• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 359,704 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

SBI Membuat bingung, (lagi-lagi) Masyarakat jadi Korbannya

Pengantar : Ini adalah kegalauanku yang hadir saat-saat liburanku pulang ke Indonesia tercinta. Bertepatan dengan gonjang-ganjingnya penerimaan siswa baru di sekolah-sekolah tingkat dasar, menengah dan tingkat atas.  Betapa Pemerintah kita yang kebakaran jenggot karena peringkat pendidikan bangsa ini cuma berada di peringkat ke 111 dari 113, tiba-tiba kalang kabut memaksakan suatu program yang akhirnya berbenturan lagi dengan harapan-harapan masyarakatnya. Dan seperti biasa, masyarakat selalu saja mengalah.

SDN Sukadamai 3 adalah salah satu SD yang berada di pemukiman warga komplek Budi Agung desa Sukadamai. Pada awalnya SD ini terwujud atas dasar harapan warga Budi Agung dan sekitarnya agar anak-anak dapat bersekolah lebih mudah karena berada di tengah-tengah lingkungan perumahan tersebut. Dari situlah kemudian warga bersepakat untuk memberikan salah satu wilayah fasilitas umum dan fasilitas sosialnya untuk didirikan SD tersebut.

Seiring dengan perkembangan waktu, kualitas hubungan antar sekolah dan masyarakat begitu indahnya terjalin. Beberapa kejadian seperti pemilihan pengurus RW, rapat-rapat koordinasi warga dengan kelurahan dan beberapa peringatan hari-hari nasional seperti hari kemerdekaan, hari kartini dan hari-hari keagamaan berulangkali dilaksanakan di lokasi SD. Komunikasi yang lancar antara masyarakat dan pengelola sekolah membuat suasana menjadi menyejukkan. Tentunya situasi kondusif ini menjadi salah satu akselerator perkembangan pesat SDN Sukadamai 3 menjadi semakin populer sehingga banyak orangtua yang tinggal di wilayah tanah sareal mulai melirik untuk menyekolahkan anaknya di SD ini.

Singkat cerita, banyaknya murid-murid yang diterima, mulai membawa berbagai konsekuensi yang tentunya harus ditanggung oleh warga Budi Agung dan sekitarnya. Kurangnya area bermain di lokasi sekolah, membuat anak-anak kita ini berlarian ke jalanan dan taman warga sampai ke wilayah Masjid Al i’tisham. Taman menjadi rusak dan juga berulangkali beberapa peralatan masjid juga terganggu akibat anak-anak bermain tidak terawasi oleh bapak dan ibu gurunya. Bahkan seringkali bola basket atau bola sepak ‘terbang’ melintasi jalan perdana mengagetkan pengendara mobil yang lewat di sana. Kondisi ini terus semakin diperparah oleh bapak ibu penjemput yang parkir sepanjang 200 meter di jalan komplek budi agung tersebut yang membuat terjadinya kemacetan parah di jalan komplek ini dan membuat warga kesulitan untuk keluar atau pulang ke rumahnya, walau pun sudah ada dua anggota kepolisian yang kadang-kadang turut hadir untuk mengatur lalu lintas di sana. Namun, sampai di sini warga yang hak-haknya mulai terganggu tersebut, masih memberikan toleransi, sebab kemajuan SD ini pun turut membanggakan mereka. Biarlah, taman yang rusak bisa kami perbaiki dan pengurus masjid pun berfikir seperti itu. Bahkan dalam rapat-rapat DKM Al I’tisham sering dibahas bagaimana membina anak-anak yang pada waktu sholat datang ke masjid, namun tidak terkoordinir sedikit pun oleh bapak atau ibu guru.

Sayangnya, mulai beberapa tahun terakhir ini, komunikasi antara masyarakat dan pengelola sekolah mulai merenggang. Entah mengapa, tiba-tiba mulailah terjadi kejadian-kejadian tidak mengenakkan pada penerimaan siswa baru yang dilakukan oleh SD. Biaya DSP (Dana Sumbangan Pendidikan) yang melangit dan berbagai hal yang berbau ‘skandal’ keuangan tidak sedikit pun dijelaskan oleh pihak sekolah. Warga mulai menduga-duga, begitu juga pihak sekolah pun terkesan seperti anjing menggonggong kafilah berlalu.

Puncaknya adalah tahun ini warga terperangah, sebab SDN Sukadamai 3 tidak membuka pendaftaran siswa baru (PSB) (berita Radar Bogor hari sabtu, 12 Juli 2008), sesuatu yang bagi warga adalah pengkhianatan yang sangat besar dari nilai-nilai dasar mengapa SDN ini berdiri di wilayahnya. SDN sukadamai 3 cuma membuka beberapa kelas Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang biaya DSP serta bulanannya sangat tinggi. hal ini kemudian mengakibatkan antusiasme warga yang berbondong-bondong ingin mendaftar menjadi terpupuskan, dengan situasi (lagi-lagi) pihak SD tidak memberikan informasi yang jelas kepada masyarakat yang akhirnya hilanglah berbagai harapan bagi warga yang punya anak cerdas namun kurang biaya.

Memang, beberapakali upaya mediasi antara warga dan pihak sekolah digelar, kesepakatan demi kesepakatan yang terjadi pun rupanya tidak juga membuat pihak SD bergeming untuk membuka kelas reguler untuk warga.  Alasan untuk kemajuan, isu-isu kebanggaan menjadi SD pilihan Pemerintah pusat untuk program barunya yang tendensius sampai pernyataan tidak adanya pilihan lain sebab pihak sekolah hanya bisa menerima perintah dari atasan digulirkan dan membuat warga semakin berang. Maka kemudian pada hari pertama masuk sekolah tanggal 14 Juli yang lalu telah dibuat rencana demo besar-besaran untuk mengepung SDN Sukadamai 3. Alhamdulillah, atas kebijakan beberapa warga yang memahami adanya resiko besar yang mungkin terjadi jika demo itu terjadi, maka demo itu digantikan dialog 3 pihak, yaitu pihak warga sukadamai dan komplek Budi Agung, pihak sekolah (jajaran pimpinan SDN dan Komite sekolah) dan pihak Dinas Pendidikan Kota Bogor. Dialog selama 2 jam lebih itu dihadiri pula 2 anggota DPRD, ibu Ani Sumarni dan Fauzi Sutopo.

Warga mempertanyakan alasan-alasan yang diberikan pihak SD dan pihak Dinas Pendidikan kota Bogor yang sulit diterima oleh akal, sebab SBI yang seakan-akan menjadi satu-satunya solusi kemajuan mutu pendidikan nasional pun belum sedikitpun terbukti efektif, masih percobaan. Mestinya tidak langsung beralih semuanya, karena sekolah-sekolah lain pun tetap saja paralel menyediakan kelas-kelas reguler. Ditambah lagi dengan fakta bahwa SD ini pun sebetulnya belum siap menjalankannya secara penuh. Isu bahwa pemerintah pusat melakukan ‘pemaksaan’ dalam implementasi RSBI juga merupakan sesuatu yang tidak diketemukan dalam buku Sistem Penyelenggaraan  SBI untuk pendidikan  dasar dan menengah yang dkeluarkan oleh Depdiknas atau pada buku Pedoman penjaminan Mutu Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional pada jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Fakta ini pun dikuatkan lagi oleh surat kesepakatan bersama antara Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas dengan Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor No. 0866/C2/KP/2007 yang justru pihak Dinas Pendidikan Kota Bogor yang mengajukan SD-SD untuk di SBI-kan dan punya otoritas untuk menyediakan program dan fasilitas pendukung untuk program ini.

Jadi, apakah pemerintah pusat yang bertindak tidak sesuai juklak atau Dinas Pendidikan kota Bogor yang salah menterjemahkan juklak, atau justru pihak sekolah yang tidak peka lagi manakala suatu kebijakan datang padanya membentur harapan masyarakat di sekitarnya, dan tetap saja menjadi pelaksana yang seperti robot tanpa hati atau kerbau yang dicocok hidungnya?
Ataukah karena ‘mandul’nya komite sekolah yang sepertinya kebingungan untuk berdiri di sisi sebelah mana, sehingga lebih baik diam saja dan membiarkan sang waktu menghapus gejolak ini.

Sekali lagi masyarakat jadi korban atas kebingungan kolektif ini. Menambah panjang daftar toleransi yang ‘terpaksa’ dilakukan masyarakat atas aksi-aksi spekulasi dari eksekutif-eksekutif di negeri tercinta yang sering lupa untuk siapa sebenarnya dia mengabdi. Mudah-mudahan uraian ini bisa jadi pembelajaran bagi diri kita semua untuk membangun Indonesia ke arah yang lebih baik.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. SD bertaraf International? Emang ada berapa masyarakat asing di sana? Apa semua lulusan SD itu semua akan melanjutkan pendidikannya ke LN?

    Duh, kasihan masak masih kecil-kecil sudah digojlok belajar tinggi-tinggi!

    Udah deh, masuk ke Ecole Primaire La Molette aja kayak si Ines! Belajarnya santai, jadi ortunya ikutan santai. Gratis lagi, termasuk kegiatan di luar sekolah (spt: sepak bola, rugby, renang, golf, kayak,…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: