• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 328,422 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Sungguh, Kita Perlu Orang Tua.

iqbalsufi-ortuBerdasarkan berbagai kejadian yang kita alami bersama-sama dalam proses pembelajaran tokoh-tokoh agama dan masyarakat dalam kancah kehidupan berpolitik dalam negeri, banyak sekali hal yang menarik yang dapat kita ambil.

Dinamika pergerakan para tokoh yang memiliki massa dari berbagai tempat yang memiliki ciri khusus, ternyata banyak menimbulkan konflik kepentingan di antara mereka. Pada saat mulai banyaknya partai-partai politik mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) atau Kongres Nasional atau Muktamar dan sebagainya, kita dapat jelas melihat perilaku mereka yang menunjukkan kedewasaan atau bahkan – ketidakdewasaan politiknya. Sangat sering terjadi di antara mereka yang tadinya satu kubu dalam muktamar menjadi bercerai berai. Mereka belum bisa membedakan dimana forum dimana kenyataan. Sehingga hal-hal yang belum selesai di dalam suatu forum sering dibawa-bawa dalam keseharian.

Hal ini mungkin diakibatkan belum terbukanya hidayah untuk berbuat secara universal mengenai hakikat perjuangan yang sesungguhnya. Seorang muslim yang rahmatan lil ‘alamin itu rupanya tidak mudah begitu saja dicapai. Kita tentu sudah yakin, dari berbagai komunikasi dengan mereka itu, baik pada saat wawancara, talk show, seminar-seminar politik dan sebagainya, kita mendapatkan pemikiran-pemikiran yang sangat brilyan mengenai konsep-konsep pembenahan negara tercinta ini. Tapi sayangnya sebuah konsep akan hanya menjadi omong kosong belaka jika tidak ada usaha dengan bersungguh-sungguh dalam penerapannya.

Dari keadaan ini, membawa kesimpulan bahwa kita belum menemukan dan (bahkan) selalu kehilangan dengan wafatnya orang-orang atau sekelompok jamaah yang mampu mengkoordinasikan berbagai pikiran untuk disatukan menjadi sebuah langkah bersama yang menyeluruh dan adil bagi semua. Seorang atau sekumpulan orang bijak yang dapat menjadi pemersatu dari berbagai tindakan-tindakan yang seakan tidak ada kaitannya sama sekali satu sama lain, tapi sesungguhnya justru sedang membangun tiang pancang yang saling tunjang menunjang menuju tujuan yang sama, sebagaimana falsafah jari-jari sepeda yang nampak sangat tumpang tindih dan tidak karuan, namun membuat akselerasi putaran roda sepeda yang kokoh dan aman.

Kita memang memerlukan seorang atau sekelompok orang yang tidak bisa disengajakan kemunculannya. Bahkan tidak ada seorang pun yang mampu merekayasa ke-alim-annya. Seorang atau sekelompok orang yang bisa dari mana saja, yang kata-katanya mampu menenangkan berbagai macam gejolak yang ada. Seorang atau sekelompok orang yang merupakan anugerah dari Allah.

Mencermati apa yang terjadi pada Musyawarah sebuah Partai Islam yang baru-baru ini diadakan di daerah Depok, dimana Munas menjadi ajang argumentasi dengan penyatuan visi dan pengkaderan yang baik sekali di setiap lini struktural maupun fungsional partai ini, ternyata berhasil memendam potensi konflik di dalamnya. Suasana menjadi seperti air bening yang mengalir dan bergemericik menentramkan, pada saat penjelasan-penjelesan mengenai tindakan yang selama ini telah dilakukan dievaluasi bersama. Memang dalam beberapa segi mungkin ada ketidakterimaan atau kontra, namun dengan semangat persaudaraan dapat diputuskan berdasarkan keadilan dan prinsip-prinsip syariah Islam.

Partai ini ternyata telah menunjukkan dengan baik sekali, bahwa untuk keadaan negeri yang selama ini melakukan pendekatan secara top-bottom management antara penguasa dengan rakyatnya, dengan tanpa penjelasan yang memadai bahkan cenderung menutup berbagai keran komunikasi, mesti diterapkan suatu pendekatan yang sebaliknya yaitu dari bottom – up management. Prototipe gerakan ini langsung diterapkan pada kader dan simpatisan Partai dimanapun berada, bahwa untuk suatu kegiatan tertentu, penentu keberhasilan adalah keikutsertaan siapa saja pada level bawah dalam bentuk apa saja yang bisa disumbangkan. Dapat dicatat, bahwa selama kampanye dan pengumpulan massa partai ini, tidak pernah didukung oleh finansial (yang selama ini jadi ukuran kesuksesan gerakan massa) yang besar. Semuanya hampir didasari semangat kejamaahan yang berangkat dari level bawah. Tak ada yang namanya membeda-bedakan mana ketua umum dengan simpatisannya. Semuanya berbaur menjadi satu dengan semangat yang dikumandangkan dengan takbir.

Jika kita kembali keteladanan yang dibawa oleh Alqur’an, perbaikan sebuah peradaban adalah dengan adanya sebuah formatur. Seorang atau sekelompok kecil dengan visi dan hati yang kuat serta jiwa yang sudah diisi dengan keyakinan yang didapat dari keistiqomahan memegang kebenaran. Kita lihat pemuda Ashabul Kahfi (18:9-26), yang menjadi kelompok kecil yang menentang tirani pada waktu itu. Lalu kisah nabi-nabi yang langsung menghadapi kezaliman penguasa-penguasa yang tidak adil. Disamping itu juga, dalam Qur’an disebutkan dalam rangka melakukan controlling gerakan seorang atau kelompok kecil tersebut, diperlukan sesuatu tuntunan yang menerus, bagi para nabi adalah berdasarkan wahyu, dan bagi orang-orang shaleh adalah adanya seorang berilmu yang mendampingi dengan nasihat-nasihat.

Dalam lingkup yang lebih kecil, seorang atau kelompok kecil tersebut adalah orang tua kita, ayah atau ibu, atau orang yang dituakan, yang memiliki nasihat kendali yang mempersatukan. Sangat jelas sekali betapa sebuah keluarga besar yang beranak bercicit tetap utuh bersatu bersilaturahmi karena sang kakek dan neneknya masih hidup, dan berpotensi untuk bercerai berai saat keduanya wafat. Adakalanya sang anak tertua yang akhirnya menjadi pewaris ‘energi’ pemersatu tersebut, jika ia memiliki kematangan yang tepat dalam ‘mengelola’ jalinan rantai di keluarga tersebut. Namun sebaliknya, jika sang anak-anaknya tidak ada yang punya cukup ‘pamor’ pemersatu tersebut, hilanglah rantai-rantai silaturahmi tersebut.

Dalam lingkup yang lebih luas, kita mengenal orang-orang besar yang sangat berpengaruh di negeri ini dalam bidangnya masing-masing, seperti Pahlawan-pahlawan di era penjajahan, Panglima Besar Jendral Sudirman, M. Hatta, Buya Hamka, M. Natsir, KH. Sholeh Iskandar, A.H. Nasution di bidang militer, dan lain-lain. Mereka mempunyai ‘kekerasan’ sendiri yang membuat orang lain mau taat dan menuruti kata-kata mereka untuk tetap bersatu. Kekuatan yang sangat besar, tapi tidak memaksa. Kekuatan yang melahirkan rasa setia diantara pengikut-pengikutnya. Yang jika dilihat pada ilmu marketing adalah kekuatan yang menyentuh sisi emotional motive sekaligus rational motive-nya. Sehingga secara tidak langsung mereka terpuaskan (satisfied) sisi kemanusiannya.

Keadaan saat ini kemungkinan kita memiliki sangat sedikit tipe orang yang seperti disebutkan di atas. Orang-orang yang tadinya diharapkan bijak dan jadi pemersatu, ternyata masih terpengaruh berbagai hal sehingga ia kehilangan keadilan dalam dirinya sendiri. Benar apa kata sebuah hadits, jika kita kehilangan seorang yang berilmu (ulama), maka dalam 30 tahun belum tentu ada gantinya. Kini adalah tugas kita untuk memperbaiki pendidikan bagi generasi penerus kita untuk diselamatkan pada zaman serba tidak teratur ini, karena biar bagaimanapun 30 tahun ke depan adalah dunia mereka. Semoga bisa menjadi lebih baik, jika kita mulai menanamkan benih-benih ‘kekuatan’ silaturahmi di antara mereka. Amin.

sufi@03/05/00

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: