• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 349,807 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Sedihnya Gaya Konsumerisme bangsaku

Berbagai macam makanan dan penganan disajikan di atas lapak-lapak kayu di Pasar Wates, Desa dukuh, kecamatan Kapetakan, kabupaten cirebon Jawa barat. Yang menarik adalah harga jualnya yang sangat murah, maka tak heran menjadi laris manis. Coba kita lihat di sana, roti-roti, susu kaleng, mie instan, aneka sosis, kecap dan lain sebagainya ditata sedemikian rupa sehingga menggiurkan. Oleh sebab itulah banyak warga setempat yang menjadi pelanggan setia makanan dan penganan-penganan yang dijual di pasar wates ini. Tidak ada alasan lain, harga yang murahlah yang menjadi alasan utama mereka membeli makanan-makanan ini.

Namun jika kita dekati dan melihat lebih teliti kembali, kita akan menjumpai bahwa makanan-makanan tersebut sudah kadaluarsa. tanggal yang tercantum pada kemasan sudah lama terlampaui dan tampilan fisik makanan-makanan itu pun sangat memprihatinkan. Untuk roti misalnya, sudah banyak ditumbuhi jamur sehingga masyarakat menyebutnya ‘roti buluk’ atau ’tiluk’.

Beberapa orang yang ditanya menjawab memilukan hati kita, “saya tidak bisa membeli makanan yang masih bener, sebab harganya mahal” atau “saya makan tiluk untuk sarapan keluarga setiap hari, sehingga saya bisa mengemat pengeluaran“.

Awalnya, pasar yang sudah berusia 20 tahun ini memang memperjualbelikan barang-barang bekas. Namun lama kelamaan juga menjual makanan kadaluarsa. entah setan dari mana yang ngebisiki segelintir orang, mereka mencoba-coba melemparkan makanan-makanan ‘basi’ ini dijual di sana, dan ternyata disambut hangat oleh masyarakat. Sedih juga ya, pelayan masyarakat (pemerintah) baru bereaksi justru setelah pemberitaan koran dan TV mulai ramai membicarakan ini. Mereka (setidaknya) bagiku telah gagal melindungi hak asasi mendapatkan makanan layak bagi keluarga-keluarga di wilayah yang dipimpinnya.

Dan masyarakat pun merasa tergiur untuk mengisi perutnya dengan makanan yang tidak baik ini, juga berasal dari ‘desakan’ untuk hidup sedikit bergaya seperti yang dicontohkan oleh sinetron-sinetron antah berantah yang mengepung mereka di setiap harinya. JUrang yang tercipta antara kaya dan miskin serta pendidikan yang tidak benar bagi saudara-saudara kita ini ternyata telah berhasil menggiring mereka ke keadaan lebih buruk. Mereka melupakan makanan-makanan tradisional yang murah meriah seperti singkong, ubi atau yang lainnya yang sebetulnya di wilayah-wilayah tersebut masih bisa dibudidayakan.

Dan bagi distributor makanan ‘basi’ ini, aku hanya bisa menganjurkan. Berhentilah menangguk keuntungan dari sesuatu yang membahayakan orang lain. Apalagi mereka-mereka yang mengkonsumsi ini adalah orang-orang kecil yang jika mereka sakit, mereka pun kurang mampu untuk berobat.

Subhanallah, satu kejadian lagi yang tersajikan pada panggung kolosal negeriku tercinta. Satu cambuk besar lagi untuk kita yang harusnya punya empati dalam membangun masyarakat ini. Agar mereka sejahtera dan bertumbuh menuju arah yang lebih baik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: