• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 349,807 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Anakku belajar dengan Emosinya, Indonesia juga..

Omong-omong soal emosi, masyarakat Indonesia tercinta kini sedang belajar mengendarai emosinya. Tentu ini merupakan salah satu tahapan pendewasaan berfikir menuju menuju ke kehidupan yang lebih baik. Sebab emosi atau nafs adalah salah satu unsur yang membuat manusia menjadi dinamis berkarya dan mulai terlihat jelas keanekaragaman yang indah dari cirikhasnya masing-masing yang berbeda-beda itu.

Yah, kok aku jadi tiba-tiba menyadari hal ini setelah berkaca kepada jagoan kecilku di rumah yang mulai bertumbuh besar dan mengalami hal yang sama dengan Indonesia. Zaidan kini sedang dalam kondisi menunjukkan emosinya, setelah periode bayinya yang serba teratur dan diayomi seratus persen berhasil dilalui. Di titik inilah harus dimulai pendidikan kedewasaan yang tidak hanya begitu saja dibiarkan emosinya menggerakkan perilakunya sembarangan, namun harus bisa diarahkan ke wilayah yang positif yang membuat dirinya menyadari bahwa diluar dirinya banyak emosi-emosi lain yang perlu juga diperhatikan. tau kan anak2 itu seperti apa, positifnya ya identik dengan kebebasan, kepolosan, jujur, negatifnya ya menabrak ke segala arah, mencoba segala hal serta eksplorasi tanpa perhitungan.

Anakku Zaidan mengalami ini pada usia keempatnya, sedangkan bangsaku Indonesia mengalaminya pada usia 53 tahun kemerdekaan (ketika reformasi terjadi) dan terus menggeliatkan curahan emosionalnya hingga saat ini di tahun ke-63 kemerdekaannya.

Seperti yang kulihat dari perkembangan anakku, banyak cara untuk menyampaikan emosi ; bisa positif, bisa juga negatif. Kalau kita mau jujur melihat beberapa fakta emosional masyarakat Indonesia, kita berulang kali disuguhi (atau bahkan terlibat) dalam berbagai gaya demo unjuk rasa, atau dengan kata lain unjuk emosi. Dalam situasi seperti ini, kita juga harusnya menyadari bahwa emosi kita sering berlebihan dan mudah sekali disulut oleh pemicu yang sebetulnya terlalu kecil. Dan celakanya, reaksi saudara kita yang kebetulan bersebrangan terhadap unjuk rasa-unjuk rasa pun juga kerap berlebihan pula. Cetusan emosi yang dimulai dari kata-kata ini, membuat media komunikasi pun jadi alat yang sangat mumpuni untuk ‘perang’ emosi, dan sebaliknya bagi mereka yang sudah kehabisan kata-kata tak jarang mengambil berbagi tindakan fisik terhadap saudaranya yang lain.

Dalam perkembangannya, bola emosi bangsa Indonesia ini belum berhenti bergulir, sebab kemudian semua orang menyadari bahwa setelah meluapkan emosinya itu terasa nyaman sekali. Maka bermunculanlah jutaan komentar menyikapi semua jenis kejadian. Lisan menjadi andalan untuk lempar perasaan satu sama lain, yang juga seringkali kebablasan karena bercampur kebohongan atau hiperbola yang tidak pernah berhenti. Sehingga malah menjadi ghibah (gosip) dan bahkan ada juga yang jadi fitnah dan ujung-ujungnya menjadi aksi-aksi yang tak jarang bertabrakan dengan hukum.

Aku kembali melihat pada anakku, unjuk emosi ini mestinya bisa dihentikan jika sudah melewati apa yang disebut intimidasi atau pemaksaan emosional untuk sebuah keinginan yang bisa membahayakan. Aku sebagai orangtuanya tentu akan melarangnya dan menjelaskan bahwa tindakan itu bisa menyebabkan kecelakaan baginya.Nah, yang menjadi masalah adalah cara kita sebagai orangtua untuk memanajemen pertumbuhan emosi anak-anaknya itu. Kalau kita melakukannya dengan otoriter, anak pun akan belajar menjadi otoriter juga. Maka sebisa mungkin ketegasan yang keluar harusnya bisa mengajak si anak tersebut menggunakan fikirannya untuk melihat sebab-sebab mengapa emosinya harus dikendalikan.

Begitu pula dalam skala Indonesia, menurutku, bangsa kita ini seperti anak-anak tanpa orangtua yang masing-masing bereksperimen dengan emosinya lalu berbenturan dengan yang lain. Variasi dari berbagai level pengetahuan dan pemahaman orang Indonesia masih terlalu majemuk untuk bisa lolos dari tabrakan antar emosi ini. akhirnya ya lihat saja kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan itu.

Jadi, sampai saat ini zaidan masih lebih beruntung dari indonesia, karena masih mempunyai abi dan bundanya yang selalu berusaha berkonsentrasi pada pertumbuhannya. Zaidan tentu tidak akan dibiarkan berdarah-darah gara-gara ekspolarasi yang tidak pakai perhitungan, seperti Indonesia yang berulangkali berdarah-darah fisik dan hatinya karena tidak ada seorang pun yang mau mengerem tindakan yang dikendalikan emosinya itu.

Aku cuma bisa menyarankan, sekelompok masyarakat yang sudah mulai menyadari pentingnya pengendalian emosi mestinya menjadi orangtua-orangtua yang bijak menyikapi perilaku sebagaian masyarakat yang lain yang masih terhanyut dalam emosinya. Bukan malah terintimidasi dan menjadi mundur lagi, atau malah memanfaatkan keadaan tersebut untuk membuat skenario-skenario kemenangan semu yang memakan banyak korban.

Indonesia kan tanah air tercinta. Mestinya kita bisa belajar dan maju bersama-sama.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. kadang kita memang harus banyak belajar pada anak kita ya 🙂 .. jangan ragu dan jangan malu.. btw salam kenal.. sudah beberapa kali saya berkunjung ke blog ini juga blog Juliach.. :). blog yang menarik..

    TuanSUFI : ya, anak2 kita selalu saja membawa sesuatu yang menakjubkan. Terima kasih atas kunjungannya, Mbak. Kegiatan pemberdayaan yang mbak lakukan juga sesuatu yang luar biasa. Salam ta’zim dari saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: