• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 335,902 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Malam Keakraban ‘soirée indonésienne’ Di Dijon

Pada akhir minggu, sekumpulan keluarga atau sahabat di perancis memiliki kebiasaan berkumpul untuk bercengkrama. Acara kumpul-kumpul ini umumnya dimulai setelah pukul 18 sampai tengah malam. Suasana musim semi yang siangnya lebih panjang, menambah suasana ceria dalam acara ini. Diawali bincang-bincang sambil memakan makanan kecil dan minuman ringan (apéritif), lalu mengalir ke makanan yang ‘agak berat’ sebagai entrée, kemudian baru keluar makanan utama (plat principal) dan ditutup dengan dessert.

Nah, bersama para sahabat di dijon kami berusaha membuat acara seperti ini dengan tema Indonesia. Pesertanya adalah sahabat-sahabat perancis kami dan juga siapa saja yang  punya ketertarikan kepada Indonesia. Makanannya adalah makanan-makanan Indonesia, serta hiburannya pun hiburan ala Indonesia. Pokoknya, segala perbincangan dan semua pusat perhatian adalah Indonesia!

Maka kemudian diaturlah sebuah exposition (pameran) dan animation (pertunjukan) yang dimulai dari pukul 17 sore. Idenya adalah, para tamu akan datang pada sekitar waktu tersebut, lalu menikmati foto-foto keindahan alam Indonesia dan berbagai foto-foto aktivitas kebudayaan, sambil juga melihat beberapa klip film pendek kegiatan kebudayaan tarian dan musik. Selain itu, disediakan juga pojokan untuk demo membuat batik ; lengkap dengan canting serta pencelupannya. Nah, untuk menambah semarak suasana, juga disediakan berbagai pernak-pernik khas Indonesia seperti dekorasi lukisan batik, gantungan kunci, kipas dan lain sebagainya, yang bisa dibeli oleh pengunjung sebagai oleh-oleh khas Indonesia.

Hebatnya, ibu-ibu kita di dijon pun tidak mau kalah dalam membuka meja untuk jualan makanan-makanan kecil seperti kelepon, tahu isi, bakwan, dan pangsit. Hanya dengan 1 euro per bouquette (paket kecil isinya 2-3 potong), pengunjung bisa merem melek terkena ledakan kelepon di mulutnya.  

Dukungan dari sahabat-sahabat lain kota pun sungguh luar biasa. Sahabat PPI Lyon datang tepat pada waktunya untuk bersama-sama mendekorasi ruangan dengan kain batik panjang, betul-betul menciptakan suasana yang indonesia banget. Sambil diiringi lagu Iwan fals, kami bahu membahu menyelesaikan pekerjaan ini. Sahabat dari Renees, selain membantu mengisi acara demo membatik, juga ikut naik2 meja untuk memasang dekorasi kain di langit2 gedung. Saat acara sudah berlangsung, salah seorang dari sahabat2 ini pun mempersembahkan tarian dari lampung.  Sedang sahabat lainnya dari Paris tak mau kalah untuk menyumbangkan tari piring. Yang mengagetkan kami namun menggembirakan, tidak sengaja kami mendapatkan seorang sahabat indo franco dari yang bersedia menyumbangkan suaranya untuk menyanyi lagu2 khas Indonesia dari wilayah Franche Compte.

Alhamdulillah, sampai ke titik ini, sudah cukup lengkap untuk persiapan acaranya…

Dukungan dari KBRI Paris serta KJRI Mersailles pun kami rasakan  sekali. Kami mendapatkan pinjaman baju-baju daerah yang ternyata mampu mewarnai acara kami ini, dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para tamu. Ini kami ketahui dari banyaknya komentar takjub para sahabat perancis kami terhadap kostum daerah yang kami pakai ini. Terutama baju jawa mas sunny yang hitam dan dironce warna emas, sehingga terlihat sangat mewah.  Selain itu, KBRI juga membawa  brosur  pariwisata dan beberapa cenderamata untuk para tamu membuat para tamu mendapat buah tangan sepulangnya dari acara ini. Sungguh gotong royong yang menjadikan acara ini semakin terlihat terorganisir dengan baik.

Selanjutnya, sejak 2 hari sebelum hari H, seluruh komponen PPI Dijon bersama Yayasan Trembesi Perancis (yang dikepalai oleh Briggite, istri dari bang Ujai dari Bukit Lawang) telah membagi tugas dalam mempersiapkan acara jamuan ini. Mulai dari penyediaan gedung, kursi dan mejanya. Lalu penyiapan peralatan makan, yang ternyata bisa pinjam ke adiknya Briggite, dan dibentuknya tim khusus untuk memasak soto ayam, semur daging, mie goreng, kerupuk dan kolak pisang. Kemudian menjelang acara berlangsung,  kami melakukan penataan kursi meja, mengatur foto2 untuk pameran, setting audio dan video di ruangan secara bersama2. Begitu pula  selama acara makan berlangsung, kami dengan pakaian adat daerah ini harus bolak-balik keluar masuk dapur membawa makanan dan mengganti piring-piring kotor dan sekaligus cuci piring dari para tamu yang jumlahnya mencapai 80 orang ini.

Tapi jangan kawatir bu Ida (red: staf Atikbud KBRI).., Baju daerahnya tetap bersih kok. he he he.

Singkat kata, acara soirée indonésienne ini mengalir alamiah ;

Exposition lukisan membuat para tamu takjub karena setiap lukisan ternyata punya cerita panjang sendiri-sendiri tentang budaya Indonesia (Terima kasih buat Ivan dkk yang menjelaskan sampe berbusa2 tentang obyek lukisan kepada para tamu).

Demo batik pun dengan asap dan bau khas menyengat ternyata tidak membuat tamu menjauh, malah pada nongkrong sambil mengangguk-angguk kagum (Terimakasih untuk Luth dari renees).

Tari pembukaan dari Lampung menyihir penonton dengan kegemulaian jari2 yang dibalut hiasan kuku2 emas yang rucing2 itu. Mereka juga kaget saat penari berkeliling ke meja2 mereka untuk memberi kesempatan mereka mengambil cenderamata yang ada di kotak tradisional yang dibawa sang penari (Terima kasih buat Ari dari Lyon).

Lagu-lagu campur sari, dangdut dan pop krisdayanti juga memeriahkan keceriaan malam itu. Sambil makan makanan utama, para tetamu terlihat menggoyang-goyangkan kakinya (Terima kasih buat mbak Ida yang jauh2 datang sekeluarga lalu bernyanyi dengan suara hebatnya).

Tari piring dari padang dengan penutup kepala seperti rumah gadang pun ternyata membuat para tamu berkomentar ‘superb‘ (Terima kasih buat Uwi dari Paris).

Lalu film2 singkat kebudayaan Indonesia yang dipinjamkan dari KBRI, koleksi pribadi Bang Ujai, hasil hunting TuanSUFI di youtube, pinjaman dari mbak yati dan Yayasan trembesi semuanya mengisi setiap ruang kosong acara malam ini.

Dan puncaknya adalah tari poco-poco bersama, betul2 menggelitik  para tamu utk turut serta.  Walau pun jadi  kacau balau karena kita pun emang ngga ada yang benar2 hafal tarian ini, tapi justru dari situlah keceriaan dan kegembiraan bisa menggema ke relung hati setiap orang saat itu.

Subhanallah, gotong royong ini betul2 membawa kemudahan serta keberhasilan dalam acara ini. Para tamu Perancis kami sangat menganggap positif, bahkan ada beberapa yang memang berencana untuk segera datang ke negara kita ini.

Pesan yang jelas di sini adalah : Pendekatan budaya dan kuliner bisa jadi bahasa universal untuk mendekatkan bangsa yang berbeda. Acara ini adalah buktinya.

Foto-foto lengkap dapat dilihat disini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: