• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 359,798 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Kegiatan PPI – Antara kewajiban belajar & Nikmatnya bermasyarakat

Ada yang menarik dalam kancah pertemanan dan aktivitas keseharian pelajar-pelajar rantau di negeri orang.

Yaitu pertemanan dengan mereka-mereka yang ‘terpaksa’ harus tercerabut dari akar kebudayaannya dan menghadapi langsung ‘dengan jantan’ berbagai jenis perbedaan dalam kehidupannya.

Mereka-mereka  yang selalu didera berbagai beban pelajaran dari kampus, tuntutan tugas dan makalah, presentasi dan melakukan berbagai percobaan di laboraturium.

Sementara itu, mereka juga harus memenuhi dan mengatur sendiri kehidupan pribadinya ; memasak, mencuci, belanja dan membereskan tempat tidurnya, atau mengurus berbagai administrasi kependudukan, asuransi dan lain sebagainya.

Aku melihat paling tidak ada tiga keadaan yang menjadi pilihan sikap bagi pelajar-pelajar kita ini ;

  1. Pertama, menjadi manusia tangguh ; bisa mengatur dirinya dan kewajiban utamanya sebagai pelajar, bahkan sempat pula mengurus berbagai kegiatan-kegiatan tambahan lainnya dalam organisasi, olah raga atau kegiatan sosial.
  2. Kedua, menjadi robot tangguh ; mengatur dirinya dengan baik dan konsentrasi penuh dengan perkuliahannya, sehingga kalau ada teman menginap di rumahnya sampai diusir karena takut mengganggu dirinya dalam menyiapkan tugas-tugas presentasi esok hari. Tidak mau peduli kegiatan pertemanan dan kalau pun terpaksa terlibat, kelihatan ngga ikhlas dan setengah-setengah.
  3. Ketiga, menjadi turis tangguh ; mengatur dirinya dengan baik sebagai explorer (penjelajah daerah-daerah baru) untuk sekedar menjaga kenarsisan diri.  Sudah jelas yang terakhir ini, mereka amat menikmati hidup, sampai-sampai lupa tujuan utamanya datang yaitu belajar. Biasanya ini disebabkan karena terhanyut dengan situasi yang benar-benar baru.

Di sisi lainnya, PPI atau Perhimpunan Pelajar Indonesia, adalah salah satu organisasi yang punya tujuan untuk mengikat silaturahmi antar pelajar di perantauan. Sebetulnya dengan organisasi ini, diharapkan dapat membuat para anggotanya bisa berada pada komunitas yang lebih ‘homogen’, sehingga satu sama lain bisa lebih mudah dalam saling bernasehat dan mengingatkan. Oleh sebab itulah, kegiatan-kegiatan PPI umumnya tidak akan jauh dari tujuan utamanya tersebut.

Namun dengan adanya berbagai jenis tipe anggotanya ini, terjadi dinamika yang amat seru yang akan menjadi pernak-pernik hubungan antara tiga tipikal perilaku pelajar yang telah kujabarkan di atas. Menurutku, Paling tidak, ada 3 perilaku individual yang perlu diperhatikan agar organisasi ini tetap jadi perekat satu sama lain dan bukannya justru malah jadi sarana ‘perpecahan’.

Pertama, budaya pesimis yang cenderung terbawa dari tanah air. Kalau kita mau merenung, disadari atau tidak, orang Indonesia punya sifat mengedepankan prasangka sebelum bertindak. Belum berbuat apa-apa biasanya sudah negatif duluan. Kata-kata seperti ‘wah itu mah sulit‘ atau ‘ngga mau ah, nanti bisa begini begitu…’ seringkali menghiasi kuping kita. Nah, parahnya jika salah seorang sudah pesimis, kecenderungan untuk mempengaruhi orang lain untuk ikut pesimis pun sangat tinggi. Penyakit ini pun biasanya menambahi kata-kata bujukannya dengan hiperbola dan pemanis2 tambahan agar orang lain bisa segera mendukungnya. Nah, penyakit ini akhirnya menghasilkan perbuatan dusta yang cenderung membawa fitnah yang sangat berbahaya.

Selain itu, kalau pun SDM sudah mulai bergerak mengerjakan sesuatu bersama-sama, kita ini juga masih suka mengedepankan budaya feodal. Umumnya, karena merasa sebagai penggagas atau pemimpin, menganggap dirinya memiliki derajat lebih tinggi dari yang lain. Sehingga yang terjadi adalah bukan bekerjasama, tetapi suruh menyuruh tak habis-habis.  Lucunya, tipe orang yang seperti ini akan marah kalau terlihat teman-teman lainnya punya gagasan sendiri dan melakukan kegiatan tertentu tanpa meminta pendapatnya. Padahal sesungguhnya dalam kegiatan2 organisasi, justru orang-orang kreatif seperti ini,  yang akan membuat segalanya menjadi lebih mudah ; tinggal diarahkan saja. Budaya ini akan berakibat lebih parah jika dia berada dalam tatanan operasional organisasi, kita akan menemui orang-orang yang tidak mau bekerja dan hanya menggerundel saja mempengaruhi orang lain yang sudah mulai mau bekerja.

Kemudian, yang ketiga, kita orang Indonesia ini cenderung punya masalah pencitraan diri (image problem). Ini biasanya keluar karena kaget ketika mengalami culture shock saat berpindah dari kehidupan Indonesia yang ‘penuh etika ketimuran‘ ke kehidupan yang serba bebas dimana ‘etika perlu didefinisikan kembali‘. Akibatnya ada 2 macam ;

  • Pertama dia akan berusaha membuat tameng untuk memisahkan kehidupannya dengan orang lain sama sekali (pokoknya belajar aja deh.. kagak perlu berteman dgn org lain), lalu mengganggap dirinya paling sempurna dan beradab (untuk yang agak kuat mentalnya) atau justru malah jadi minder (untuk yang agak penakut).
  • Akibat yang kedua adalah, malah justru memutuskan berubah citra saja sekalian, melupakan keindonesiaannya mencoba mencintai kehidupan baru, mumpung sedang jauh dari mana-mana.

Jika diteruskan lebih jauh lagi, masalah image problem ini akan menghasilkan orang-orang yang senang menjustifikasi bahwa dialah yang paling beretika, paling benar dan paling bisa dipercaya. kalau sudah begini, dia akan keras kepala dan susah dinasehati, apalagi jika kita bersebrangan pendapat dengannya, sudah dapat dipastikan, dia akan segera menghilang tidak mau bergabung lagi.

Nah, untuk itulah, organisasi yang homogen seperti PPI ini, amat baik jika dimulai gerakannya sesuai dengan kebutuhan fitrah manusia yang diindikasikan Nabi Muhammad bahwa kebutuhan saling menasehati antar sesama, tidak lebih dari 3 hari. Sedikit demi sedikit, hubungan kelompok dibangun dengan makan bersama di akhir minggu, atau piknik di taman menikmati matahari sambil tentu saja diisi dengan kata-kata baik dan santun satu sama lain. Jika kondisi geografis tidak memungkinkan, kita bisa saja memanfaatkan video chatting, atau email atau sarana-sarana internet lainnya untuk selalu saling berhubungan satu sama lain. Biar bagaimana pun kan, kita di rantau ini adalah minoritas. Maka sayangilah orang-orang sekampung ini.

Lalu, jika ada prinsip dasar-dasar kehidupan yang sudah kita pegang teguh, tentu saja harus tetap dipegang teguh. Jika terjadi perbedaan prinsip, kita mesti menyadari bahwa kita ini hanya bisa bilang tidak sependapat, tapi tidak punya hak utk memaksa yg lain juga utk berada di pihak kita. Apalagi jika di dalam organisasi telah ada kesepakatan yang berhubungan dengan banyak orang, tentu mau tidak mau kita mesti menaatinya. Yang paling penting di sini adalah, jika mau kukuh memegang prinsip, harus bersedia pula menghormati prinsip yang kukuh dipegang oleh orang lain.

Terakhir, rangkuman pesanku adalah ; Berusahalah memaklumi, jangan selalu saja minta untuk dimaklumi…

Jaya terus, orang Indonesia…. !

Iklan

2 Tanggapan

  1. Merci bcp pour pesimis karna itu memotivasi aku untuk mencoba apakah hal ini berlaku untuk aku ? Selama prinsip aku “Jika keadilan ditegakkan, keberanian tidak diperlukan lagi” tidak ada salahnya mencoba dari diri sendir … makin ngak nyambung deh ceritanya……
    Cuci Piring MODE ON

  2. pinjam istilah milist kampus ach…

    analisa canggih… gih.. gih…

    perlu di follow up nih boss… menjadi seminar sehari ….. kan tujuan utama untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas diri kita… apa saya?????!!!!!!???!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: