• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 359,994 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Gaya berinvestasi Orang Indonesia

Tulisan ini berkaitan dengan tulisanku sebelumnya tentang keinginan saudara-saudara kita untuk menikmati makanan-makanan modern seperti yang diajarkan di TV-TV, namun karena kurangnya penghasilan, membuat masyarakat tidak memperdulikan lagi pada masih baik atau tidaknya dari makanan-makanan itu, yang penting bisa mengkonsumsinya.

Nah, bagi orang menengah ke atas, virus konsumerisme ini pun sudah menyergapnya juga. Orang-orang yang punya uang 5 juta, 10 juta, 20 juta sampai 100 juta ke atas, ternyata masih mencari jalan pintas untuk bisa cepat melipatgandakan kekayaannya lagi.

Nah, keadaan ini ternyata memancing kesempatan bagi pengusaha-pengusaha curang untuk mengumpulkan dana dengan cepat dari semangat masyarakat yang seperti ini. Yah, kalo kuperhatikan ada kesamaan mendasar di antara mereka-mereka ini sehingga bisa saling kompak dan percaya begitu saja (pada mulanya), yaitu sama-sama menyukai jalan pintas untuk mendapatkan keuntungan besar dalam waktu singkat. Namun pada apa yang didapat ? nasabah tertipu, pengelola investasinya menghilang, aset perusahaan diklaim nasabah atau justru dihancurkan mereka, dan tentunya polisi turun tangan deh.

Coba ingat-ingat kejadian beberapa tahun yang lalu seperti kasus PT. QSAR (Qurnia Subur alam Raya) yang berhasil mengeruk dengan sistem bagi hasil sehingga pejabat, artis dan bahkan ulama-ulama banyak yang tertipu. Lalu ada juga Yayasan keluarga Adil Makmur (YAKM) mengumpulkan uang dengan cara arisan berantai, kemudian pada maret 2007 yang lalu, PT. Sarana Perdana Indo global beraksi sehingga ribuan nasabah rugi sampai 8 trilyun ! Luar biasa yang ketipu yah…

Sampai hari ini, penipuan model seperti ini masih berlangsung. Yang paling hangat dalam beberapa bulan terakhir adalah kejadian yang menimpa ribuan nasabah PT. Batara Mitra Asia Capital, PT. Batara Indo Asia dan PT. Damai Putra Santosa. Ini tandanya, masyarakat masih tidak juga belajar dari kejadian-kejadian sebelumnya.

Lalu dimana peran pemerintah untuk saudara-saudara kita ini ? ternyata baru muncul hanya sebagai reaksi saja, misalnya dengan menjadi mediasi dengan keroco-keroco perusahaan yang tentunya memang dikorbankan untuk jadi bemper. Namun, seperti kisah-kisah sedih yang lainnya, pelaku-pelaku biadabnya justru sudah lenyap tak berbekas. Semuanya pun sudah dalam kondisi tidak menguntungkan, sehingga ujung-ujungnya nasabah yang putus asa pun akhirnya marah-marah juga pada pemerintah.

Aku juga mencoba mengamati gaya investasi masyarakat menengah ke bawah. Rupanya hal ini justru lebih memperperih perasaan lagi. Mereka datang ke dukun-dukun yang menjanjikan bisa melipatgandakan uang. Uang-uang receh hasil memeras keringat seharian, bisa diberikan begitu saja kepada dukun keparat tersebut lalu hilang begitu saja. Ada lagi yang justru tercebur di judi dan undian-undian kosong yang melenakan. Tidak bisa lepas, setiap hari 2000-5000 rupiah diberikan ke bandar judi tersebut. Baru menang 200 ribu setelah setahun kemudian, tidak kapok malah makin semangat saja, lupa menghitung dana yang telah hilang. ohh, Indonesiaku.

Masalah ini tentunya perlu dicarikan solusi. Pemerintah mungkin mestinya bisa memfasilitasi bank-bank atau lembaga-lembaga keuangan untuk investasi seperti reksadana dan sebagainya. Dan sistem keuangan syariah juga perlu diimplementasi supaya keadilan bisa tercapai oleh semua pihak. Sistem keuangan kapitalis yang menjadi sebab keadaan sekarang ini terjadi tentunya tidak bisa diharapkan lagi untuk dijadikan sebagai solusi, nafsu mengkonsumsi dan materialistik sudah terbukti menciptakan lubang-lubang penyimpangan dalam pengelolaan dana-dana masyarakat ini.

Fakta-fakta bahwa masyarakat kita ini mulai senang berinvestasi, yang nampak belum paham prinsip dasar berinvestasi (yaitu prinsip : tidak mungkin ada untung besar tanpa resiko yang semakin besar) atau bahkan belum tahu cara dan instrumen-instrumen investasi jadi tanggungjawab besar bagi pemuda-pemuda terdidik bangsa kita. Agar kita ini tidak jadi bangsa yang cuma bisa membeli, tapi menciptakan produk-produk kebutuhan kita sendiri. Syukur-syukur malah bisa memenuhi ekspor ke negara-negara lain di sekitar kita. Insya Allah kita bisa melakukannya, berempatilah sebagai dasarnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: