• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 304,857 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Artikel Indonesiaku ; Dukungan terhadap UU Pornografi

Ini adalah saduran berita-berita terhangat Indonesia pilihanku. Kriterianya adalah terkait dengan agenda selamatkan Indonesia dari berbagai materi berbahaya akibat geliat pergerakan Dunia yang bisa menimbulkan runtuhnya identitas dasar pribadi maupun masyarakat Indonesia yang ramah, toleran, tepo seliro, tapi juga punya integritas dan sikap kesatria dan teguh memegang prinsip. So, selamat merenung. Semoga pencerahan yang ada bisa mengantarkan kita semua ke arah kehidupan yang lebih baik lagi. (TuanSUFI)

Sangat Mendukung UU Pornografi

(Suarapublika – Senin 3 November 2008 Halaman 7)

Segelintir orang pintar telah menebar kebohongan tentang RUU Pornografi beberapa waktu lalu yang merupakan hasil godokan Tim 4, yaitu Depkumham, Depag, Menteri Pemberdayaan Perempuan, dan Depkominfo, selain Panja DPR. Intisari RUUP dapat dibaca dari empat pasal saja. Pasal 1, 4, 11, dan 12 gamblang menjelaskan tujuannya adalah :

1) menghambat penyebaran pornografi yang mesum dan cabul (indecent and obscene sexually arousing material) dan

2) melindungi anak-anak (di bawah 18 tahun sesuai konvensi nasional) dari akses terhadap pornografi dan melindungi anak-anak dari dijadikan objek seks,

3) larangan pornografi disebarluaskan melalui berbagai media yang memuat persenggamaan, ketelanjangan, dan kesan ketelanjangan, persenggamaan dengan penyimpangan, kekerasan seksual, dan onani.

4) yang dikriminalkan adalah produsen, pengedar dan pelaku/model pornografi laki dan perempuan yang melakukan tanpa dipaksa.

Silakan periksa, tidak satu pun dari 44 pasal RUPP yang mengancam atau berimplikasi mengancam keanekaragaman bangsa Indonesia atau mengancam pluralisme, atau mengkriminalkan tubuh perempuan, atau mengancam agama, atau mengancam seniman. Jika ada yang mengatakan demikian dan kita percaya, maka segelintir orang telah berhasil mengelabui kita.

Mungkin karena mereka tidak menyadari bahwa penjara anak-anak kita sudah dipenuhi oleh pelaku kejahatan seks (80 persen menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia) sebagian besar setelah melihat pornografi melalui komik, VCD, dan lain-lain yang serbamudah dan meriah. Mungkin juga mereka tidak peduli perkosaan anak oleh anak terjadi di banyak kota dari Jambi sampai ke Kupang.

Mungkin mereka tidak peduli bahwa 600 film persenggamaan buatan remaja dan mahasiswa di tahun 2007 gentayangan di internet, sementara tayangan kegiatan seks remaja ditebar melalui HP lebih banyak lagi (menurut survey Jangan Bugil Depan Kamera), 2.000 responden usia 8-12 tahun di Jabodetabek semua telah menonton pornografi (menurut survei 2007 Yayasan Buah Hati). Bukankah ini suatu pemborosan sumber daya manusia dan sumber daya ekonomi Indonesia ?

Hebatnya lagi penyebar pornografi anak secara global pelakunya antara lain di Indonesia seperti diberitakan oleh CNN dan BBC ketika terbongkar situs pornografi anak berbasis Texas di tahun 2002.

Penyebaran pornografi sangat sulit dibendung, seperti halnya penyebaran narkoba ilegal, apalagi tanpa undang-undang yang jelas. Semua produk hukum yang ada sekarang tidak mengandung kata pornografi, yang ada pengaturan kesopanan dan kesusilaan yang parameternya lebih tidak jelas dibanding dengan definisi pornografi dalam RUUP.

Dengan disahkannya RUUP, maka Indonesia akan lebih mendekati standar internasional sebagaimana yang disarankan oleh ECPAT (End Child Prostitution, Child Pornography and the Trafficking of Children for Sexual Purpose). Indonesia seharusnya menyelaraskan hukumnya dengan definisi internasional mengenai pornografi anak. Sangat penting bahwa di dalam RUUP tercantum klausul-klausul mengenai pornografi anak yang melindungi anak-anak dari kejahatan pornografi secara efektif (Global Monitoring Report 2006)

Inke Maris MA
Secretary General
The Save Indonesian Children Alliance
(Aliansi Selamatkan Anak Indonesia)

3 Tanggapan

  1. Pasal UUP yang mengancam atau berimplikasi mengancam keanekaragaman bangsa Indonesia atau mengancam pluralisme, atau mengkriminalkan tubuh perempuan, atau mengancam agama, atau mengancam seniman adalah Definisi Pornografi di pasal 1 dan pasal 4. semua pasal lainnya merujuk ke pasal-pasal itu.

    Pasal 11 dan 12, memang untuk melindungi anak-anak (di bawah 18 tahun sesuai konvensi nasional) dari akses terhadap pornografi, dan melindungi anak-anak dari dijadikan objek seks. Tetapi pasal-pasal yang lain mengatur setiap orang tanpa pandang usia. Artinya menganggap bahwa semua orang dewasa kepribadian dan otaknya sama dengan anak-anak, sehingga perlu juga untuk dilindungi.

    Jika benar banyak film persenggamaan buatan remaja gentayangan di internet dan tayangan kegiatan seks remaja ditebar melalui HP, bukankah itu adalah penyalahgunaan media komunikasi dan Informasi yang dilakukan oleh remaja. Lalu siapakah produsen, pengedar dan pelaku /modelnya? Apakah dengan menakut-nakuti mereka dengan UU dapat melindungi anak-anak menjadi korban penyebaran pornografi? Kupikir justru akan semakin banyak remaja kita yang menjadi tahanan karena iseng membuat film adegan mesum. Yah… maklum anak-anak tidak mampu berfikir jauh untuk mempertimbangkan resikonya.

  2. [Pelaku kejahatan seks (80 persen menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia) sebagian besar setelah melihat pornografi melalui komik, VCD, dan lain-lain yang serbamudah dan meriah.,,,, perkosaan anak oleh anak terjadi di banyak kota dari Jambi sampai ke Kupang.]

    >>>Pelaku pemerkosaan sering kali bersembunyi dengan alasan ini untuk menutupi kebodohan dan melemparkan tanggung jawab atas kejahatannya. Ia menunjuk kambing hitam sebagai penyebab atas perilakunya bejatnya yang konon disebabkan oleh orang lain melalui berbagai media. Pola pikir yang sederhana akan menerima alasan ini, tapi ironisnya justru seolah-olah menganggap si pelaku tak berdosa karena berada dalam keadaan terpengaruh.

    Sesungguhnya para pemerkosa sama sekali tidak punya penghargaan terhadap Hak azasi orang lain. Barangkali tidak pernah dididik (salah asuh) sehingga tidak bisa bersikap sebagaimana semestinya, terutama terhadap kaum perempuan yang dianggapnya rendah atau anak-anak dan kaum lemah yang berada di bawah kekuasaannya.

    Pemusnahan Pornografi di muka bumi Indonesia tidak akan bisa mencegah terjadinya pemerkosaan jika masyarakat tetap dengan pola pikir dan pola tingkah laku yang tidak menghargai Hak Azasi.

  3. Jika kita baca buku “Kenapa Berbikini Tak LAnggar UU Pornografi,” (ada di gramedia) maka yang menolak UU POrn seharusnya mendukung, sebalilknya yang mendukung seharusnya menolak. Kenapa bisa begitu? Dunia memang sudah terbolak-balik. Biar kita tidak terbolak-balik juga, maka buku di atas sangat penting tuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: