• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 328,538 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Pulangnya Sang Pengembara

Masih terasa tatap ragu anakku saatku muncul di terminal kedatangan waktu itu. Namun, tak kubiarkan lebih lama lagi, karena langsung kusambar saja tubuh mungil zaidan dalam gendonganku. Setelah itu, perbendaharaan kata-katanya tak berhenti lagi, bertanya ini itu, menyatakan perasaannya, kegembiraannya, bahwa abi kebanggaannya sudah pulang. dan sampai tulisan ini kutuliskan, setiap langkahku pasti diikuti langkah kecilnya itu.

Masih terasa perjuangan istriku sembari kuselami wajah bulat tertidur anakku yang cantik, sambil kurangkul erat wanita mulia yang berjuang sendirian dalam melahirkannya beberapa saat sebelum ketibaanku. Sambil lirih kuucapkan maaf tidak bisa mendampingi saat-saat luar biasa itu.

Masih tersisa perasaan panasnya udara yang amat nyata di sekujur tubuh ini, diiringi rekalibrasi jam biologisku untuk tidur, makan dan orientasi malam dan siang, sambil digoda pertandingan euro cup 2008, sehingga kalibrasi yang mestinya lebih cepat, menjadi sedikit diulur-ulur lebih lambat lagi. Tapi ngga apa-apa, karena inilah liburanku.

Masih kurasa hamparan sajadah masjid yang meneduhkan, nikmatnya berjamaah lagi, bersujud dan ber-ruku’ bersama kaum muslimin. Menikmati merdunya adzan dan suasana penuh kesyahduan ibadah. Lalu segera saja dalam hari-hariku, kuhadirkan sepenuh jiwaku di majelis-majelis ilmu ustadz-ustadz yang rendah hati, yang tentunya kujalani setelah berhasil kubujuk zaidan untuk tidak ikut abinya dulu.

yah, setiap detik pola kehidupan yang terlewatkan kucoba raih kembali dalam masa liburan ini. Berlaku sebagai anak bagi orangtua-orangtuaku, berlaku sebagai pemimpin keluarga yang mempersiapkan pagar-pagar ketentraman sehingga saat tiba kepergianku kembali segala halnya dapat disiapkan sebaik-baiknya, bagi keluargaku, dan tentu saja bagiku sendiri.

Inilah rupanya perasaan seorang pengembara. Segala hal menjadi serba sementara. Pemilihan berbagai keperluan hanyalah sekedar untuk periode waktu pendek saja, sekedar cukup memenuhi, tidak berlebih, tidak menimbun, sebab terbersit jelas ditimbun pun tidak akan mungkin ternikmati. Jiwa ini pun menjadi ringan saja untuk bersusah payah membangun perasaan keluarga yang akan ditinggalkan kembali ; menjadi anak, suami, ayah, sahabat, tetangga yang terbaik untuk mereka sehingga bisa dikenang sebagai kenangan indah bagi mereka.

Mungkin, kalau perasaan yang kualami ini ditarik untuk mensikapi bagaimana mengisi kehidupan kita manusia di dunia yang fana dan sangat singkat ini, tentunya akan tenang kehidupan ini.  Sebab kita semua di dunia ini hanyalah seorang pengembara yang singgah sebentar saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: