• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 327,924 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Sekali Lagi Tentang Merokok

Tanggal 31 Mei, kebetulan buka liputan6.com dan baru ku ketahui ini adalah hari tanpa tembakau sedunia, kulihat fakta yang membuatku mengurut dada (liputan6 SCTV, 31/05):

  1. Rokok kini telah jadi gaya hidup remaja (80 % dimulai di bawah 19 tahun, alasannya ngelihat yang lebih tua dari mereka yang merokok, lalu penasaran)
  2. Walau di tengah himpitan ekonomi, konsumsi rokok anak jalanan tetap tinggi (20% pendapatan dari pendapatan di atas 20ribu per hari)
  3. 13.2 % remaja indonesia adalah perokok aktif
  4. Perda Larangan rokok di tempat umum tidak dipedulikan (operasi yustisi kurang berhasil atau memang masyarakatnya ngga maus sadar bahwa dengan merokok di tempat umum, dia merusak dirinya sekaligus merusak kesehatan sahabat2 di sekitarnya)

Kalau mengamati fenomena merokok di tanah air, Tantangan kampanye rokok paling tidak mengerucut dalam kelompok besar.

1. Dukungan dari lembaga keagamaan

  • Rokok Sehat Buatan Pesantren Bisa Obati Berbagai Penyakit (berita di sini)
  • Rokok Tali Jagat ini diluncurkan pertama kali ke masyarakat pada 2 Januari 2003 dengan fokus pemasaran warga nahdliyyin dan memberdayakan petani tembakau dan cengkeh yang banyak dimiliki warga NU agar hasil perkebunannya terakomodasi. (berita lengkap di sini)

Red : Namun alhamdulillah, pada tahun 2007 Organisasi keagamaan ini sudah melepas kepemilikan saham di pabrik rokok tersebut. Mudah-mudahan bisa mengurangi “ketergantungan” jamaahnya terhadap rokok.

2. Gencarnya iklan rokok dan banyak acara yang disponsori oleh perusahaan rokok

Lihat di TV, walau pun tidak secara substansial, iklan rokok dikemas dengan sangat bagus secara tematis sehingga kita jadi suka melihatnya dan tertanam dengan jargon-jargon perusahaan rokok seperti “how low can you go“, “Nggak ada loe nggak rame”, atau “tanya kenapa?”. Lihat juga sinetron atau film2 yag diputar di TV, tokoh-tokoh utamanya adalah perokok. Belum lagi kalo sekali-kali melihat berita para anggota dewan atau staf-staf pemerintahan yang juga merokok. Di Pagelaran musik atau seni lainnya, sponsor utamanya adalah perusahaan rokok, bahkan banner2 rokok ini sudah masuk institusi pendidikan seperti universitas yang seringkali kedatangan gadis-gadis cantik menjajakan rokok gratis untuk mahasiswa. Saat berada dijalanan, papan reklame rokok mengepung kita, begitu naik ke kendaraan umum, banyak pula perokok yang asyik sendiri. Semua ini secara perlahan tapi pasti mengajari otak kita untuk menerima rokok sebagai sahabat. dan mungkin inilah yang membuat 80 % remaja mulai merokok di bawah 19 tahun seperti pada berita di liputan6 di atas.

Padahal kalau kita mau imbangi terhadap 2 tantangan di atas, Informasi bahaya rokok pun mudah didapat.

1. Larangan dari fatwa agama

Sahabat yang muslim bisa menemui kumpulan fatwa ulama tentang haramnya Rokok, contohnya di Halal Guide, di jilbab.or.id, di sini juga ada dan diberbagai situs lainnya yang akan keluar kalau kita googling dengan kata kunci : bahaya rokok, fatwa rokok.

2. Bahaya rokok dari sisi kesehatan

Belum lagi banyak tulisan bahayanya rokok di sisi kesehatan seperti pada situs Yayasan jantung Indonesia, di depkes.go.id (cari dengan kata kunci : bahaya rokok), di salah satu media cetak nasional.

3. Pendekatan logis

  • Dan secara logis pun orang bisa melihat bahwa rokok tidak ada sedikit pun manfaatnya untuk kesehatan, yaitu tinggal baca peringatan yang selalu ada di bungkusnya
  • Khusus bagi yang muslim, kalau rokok halal kok sampai sekarang belum ada rokok yang memasang label “halal” pada kemasannya.
  • Coba cek di sini : Perokok itu tak Pernah Tua, Pornografi vs Rokok dan Dilema Candu Rokok

3. Kampanye Anti Rokok

  • Pada peringatan Hari Tanpa Rokok Sedunia setiap 29 April 2004 telah ditandatangani oleh seratus pemerintah pada forum Konvensi Pengawasan Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control FCTC). Keseratus pemerintah yang telah menandatangani konvensi itu mewakili 4,5 miliar penduduk dunia. (baca disini)
  • Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mencanangkan Perda No 2 tahun 2005 tentang Penanggulangan Pencemaran Udara. Aturan ini melarang warga mengisap rokok di tempat umum macam pusat perbelanjaan, sekolah, rumah sakit, rumah ibadah dan angkutan umum. Di tempat terbuka -halte atau terminal misalnya- masih dibolehkan, namun tidak di halte busway. mulai berlaku efektif sejak 6 April 2006.
  • Salah satu Situs kampanye anti rokok

Lalu solusi yang bisa adil untuk semua bagaimana ?

Aku sih yang hanya berangkat dari keprihatinan, cuma bisa nyumbang saran saja. Mudah-mudahan bisa jadi bahan renungan bersama. Yang pertama, untuk personal, aku cuma menghimbau berusahalah untuk berhenti merokok. Atau kalau pun belum bisa, berusahalah untuk tidak menganggu orang di sekitarnya dari asap rokoknya.

Untuk solusi sosial, seperti untuk petani tembakau, para pekerja di pabrik rokok dan para distributor rokok. Aku sendiri tidak punya kekuatan apa-apa untuk bisa mengubah ini. Tapi pâling tidak hanya menghimbau untuk berusaha untuk hijrah secara perlahan-lahan. Proses perubahan yang mendadak untuk aspek ini tidak bisa dilakukan karena akan menimbulkan gejolak yang tidak baik. dan mungkin ini yang paling sulit , aku menghimbau (atau harus memohon?…) pada pemerintah, atau organisasi besar keagamaan, atau organisasi lainnya yang bergerak pada bidang pemberdayaan masyarakat, arahkan proses-proses pemberdayaan tersebut ke arah yang lebih baik, Insya Allah di negara kita banyak ahli pemberdayaan yang bisa mencarikan jalannya.

Yah, ini sekedar pernyataan keprihatinanku saja. Mungkin ada yang menyumbang ide bagus untuk masalah rokok ini ?

Iklan

2 Tanggapan

  1. setuju tuan Sufi.. sebaiknya orang yang dapat Bantuan Duit tuh yang biasa juga disebut BLT, syaratnya bukan perokok dan tidak ada keluarga intinya yang ngerokokkk..gimane do u agree…
    wassalam..

  2. Wah, terimakasih atas pencerahannya. Sebagai sebagian kecil “penghuni” kampus kalimalang akan terasa sekali bagaimana “pengap dan sesak” nya kita pa bila tidak ada rambu larangan yang benar2 informatif. Bisa dibayangin juga kalu para “dosen” yang suka memaksakan kesan lupa (atau “egp” ) akan himbauan masih juga beraksi didepan anak didiknya. (pamer kali ya ??, kan gue dosen ?)
    Mari kita bersama-sama beri kesan ke penghuni kampus kalu “merokok dalam ruangan itu terlarang atau haram hukumnya sesuai MUI ????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: