• Akses Cepat Indeks !

  • Translate This Blog

  • Baca Quran

  • Kategori

  • Stat SUFI-Blog

    • 314,199 akses
  • Terbaru nih…

  • Goh Gallery

  • Arsip

  • facebook

    Mohammad Iqbal's Facebook profile
  • Research Gate

    Mohammad Iqbal

Orang Kita Sendiri

Salah satu budaya ketimuran adalah budaya yang sarat dengan penghormatan di antara individu, dengan saling memperhatikan hubungan perasaan satu sama lain, sehingga masing-masing jadi selalu saling menjaga agar tidak menyakiti.

Namun kini semakin dirasakan kehilangan makna. Bagaimana tidak, dengan derasnya budayaiqbalsufi-diri individualistik barat yang menyusup dengan berbagai kombinasi infrastruktur penjajahan budaya sekarang ini membuat telah terjadinya pergeseran paradigma standar ukuran perilaku kita tersebut.

Di satu sisi kita coba pertahankan sekuat tenaga kehormatan orang timur di hadapan orang-orang barat, di satu sisi lain kita mulai memanfaatkan kemakluman di antara orang-orang kita sendiri utuk pemuasan ke-egoan masing-masing. Coba saja kita perhatikan, orang-orang Indonesia kini akan berfikir dua kali untuk naik pesawat Garuda yang tadinya merupakan penerbangan kebanggaannya, karena mereka telah dinomorduakan atas pelayanan oleh para awak pesawatnya. Para pramugarinya hanya gesit melayani orang-orang yang bukan orang kita sendiri. Sedangkan kita terbengkalai, bahkan kadang suka dipandang sebelah mata.; Padahal sudah jelas harga tiketnya sama.

Contoh lain misalnya, Rumah Sakit Islam, orang tadinya berharap banyak dengan RSI, berharap mendapat kemudahan dalam pengobatan, terutama dalam segi biaya, banyak orang-orang yang tidak mampu datang berobat ke sana yang akhirnya gigit jari karena biayanya melebihi RS biasa.

Dalam kehidupan keluarga, karena hubungan itu begitu kontinyu-nya, bertemu setiap hari, kita jadi kurang memperhatikan potensi-potensi konflik di antara orang kita sendiri, dengan tidak peduli lagi untuk menahan gejolak dikala emosi, sehingga dengan mudah keluar kata-kata yang menyakitkan hati yang akhirnya menumbuhkan perpecahan yang tidak bisa ditolong lagi.

Dalam Penyiaran pers, ummat Islam sering dipojokkan oleh pers Islam sendiri. Betapa perjuangan menjadi sangat tidak terpadu, karena sangat jelas terlihat masing-masing bergerak sendiri-sendiri, sambil menghujat yang lain. Yang tumbuh bukannya tonggak yang saling tunjang menunjang, tapi justru tiang pancang yang tersebar tidak menentu yang tidak berarti apa-apa jadinya.

Presiden yang kiayi yang tadinya bergantung berjuta harapan kepadanya untuk mendapatkan bentuk pemerintahan yang penuh keadilan untuk semua pihak, nyatanya malah keluar pernyataan-pernyataan kontroversi yang tak jarang justru memojokkan kalangan ummat Islam sendiri.

Guru-guru sang pahlawan tanpa tanda jasa, yang selama ini jadi obyek politik yang tertekan dari segala arah membuat mereka menjadi selalu pasrah, membuat pemerintah jadi lupa dan mengobarkan kecemburuan yang akhirnya menjadi bom waktu yang meledak mengguncang seluruh sendi kehidupan pembelajaran. Kenaikan gaji pejabat dengan dalih menghilangkan korupsi sampai ribuan persen dilakukan sambil melupakan kenaikan gaji guru yang Cuma tigapuluhan persen.

Customer service pada Bank Islam, yang menjadi seakan-akan meremehkan nasabah berpeci dan berjenggot yang ingin buka rekening giro sebuah yayasan Islam. Dan masih lebih suka ditipu dengan penampilan jas berdasi daripada baju takwa.

Apa yang sedang terjadi ini ? Sebuah jargon individualis yang sering ditiup-tiupkan oleh orientalis barat untuk menjajah budaya timur ini rupanya sudah sangat mendarah daging. Bagaimana tidak, setiap hari dalam waktu hampir 24 jam kita melihat televisi yang sebagian besar adalah contoh kehidupan mereka sehari-hari yang penuh dengan kebebasan yang nggak ada juntrungannya. Antara orang tua dan anaknya menjadi hubungan yang tidak jelas dan tidak lagi dilandasi rasa hormat dan saling menyayangi. Sadisme dan brutalisme, kekerasan dan cara berbicara yang tidak sopan. Sungguh semua yang kita lihat dan akhirnya membuat kita biasa berlaku seperti itu adalah sampah-sampah yang di barat pun sudah tidak dikonsumsi.

Kemajemukan gaya hidup dan kultur kesukuan yang ada di negara ini, sebenarnya bukan halangan untuk dapat saling menjaga hubungan yang baik di antara kita. Masalahnya kini adalah bagaimana kita membangun kehati-hatian berperilaku di antara orang kita sendiri. Seorang pendakwah yang berhasil dan terkenal di mana-mana, yang metode dakwahnya sangat menyentuh ‘orang-orang jauh ‘, melakukan pembinaan kontinyu masyarakatnya dengan baik sekali sehingga tercipta kehidupan yang bermakna islami di sana. Namun sering sekali terjadi sang pendakwah lupa melakukan pembinaan di tempat ia berasal. Keluarganya lebih sering ditinggalkan. Anak-anaknya tidak punya komunikasi yang baik. Sehingga terputuslah kaderisasi yang seharusnya bisa dilakukan dengan baik dan timbullah potensi-potensi penyelewengan oleh sang anak yang tidak pernah sempat di sentuh sedikitpun oleh sang pendakwah.

Kaisar Meiji dari Jepang merupakan pencetus pemberdayaan orang sendiri di Jepang. Ia membangun konsep ratusan tahun untuk menyeragamkan seluruh yang berhubungan dengan Jepang. Dimulai dengan menyeragamkan bahasa, sistem pemerintahan, gaya hidup dan sebagainya sampai tertanam dalam sanubari seluruh rakyatnya kebanggaan sebagai orang Jepang dan kesatuan hati di sana. Ia menciptakan kedisplinan kepada masyarakatnya untuk tidak menunjukkan kesukuannya masing-masing, walaupun untuk itu dalam rentetan revolusi pemersatuan tersebut bergelimang darah dan air mata akibat pemaksaan oleh seorang algojo yang bernama Tokugawa. Hasilnya dapat kita lihat sekarang, lihat pelayanan di pesawat Japan Airlines, pramugarinya akan melayani seluruh orang Jepang dahulu baru dari negara yang lainnya. Jargon The Japanese is the number one memang akhirnya jadi begitu tertanam di antara mereka. Lihat juga semangat liberenshaum-nya Jerman, walaupun penerapannya menggunakan cara-cara yang keji, yaitu menjadi suatu bentuk penjajahan, tapi mereka berhasil membangun kebanggaan terhadap komunitas mereka sendiri.

Apalagi kita di sini, Ummat Islam yang terbesar dalam jumlahnya di suatu negara. Seharusnya kita sudah dapat melakukan itu. Konsep negara persatuan sudah sangat baik sekali tapi kurang diimbangi dengan metode penerapan dan pengkaderan yang dilandasi kedisiplinan seperti pada jepang dan Jerman di atas. Padahal Rasulallah telah membawa konsep keistiqomahan yang mulai dari level niat, metode, hasil dan cara mensyukuri dengan sempurna dan sesuai dengan fitrah manusia. Konsepnya adalah bagaimana membangun perasaan memiliki kebersamaan dalam shaf-shaf kejamaahan, yang dalam penerapannya dibiasakan dengan melakukan shalat-shalat berjamaah. Dicontohkan jelas sekali oleh Rasulallah, bahwa sebagai pemimpin agung, dengan kesibukan manajerialnya yang banyak sekali, beliau selalu menjadi ‘pengawas kehadiran’ masyarakatnya pada shalat-shalat berjamaah. Betapa beliau berhasil membangkitkan kesatuan ummat Islam dengan penyadaran dari dalam jiwa masing-masing mereka, tidak melalui pemaksaan seperti cara-cara di Jepang dan Jerman seperti contoh di atas.

Sudah seharusnya kita segera menyadari dan segera kembali melakukan jalan yang seharusnya dilakukan. Penjajahan budaya barat yang mencabut akar-akar ketimuran kita yang menghantam deras, mesti kita hentikan dengan menciptakan barrier (penghalang) yang kuat dari pembinaan nurani orang kita sendiri. Konsep kejamaahan akan menghasilkan komunikasi yang terus menerus dan menimbulkan perasaan saling peduli yang amat kental. Kedekatan satu sama lain akan menghasilkan khusnudzon (berbaik sangka) di antara kita, yang pada akhirnya kelak tercapai kembali apa yang pernah disabdakan oleh Rasulallah SAW, bahwa mukmin satu dan mukmin lainnya adalah satu tubuh, jika salah satu bagian mendapatkan musibah, maka yang lain akan turut merasakannya, dan jika salah satu bagian mendapatkan kebaikan, maka semuanya akan turut gembira dan mensyukurinya.

Catatan Iqbal@27/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: