• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 336,141 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Indonesia selalu Menarik Perhatian (1 dari 2)

Aku melihat fakta di beberapa kesempatan menghadiri acara-acara penting di Perancis ini, bahwa setiap ada sesuatu yang berhubungan dengan Indonesia, pasti selalu menarik perhatian orang perancis, melebihi pusat pandangan mereka ke negara-negara yang lain. Berikut ini adalah catatan pribadiku,  yang semakin memantapkan hati, membarakan rasa cinta negeri.

VIBOT Master Induction days

Master VIBOT (Vision Robotic) adalah salah satu master Tri-Universitas terkenal di dunia yang diselenggarakan atas dukungan Erasmus Mundus Uni Eropa.  Saat pertama kali kedatanganku di Perancis untuk melanjutkan sekolahku, aku mulai berinteraksi dengan teman2 master VIBOT. Nah,  sampai tahun kedua aku berada di perancis ini, Vibot sudah angkatan ke-4.  Hampir dari setiap angkatan ada satu orang Indonesia (kecuali angkatan ke-2), berturut2 nama mereka adalah Adi, Ruddy dan Vanya.  Nah, setiap tahun pengelola Vibot melaksanakan acara yang disebut dengan Vibot Day. Di dalam acara ini biasanya ada perkenalan kebudayaan masing-masing negara baik dengan cara presentasi atau acara santai menyanyi atau menari bersama. Pada salah satu acara pot VIBOT, salah seorang mahasiswa gunadarma yang melakukan sandwich program selama 6 bulan dari Universitas Gunadarma mengenalkan goyang jempol dangdut pada mereka. Hanya dengan modal musik dangdut dari youtube dan sedikit gerakan jempol dengan lengan yang dirapatkan di samping dada, terjadilah kegemparan karena mereka mendapatkan cara menari yang santai dan diiringi musik gembira. Keunikannya membuat mereka menikmatinya sambil tak henti-hentinya tertawa. Maka sejak saat itulah, setiap ketemu, mereka suka menggoda sambil pasang posisi siap menari jempol 🙂

Kemudian pada acara Gala Dinner VIBOT Graduations ceremony angkatan 3,  dimana setiap Vibotian angkatan selanjutnya (angkatan 4) mendapat kesempatan untuk mempresentasikan tentang negaranya. Vanya yang baru datang dari Indonesia mempresentasikan bhineka tunggal ika dengan membahas untaian pulau demi pulau dan kekayaan alam serta keunikan budaya setiap tempatnya. Semua mata memandang warna warni negara kita, mendengar nada-nada ‘da-mi-na-ti-la-da’ musik tradisional serta semua keindonesiaan kita. Suasana menjadi hening ketika Vanya menyanyikan sebuah lagu bernuansa karawitan tentang gemah ripah loh jinawi-nya zamrud katulistiwa ini dan tepuk tangan terus membahana saat Vanya menyelesaikan presentasinya itu. Setelah acara berlangsung beberapa orang tamu yang hadir langsung mendatangi memberikan apresiasinya serta mengemukakan niat untuk berkunjung ke Indonesia. Terlihat klimaks acara presentasi Vibotian berhenti di sana. Sebab presentasi2 selanjutnya seperti tenggelam dalam sensasi Indonesia tersebut.

Yah, Indonesia itu memang lain…, subhanallah.

Pesta makanan ‘ala Indonesia

Beberapa kali pula aku mengikuti acara pesta makanan Indonesia di perancis ini. Bentuk acaranya bisa makan siang (repas indonesienne) atau makan malam (soiree indonesienne). Supaya lebih menarik, pada acara makan malam biasanya dibarengi dengan ‘pesta budaya rakyat’ Indonesia yang menampilkan tari-tarian, pementasan alat musik, pameran foto serta film dokumentasi budaya dan keindahan alam Indonesia, maka namanya menjadi Soiree Culturelle Indonesienne.

PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) di beberapa kota seperti Lyon, Dijon, Marseille, dan Montpelier rutin mengadakan acara budaya itu. Kadang pada duta budaya ‘un-official’ ini, merogoh kocek pribadi untuk menyewa tempat serta melangsungkan pertunjukan2 budaya Indonesia. Kami2 juga biasanya bergotong royong untuk masak masakan Indonesia dan  menggalang dana dengan berjualan kue atau suvenir untuk biaya2 acara tersebut. Nah, pada saat acara berlangsung ; antusiasme warga Prancis terhadap kebudayaan yang begitu tinggi membuat setiap dibawakan tari-tari daerah atau alat musik khas seperti angklung atau suling, mendapatkan tepuk tangan panjang sambil berdiri. bahkan di Lyon, mereka bahkan rela antre untuk mendapat tiket pertunjukan dan panitianya menolak permintaan karena tempatnya tidak memadai. Terakhir yang kami lakukan di wilayah kami di Bourgogne adalah membuat spesial menu masakan Indonesia untuk makan siang pada hari Idul fitri 1430H di Franceville, sekitar 30an km dari kita Dijon. Cafe salah seorang sahabat Perancis kami mendadak penuh, dan tepuk tangan bravo karena tegasnya bumbu2 Indonesia kembali kami dapatkan (he he he, jadi GR dikit).

(bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: