• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 349,807 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Denyut Penelitian di Laboraturium

Sebenarnya ini adalah topik yang kuhindari. Menulis blog bagiku, selain merupakan refleksi renungan apa yang kulihat dan kurasakan dalam hidup di tanah anggur dan keju ini, juga merupakan ‘larinya’ diriku dari beratnya penelitian dan kajian ilmu yang kulakukan di laboraturium LE2I Le Creusot.

Bagaimana tidak, setelah 9 jam konsentrasi dalam computer vision dengan topik polarization imaging dan catadioptric system serta tenggelam berbagai tetek bengek fisika dan matematika, maka bercerita di blog adalah proses cooling down-nya agar esok hari bersemangat kembali. Yah, saat itulah aku bisa berkomunikasi dengan sahabat semua, bahkan dengan istri dan keluarga di seberang lautan.

Namun, rasanya perlu juga kuceritakan denyut-denyut penelitian di laboraturium tempat kubekerja tersebut, karena hal ini mungkin bisa jadi pengetahuan awal bagi sahabat semua yang mungkin akan punya kesempatan seperti aku untuk berkecimpung di tempat yang sama.

Aku mulai dari lingkup besar kedudukan laboraturium di negara ini. Di Perancis dan begitu juga di negara eropa lainnya, hubungan antar universitas dan industri diatur secermat mungkin. Laboraturium adalah salah satu jembatan hubungan universitas dengan industri. Secara manajemen kadangkala aku menemui walaupun berada di bawah universitas yang bersangkutan, tapi labo memiliki otoritas yang tinggi, sehingga dapat segera memutuskan menerima atau menolak suatu job yang berhubungan dengan industri. Yang menjadi input pada suatu labo adalah permasalahan yang terjadi di industri, lalu outputnya adalah solusinya, walau pun kadangkala solusi tersebut belum menjadi solusi akhir, seringkali malah menjadi rangkaian input lagi bagi penelitian di labo yang berbeda. Masalah berapa lama yang dibutuhkan untuk suatu riset menjadi sesuatu kesepakatan antara labo dan industri pemberi job.

Pada bidang-bidang kajian ilmu yang ‘laku’ di pasaran, tak jarang laboraturium yang berada dalam kajian ilmu yang sejenis membentuk jaringan laboraturium lintas universitas. Pengaturan pekerjaan disusun berdasarkan kelengkapan alat-alat uji yang ada di jaringan laboraturium tersebut. Tentu tidak tertutup kemungkinan sebuah labo menjadi labo yang terlengkap dalam fasilitas (asal sokongan dananya cukup), tapi biasanya yang

terjadi adalah, setiap labo memilih spesialisasi kajian dan melengkapi fasilitas2 yang berhubungan dengan kajiannya itu saja dan menjadi trademark labo tersebut. Sebagai informasi, labo-ku ini, LE2I (Laboratoire d’Electronique, Informatique et Image) merupakan laboraturium yang mengkhususkan pada penelitian soal vision, informatika pengolahan citra. Labo ini tergabung dalam CNRS yaitu Centre National de la recherche Scientifique Perancis yang membawahi berbagai laboraturium lainnya.

Kredibilitas sebuah laboraturium disini, selain tersedianya fasilitas yang memadai, perlu juga ditunjang oleh sumber daya manusia yang menjadi aspek terbesar proses berjalannya laboraturium yaitu laboran dan para penelitinya. Pada suatu labo yang baik, mestinya terdapat laboran yang selalu ter-update knowledgenya dan peneliti yang handal. Peneliti secara umum dapat dikategorikan peneliti permanen dan peneliti akademis. Peneliti permanen adalah peneliti yang memang mengabdi disitu, sedangkan peneliti akademis seperti peneliti jenjang bachelor, jenjang, jenjang doctoral dan post doctoral. Di sini biasanya ada proses kerjasama dimana peneliti yang level akademisnya lebih rendah akan dikoordinasikan oleh yang lebih tinggi. Nah, peneliti akademis ini pun bisa dikategorikan berdasarkan debutnya, misalnya jenjang doktoral di sini ada yang full time 3 tahun meneliti di sini (contohnya aku) dan selain itu ada juga yang program double degree kerjasama antar universitas yang hanya meneliti dalam 2 minggu,1 bulan atau rentang waktu yang tidak terlalu lama. Dalam meneliti di sini pun aku di arahkan oleh seorang Post Doctoral atau maitre de conference, dan tentunya seorang profesor.

Sedikit nasehat bagi yang ingin melanjutkan pendidikannya ke level yang lebih tinggi di eropa, silahkan mencari laboraturium yang sesuai dengan bidang ilmunya, lalu berkomunikasilah dengan profesornya, nyatakan latar belakang dan minat sahabat, sambil mengajukan apa keahlian yang dimiliki sekarang dan apa rencana penelitiannya. Buatlah sang profesor berfikir bahwa sahabat bisa berada dalam timnya. Setelah itu, mintalah surat pernyataan penerimaan profesor tersebut dan mulailah mencari beasiswa. Selanjutnya, Insya Allah, sang profesor akan membuka jalan yang lebar untuk kedatangan anda di laboraturiumnya.

Lalu bagaimana keadaan sehari2 di laboraturium ? Dinamika ilmiah silih berganti setiap hari. Kadang labo kami mendapat kunjungan dari masyarakat sekitar, anak2 sekolah sampai mahasiswa. Kadang kami PhD student punya kewajiban menjelaskan kepada tamu2 akademisi ini tentang apa yang telah kami kerjakan. Setiap minggu, paling tidak kami meeting 1 kali untuk saling menginformasikan kemajuan atau mentoknya penelitian kami, lalu pimpinan rapat biasanya mengarahkan ada kegiatan2 ilmiah apa yang dapat kami ikuti dalam rangka menunjang penelitian kami. Selain itu juga, kadangkala kami datang di labo lalu tenggelam dengan berbagai simulasi data dan hitungan ruwet pekerjaan masing2, sehingga tiba2 labo serasa gua hantu yang tidak ada penghuninya. Namun ada satu hal yang paling kusukai di perancis ini, saat tiba, biasanya kami akan saling menyapa, bersalaman dan melakukan BISU ala perancis dengan duduk di ruang rapat untuk sarapan pagi bersama. Lalu siang, kita kadangkala makan siang bersama, dan sore sekitar pukul 16 kami coffee break untuk melepas ketegangan. Sebagai gambaran, aktivitas pagi dimulai pukul 9 dan sorenya diakhiri antara pukul 5 dan 6.

So, itulah sekilas tentang laboraturium di sini. Secara pribadi aku kepingin di negara kita tercinta ada labo-labo seperti disini. Beberapa Universitas memang sudah membuatnya, tetapi proses link and match dengan industri memerlukan pendekatan kekuasaan agar dapat terwujud, agar dapat diatur sehingga setiap pihak mendapatkan perlakuan yang adil dan saling menguntungkan. Pemerintah mungkin punya road map penelitian di Indonesia , tapi rasanya masih perlu diimplementasikan ke dalam bentuk yang lebih real, sehingga puluhan ribu penelitian setiap bulannya tidak hanya jadi arsip berdebu yang mubazir di perpustakaan yang hanya di copy paste terus berulang-ulang oleh orang2 yang pengen mudah dapat ijasah…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: