• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 349,807 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

(Salah satu) Cermin Rakyat Indonesia

Sore menjelang maghrib di stasiun Tanah Abang. Berulang kali teriakan petugas mengumumkan terjadinya kelambatan kereta untuk beberapa jurusan karena ada gangguan pensinyalan di wilayah manggarai, salah satu percabangan paling sibuk di wilayah DAOP 1 PJKA.

Kereta Pakuan menuju bogor juga dikabarkan terlambat, tapi biasanya kereta eksekutif ini akan selalu jadi yang diprioritaskan untuk terus beroperasi saat ada gangguan2 seperti ini. Bukan sekedar karena bayarannya mahal, tapi karena kereta ini adalah kereta ekspress yg selalu bablas di stasiun-stasiun dengan frekuensi yang cukup padat dalam jam-jam pulang kantor. jika kereta ini tidak diprioritaskan, maka resiko terjadinya kecelakaan dan kelambatan yang lebih parah akan dapat terjadi.

Karena kelambatan ini, peron stasiun tanah abang sudah dipenuhi orang-orang, bercampur baur antara calon penumpang kelas bisnis bogor dan bekasi, kelas ekonomi serpong, bekasi dan bogor. Maka, begitu kereta pakuan Bogor datang pertama kali, serta merta orang masuk saja ke dalam kereta itu, bersama aku juga yang jadi berebut tempat duduk. Tidak peduli lagi pada pengumuman yang memberitahukan bahwa ini adalah pakuan jurusan Bogor, semuanya tenggelam hiruk pikuk dalam berebut masuk dan tempat duduk.

Awalnya masuk seorang bapak sambil mengajak masuk beberapa penumpang lain dengan wajah amat meyakinkan. “Ayo naik, kereta ini sampai manggarai, lumayan dapet dingin sampai manggarai.” Akhirnya, kereta ini pun jadi penuh seperti penuhnya kereta ekonomi biasa. Ucapan menyangkalku bahwa kereta ini ekspress bogor tidak berhenti di manggarai segera tenggelam oleh hiruk pikuk orang masuk ke ‘kereta’ ku ini.

Parade ‘cermin’ ini belum selesai. Tatkala kereta pakuan Bogor ini sampai stasiun Dukuh Atas, penumpang bogor yang sudah menunggu di sana yang hendak masuk ke kereta, dihalang-halangi bapak tadi. ‘Jangan naik pak!, kereta ini cuma sampai manggarai’. Ucapan menyangkalku pun sekali lagi kalah oleh riuh redam penumpang-penumpang yang tidak jadi naik karena ucapan menyesatkan bapak itu tadi.

Akhirnya mimpi buruk orang-orang salah informasi ini dimulai setelah stasiun manggarai dilalui. Kereta ini terus bablas tidak berhenti. Kesalahan mereka ini juga turut berakibat kepada kami semua penumpang asli tujuan Bogor yang dengan terpaksa tidak mendapatkan haknya dari harga karcis yang cukup mahal ini. Bapak itu tidak banyak bicara lagi. Ketika ia sadari bahwa ibu2 yang jadi pengikutnya tadi ternyata ada yang pulang ke Bekasi, ada yang ke serpong dan ada ke tempat-tempat lain yang jaraknya utara-selatan dari perhentian pertama kereta ini di stasiun depok lama.

Aku menyelam ke dalam cermin, kutemui dua pelajaran berharga :

  1. jika tidak mengetahui, jangan sok tahu. Seperti bapak itu tadi, sudah sesat akhirnya menyesatkan orang lain juga.
  2. Jika tidak mengetahui, tanyalah pada orang yang memang berkompeten. Bukan pada orang sembarangan kayak bapak itu tadi. Jikalau terpaksa, lakukan verifikasi, tanya ke lebih dari satu orang. Jalan kita jikalau salah, kita sendirilah yang menanggungnya, sedangkan orang-orang seperti bapak itu tadi, langsung hilang ditelan stasiun depok lama, tanpa bertanggungjawab pada ibu-ibu pekerja yang terpaksa pulang ke rumah lebih malam dari biasanya.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: