• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 346,140 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Renungan Seni Berinteraksi

Sebuah percakapan rinduku pada orangtua membawa nasihat sangat gamblang tentang seni berinteraksi antara kita manusia yang berbeda-beda. Awalnya berasal dari ceritaku di le creusot ini tentang temanku dari mesir yang mendapatkan perlakuan yang kurang baik di laboratoriumnya dari teman-teman eropanya dan juga perlakuan cukup keras dari pembimbing tesisnya. Aneh juga ya, padahal dia adalah PhD Student yang mestinya tidak diperlakukan selayaknya undergraduate student yang baru belajar soal kedisiplinan hidup. yah, entah apa sebabnya.
Namun bagiku, sesuatu yang amat berbeda kurasakan ketika aku kerja di lingkungan laboratoriumku, yang amat nyaman, terbuka dan santai. tidak penuh dengan ‘intimidasi’ dari siapa pun. Semuanya ini, walau awalnya berat, ternyata dapat kulalui dengan sukses dalam menghadapi berbagai perbedaan kultur, sikap dan kebiasaan. Kubilang sukses adalah berdasarkan parameter hatiku yang ternyata tidak ‘terluka’ dan malah ‘betah’ berada di lingkungan baru ini.

Mungkin tipikal orang indonesia yang terlihat ‘lembek’ atau ‘jinak-jinak merpati’ dengan tradisi tepo selironya, keramahan dari senyuman dan sikap menghargai lawan berkomunikasi menjadi kunci relasi yang baik dari kami yang berbeda kultur ini, yang tentunya sedikit berbeda dengan tipikal saudara kita dari daerah yang panas di mesir sana, bertemu dengan orang-orang yang terbiasa berada di daerah dingin di eropa ini. Api dan salju tentu akan sulit bersatu, mereka selalu saja saling ‘meniadakan’, tergantung siapa yang paling dominan saja. Nah, justifikasi semacam inilah yang kupahami pada awalnya.

Namun statemen dari sang teladan dalam percakapan rinduku itu telah mengubah semuanya. Bahwa lancarnya atau tidaknya sebuah relasi bukan tergantung pada  perbedaan geografi asal muasal kita, atau bukan juga dari perbedaan kultur budaya. Tapi adalah pada bagaimana kita (secara sadar atau tidak) menjalankan tuntunan agama (Islam) yaitu prinsip memahami, bukan hanya sekedar ingin dipahami.

Rupanya relasi yang baik akan tercipta, kalau setiap orang berusaha menahan dirinya, menekan emosi diri atau egonya untuk bisa mendengarkan lawan bicaranya dan bertindak dengan kapasitas atau level yang tepat dengan lawannya itu. Teringat aku kisah Nabi tercinta, yang tetap welas asih kepada seorang baduy dari gunung yang buang air kecil di samping masjid, yang akhirnya justru meruntuhkan kesombongannya sendiri dan menyebabkan dirinya beserta seluruh kaumnya mendeklarasikan menjadi pemeluk Islam yang taat.

Yah, mungkin segala macam gejolak yang terjadi di Indonesia tercinta ini pun juga disebabkan karena setiap orang berlomba-lomba untuk selalu menjadi ‘yang dipahami’ oleh orang-orang yang lain. Mereka bertindak aneh, berperilaku berbeda, bahkan kadang-kadang menyimpang dari fitrah-fitrah dasar kemanusiaannya sekedar untuk berteriak, ‘pahami aku, pahami aku !” sambil menunjukkan beribu alasan yang seringkali pula sulit dipahami.

Tentu, jika semua tidak berusaha menahan dirinya, maka terjadilah tabrakan antar ego yang membuat rusak relasi-relasi hubungan yang tercipta bertahun-tahun. Mungkin inilah yang membuat pecahnya elemen2 rumah tangga antar suami dan istri, atau antara orangtua dan anak-anaknya, atau dalam lingkup yang lebih besar lagi, antar elemen organisasi, bahkan menjadi penyebab utama peristiwa-peristiwa dis-integrasi dari suatu negara.

Rupanya saat ego diperturutkan, maka peran akal sehat akan tereduksi. Membuatku teringat lagi sebuah kata-kata dari nabi yang mulia, serta sebuah wahyu dari Qur’an yang suci, ‘jadilah ummat pertengahan’. Artinya, dalam menjaga relasi yang baik ini, mesti ada keseimbangan antara ego dan akal sehat. Dan Indahnya, setiap lika-liku pengendalian ini, tergambar jelas dalam manual kehidupan Al Qur’an. Kalau kita coba telaah ke buku warisan nabi ini, di sana dijelaskan secara gamblang batas-batas kita meniti kehidupan. Mana yang boleh, mana yang tidak boleh. Mana lawan, mana kawan. Mana surga, mana neraka. Terminologi-terminologi yang ada disana, walaupun terlihat menyerang suatu kaum, namun jika didalami hakikatnya adalah menasehati ego kita sendiri. Sebab, seringkali justru perilaku-perilaku yang menunjuk kepada suatu kaum, ternyata sudah menjadi dasar perilaku kita sendiri.

Subhanallah, mudah-mudahan dari pemahaman ini, kita bisa membuat keseimbangan antara ego dan akal sehat kita, sehingga kita akan lebih dahulu berusaha memahami orang lain, dan tidak selalu ingin dipahami oleh orang lain.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Suatu pemikiran yang sangat mendalam dan luar biasa mas Iqbal!

    Saya juga merasa di Eropa, khususnya di Perancis ini sebenarnya, seperti orang di seluruh dunia, ada yang baik, ada yang tidak baik.

    Dan semua hal pasti ada sebab dan akibat…

    Seperti sikap mereka yang agak sinis dan ketus terhadap orang asing, yang ternyata kalau kita berusaha memahaminya (setelah mengetahui struktur Social Security di Perancis), antara lain disebabkan bangsa Perancis ini sebenarnya menanggung beban yang berat dari para imigran yang sebenarnya kurang produktif bagi perekonomian mereka.

    Mungkin seandainya kita di posisi yang sama, juga akan melakukan hal yang serupa.

    So benar bahwa berusaha memahami orang lain, adalah cara terbaik untuk berinteraksi, dengan bangsa apapun..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: