• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 304,624 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

RUMAH UNTUK ORANG MISKIN

Dalam kesibukan kita sehari-hari tentu kita sangat sulit mencontoh Umar bin Khattab atau para sahabat nabi lainnya yang setiap waktu senggangnya berkeliling menawarkan bantuan bagi masyarakat. Di sini kita bisa melihat seberapa kapasitas para sahabat tersebut, dalam memperhatikan kehidupan tetangganya dan mengayominya.

Di sisi lain, kedatangan orang-orang mengetuk pintu rumah kita untuk meminta bantuan, ternyata juga sesuatu yang sangat sulit terjadi. Entah karena rumah kita terlalu tinggi pagarnya, atau justru terlalu mewah sehingga masyarakat yang kekurangan merasa tidak pantas menginjaknya, atau karena memang kitanya yang sengaja membuat jurang dalam yang membatasi diri dan keluarga kita dari orang miskin?

Jadi, beginilah kita sekarang. Sudah tidak mampu bertindak secara aktif mendatangi dan membantu masyarakat, ternyata tindakan pasif menunggu kedatangan mereka ke rumah kita dan membuka pintu untuk menerima kedatangan kaum dhuafa pun tidak dilakukan.

Tetapi ironinya, orang-orang yang harusnya menjadi Abul masakin (bapak – pelindung – orang miskin) justru hanya berbusa-busa mulutnya berbicara tentang empati dalam seminar dan kajian-kajian diskusi mengenai kemiskinan atau pun dalam tulisan di blog atau milis-milis serta situs web pribadi, bahkan ada pula yang masih merasa perlu untuk membuat iklan berdurasi panjang yang ditayangkan secara periodik di televisi, media cetak dan berbagai media massa lainnya. Betul-betul menyedihkan, daya material yang dimiliki justru mengalir ke berbagai arah yang tidak ada hubungannya dengan masyarakat yang selalu digaungkan lisan kita.

Seorang tua sederhana yang selama ini telah kurasakan integritas empatinya pernah memberi nasehat padaku, “Memang, untuk aktif mencari siapa yang perlu dibantu sangat sulit dilaksanakan, namun ‘mengundang’ kaum dhuafa agar datang ke rumah kita, merupakan hal yang lebih mudah.” Kadang, saya berdoa agar hati-hati mereka digerakkan untuk datang ke rumah. dan berkali-kali pula saya alami, selalu saja rizki yang bisa dibagikan untuk mereka tersedia begitu saja. Jumlahnya mungkin tidak berlebih, namun justru cocok dengan jumlah yang mereka minta.

Yah, begitulah ternyata. Ternyata doa adalah salah satu kuncinya agar empati bisa berubah menjadi take action. Mungkin ini perlu dibiasakan oleh kita semua sebagai awal menjadi pelindung bagi orang-orang miskin.

Selanjutnya, kita tetap harus menanamkan pendidikan bagi mereka juga untuk dapat keluar dari kemiskinannya, atau paling tidak mengangkat mentalnya untuk lebih bersemangat dalam bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Sesekali pemberian konsumtif boleh dilakukan sebagai penambah kekurangan-kekurangan yang terjadi. Namun modal untuk usaha serta dibarengi oleh
pendampingan dan transfer ilmu manajemen usaha, tak lupa mengisi sanubarinya dengan akhlaqul karimah dan kepasrahan kepada Allah harus terus diberikan secara paralel.

Di sini aku tidak bicara secara lembaga atau negara dulu. Aku ingin kita semua membangkitkan empati dan bisa berbuat sesuai kemampuan untuk mengawal mereka-mereka ini secara personal. Apabila setiap keluarga yang mampu dapat membina 2-3 keluarga miskin saja, Insya Allah dalam beberapa tahun ke depan kuantitas orang miskin dapat berkurang. Kita perlu menghentikan dulu saling lempar melempar kewajiban antara kita dan negara, yang jelas, mulailah kita sebagai khalifah Allah di bumi ini menebarkan rahmat bagi sekeliling kita sendiri. Tidak pakai atribut apa-apa, ikhlas memberi pertolongan kepada sesama dan membuat rumah kita sebagai rumah untuk orang miskin.

Ayo take action !

2 Tanggapan

  1. Itulah kenapa ada kewajiban Zakat dalam Islam

    Infaq, sedekah….sebenarnya adalah jalan keluar dari permasalahan sosial ekonomi

  2. Susah amat sih! Tuh orang-orang parlemen yg ke sini ngapain aja ya?

    Sebetulnya solusinya gampang. Ambil aja dari pajak, siapa yg berpenghasilan tinggi dan tak ada tanggungan dikenakan pajak paling tinggi.

    Dari pajak itu kita bisa menolong orang yg tidak/kurang mampu utk menyekolahkan anaknya, membayar sewa/membeli rumah, kesehatan, dll.

    Asal saja, orang pajak dan jajaran pemerintah tingkat atas tidak berhurah-hura dgn uang pajak kita saja.

    Aku pikir semuanya bisa terselesaikan dgn gampang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: