• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 327,924 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Tradisi Visite à Labo

Di laboraturium tempatku bekerja ada satu tradisi akademis yang sangat bermanfaat untuk memacu semangat melakukan riset teknologi. Ya, tradisi ini ditumbuhkan tidak hanya mulai dari anak-anak sekolah dasar, tapi juga murid2 sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, mahasiswa, komunitas kota, sampai para researcher sendiri yang berasal dari laboraturium lainnya. Dan untuk tradisi ini pun, pihak laboraturium menunjuk penanggungjawab untuk menjadi juru bicara dan menjadi pendamping mereka yang berkunjung ke laboraturium.

Sungguh sesuatu tradisi sederhana yang mungkin terlupakan oleh kita di tanah air. Namun menurutku manfaatnya sangat besar untuk memacu semangat mencintai penelitian. Bahkan dari seorang anak sekolah dasar yang mengikuti tradisi berkunjung laboraturium ini langsung mengubah cita-citanya untuk menjadi peneliti computer vision.

Apa saja sih yang dilakukan dalam tradisi berkunjung laboraturium penelitian ini?

Aku akan jabarkan dari dua sisi subyek yang terlibat ya, yang pertama adalah dari sisi laboraturium. Kunjungan orang2 ini ke laboraturium merupakan salah satu social responsibiliti labo terhadap masyarakat. Kalau dalam bahasa Tridarmanya perguruan tinggi di Indonesia adalah pengabdian pada masyarakat. Labo dalam hal ini menjalankan fungsinya untuk memberitahu masyarakat tentang berbagai hal yang telah dan akan dilakukan di labo dan apa manfaatnya bagi mereka. Dalam kunjungan yang lebih teknis misalnya kunjungan dari laboraturium lainnya, aku melihat ada suatu tukar pikiran atau kadangkala ada alih teknologi ke laboraturium yang kelasnya masih pemula. Selain itu, ramainya permintaan akan kunjungan ke sebuah laboraturium ternyata juga turut mendongkrak popularitas laboraturium tersebut dan tentu saja meningkatkan kepercayaan kalangan industri untuk mempercayakan  riset2 pengembangan ke labo tersebut.

Nah, oleh sebab itu laboraturium melakukan hal2 di bawah ini :

  1. Mengatur penanggung jawab penerimaan kunjungan.
  2. Memilih para pendamping dengan hati2 dan biasanya disesuaikan dengan siapa yang berkunjung.
  3. Menata laboraturium sehingga cukup komunikatif untuk menciptakan kesan akademis dan sekaligus kesan praktis di sekelilingnya, misalnya dengan menempel berbagai poster ringkasan penelitian yang cukup besar di tembok sekeliling di belakang meja para penelitinya.
  4. Membuat alur kunjungan yang teratur, sehingga tidak mengganggu para peneliti yang ada di dalamnya.
  5. Kemudian tentunya, jika memungkinkan dibuat suatu laboraturium demo dimana para pengunjung dapat mencoba berbagai hal yang menjadi topik utama di laboraturium (biasanya simulasi penelitian).

Sebagai gambaran fasilitas, labo kami punya 3 ruangan untuk meneliti, yang pertama adalah ruang bekerja para peneliti (memuat sekitar 40 orang) masing2 mendapat komputer dan meja yang cukup besar sehingga cukup untuk meletakkan sistem yang kita teliti di meja masing2. Seperti aku misalnya, aku mencapture image dengan polarization stereo imaging systemku di mejaku, lalu di tembok belakang meja2 kami ditempel poster2 penelitian yang sudah kami lakukan, dan dipojok2 tertentu ada meja2 tempat meletakkan berbagai alat penelitian yang cukup besar, misalnya lighting, berbagai 3D highspeed camera, scanning system, prototipe2 vision system sampai
mikroskop elektron segala.

Ruang yang kedua adalah ruang teknis dan penyimpanan komponen yang merupakan jantung labo LE2I yang sesungguhnya. Penelitian yang membutuhkan ruang gelap & penelitian yang beresiko tinggi (misalnya yang menggunakan cahaya laser), harus dilakukan disini. Di ruang inilah berbagai protokol keselamatan berlaku sangat tegas. Pelindung mata, pelindung tangan dan berbagai peralatan keselamatan lainnya menjadi wajib dikenakan jika sedang bereksperimen. Yah, bagiku ruangan ini adalah surga, karena berbagai jenis peralatan optik yang dibutuhkan dapat kutemui disini. (dan yang paling penting, aku suka sholat di sini… tempat yg paling memungkinkan kugunakan utk lapor pada pencipta-KU 🙂 ).

Lalu ruangan ketiga adalah labo untuk demo penelitian, yaitu labo menjadi andalan LE2I dalam mendemokan apa yang telah diteliti oleh peneliti di sini. Labo demo ini dinamakan lab Technovision, di dalamnya adalah sekumpulan sistem computer vision yang dikelompokkan dalam sub topik penelitian yang meliputi ; vision robotics, vision 3D, video application system, light system (meliputi IR,UV, color dan berbagai hal pemanfaatan cahaya), thermal vision system dan stereo imaging. Di labo ini, para pengunjung akan dipandu untuk bisa mencoba sendiri berbagai topik penelitian tersebut (tentunya khusus pengunjung mahasiswa atau rekanan peneliti, utk anak2 biasanya didemokan saja). Menariknya, secara periodik, labo technovision ini mengadakan pula pelatihan bagi kami selaku peneliti untuk turut menjadi operator pendemoan topik penelitian di sana. Dalam satu kesempatan aku mengikutinya dan kami diberi berbagai hak admin untuk mengakses sistem pengendalian tersebut.

Oh ya, selain sistem2 di atas, di labo technovision ini juga dilengkapi dengan perangkat presentasi yang canggih. Screen presentasi bisa diakses dengan tangan seperti monitor touch screen, dan terhubung dengan internet, sehingga jika perlu mengakses web tertentu sebagai tambahan dalam penjelasan, sangat2 mudah. dan asyiknya adalah dengan menggunakan stylo khusus, kita bisa menginput sesuatu nilai di screen, lalu komputer akan langsung merespon hasilnya. Ini tentu sangat menarik bagi anak2.

Lalu subyek yang kedua adalah para pengunjung laboraturium.

Banyak motif yang bisa menjadi titik pangkal hubungan simbiosis mutualisme antara labo dan masyarakat. Bagi anak2 sekolah, program ini adalah bagian dari karya wisata siswa. Bagi para peneliti dari lain labo, kunjungan ini adalah sarana tukar ide. Bagi para pelaku  industri, kunjungan ini adalah sarana melihat keprofesionalismean sebuah labo. Bagi komunitas masyarakat dan para pejabat kota, tentunya mendapatkan academic support utk program2 kedaerahannya.

Aku melihat dengan berbagai kunjungan yang ada, masing2 pihak baik yang mengunjungi maupun yang dikunjungi mendapatkan banyak pengetahuan satu sama lain dan akhirnya bisa saling membantu menyelesaikan permasalahan yang ada. Hakikat kunjungan ini, dalam bahasa Islamnya adalah silaturrahim, sangat bermanfaat dan pasti menguntungkan. Sebagai contoh, LE2I sangat dipercaya industri untuk melakukan riset yg berkaitan dengan kebutuhan mereka, banyak PhD Industrial Researcher yang bermeja di laboku ini. Dan tentu saja untuk ini ada keuntungan finansial, misalnya Untuk sebuah riset yang cuma 2-3 bulan saja, LE2I bisa menerima paling sedikit 60000 euro.  Lalu untuk komunitas kota, betapa banyak program kota yang ditunjang oleh lE2I, contohnya di bidang pariwisata, salahsatunya adalah mengembangkan sebuah virtual 3D museum.

Akhirnya, dengan tulisanku ini aku mengajak untuk kawan2 dalam komunitas akademis di Indonesia untuk terus berjuang bersama mengembangkan tradisi akademis sehingga semakin merata ke masyarakat. Tradisi visite a labo ini tentunya suatu tradisi sederhana yang bisa kita lakukan. Kewajiban kita tidak hanya mengajar dan meneliti, tapi juga menyebarkan hasil2 yang sudah kita capai kepada masyarakat sehingga masyarakat bisa terbantu dan tidak selalu berada dalam ‘suasana tebak2an’ seperti sekarang ini.

Akademisi yang independen menyuarakan fakta keilmuan, insya Allah akan dapat menyeimbangkan keadaan sosial politis sehingga bisa lebih tenang karena semuanya bertindak berdasarkan ilmu pengetahuan. Dan lingkungan akademis pun Insya Allah akan meletakkan poin2 hiburan ke tempat yang lebih proporsional, tidak seperti sekarang ini yang justru mengalahkan semuanya.

Demi bangkitnya iptek di Indonesia….!

Iklan

3 Tanggapan

  1. Keren ya tuan.. Tdk tau knp d Indo labo sptnya tempat yg asing dan tdk menyenangkan.

  2. Ah itu bukan hanya tradisi visit labo! Itu tradisi orang Perancis saja. Jika kita diundang oleh seseorang pertama kalinya, mereka akan mengajak kita mengunjungi semua pojok rumah/appartement kita. Begitu juga dalam berpartner. Kita juga diajak berkeliling dan diperkenalkan satu persatu ke semua orang.

    Di hampir di semua negara dan Indonesia pun sebetulnya sudah ada. Ketika aku berkunjung ke pabrik, aku pasti diajak keliling pabrik untuk melihat proses pembuatan barang. Ini untuk menyakinkan pembeli jika mereka bekerja secara serius.

    Lah kalo IUT tetep aja wajib buka pintu untuk kunjungan-kunjungan, karena IUT/Universite (negeri) itu hidup dari uang rakyat. Maka wajib menunjukkan kinerjanya, jika tidak kran finansial bakal ditutup.

    Ada acara “Open House” ini biasanya utk menjaring mahasiswa baru, biasanya dilaksanakan di bulan maret/april (kalo ngak salah).

  3. Ah . jadi inget waktu SD.
    Suka di bawa Bapak saya ke Labnya
    atau waktu ngerjain tugas2 IPA tapi di kerjakan di Labnya Bapak :))
    disitu emang rasanya beda, walaupn cuman tugas ngamatin struktur tanah doang pake kaca pembesar
    tapi karena di lakukan di Lab *beneran*
    serasa gimaaaaa gitu :))

    Hey .. Dah lama gak Ketemu yak Pak :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: