• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 359,806 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Gaya Menonton Orang Indonesia

Media elektronik bernama televisi dalam perkembangannya kini sudah mengepung rumah keluarga-keluarga Indonesia. Tidak saja orangtuanya, anak-anak dan hampir seluruh anggota keluarga Indonesia termasuk pada khadima-khadima (si bibi pembantu), pastilah dengan perlahan tapi pasti sudah punya ikatan batin yang sangat kuat dengan kotak persegi bergambar dan bersuara tersebut. Dengan banyaknya stasiun TV, maka ada suatu persaingan program acara untuk meraup penonton sebanyak-banyaknya sehingga keuntungan dari iklan semakin besar. Caranya adalah mendapatkan rating tinggi dari survey acak yang dilaksanakan lembaga2 survey dari rumah-rumah para penonton TV keluarga Indonesia ini.

Film-film impor yang bermutu menjadi sangat mahal sehingga dikurangi, muatan lokal seperti sinetron-sinetron, panggung-panggung pertunjukan menyanyi dan menari, acara- talkshow, reality show dan infotainment meningkat tajam, semua rumah produksi menjadi sangat padat jadwalnya untuk menghasilkan tontonan-tontonan yang justru hanya mengedepankan unsur hiburan dan melupakan unsur pendidikan terhadap para penontonnya.  Coba kita lihat hasil survey di bawah ini yang dimuat pada Tajuk Republika, 21 Juli 2008, ternyata dari 400 judul sinetron sepanjang 2006-2007 : 41,05 % menyangkut kekerasan psikologis, yang meliputi ; aksi mengancam, memaki, mengejek, melecehkan, memarahi, membentak, melotot. 25,14 % menyangkut kekerasan fisik, yang meliputi mencubit, memukul, mengeroyok, meninju dan menikam dan ada juga jenis-jenis kekerasan lainnya seperti kekerasan relasional, fungsional hingga kekerasan yang mengakibatkan rusaknya hubungan atau relasi.

Menurut Seto Mulyadi pemimpin Yayasan Pengembangan Media (YPMA) dan Komite Nasional Perlindungan Anak (KNPA), ternyata acara di TV terdiri dari 30% iklan, 30% sinetron dan sisanya sajian lain yang tidak bermutu. Sedang acara yang mengandung pendidikan hanya 1 %.

Sedihnya, pada saat seluruh anggota keluarga berkumpul malam hari, kalau meminjam istilah televisi yaitu pada waktu prime time, tidak ditemui lagi canda tawa perhatian di antara mereka lagi, karena semua perhatian dan pandangan mengarah ke televisi.  Keadaan ini juga terjadi pada pagi dan siang hari. Begitu  bangun dari tidurnya, anak-anak kita langsung disuguhkan lagi tontonan2 televisi. Si bibi pun sambil menyetrika pun  matanya tak lepas dari televisi. Nah, sebuah survey pun menyatakan bahwa anak-anak indonesia (usia SD dan SMP) rata-rata menonton TV = 1600 jam per tahun, sedang waktu belajar sekolah rata-rata = 740 jam per tahun. Hebat juga yah, kemampuan nonton orang Indonesia.

Hal ini belum ditambah dengan menonton film-film DVD bajakan yang murah meriah yang seringkali juga tidak menghiraukan materi-materinya, yang penting film terbaru. Sehingga banyak perilaku-perilaku buruk yang diimpor (dan ilegal pula) ke rumah-rumah keluarga Indonesia, dan yang paling parah adalah film2 hasil shooting acara-acara musik lokal terutama dangdutan yang isinya goyangan-goyangan erotis pun menjadi tontonan anak-anak kita.

Masih ada satu lagi perluasan fungsi televisi yang banyak menyita perhatian generasi penerus Indonesia, yaitu  permainan elektronik seperti nintendo Wii, sony playstation dan xbox. Hal ini juga mewabah seperti penyakit yang bahkan di tempat-tempat tertentu di negeri tercinta, selain menghabiskan waktu-waktu mereka, ternyata juga mengajarkan ilmu berjudi (taruhan) pada anak-anak kita.

So, berbagai fakta ini mestinya  menjadi instrospeksi bagi seluruh orangtua untuk melindungi anak-anak dan keluarganya dari akibat-akibat buruk yang dibawa oleh televisi. Pelarangan mutlak tidak menonton televisi tentunya sulit dilakukan, namun pembentukan paradigma bahwa televisi adalah BUKAN fokus perhatian keluarga perlu ditanamkan. Hal ini sangat mungkin dilakukan, bahkan pada tingkatan lebih lanjut lagi dari pengembangan paradigma ini, beberapa tokoh pendidik sudah bisa menghilangkan sama sekali televisi dari rumahnya. Perlu ditumbuhkan kembali, kegiatan-kegiatan positif keluarga seperti membaca buku, makan bersama, bercengkrama melakukan story telling masing-masing pengalaman, rekreasi alamiah yang tidak perlu mahal, sekedar jalan pagi atau lari pagi keliling perumahan dan lain sebagainya.

Insya Allah kita dan keluarga kita bisa melakukannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: