• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 359,704 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Eksotika Wina (Bagian 1 dari 2)

Hari pertama : Kota Tua

Sekitar 15 jam lebih dalam perjalanan menggunakan bus dari Lyon Perancis, sampailah kami di Wina atau Vienna atau Wien atau Vienne. Inilah salah satu kota di Eropa yang terkenal dengan istana-istana megahnya. Setelah memastikan dimana kamar hostel kita masing-masing, berganti pakaian lebih santai serta menjama’ qashar sholat dzuhur dan ashar, maka berkumpullah kami menjadi grup-grup kecil. di sebuah restoran tidak jauh dari hostel, dengan berbekal peta kota Wina, maka berembuklah kami untuk menyusuri Wina mulai dari jantung kota tuanya, menyusuri jalur yang mendekati hostel tempat kami tinggal.

Seperti pada kota2 di eropa pada umumnya, pusat kota ditandai dengan adanya katedral besar. Nah, di kota Wina ini kami mulai dari tempat yang bernama St. Stephen’s Cathedral (Stephansdom), yang dapat dicapai dengan menggunakan kereta bawah tanah U3 dari westbahnhof, lalu keluar di daerah yang bernama Stephansplatz. St. Stephen’s Cathedral ini bernuansa Gothic, dan penuh berbagai harta karun seni yang tak ternilai harganya. Di tempat inilah pualam merah makam kaisar Frederick III berada, lalu ada ‘the pulpit’, anak tangga yang dibuat sekitar tahun 1514 oleh Anton Pilgram, kemudian ‘altar Wiener Neustädter‘ yaitu altar Gothic dari tahun 1447 – dan kuburan Pangeran Eugene of Savoy, dari tahun 1754. Jika berjalan mengelilinginya di salah satu sudut sebelah timurnya akan ditemui rumah musikus kenamaan Wolfgang Amadeus Mozart.

Jika mau berkeliling menggunakan kereta kuda bergaya zaman pertengahan, juga bisa ditemui disini. Sayangnya harganya cukup membuat kami mengurut dada. Namun, kita tidak perlu kawatir, karena banyak pertunjukan ‘kaki lima’ yang bisa ditemui di sekitar katedral ini, misalnya tari unik memakai bola kristal dan tongkat, berfoto bersama orang-orang berpakaian abad pertengahan, atau ikut konser musik klasik selama dua jam di gedung konser yang tidak jauh dari katedral ini. Untuk hal yang terakhir, biasanya kita akan didatangi oleh para penjual karcis yang menjajakan jadwal konser dan harganya. Saat kuintip2 ternyata yang termahal 82 euro dan yang termurah adalah 29 euro. Namun, harga ini masih bisa ditawar sampai 15 euro. Berulang kali sang penjual mengatakan, tidak menonton konser di Wina, sama saja ke Paris tidak ke menara eiffel. He he he, bisa aja dia…

Kami kemudian berjalan ke sebelah barat katedral melewati bangunan Saint Peter. Di sekitar sinilah kami menemukan toko aksesoris yang harganya cukup menarik, sehingga kami memutuskan untuk rehat sebentar disini.

Setelah itu kami berjalan lagi ke arah barat daya, terlihatlah Imperial Palace Hofburg. Di tempat inilah keluarga kerajaan Habsburg tinggal. Di dalamnya kita bisa mengunjungi kediaman pribadi dan berbagai ruangan kerajaan yang penuh dengan berbagai benda seni yang bernilai tinggi. Istana ini mulai ditinggali keluarga kerajaan sejak 1918. Konon, pembangunannya dilakukan pada abad 13. Kini, bagian utama istana ini dijadikan kantor presiden Austria dan para anggota kongres. Selain itu ruangannya dibagi-bagi menjadi meseum-museum benda seni kemewahan masa lalu.

Masih di komplek yang sama, kita bisa menemui Spanish Riding School. Ini adalah institusi satu-satunya di dunia dimana teknik klasik teknik berkuda indah equestrian skills (haute école) terus diajarkan dan dilatih, yang pada jadwal-jadwal tertentu ada pertunjukannya. Sayangnya saat kami berkunjung tidak ada informasi mengenai hal ini.

Kemudian di sebelah barat dayanya lagi terdapat sebuah taman asri Heldenplatz dengan dua patung berkuda berhadapan. Jika kita teruskan menerawangkan mata sampai ke ujung taman yang berhadapan dengan istana Hofburg ini, maka akan terlihat bangunan gereja Rathaus dengan menaranya yang tinggi, yang tidak jauh di sebelah kirinya terlihat pula gedung parlament yang tak kalah megahnya. Oh ya, di heldenplatz ini kami juga menemukan tempat ‘mengetem’ kereta kuda seperti yang kami temui dekat St. Stephen’s Cathedral di atas.

Tak jauh kami berjalan lagi, sampailah kami di gerbang utama istana Hofburg. Gapura yang bertuliskan Franciscvs. I. Imperator Avstriae MDCCCXXIV dan Lavrvm.Militibvs.Lavro.Dignis.MDCCCCXVI ini tinggi menjulang dan memanjang sampai sekitar 50 meter. Sehingga dalam kesempatan pertama saja melihatnya akan menimbulkan kesan bahwa di dalamnya adalah sebuah istana yang megah. Gapuranya aja seperti ini, apalagi bangunan utamanya…

Bagi sahabat yang penasaran, peta lengkap istana Hofburg dapat dilihat di http://www.wien.info/hofburg/map-e.html

Dari plasa heldenplatzt, kami kemudian menyebrang jalan burg. Di sana terdapat taman luas yang disebut Maria theresien platz. Di sebelah kiri dan kanannya terdapat bangunan megah museum naturhistor dan museum kunsthistor, dan di tengahnya ada patung Maria theresian. Jika kita berjalan ke arah barat sedikit lagi, maka akan terlihatlah Museum Quartier yang sedang direnovasi. Sampai di sini, ada perubahan rencana. Tadinya kami akan pulang menuju hotel melalui Volks Theater, namun karena waktu masih menunjukkan pukul 20.00 dan matahari pun masih cukup cerah, maka kami memutuskan untuk mencari trem menuju bagian utara kota tua untuk melihat kanal Danou sambil mencari makan malam. Nah di sepanjang perjalanan naik trem ini, kami melewati gedung parlament dan gedung Rathaus yang tadi terlihat dari kejauhan dari Heldenplatz. Ternyata Rathaus dikelilingi taman Rathaus platz dan Freidrich Schmidt Platz yang indah. Kami juga melewati gedung universitat sambil mengamati peta dan ternyata di lebih utara lagi, ada juga museum sigmund freud dan museum liechtenstein. Berhubung hari sudah gelap, kami urungkan saja niat pergi kesana. Kemudian, sesampainya di daerah schewedenplatz kami menemukan restoran halal seorang dari tunisia yang hampir tutup. Ayam separuh beserta kentang cukup membuat kami kekenyangan, lalu segera pulang ke hostel. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.30, wuih.. ngga terasa ya. tau-tau kaki ini sudah pegal-pegal semua 🙂

(Bersambung)

Foto-foto lengkap ada di sini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: