• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 328,539 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Ayo Membela Quran

Mestinya kita tidak terlalu kaget, jika banyak sekali orang yang menghina Qur’an, karena di dalam Quran sudah dinyatakan kabar2 demikian itu, bahkan sudah terjadi mulai sejak pertama kali disampaikan oleh nabi Muhammad kepada kaum Quraisy dulu. Dan kita pun tidak perlu bereaksi berlebihan, kepada para penghina Nabi kita, karena sejak nabi masih hidup pun, hinaan dan cercaan, intimidasi fisik bahkan ancaman pembunuhan datang bertubi-tubi kepada beliau. Dan, itu semua pun tidak sedikit pun mengurangi kemuliaan beliau, karena setiap muslim tetap saja bershalawat dalam sholatnya untuk beliau.

Kita pun tidak perlu bereaksi sweeping terhadap pemeluk agama lain yang tentunya masih saudara kita sendiri dengan dalih membela Quran, tapi sambil merebut hartanya, merusak bangunan-bangunannya atau bahkan mengancam membunuhnya. Kita juga tidak perlu menyerang kitab-kitab suci mereka dengan berbagai argumen yang toh kalau kuperhatikan tidak ada standarisasi kebenaran yang bisa disepakati dalam debat tersebut, sehingga menjadi kuda lawan kusir yang tidak berkesudahan. Atau kita pun tidak perlu membuat gladiator-gladiator yang berlebihan sebagai tandingan kampanye-kampanye penghancuran karakter yang akhirnya justru malah menguras banyak energi yang kita miliki sehingga kita lupa hakikat kekhalifahan yang telah diberikan Allah kepada kita untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin.

Nah, biarlah mereka melakukan itu semaunya. Toh dalam ayat-ayat quran pun sudah dijelaskan dengan gamblang berbagai pola mereka itu dan akibatnya yang akan menimpa mereka sendiri. Bahkan tipu daya yang paling tersembunyi sekali pun, berbagai intrik, fitnah yang menyerang ajaran-ajaran quran pasti akan dapat diketahui.

Bahkan Allah pun sudah menjanjikan, bahwa Alqur’an ini akan di jaga langsung oleh-NYA. Jadi menurutku, mulailah mengkaji quran dengan tenang sambil perlahan-lahan melaksanakan ajaran-ajarannya dengan utuh. Namun tentunya kewaspadaan adalah menjadi sesuatu yang harus selalu dipertahankan untuk memproteksi diri dan keluarga dari paham-paham yang tidak Qurani yang berseliweran dimana-mana.

Mungkin selama ini kita telah mengkaji quran secara emosional, tidak dengan hati yang paling dalam. Maka berlakulah bagi kita firman “Aku adalah sesuai dengan prasangkaan hamba-KU.” karena kita selalu menganggap quran sebagai counter hujatan dari mereka tersebut maka kita hanya menggunakan Quran sebagai tameng melulu (sampai akhirnya tentara amerika di irak salah pengertian, membuat quran sebagai sasaran latihan tembaknya). Ya, tentu Quran bisa jadi tameng. Tapi kita mungkin lupa, dari pada hanya sekedar tameng, mestinya Quran itu bisa membawa rahmatan lil ‘alamin yang menentramkan diri kita sendiri dan pancaran kelembutannya pun memancar ke sekitar kita, sehingga membuat orang disekitar kita menjadi tentram juga. Itulah akhlaqul karimah, yang dihadirkan dari quran. Aku jadi ingat beberapa tokoh2 besar yang memegang teguh Quran, jika kita mendekat kepadanya, maka tenanglah hati kita, bahkan saat lawannya bertemu dengannya, lawannya itu sangat menghormatinya.

Memang kita tidak bisa menutup mata, bahwa realitas kehidupan di dunia yang dibangun oleh keanekaragaman ini, tentu akan membawa berbagai friksi antar manusia satu sama lain. Tapi bagaimana friksi itu disikapi itulah yang paling utama. Bagaimana kita menghormati lawan dan tentu saja saudara sendiri atau sahabat. Ini semua bisa kita temui dalam Quran. Banyak kisah nabi-nabi dan orang-orang sholeh yang tetap saja istiqomah mengajak walaupun dalam dirinya ada keraguan dan ketakutan. Lalu dengan quran itu, Allah menguatkannya dan kemudian Allah mengilhamkan kepada mereka berbagai metode mengajak dan mengingatkan ummat. Kemudian polanya setelah pesan-pesan disampaikan dengan Quran pula Allah pun selalu menghibur, bahwa kau itu hanya punya kewajiban mengajak, soal hidayah adalah terserah kepada-KU.

Maka tentunya kisah2 teladan yang ada dalam quran ini seharusnya bisa menggiring kita untuk memahami bahwa setiap kita ini adalah da’i. Sebagai da’i yang mengajarkan, atau sebagai guru tentu kita harus bisa melakukan pendekatan yang paling tepat kepada murid-muridnya. Dapat kita temui kisah dalam quran dimana sang guru sampai berputus asa dan meninggalkan muridnya, lalu ditegur oleh Allah untuk segera kembalilah ke muridnya (kisah nabi yunus), dan dibeberapa kisah yang lain, jika berbagai pendekatan tidak juga membuat murid berubah, guru tetap saja tidak boleh meninggalkan muridnya begitu saja, tapi seorang guru punya senjata pamungkas yaitu doa, Tawakkal kepada Allah, “terserah Engkau ya Robbi, semua jalan kebaikan dalam berdakwah telah kami tunaikan“.

Nah, sebagai pengimbangnya, Quran pun juga menempatkan diri semua kita ini sebagai murid. Tentunya, sebagai murid pun kalau sudah berulangkali dinasehati jangan ‘ngeyel‘. Hari ini, nurani sering dikalahkan oleh gengsi dan hutang budi. Misalnya ; hanya karena merasa organisasi tempat berkreasinya sudah mendunia, maka segala masukan dari luar dianggap tidak benar. Atau hanya karena selama ini sebuah lembaga sudah membiayai kehidupan sehari-harinya, lalu logika serta imannya langsung menghilang dan hanya mengikuti pesan sponsor dari yang membiayainya tersebut. Selain itu, nurani pun juga seringkali dikalahkan kesombongan diri, kalau sudah begini bagaimana cahaya bisa masuk hati, karena pagar kawar berduri keangkuhan menutupinya dan menolak segala nasehat yang datang padanya.

Kita mesti menyadari bahwa kedudukan sang murid dan sang guru seperti yang diajarkan Quran pun tidak kekal. Semua bisa menjadi murid, semua pun bisa menjadi guru. Saat seorang dinasehati, maka saat itulah dia serta merta menajdi murid. dan saat seorang menasehati saudaranya, dengan serta merta pun dia menjadi guru. Maka jangan selalu mengklaim bahwa saya ini selamanya adalah guru dan atau saya ini selamanya adalah murid.

Ajaran Quran adalah ajaran nurani, biar bagaimana pun medianya, siapa pun penyampainya, pasti dapat diterima oleh setiap manusia. So, pelajari dengan ikhlas, bebaskan dari segala bentuk emosional apalagi keangkuhan. Biarkan gelombang ketenangan Islam mengalir dan mengisi fitrah nurani kita, Insya Allah aliran rahmat akan menaungi diri kita, sekaligus menaungi lingkungan tempat kita berada. Teringat aku sabda nabi kita yang mulia, “Seorang muslim yang baik, adalah seorang muslim yang dimana pun dia berada, dia membawa kemanfaatan bagi lingkungannya dan tidak mengganggu tetangganya”.

Sahabat mau membela quran ? ya laksanakan ajaran Quran.

@ ditulis pertama kali pada : 21/05/2008

Iklan

2 Tanggapan

  1. Sebetulnya, jika ada perbedaan penafsiran kita kembali kepada Al Quran, dan tak boleh merasa benar sendiri sehingga merusak dan menganiaya orang lain.

    TuanSUFI : Betul bu, itulah yang Quran ajarkan jika menemui perbedaan, dan itu terdapat disalahsatu ayatnya…

  2. mantap sekali tulisannya sahabat, negeri kita sedang bergolak perang dengan dalih membela Quran, boleh juga masukkan dalam koran2 di jakarta, sapa tau bisa sedikit mendinginkan suasana, selamat berjuang dinegeri orang sahabat.
    maaf saya temukan tulisan2 sahabat dan lgs nimbrung aja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: