• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 314,199 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Oleh-oleh yang lain dari Paris (Bagian 2 dari 2)

Selain mendapatkan pesan2 konstruktif yang dapat menggerakkan sel-sel fikiran, oleh2 yang bisa kubawa pulang adalah pelajaran berharga bagi jiwa. Inilah oleh2 terindah yang bisa menjadi kenangan tak terlupakan.

Tak berpanjang kata lagi, ini adalah sambungannya.

Pelajaran bagi jiwa

Pelajaran besar bagi jiwaku dari acara ini adalah fakta yang menyatakan bahwa tidak ada yg bisa mengalahkan sebuah kesabaran yg diusahakan dengan segenap potensi yang ada. Yah, sahabat2 dari PPI australia memberikan pelajaran itu dengan sangat jelas dan gamblang.

Penghuni Room 212 (Ki-ka) : Miko, Zulfan, TuanSUFI, Sunny

Mereka ini adalah para tamuku yang harus menempuh 20 jam terbang dan menghadapi  perbedaan waktu sampai 9 jam untuk tiba di Paris. Di hari pertama bertemu, masih teringat aku, Bang Zulfan dan bang Miko yang masih dalam kondisi jetlag harus mampir dulu ke KBRI. Aku pun sangat bisa memahami bagaimana rasa lelah ditubuh mereka itu harus ditahan dulu sampai mendapatkan kepastian dimana mereka harus bermalam. Begitu juga Bli Andi yang menyusul sehari sesudahnya (dengan kisah perjalanan beliau yang sangat spektakuler dan mendebarkan) dan tiba tepat beberapa saat sebelum gilirannya melakukan presentasi.   Aku berikan apresiasi besar pada mereka, karena dalam keadaannya seperti itu, masih bisa menyajikan presentasi yang amat meyakinkan di depan juri. Selain tentu saja memiliki topik penelitian yang sangat menarik dan inovatif.

Buah kesabaran itu ternyata adalah kemenangan mereka dalam lomba karya tulis ini. Betul2 sapu bersih, 3 orang PPI Australia yang datang, tiga2nya menang. Bahkan salah satu dari mereka yaitu mas Andi mendapatkan juara umum. Subhanallah. Selamat, sahabat…

Untuk mereka aku jadi pengen bikin kata2 mutiara nih ; Orang bodoh yang sabar, ia akan menjadi pintar. Apalagi orang pintar yang sabar, tak bisa dibayangkan apa yang bisa diperbuatnya.

Sungguh, kalau kusarikan situasi saat itu, modal dasar menuju kemenangan itu cukup simpel, yaitu :

  1. Memiliki ide riset yang inovatif dan rekomendatif, dan dilengkapi dengan
  2. Cara penyampaian yg sederhana sehingga mudah dipahami serta mudah diukur.

Nah, kesederhanaan dalam bidang ilmu pengetahuan inilah yang justru adalah bagian tertinggi yang tidak mudah dicapai. Oleh karena itu Enstein pernah berkata, “If you can’t explain it simply, you don’t understand it well enough“. Jadi, kesederhanaan itu bukanlah kemunduran, tetapi adalah bukti kecerdasan dan pemahaman terhadap sesuatu.

Pelajaran bagi jiwa yang selanjutnya, adalah mengenai identitas Keindonesiaan kita yang tidak pupus walaupun kita bertahun-tahun hidup di negara orang. Misalnya budaya jemput tamu di lapangan terbang atau stasiun kereta atau terminal2 angkutan lainnya.  Walaupun tidak pakai papan2 yang bertuliskan nama, cukup baju batik dan wajah2 lugu ala Indonesia, maka akan segeralah tercipta ‘chemistry‘ yang akan mempertemukan kita satu sama lain dengan cepat. Budaya antar mengantar ini cukup menyita waktu dan energi, tetapi sesuatu yang menggembirakan semua yang terlibat. Bagi yang dijemput ; tentunya mempermudah perjalanan, dan bagi sang penjemput ;  ada rasa senang karena bisa membantu orang lain dan bisa menunjukkan tempat2 menarik di kotanya.

Kemudian yang menarik yang lainnya adalah budaya pelayanan akomodasi. Terima kasih kepada saudari Uwie yang dengan setia menanti kedatangan para peserta OKTI 2009 di cafe pojok yang berada di lobby hotel Internasional di Avenue vitruve Paris. Teringat jelas, ekspresi Uwie di depan mac booknya yang putih kinclong, membagikan amplop berisi card key kamar2 hostel yang berisi 2 sampai 4 orang itu kepada para peserta yang datang dalam rentang waktu cukup jauh. Ekspresi kadang tersenyum, kadang datar. Sabar menunggu sampai semua peserta mendapatkan kuncinya masing2.  Pada akhir acara baru aku mengerti kenapa ekspresinya berganti2 seperti itu. Rupanya, hari itu adalah hari ulang tahunnya ! Wahh, selamat ulang tahun ya, Wi.

Nah, setelah semuanya usai, ada sesi jalan2 ke situs bersejarah Paris. Tour Eiffel, Concorde, Pantheon, Notredame, Louvre, Arc de Triomphe dan Trocadero adalah tempat2 wajib dikunjungi. Inilah salah satu kesederhanaan orang Indonesia dalam menikmati wisata kota. Cukup naik bus, berhenti sebentar di suatu tempat. Ambil beberapa foto dengan gaya narsis, lalu senang dan beralih ke tempat lain. Semua sejarah tempat2 tersebut tidaklah penting, walau pun Ceria sebagai pembawa acara OKTI rajin menjelaskan beberapa hal mengenai suatu tempat. Yang penting adalah foto kenangan. Bukti nyata bahwa ‘i was here’. 😉

Akhirnya…

Terima kasih kepada persahabatan yang terbentuk dalam acara OKTI kali ini. Semua pelajaran, semua pesan dan rekomendasi yang dihasilkan adalah sesuatu hal yang bisa dibawa pulang dan (mestinya) harus segera dilaksanakan sesuai dengan keahlian masing2. Ini adalah proyek pengabdian kepada bangsa kita. Proyek2 masa depan menuju kemajuan dan kejayaan Nusantara.

Izinkanlah aku menutup tulisan ini dengan mengambil pesan bagi kami semua orang2 yg mendapat kesempatan belajar di luar negeri dari Pak profesor Nizam salah seorang juri OKTI 2009 ;

  1. Jadikan kesempatan ini sebagai bekal utk membangun berbagai hal seperti ; Pengetahuan, modal dan jaringan yang semakin luas. Lalu istiqomahlah untuk mengelolanya dengan baik dan terus mengembangkannya.
  2. Kemudian setiap yang sudah didapatkan itu, digunakan untuk meningkatkan Nation competitiveness, sehingga Indonesia yang sudah sangat kaya dengan anugerah kekayaan alam yg luar biasa, bisa memanfaatkan potensi tersebut untuk kemakmuran rakyat seutuhnya.

Sampai berjumpa di acara selanjutnya.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Wah asik sekali mas Iqbal jalan-jalan lagi ke Paris:) mas Iqbal sekarang aktif bgt ya networkingnya di Perancis, good job!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: