• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 346,140 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Mengenang Tsunami Aceh

Ini adalah tulisanku kepada sahabat-sahabatku dulu. Tidak sengaja saat aku membuka-buka file simpanan lamaku, kutemukan naskah ini. Yah, ini adalah sekelumit kisah yang mungkin akan segera terlupakan. Tentang bencana dahsyat yang menimpa Indonesiaku, khususnya di daerah Aceh tahun 2004 lalu. Tulisan ini juga berbicara tentang sekelompok kecil manusia yang mencoba berbuat sesuatu untuk meringankan beban saudaranya, dengan sebuah langkah terbatasnya sekedar membantu saudaranya. Tidak lebih…

Semoga pengalaman ini bisa dijadikan pelajaran, bahwa untuk menebarkan rahmat sedikit saja, ternyata Allah membuka sebesar-besarnya jalan untuk itu. Siapa sangka, kami yang bukan siapa2 ini bisa bertahan di aceh untuk berbuat sesuatu sampai beberapa bulan. Berjuang di daerah yang sama sekali luluh lantak bersama-sama para pengungsi di sana. Selamat menikmati.

AssWrWb. Dear Mabeser,

Apakabar semuanya? Senang sekali, melihat saudara2ku semua kelihatannya bahagia (atau ada juga yang sedang sedih, mungkin?) & terus berdinamika mengisi hidupnya penuh warna-warni. Sebegitu hebatnya Allah mendatangkan skenario demi skenario, yang membuat kita berkali2 pula menjadi begitu sibuknya memilih, menjalani sampai mereguk hasil sementara dari skenario itu. Saya percaya saudara-saudaraku semua menyikapinya dengan 2 keadaan yang dituntunkan Qur’an, yaitu sabar & syukur.

Kabar saya dan keluarga alhamdulillah, istri sedang mengandung hampir 6 bulan, hari2 saya cukup penuh, sebagai dosen yang dapat amanah mengerjakan beberapa penelitian (sampai bingung berat), yang tetap hrs ngajar mhs di kelas, sambil sesekali ngajar pelatihan2 pegawai2 pemerintahan, sekaligus jadi staff PSA yang ngurusin data mhs yang aneh2. kesemuanya itu sampai2 membuat akses saya ke milis cuma bisa baca aja, ngga sempet ngebalas. maapin ye, dear mabeser.

Kesempatan kali ini adalah kisah perjalanan saya ke bumi Aceh. sekedar membagi pengalaman atas pilihan saya terhadap skenario Allah yang tiba2 aja menyeruak datang pada suatu ba’da shalat maghrib di budi agung bogor, beberapa hari setelah bencana besar.

Guru ngaji saya yang sudah di aceh sejak hari ke-4 pasca bencana, memanggil saya utk segera membantunya disana. Tim kami bukanlah tim yang besar, cuma 5 orang saja. 3 org dengan kemampuan pekerjaan sipil, 1 orang kemampuan mobilisasi massa (ya guru ngaji saya itu),dan 1 org lagi adalah saya, cuma bisa ngolah data dan membuat dokumentasi plus sedikit mobilisasi massa.
2 orang memang domisili di aceh, sedang 3 orang lagi (saya,pak Edi dan guru saya) dari Bogor.

Modal Kami adalah uang 100jutaan, yang didapat dari jamaah pengajian di Bogor. Setiba di Aceh, kami survey +- 3 hari melihat keadaan, sambil mampir ke pendopo tempat Alwi shihab cari informasi. Di sana kami temui bahwa semua bidang ternyata sudah pasang target, seperti kegiatan pendidikan harus mulai dalam 3 minggu, kegiatan akses jalan dan jembatan harus siap dalam 1 bulan, air bersih dalam 4 hari, listrik dalam 3 hari. Di bidang IT sendiri, dalam 3 hari di sekitar pendopo sudah bersileweran kabel utp dan fiber optik ditambah pemancar2 satelit.

Yang kami sesalkan adalah di negeri dengan syariat Islam ditegakkan ini, ternyata tidak ada sedikitpun yang memikirkan masjid. Boro-boro pasang target, ‘dalam sebulan semua masjid di Aceh harus sudah aktif kembali’.

Kami maklum aja. Semua sibuk darurat evakuasi jenasah dan pembersihan kota, mengurusi pengungsi dan semua pekerjaan lainnya. Aceh memang hancur total, sedih sekali melihatnya. lumpur, mayat, bau yang menyengat, puing2 dimana2. Namun, fakta di lapangan yang kami temui adalah bahwa di tengah2 itu semua, mesjid-mesjid masih tegar berdiri. Coba lihat di Lam Bada, Peukan bada, Ulele, Lhok Nga, bahkan di Meulaboh. Mesjid2 yang langsung menantang tsunami di ujung pantai aceh semuanya tetap kokoh berdiri. Tidakkah pesan Allah jelas itu tampak di mata kita? semua boleh hancur tapi mesjid sebagai simbolisasi kejamaahan yang dibentuk atas dasar keimanan tetap berdiri. Pesan-Nya adalah Iman orang aceh tidak boleh hancur walau segala kebendaan, persaudaraan di sana berkeping-keping. Apalagi org mukmin disekitarnya, pelajaran ini sangat2 berharga bagi kita semua.
Tapi kenyataannya, orang2 disana tidak pasang target sedikitpun untuk memfungsikan mesjid2 kembali. Maka biarlah kami yang ambil bagian itu. Setelah dirundingkan, maka kami membuat program yang terdiri dari 3 tahap :
1. tahap pertama membersihkan mesjid2.
2. tahap kedua merenovasi mesjid2.
3. tahap ketiga memakmurkan mesji2.

Kami pun survey ke tempat2 pengungsian, 2 tempat di daerah Mata ie. Disana kami meminta kesediaan laki2 pengungsi yang siap bekerja dengan kami untuk membersihkan mesjid. dengan modal seratus juta itu, kami membeli alat2 bersih2 seperti cangkul, sekop, garpu, pengki, alat2 pel, sepatu boot, sarung tangan dan lain2. Kemudian, setiap pengungsi yang kerja dengan kami, kami bayar 50ribu sehari.alhamdulillah, 10 hari kerja ada 7 mesjid yang berhasil dibersihkan. Kendalanya luar biasa, di mesjid ajun misalnya, kami menemukan ratusan jenasah dan akhirnya kami minjem Beco utk mengubur mereka. di sekitar mesjid inilah kami menemukan jenasah kombes Sayyed (yg anaknya putri shooting pake handycam di metro TV). hanyut 3-4km dari rumahnya. di mesjid Albadar dekat kantor gubernur dapat 4 jenasah degan lumpur selutut, begitu juga di mesjid lingke. Di mesjid Peunayong kami dapat 10 jenasah dengan sampah kayu setinggi manusia di dlm mesjid, termasuk perahu sepanjang 30m, menclok di mihrabnya. di hari pertama kerja, kami bersama elemen Aceh lainnya membersihkan mesjid raya, esoknya mesjid teuku Umar.

Satu mesjid besar, kami selesaikan 3-4 hari dengan pasukan mencapai 200-an pengungsi. Dalam satu hari kami pecah pasukan untuk 2 – 3 mesjid. jadi rata2 70org kerja di satu mesjid. Ada bahkan yang kami kerjakan 1 hari saja seperti mesjid Lambada dan mesjid teuku Umar.

Jadi begitulah dear mabeser, setiap hari pagi kami jemput pengungsi dari tempatnya, siangnya kami sediakan makan siang, sorenya jam 16, mereka kami gaji atas pekerjaannya, lalu kami antar pulang lagi ke tempat pengungsiannya. Yang kami lakukan adalah sekedar memberdayakan org2 Aceh. Biar bgmn, org aceh itu pejuang. Mereka memang keras hati, tapi jgn dihancurkan mentalnya dengan cara diperlakukan terus sebagai korban yang lemah dan tak berdaya. Mereka punya kekuatan, walau dalam keadaan sedih pun tetap membara. Setiap istirahat, kami saling bernasehat. menguatkan kembali ketabahan mereka, membakar lagi semangat bapak2 dan anak2 muda aceh.

Sayang baru, 10 hari saja, uang sumbangan sudah habis. tgl 16/1 saya&guru ngaji saya pulang ke bogor, masih menyisakan banyak masjid yang belum dibersihkan. 2 minggu ini kami cari uang sumbangan lagi, baru dapat 20jutaan. paling tidak perlu 100jutaan lagi. Minta bantuan pemerintah di aceh, kami cuma dipandang sebagai penganggu saja. bahkan awal2 kami cetuskan bahwa setiap relawan harus di bayar, kami dimarahi oleh bapak2 penguasa itu. katanya relawan harus ikhlas, tanpa memberi kesempatan menjelaskan bahwa relawan2 kami adalah org2 Aceh yang kami berdayakan. Syukurnya hari ke-18, TNI pun sudah pakai cara kami, diikuti oleh tarmizi, koordinator Relawan Bakornas jg membayar relawan2nya. sayangnya masih diambil dari luar aceh.

Maka bergeraklah kami di jakarta. ke mensos, ke RCTI, ke Republika, ke kantong2 yang bisa membantu gerakan tim pembersih masjid ini. Saat kami di sini cari dana, tim kami yang org aceh tetap mengumpulkan data pengungsi dan keahliannya di pengungsian2 yang ada, Alhamdulillah terdata sekitar 5000-an org.

Sabtu kemarin (29/1/05), tim kami sudah kerja lagi. Mesjid Merduati, mesjid Ling keu dalam dan mesjid Muhammadiyyah selesai hari ini (1/2/05). Uang pun sudah habis lagi. Dear mabeser yang mau ikut berjuang menegakkan kembali masjid2 Allah di Aceh sangat kami harapkan. Bisa transfer sumbangan ke :

Rekening BMI (Bank Muamalat Indonesia) Cabang Bogor
Atas nama triasmoro widowati atau pembersih masjid NAD
no.rek :12104796.22

Kami bergerak dengan sebuah yayasan pemberdayaan Ummat di Bogor, yang bernama Yayasan Hilal, ketuanya adalah Ust Ansufri Idrus Sambo, guru ngaji saya.

Wassalam

Nb. Berikut ini beberapa foto masjid di sana waktu itu yang sempat kami bersihkan dan menjadi pusat kegiatan masyarakat yang mulai kembali membangun daerahnya.

Atas : Masjid Asrama Haji, Masjid Kaju’u dan Masjid Lam Bada

Atas : Masjid Lampineung, Masjid Peunayong dan Masjid Ling Keu

dan masih beberapa masjid lagi yang berhasil dibersihkan yang tidak sempat lagi kami dokumentasikan, Selanjutnya tahap dua kegiatan ini adalah mencarikan sumber listrik dan pompa air. Setelah itu kami kabarkan untuk masyarakat yang mulai berdatangan kembali di daerah sekitar masjid itu untuk menjadikan masjid sebagai base kegiatan mereka. Mendampinginya beberapa saat, lalu baru kemudian beralih ke masjid-masjid lain.

Begitulah sahabat, sedikit dokumentasi perjalanan kehidupan. Kini kulihat Aceh sudah mulai bergeliat kembali. Kabar terakhir, tokoh2 yang terbuang ke luar negeri sudah kembali lagi. Semoga saja semua pihak bisa mengedepankan empatinya masing-masing, sehingga Aceh bisa dipulihkan dan tetap dalam situasi yang aman dan tentram. Bencana besar itu cukuplah jadi pemecut kesadaran kita, bahwa tidak perlu lah membuat konflik yang berlarut-larut, sehingga sampai Allah menurunkan bencana untuk menghentikannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: