapan. Taman ini mengingatkanku ke luxembourg parc di paris dan verrerie parc di le creusot, karena taman ini cukup besar dan terorganisir dengan baik sekali. Taman dibagi atas blok-blok, dimana setiap blok ada fungsinya sendiri-sendiri, misalnya di salah satu blok ada tempat mainan anak-anak, ada kolam air mancur, ada tempat untuk spectacle (untuk pertunjukan atau bahkan sirkus), ada juga kebun binatang mini dan ada juga golf mini dan tempat bermain petanque. Lengkap.. dimana toilet pun dapat ditemukan dengan mudah, tapi sayang tidak semua toilet tersebut berfungsi dengan baik.

Foto kami di kota Nancy dapat dilihat di TuanSUFI Galery -Nancy

Sekitar pukul 11.00, kami melanjutkan perjalanan, kali ini giliran aku mengendarai mobil canggih ini. Sebelum masuk kembali ke autoroutes A31, karena ikuti GPS mentah2, kami sempat berputar2 dan masuk ke jalur trem. Untung saja tidak ada masalah di sana. Setelah melewati autoroutes A31 sepanjang 55.2 km – atau sekitar 40 menit perjalanan, kami tiba di kota Metz. Kota ini tidak terlalu besar, dengan mudah kami bisa menemukan tempat parkir di dekat bangunan bersejarah théatre dengan menaranya yang tinggi. Yang menarik, kota Metz ini dikelilingi oleh sungai, sehingga wisata naik perahu dan resto-resto romantis dipinggir sungai banyak kami temukan.

Dengan berjalan kaki, kami kemudian menuju Katedral St Etienne. Setelah melewati  Place d’Armes, sebuah bangunan tua abad 18 Hôtel de Ville (Town Hall), mata kami dimanjakan oleh megahnya Cathedral of St-Etienne. Bangunan Gothic berwarna kecoklatan (karena dibuat dari batu pasir kuning) yang diapit oleh dua menara tinggi, konon ini dibangun antara 1250 dan 1380 dengan perencanaan yang terpadu, yaitu menggabungkan gereja Notre-Dame la-Ronde; dengan sebuah teras besar menghadap ke pintu selatan yang diatasnya terdapat Tour de Mutte (yaitu sebuah lonceng besar dari tahun 1605). Lalu di depan depan Place d’Armes, menghadap pintu Portail de la Vierge (dibuat tahun 1240), dengan berbagai relief tua pada tiang kiri yg bernama Procession of the apostles dan relief pada tiang kanan yang merupakan salinan dari relief Master of Naumburg.

Kami berfoto-foto sebentar di sini, lalu masuk ke office de tourism untuk mengambil brosur dan membeli beberapa souvenir. Menurut informasi, bagian interior dalam katedral ini juga sangat menarik, sangat tinggi (mencapai 42m) dan dihiasi dengan lukisan kaca patri yang indah. Selain itu agak ke arah timur katedral terdapat Porte des Allemands, yang legendaris menurut cerita adalah pintu peninggalan zaman Medieval yang dulu digunakan sebagai benteng pertahanan kota. Sayangnya karena keterbatasan waktu, kami tidak sempat mengunjunginya.

Foto kami di Kota Metz dapat dilihat di TuanSUFI Galery -Metz

Waktu sudah menunjukkan pukul 13.30 ketika kami semua selesai makan siang di taman sekitar tempat parkir mobil di kota Metz ini. Setelah melepas lelah sambil menikmati sungai, kami kemudian melanjutkan lagi perjalanan menuju Belanda melalui autoroutes A31. Rupanya bayar tol autoroutes ini hanya di wilayah Perancis saja. Begitu kami masuk A31 di luar kota Dijon pagi tadi, kami membayar 12,40 euro untuk perjalanan sampai ke ujung perbatasan perancis yg kami lewati siang menjelang sore ini. Setelah itu, kami tidak membayar apa-apa lagi untuk tol.

Begitu keluar Perancis, kami mengambil autoroutes A3 menuju luxembourg, Perjalanannya cuma sekitar 98.5 km atau sekitar 1 jam 18 menit), lalu kami keluar melalui rute d’arlon untuk mencari masjid untuk melaksanakan sholat jumat, namun setelah berputar2 kami tidak menemuinya. Bahkan ada insiden kecil saat ada ambulance yang mengambil jalan oposit tepat di depanku. Aku segera meminggirkan mobil dan spion kananku menyerempet pembatas jalan, untung ngga apa2 mobilnya. Sambil mengisi bahan bakar, kami melihat peta dan memutuskan untuk segara saja melakukan sight seeing di jantung Uni Eropa ini.

Masalah terbesar di pusat kota besar negara2 Eropa ini adalah kesulitan mencari tempat parkir. Hampir setengah jam, kami mencarinya dan selalu penuh. Namun senangnya kami, karena hampir semua posisi tempat parkir sudah tersedia di GPS, dan di setiap pintu masuknya ada informasi ketersediaan parkir disana. Akhirnya, mobil kami diparkir di boulevard de la Pétrusse, sekitar 10 menit jalan kaki ke pusat kotanya. Cukup jauh tapi karena rutenya harus menyeberangi jembatan panjang dan besar bernama Pont Adolphe, yang dibawahnya adalah taman luas yang bernama vallée de la Petrusse (ngarai petrusse). Sejenak kepenatan kami terobati dengan pemandangan indah tersebut.

Setelah melewati jembatan, kami melalui jalan boulevard FD. Roosevelt. Di sebelah kiri kami adalah Gedung tua Casino Luxembourg (yang ternyata adalah salah satu pusat kebudayaan dan museum forum seni kontemporer). Lalu di sebelah kanan kami terpampang kompleks Pétrusse Casemates atau Place de la constitution. Mulai dari taman dengan bendera uni eropa beserta bendera negera2 yang tergabung dalam uni eropa sampai monumen de Souvenir Gelle Fra, yang menjadi area untuk melihat pemandangan indah ngarai petrusse dan tempat perhentian kereta wisata Luxembourg dan sekaligus toko souvenir.

Konon Luxembourg adalah negara dimana orang-orang kaya di Eropa berada. Tak heran, sebab aku melihat sebuah kombinasi ciamik antara bangunan masa lalu dengan bangunan modern dapat ditemukan di sini. Sebut saja bangunan bersejarah seperti Palais Grand Ducal (istana raja), jembatan viaduc yang tinggi, benteng rocher du Bock dan tembok lur de wenceslas serta istana-istana megah lainnya. Bangunan2 tersebut berdampingan dengan bangunan2 modern di sebelah barat daya di sekitar jalan J.F Kennedy, seperti Mudam (musium seni modern Duc Jean), Euroupe square, Philharmonie Luxembourg (bangunan seperti alat musik tiup), parliement européen dan komplek olah raga D’coque yg bangunannya futurisitik seperti daun dan kipas. Nah, ternyata bangunan2 modern ini dipergunakan sebagai pusat kegiatan uni eropa.

Kami berjalan menuju Notre damé Luxembourg dan menemukan pesta rakyat di sepanjang rue notre damé. Mulai dari tukang lukis, jualan-jualan kerajinan tangan ala eropa (termasuk juga barang buatan cina juga…:p), aneka jajanan gastronomi, sampai mainan ketangkasan ada di sini. Karena ini menjelang week end, kelihatan orang2 tumpah ruah dan situasi jadi ngga enak lagi untuk berjalan-jalan. Maka setelah sekitar 3 jam  berkeliling, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Belanda.
(bersambung)

File-file terkait bagi yang ingin tahu lebih rinci (pdf file) :

Iklan

3 Tanggapan

  1. assalamualaikum mas..

    mas mau tanya bagaimana proses sewa mobil disana?
    apakah dengan sopir atau tanpa sopir?
    berapa sewa mobil disana perhari? untuk ukuran mobil muat 5 orang
    rencana saya mau ke paris bulan depan mas..
    terimakasih

    salam
    Budi. S

    • kami menyewa mobil via situs http://www.bsp-auto.com/, mulai jauh2 hari karena biasanya ada harga promosi di akhir2 minggu. coba pak budi cek di situs tersebut sekalian cek harganya sekalian.

      Penawaran harga bisa per hari, bisa berdasarkan kilometer atau paket bbrp hari (jika promosi).

      atau bisa saja lsg dtg ke counter2 penyewaan mobil yg ada di stasiun2 kereta api atau airport, tapi umumnya sih pakai harga normal.

      Menyewa supir sekalian juga bisa saja, tp tentunya lebih mahal krn hitung kerjanya per jam. nyetir sendiri sebetulnya lebih nyaman, krn kan ada panduan GPS di mobilnya, jalan2nya besar dan lalu lintas sangat teratur jika dibandingkan di negara kita.

  2. Jika Anda sedang merencanakan ke Eropa khususnya Perancis, Luxemburg dan Belanda, silahkan hubungi jasa rental mobil denga sopir Trans Eropa, ada banyak pilihan mobil berkelas dan sopir yang pasih bahasa Indonesia dan Inggris

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: