• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 359,994 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Berkereta di tiga negara (2 dari 2 tulisan)

Ini adalah tulisanku yang kedua dari 2 tulisan tentang kereta api di Perancis, Jerman dan Belanda. Bagi sahabat yang belum baca dari awal, silahkan klik di sini supaya lengkap informasinya

Nah, sekarang kita lanjutkan. Kebanyakan orang bingung saat keluar dari kereta bawah tanah, kerena kesibukan di bawah itu sangat luar biasa. Kereta yang banyak jalurnya, peron yang bisa tembus kemana-mana, orang-orang yang berlalu lalang tak beraturan dan level stasiun bewah tanah yang bertingkat-tingkat. sebagai patokan, tentunya sahabat harus sadari bahwa posisi sahabat ada di bawah tanah. Maka, hal pertama yang dilakukan adalah carilah tangga menuju ke atas. Kalau mau lebih pasti lagi, ya tentunya melihat peta yang hampir ada di setiap dinding stasiun.

Di hampir setiap stasiun besar eropa, mereka pasti memisahkan tempat kereta lingkar dalam kota atau kereta bawah tanah (metro atau urban) dengan kereta lingkar luar kota dan kereta antar kota, biasanya disebabkan karena  antar kota di Eropa kadangkala juga melewati lintas negara dan jenis keretanya pun kereta cepat seperti TGV, Thalys, ICEs, InterCity and Talgos atau yang lainnya. lalu, khususnya di paris ini, setelah keluar dari kereta bawah tanah, kita tinggal lihat penunjuk arah menuju ke grande ligne – istilah perancis untuk peron kereta antar kota tersebut (di armsterdam atau di jerman disebut juga hispeed). Sahabat lalu harus melihat papan besar informasi departure atau arrival seperti di pesawat terbang untuk mendapatkan informasi di jalur mana kereta tersebut berada (Biasanya stasiun besar memiliki banyak jalur sampai mencapai 20-an, sehingga jangan coba2 nyari satu per satu, karena jaraknya pun cukup berjauhan). Informasi tambahan pun dapat kita dapatkan di LCD atau papan informasi yang ada di dekat pintu masuk setiap gerbong, biasanya disitu tertulis nomor gerbong, informasi kelas dan nomor tempat duduk. Sahabat harus tetap teliti di sini, sebab jika kita salah, maka kita bisa saja terbawa ke negeri yg sedikit pun kita tidak berfikir untuk kesana, karena seperti kereta city night line jerman yang aku naiki ini, ternyata disambung dengan 3 kereta lainnya yang tujuannya menuju Moskow, dan beberapa tempat yang baru aku dengar namanya.

Pada karcis city night line yang kubeli ini tertulis couchette. Artinya kereta ini tidak berkursi tetapi kereta dengan tempat tidur. Untuk tiket Kelas satu, compartement berisi 4 tempat tidur, sedang kelas 2 berisi 6 tempat tidur. CUkup nyaman dan ada jaminan keamanan karena setiap pintu tidak dapat dibuka dari luar. Jika sahabat tertarik mencobanya, kereta ini beroperasi di France, Italy, dan ‘TransBalkan’ dari Budapest ke Istanbul. dengan Interior yang berbeda-beda antara masing2 negara, dan yang aku naiki ini adalah kereta jerman (info lengkap di sini).

yah, 11 jam tidak terasa kulalui karena setelah buka shaum lalu sholat jama’ maghrib & isya, aku tertidur. Aku bangun di pagi buta, dan di compartement itu dalam kegelapan aku makan sahur dengan sandwitch yang aku bawa, krn takut mengganggu 4 penumpang lainnya. Mau ke gerbong resto, jam 4 pagi tentunya tidak ada orang. Kereta ini rupanya saat lewat frankfurt,  melepas 2 rangkaian kereta yang menuju tempat lain di eropa yang berangkat bersama dari paris tadi. lalu saat di Dortmunt, melepas 1 rangkaian lagi. Sehingga ketika aku sampai di stasiun hamburg, ternyata gerbongku ini sudah menjadi gerbong pertama setelah lokomotif.  So, sekali lagi aku tekankan, kesalahan naik gerbong akan membuat sahabat terdampar entah dimana.

Nah, soal perkeretaapian di jerman, ada yang menarik. Kuperhatikan setiap nama stasiun ternyata adalah nama kotanya. Untuk kota yang memiliki lebih dari stasiun, maka stasiun utamanya akan ditambahkan HBF dibelakangnya yaitu singkatan dari Houptbahnhof, misalnya Hamburg menjadi hamburg HBF, dortmund menjadi dortmund HBF. Untuk Kereta dalam kota yaitu kereta bawah tanah disebut dengan U1,U2,U3 (urban line 1,2,3), sedang untuk travel di lingkar terluar dari kota sahabat harus naik yang berjudul S. Ada juga bis dan perahu untuk menjalani sungai yang membelah kota hamburg, dan hebatnya biaya transportasi di jerman ini lebih murah dari perancis. Tiket yang kubeli bersama teman2 di sana berlaku satu hari, dan bisa digunakan untuk naik kereta bawah tanah, bis dan beberapa jenis perahu. Lalu, untuk kereta antar kota disini dikenal dengan nama ICE atau IC. Tidak seperti di paris, pemeriksaan tiket hanya dilakukan di atas gerbong. Tidak ada perlu validasi tiket di mesin sebelumnya. Bahkan untuk kereta bawah tanah, selama aku naiki dalam 2 hari di hamburg, tidak sedikitpun ada yang memeriksanya.

Dari Hamburg, aku kemudian melanjutkan perjalanan ke Belanda. Aku naik kereta IC yang ternyata harus berpindah-pindah kereta dari perusahaan yang sama namun nomornya berbeda, yaitu di pindah di 2 stasiun di Jerman (Osnaburgh), dan 1 stasiun di belanda. Sahabat harus berhati-hati di sini. skedul yang padat, waktu yang singkat, harus benar-benar siaga ; nomor berapa kereta berikutnya, ada dijalur mana dan di gerbong berapa. Sebab kesalahan perkiraan akan membuat sahabat akan ketinggalan kereta dan tentunya akan mengacaukan semua skedul selanjutnya. Untungnya ada panduan skema waktu perjalanan yang diberikan pada saat membeli tiket dan juga dapat sahabat temukan di setiap bangku di kereta yang sangat membantu. Nah, kadangkala dalam membeli tiket lebih baik tidak perlu me-reserve tempat duduk. Sebab Insya Allah kita semua pasti dapat tempat duduk, karena pada waktu2 tertentu, kereta dari jerman ke belanda tidak selalu penuh, bahkan sering kosong. Dan juga sebetulnya, setiap gerbong pasti disediakan tempat duduk yang tidak di reserve. So, kalau kita membeli tiket tanpa reserve tempat duduk, sahabat tinggal masuk gerbong dan lihat indikator LED di atas tempat duduk tulisan RESERVE-nya menyala atau tidak. jika tidak menyala, maka sahabat bisa duduk disitu.

Begitu masuk di stasiun pertama di negeri Belanda, kesan tiba2 berubah. Interior kereta Belanda yang bercorak abstrak menghilangkan kesan bersih dan kaku seperti pada kereta jerman dan kereta perancis. Dan saat masuk stasiun Rotterdam Alexander, ternyata terkesan lebih kotor dan kumuh dibandingkan Jerman dan perancis, Yah, lain padang lain belalang. Namun begitu, begitu aku lihat stasiun yang ada di Schiphol, Amsterdam. Kesan itu hilang karena sangat modern dan bersih. Dari sinilah kemudian aku kembali ke Paris Nord dan mengakhiri petualanganku dengan kereta di tiga negara eropa. Mudah2an bisa diambil manfaatnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: