• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 304,857 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Orang Yang Mencintai Indonesia ; Monsieur Luc

Kali ini aku menulis tentang seorang tua warga Perancis yang bersahaja. Seorang yang sudah makan asam garam kehidupan, Ingénieur Professionnel Europeen ini adalah salah seorang insinyur yang membangun bendungan jatiluhur sekitar tahun 1962 dahulu. Kini dalam usianya yang ke 89, masih gagah beraktifitas dalam asosiasi2 humaniterian yang berfokus pada anak-anak dan orang-orang miskin. Beliau tinggal di sebuah desa di sekitar 10 km dari kota Chalon sur saone, sebuah desa yang bernama Bresse, yang terkenal dengan peternakan ayamnya. Dan yang sungguh menggetarkan hatiku dari pancaran cahaya semangat dimata tuanya itu, terpancar juga rasa cinta terhadap Indonesia.

Berulang2 beliau nyatakan, rumah ini separuh perancis, separuh lagi adalah Indonesia. Sambil mengajakku juga Julia dan keluarganya untuk memasuki setiap sudut rumahnya. Melihat lukisan batik tulis di atas kamar tidur almarhum istrinya, yang menurut beliau tidak berubah sejak wafatnya 2 tahun yang lalu. Kami juga diajak untuk melihat beberapa ruangan lain yang penuh dengan ornamen dinding dengan hiasan wayang kulit, lukisan bambu jawa barat, batik dari bali dan tampah untuk menyampih beras ala jawa barat. Yah, memasuki rumahnya itu seperti memasuki suatu kenangan indah kerinduan atas negeri bernama Indonesia yang konon seperti tetesan surga di bumi ini.

Tak henti-hentinya beliau bercerita, walau pun dalam perjalanan kecintaannya itu beliau serta istrinya pernah mengalami ‘masa-masa kekerasan politis’ dari rezim suharto, tapi nyatanya tidak pula juga melunturkan sama sekali kecintaannya pada negeriku ini. Bahkan setiap ada kesempatan untuk kembali ke Indonesia, bapak Luc ini seperti menjadi muda kembali. Yah, beliau menyatakan ingin segera ke Indonesia untuk melihat sendiri sebuah yayasan untuk anak-anak tuna rungu di daerah yogyakarta yang sama sekali tidak bisa dikontak setelah tragedi gempa beberapa saat yang lalu. Kaget juga aku mendengar kata ‘barudak torek’ dari mulut beliau ini. Sungguh surprise !! Tidak terduga sama sekali, bahasa sunda terdengar dalam aksen Perancis di desa penuh kabut yang suhunya minus tiga ini.

Beliau juga menjabarkan rencana padatnya akan mengunjungi sanak famili, mencari saudara2 beliau dan kerabat dari istri2 beliau yang sudah berserakan di berbagai tempat. Beliau juga mengeluhkan kenapa banyak dari bangsa kita sering tidak mencatat alamat2 saudara mereka. Sehingga dalam perjalanannya ini dia merencanakan untuk mendokumentasikan semua sanak familinya itu yang sempat dia kunjungi. Dari mulut tuanya tersebut kota2 bandung, ciamis, gombong, surabaya dan beberapa kota lainnya. Sungguh rencana menyambung silaturrahim yang perlu kita contoh.

Aku jadi teringat almarhum saudaraku yang kerap meluangkan hari liburnya untuk mengunjungi keluarga dan kerabatnya yang tersebar dimana-mana. Almarhum saudaraku ini punya database besar alamat kerabat terdekat dan rajin mengunjunginya bergiliran. Rupanya, kebiasaan ini sangat dicintai oleh Allah sehingga saudaraku itu dipanggilNya dalam usia yang cukup muda. Yang menakjubkan adalah, betapa banyak sekali orang-orang yang datang mengiringi kepergian saudaraku tercinta itu. Seorang yang sederhana yang telah berhasil menyatukan hati-hati keluarga besarnya dalam silaturrahim…

Kembali ke pak Luc, berulangkali pula beliau menyatakan kegembiraannya bisa berbahasa indonesia dengan kami. Sambil berulangkali pula minta maaf ke zooran yang hanya bisa menebak2 kemana arah pembicaraan kami. Dengan bangganya dia menunjukkan berbagai buku serta jurnal mengenai antropologi, sejarah, kebudayaan serta berbagai informasi tentang Indonesia. Aku juga menemukan buku2 kebudayaan yang sudah menguning dengan ejaan bahasa indonesia lama di raknya. Rupanya kini, beliau juga aktif dalam ‘asosiasi pecinta indonesia’ dalam lembaga pasar malam. Bahkan lembaga kebudayaan ini sudah menerbitkan jurnal 2 kali setahunnya pada edisi keenam pada desember lalu. Jurnal budaya yang bernama Le Banian [Pohon Beringin] ini menjadi penerbitan resmi Lembaga persahabatan Perancis-Indonesia “Pasar Malam” Paris. Konon, ini terbit dengan dana mandiri berdasarkan pendapatan dari semua kegiatan-kegiatan kebudayaan dan iuran anggota ; para Indonesianis. Aku baru mengenal istilah ini, yang ternyata sekumpulan orang2 yang mengenal serta tertarik pada  Indonesia, yang jaringannya bukan hanya di perancis, tapi juga di belanda dan di beberapa negara eropa lainnya.

Melalui tema-tema khusus pada setiap nomor penerbitannya, Le Banian ( baca : banyan) menyuguhkan kepada masyarakat Perancis berbagai masalah Indonesia dalam artikel-artikel serius, lengkap dengan acuan-acuan bandingan. Le Banian jadinya merupakan salah satu wahana Lembaga “Pasar Malam” untuk mencapai tujuannya menggalang persahabatan antara rakyat Perancis dan Indonesia melalui pendekatan kebudayaan.

Dari bapak luc ini, aku juga mengenal ada satu lagi majalah terkenal yang diterbitkan oleh para indonesianis ini yang sudah lebih senior, yaitu L’Archipel. Mungkin sahabat dari Indonesia perlu juga membacanya, suatu pandangan dari sisi lain tentang negara kita.

Walaupun Usianya sudah sangat tinggi, namun bapak Luc ini masih sigap. Ingatannya masih terang, pikirannya masih tajam. Mungkin karena Beliau suka membaca ya? Dalam perbincangan kami, beliau juga sempat berkomentar tentang kejadian di Gaza dengan menyatakan ‘si bush itu setan‘, tidak manusiawi, masih membela israel yang berperilaku biadab. Beliau juga menyalahkan film2 Amerika yang membuat banyak orang Indonesia menjadi salah persepsi tentang orang barat.  Dan yang hebat adalah, dalam usia menjelang 90 tahun seperti itu, beliau masih rutin mengecek emailnya setiap hari dan memanfaatkan internet untuk aktifitasnya.

Begitulah pengalamanku lagi, sahabat. Di belahan dunia manapun akan selalu dapat kita temui orang-orang tua yang bisa dijadikan teladan. Kematangan karena pengalamannya, adalah pelajaran berharga bagi kita semua. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Bonjour Monsieur Luc…

2 Tanggapan

  1. heibat sekali mr Luc itu ya..

  2. saya juga mencintai Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: