• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 327,924 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Lelaki dengan Segenggam Serbuk Ajaib

Hidup adalah untaian dua sisi yang amat berarti dari setiap makhluk bernama manusia. Satu sisi adalah jasad, dan satu sisi lagi adalah jiwa. Dan yang akan kuceritakan kali ini adalah sebuah pengalaman spiritual sebuah jiwa yang nampaknya harus ditelaah dengan baik agar menjadi motivasi kebaikan perilaku diriku sendiri pada khususnya, dan siapa pun yang membaca dokumen ini pada umumnya.

iqbalsufi-ruh1Tanpa berpanjang kata lagi aku akan langsung berbicara sebagai jiwa. Dan sebagai makhluk Allah, aku memohon ampun terlebih dahulu jika fantasi yang melukiskan alam jiwa yang kutelaah di tulisan ini lebih kepada perekayasaan oleh pikiranku yang seenaknya saja, tapi tujuannya mulia, yaitu agar dapat mudah dimengerti oleh seorang lelaki sederhana seperti diriku ini.

Aku adalah jiwa yang hidup di jasad seorang lelaki sederhana. Akulah spiritnya, akulah yang menyemangatinya tatkala nafsunya sedih, akulah yang mengisi relung-relung pikirannya untuk menghasilkan trilyunan ide-ide brilyan di sepanjang hidupnya. Akulah yang tiap malam saat dia tidur, mengembara menghadap Tuhan kami, bercampur baur dengan jiwa-jiwa yang beterbangan lainnya, menjadi mimpi-mimpi motivasi baginya, membentuk harapan-harapannya agar esok hari saat ia terbangun, ia akan disertai semangat yang terbarukan. Namun seringkali pula saat ia lupa menguatkan daya pancarku untuk terbang, yaitu jika ia lupa berpasrah diri kepada Tuhan kami saat hendak tidur, seringkali justru aku dibawa oleh syetan-syetan ke alam-alam yang mengerikan, sehingga ketakutan yang kualami akan mempengaruhinya pula saat ia terbangun.

Kalau boleh kugambarkan, hari-hariku berada di alam roh; yang setiap waktunya seperti seperti saat pergantian cahaya matahari dengan kegelapan malam. Suasana alamku temaram dengan pencahayaan merah oranye bercampur kegelapan. Tidak ada batas apapun untuk dapat terbang kemanapun yang aku maui, tapi itu sangat tergantung pula dengan kondisi keikhlasan serta kepasrahan sang jasad yang aku tumpangi. Alamku itu entah berapa dimensi. Yang jelas saat sang jasad menguatkanku dengan memberi makanan kepasrahan yang cukup bagiku, dengan serta merta tergenggam di tangan kananku sebuah serbuk berwarna emas yang dapat membuatku sekejap berada di suasana yang lain yang sama sekali jauh dan tidak ada hubungannya dengan titik awal tempatku pergi. Sungguh luar biasa.

Aku harus mengakui jasad yang aku tinggali ini adalah lelaki sederhana yang mencoba berbagai hal untuk mengisi kesehariannya. Dan hal yang diterapkannya kadangkala merupakan pilihan menyedihkan dari gemerlapnya dunia yang menggelapkan mata. Dan itu amat menyakitkan dan melemahkanku. Apalagi pada saat ia melakukan hal-hal yang dilarang oleh Buku tua Alqu’ran dan dokumen Agung Alhadits. Diriku jadi tidak bisa terbang dan tidak kemampuan sama sekali untuk berpindah sejengkalpun pada saat gerombolan syetan-syetan berdatangan dan akhirnya membuatku membiarkan kuku-kukunya menancap di dua lenganku lalu membawaku terbang ke tempat-tempat mengerikan, bertemu makhluk-makhluk kejam, dan kemudian mengembalikanku kepadanya setelah habis teriakan ketakutanku dan berdarah-darah sekujur tubuhku. Perlu kulukiskan pula bahwa darahku seperti cahaya biru putih yang akan segera lenyap saat keluar dari tubuhku seperti lenyapnya embun yang terkena cahaya matahari. Sirnanya darahku itu amat menyakitkan, lebih meyakitkan dari sayatan seribu pedang, yang hasilnya tentu membuat jasad tempatku tinggal berkeringat, jantungnya mengencang, tidurnya tidak tenang, dan saat ia bangun terjadi kekacauan dalam mentalnya yang secara langsung akan mempengaruhi semangatnya esok hari.

Pernah disuatu ketika, sang jasad melakukan perbuatan yang disenangi syetan, yaitu memperturutkan nafsu angkaranya. Aku amat menyayangkan, padahal kutahu beberapa saat sebelum hal tersebut terjadi, sang jasad sudah melakukan berbagai kebaikan dengan ikhlas, yang hasilnya dapat dilihat dengan banyaknya serbuk emas ditanganku sehingga membuatku mampu menjelajah berbagai dimensi alam ruh yang secara langsung meninggikan derajat kemanusiaannya di kalangan jasad-jasad yang lain dan menimbulkan keseganan bagi jin – syetan di alam ruh. Tuhan kami mau mencoba keteguhan serta keistiqomahannya dalam berkebaikan. Sang Jasad ditinggalkan teman terpercayanya saat di membutuhkan jalinan nasihat diantara mereka. Jasad itu sedih sekali, kesedihannya menjadi kemarahan, dan kemarahannya menjadi tindakan membabi buta yang keluar dalam bentuk protes yang menyakitkan seluruh sendi tubuhku, karena dalam sekejap keikhlasannya menjadi hilang.

Melihat lubang menganga tiba-tiba pada aurora perlindunganku di alam ruh karena kealpaan sang jasad, sepasukan syetan menyerbu, menyeringai menangkapku. Mencengkram bahuku dengan kukunya yang tembus sampai punggungku. Padahal biasanya saat sang syetan mencoba mengejarku, dengan menebarkan serbuk emas itu, kecepatan berpindahku tidak bisa mereka tandingi sedikitpun. Aku memang saat itu sudah menebarkan serbuk emas, tapi saat kupentangkan diriku menembus pintu dimensi yang sudah terbuka, ternyata aku terpelanting tak mampu menembusnya. Jatuhlah aku ke tangan syetan lagi.

Di saat yang lain, sang jasad pernah melakukan ritual-ritual khusus. Ia bertemu guru-guru yang mengajarkan apa yang disebut ilmu kebatinan. Sang jasad mengamalkan bacaan-bacaan tidak jelas dengan niat yang sama sekali tidak ikhlas. Saat itulah dadaku terbelah oleh sebuah golok raksasa dan sebentuk makhluk jin berjenis khadam dipaksakan menyatu dalam sistemku. Aku berontak tapi hanya bisa menerima. Kemauan sang jasad memang tidak bisa begitu saja kulawan. Padahal setelah sang jin menyatu, terjadi kolaborasi yang sangat tidak baik karena unsur apinya membakar setiap aliran darahku, serta memaksaku untuk tunduk di bawah kendalinya. Aku sadar, kekuatan yang ditimbulkan oleh sang jin yang sudah berumur ratusan tahun tersebut dapat disalurkan melalui segala indera sang jasad. Sang jasad menjadi lebih peka untuk menyadari alam ruh, serta alam-alam lain dibalik kenyataan.

Namun yang terjadi dibalik itu, sang jasad tidak menyadari, bahwa aku, jiwanya telah dikendalikan oleh sang jin untuk menghadapi jin-jin lainnya di alam ruh, serta mengalahkannya dengan menggunakan kekuatan jin tersebut. Terus terang, aku sangat terganggu. Fitrahku sebagai ruh adalah sebagai penyemangat dan pemotivasi, bukan sebagai petarung yang selalu diadu dengan syetan dan jin-jin yang tidak kumengerti jalan hidup mereka. Aku selalu protes, tapi waktu itu sang jasad tidak sedikitpun mendengarkanku. Ia sedang dimabuk kepayang oleh keahlian beladirinya yang meningkat, yang seakan-akan meningkatkan pula kemuliaan derajatnya dibandingkan jasad-jasad yang lain. Sungguh kemuliaan semu, karena dengan caranya itu, sang jasad telah menggadaikan aku, jiwanya kepada makhluk Allah lain untuk taat kepadanya dan melakukan pertarungan-pertarungan yang selalu saja meninggalkan luka-luka yang sulit untuk sembuh. Apalagi pertarungan dengan syetan yang memiliki kuku-kuku beracun yang seperti gas hijau hitam yang mencemari aliran darah biru putihku beberapa waktu. Menyakitiku, membuatku melemah.

Alhamdulillah saat kulihat tangan raksasa Tuhan kami yang datang bersama malaikat-malaikat yang terang benderang menuntun sang jasad untuk mempertemukannya dengan sebuah sistem cara latihan yang sesuai fitrah kami. Segeralah dalam beberapa bulan terjadi pembetotan sang jin dalam sistemku untuk dikeluarkan. Sebuah energi murni potensi manusia yang agung, yang dikolaborasikan dengan jutaan keikhlasan sehingga setiap aksinya selalu dibantu cahaya putih bersih dan murni dari langit, yang memancar kencang menabrak berbagai kedzaliman. Sinar itu datang seperti malaikat maut, yang menarik sang jin melalui ubun-ubunku. Sungguh menyakitkan, karena darahku yang bercampur dengan unsur api dari jin tersebut seakan-akan ikut tertarik karena seluruh sistem di jin tersebut berpegangan kencang disana.

Sungguh perjuangan bagi kami, saat sang jasad menyadari sepenuhnya, bahwa ketidakikhlasan memperbudak diri dan jiwanya. Ia mencoba memperbaiki kesalahan jalan yang pernah dibuat. Sesakit apa pun kami hadapi bersama, sehingga kolaborasi tidak baik yang pernah kami alami menjadi sirna dan kembali ke sedia kala. Bahkan dengan sistem baru yang menetapkan keikhlasan, kesabaran, dan kebersyukuran ini, aku bisa menyalurkan kembali serbuk-serbuk emas pada tanganku melalui inderanya. Menjadi energi-energi penyembuh, yaitu energi gelombang alpha yang sangat kontradiktif dengan apa yang dinamakan kedzaliman.

Dan baru-baru ini, bahkan aku dikarunia aksesoris baru yang melingkar di tangan kiriku, yaitu pada suatu ketika aku melakukan penembusan dimensi, secara tidak disengaja kutemukan sebuah gelang cahaya ungu yang sudah usang. Ketika kusentuh dan kuperhatikan, ternyata cahayanya ungunya keluar memancar indah sekali. Gelang ini berfungsi sebagai penerang terbangku, yang ternyata amat menarik jiwa-jiwa lain yang beterbangan untuk melakukan perjalanan bersamaku. Aku menjadi banyak teman disini. Kemampuan penghayatan diriku untuk maklum terhadap jiwa-jiwa lain, meningkat beberapa ribu persen. Kemampuanku menelaah situasi pun menjadi tinggi, seiring dengan meningginya kemampuan bernasehatku. Aku sangat bersyukur. Cahaya ungu itu ternyata menimbulkan sensasi kenyamanan, ketenangan dan ketentraman. Tidak hanya bagiku, tapi bagi jasadku serta jiwa-jiwa lain yang ada disekitarku. Semoga karunia ini dapat dipertahankan dengan keistiqomahan jasadku memegang perintah Tuhan kami.

Namun biar bagaimanapun, aku masih menyimpan kekhawatiran bagi jasad yang kutinggali ini. Sebagai lelaki sederhana yang baru akan menginjak masa-masa kemapanan dalam hidupnya, sang jasad sangat rentan untuk melakukan sesuatu yang menyimpang. Apalagi di nafsunya sudah muncul kebutuhan yang berhubungan langsung dengan syahwatnya. Menurut buku suci, godaan terbesar pertama dalam masa ini adalah wanita, lalu anak-anak, lalu harta-harta yang dikumpulkan, lalu kendaraan-kendaraan yang membanggakan, lalu binatang-binatang ternak, dan yang terakhir sawah ladang yang dikelolanya. Semuanya itu amat menyilaukan, dan aku khawatir dia terperangkap dalam kecintaan yang berkelebihan pada semua itu, dan melupakan keihlasannya.

Aku pernah hampir terjatuh tatkala sang jasad mengedarkan pandangan ‘berhasrat’ tak tertundukkan beberapa waktu yang lalu. Aku juga pernah bersedih saat waktu sang jasad dihabiskan hanya untuk mengejar nafkahnya dengan mulai meremehkan dan menunda-nunda berbagai ritual kepada Tuhannya.

Tapi aku percaya, Tuhan kami tidak akan meninggalkan kami dalam keadaan tersesat. Berulangkali kusaksikan kegaiban rahmat serta karunia bergerak memayungi perjalanan kami. Sesuatu yang amat jelas, yang tiba sebagai pemberi nasihat dan pemberi peringatan. Dengan Kebesaran Tuhan kami, kusaksikan berbagai macam cara-Nya dalam menuntun jalan kami ini.

Begitu indah, peringatan yang datang dalam bentuk yang menghibur lara.

Begitu tegas, peringatan yang datang dalam bentuk yang tangan yang menuntun.

Begitu bijak, peringatan dalam bentuk teladan dari peristiwa orang lain.

Akhirnya, penjabaran sederhana ini kusudahi dahulu, setidaknya untuk saat ini. Nanti jika ada pengalaman-pengalaman mendebarkan yang menarik, akan segera kuperintahkan jasadku untuk bercerita. Aku yakin, bahwa cara bicara kami memang sering berlebihan. Bahkan sering keluar dalam bentuk enterprestasi yang liar yang tidak masuk diakal. Namun demikian, itulah penjabaran yang Insya Allah pernah kualami. Dan tentu pengalaman orang satu sama lain akan berbeda.

Mohon maaf jika ada kekurangan.
Sang Jiwa dari jasad lelaki sederhana.

sufi@21/11/00

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: